
Suara langkah kaki itu semakin dekat dengang tempat aku sedang jongkok dan konsentrasi.
Tapi aku masih berusaha menahan agar apa yang ada di dalam perutku ini keluar sedikit demi sedikit sehingga tidak menimbulkan suara yang mencurigakan bagi yang sedang jalan melangkah ke sini.
“Jangkrek!... perutku mules bet..”
“Asyuuu…. siapa sih itu, kenapa kok pas keadaan emergency gini malah ada yang datang”
Kutahan sebisa mungkin perutku yang semakin mules, dikarenakan suara langkah kaki itu semakin dekat dengan tempat aku kini berada..
Semakin kutahan dan semakin mules….
Tapi langkah kaki itu juga semakin dekat ke arahku..
Dari celah kotak ini aku bisa melihat orang yang sedang berjalan ke arah ku ini membawa lampu minyak atau lentera kecil.
Tetapi aku belum bisa melihat wajahnya karena cahaya lentera itu tidak mengenai wajahnya sama sekali.
Langkah kaki itu semakin dekat, mungkin hanya berjarak beberapa meter dari posisiku…
Aku masih terdiam dan menahan dengan segenap tenaga agar tidak terjadi pelepasan yang mengerikan.
Tapi… Tiba-tiba langkah kaki itu berhenti tepat di depanku, Dan sebelum aku manyadari..
….BRAAAAK….!
Pintu jhamban terbuka…. pintu jhamban didorong dengan keras oleh orang yang tadi datang itu.
“AAAAAHHHHHHH …! “
Aku jelas kaget… karena tiba-tiba pintu jhamban ini terdorong dari luar dan mengenai tubuhku, akibatnya tubuhku terdorong ke belakang…..
…PRRSSSTTTTSSHH PRRRTTTTTSHHH …..JROOOOTTT!...PSSSTTT…
…JJJJBYUUURRR!!!!…..
…ASYUUUUU!.. BRRGGHH BHUWEEH!...HOEEEGHHH! C***k!”
Aku terdorong pintu jhamban yang dibuka tiba-tiba dan akhirnya aku jatuh ke kali…
“HWAAAAAA!!!” Teriak orang yang ada di depanku yang kemudian terjengkang mundur karena kaget melihatku.
Aku kaget…..orang yang membuka pintu itu juga kaget…
Aku terjatuh kedalam sungai tepat ketika suara prrsssssttthhh dan jrooott keluar dari phantaku.
“JANC****KKKK… SIAPA KAMU COOK!!!” teriak ku dari dalam sungai
“TOLONG AKU JANC*****K…..”
“Pak Agus… kamu pak Agus… “ teriak orang yang ada di jalan setapak
“IYA JANC***K.. INI AKU! BWUEEEHH HOEEGGHH!... CEPET TOLONG AKU!”
“ANGKAT AKU DARI SINI BURHAN ASYUUU!....”
“I…iya sa..saya Burhan pak… s..sebentar pak..s..saya mau ambil tali dulu…”
“Buat apa tali c*k… cepetan tolong aku, aku ndak bisa berenang ini Burhan..hoeeeghh!”
__ADS_1
“Janc*k cepat tolong aku , bau sekali disini!”
Aku yang tadinya ada di bawah kotak amal itu kemudian perlahan lahan pindah ke sisi pinggir sungai..
Untungnya pinggir sungai ini sama sekali tidak dalam dalamnya hanya sepinggangku saja.
Burhan mengambil lentera yang tadi sempat terlempar ketika dia kaget dan terjengkang kebelakang.
“Ayo angkat aku, aku tidak bisa naik ke permukaan ini, disini licin sekali c*k”
“Eh anu pak Hoeeekkk… b..bapak bau Hoeeek sekali … saya akan cari ranting dulu agar bisa menarik bapak dari s…sana Hoeeek..
“Ndak usah banyak bacot..cepat tarik saya dari sini Burhaaaaann!”
*****
“Apa yang tadi kamu lakukan disana Burhan?”
Aku dan Burhan sudah ada di dalam rumah… sudah mandi bersih..wangi….pokoknya tidak ada benda mengerikan menempel di tubuhku.
Tadi memang Burhan sempat muntah-muntah ketika dia menolongku…
“Saya juga mau buang air besar pak, saya tidak tau kalau ada pak Agus disana”
“Tadi memang saya sempat heran ketika keluar dari rumah, kok ada motornya, tetapi pak Agus kok tidak ada”
“Tadinya saya mau cari pak Agus, hanya karena tadi udah saya kebelet sekali maka saya putuskan buang air besar dulu”
“Burhan, saya tidak basa basi lagi. sekarang sebutkan siapa kamu dan apa yang kamu lakukan disini!”
“Saya sudah telepon ke bos besar, dan memang dia mengirim orang yang bernama Burhan, tetapi dari ciri-cirinya itu pasti bukan Burhan kamu!”
“Sekarang jawab pertanyaan saya, apakah kamu ini Burhan yang merupakan Grader kayu itu?”
Sebenarnya apa yang kulakukan ini cukup nekat, karena aku hanya berdua dengan Burhan yang katanya dia banyak bikin masalah di tempat lain.
Tapi aku nekat, aku sudah capek dan sudah bingung!
“Betul pak…. saya grader kayu yang dikirim pak Jay…..”
“Ok pak Agus, saya rasa pak Agus bisa dipercaya…. akan saya terangkan siapa saya dan tujuan saya ada disini apa”
“Yang pertama pak Agus harus tau.. saya memang grader pabrik.. saya pernah kerja di pabrik kayu besar di Pdn”
“Kedua tugas saya selama disini dan di penggergajian lain milik bos besar sebenarnya bukan sebagai kernet atau kuli angkut”
“Saya punya tugas yang lebih penting… dan itu merupakan suruhan pak Jay…”
“Saya punya keahlian hanya dengan melihat cara kerja tiap orang disini saya bisa kalkulasi berapa kubik kayu yang dihasilkan disini”
“Dengan melihat gelondongan kayu, saya bisa tau perkirakan berapa kubik hasil kayu potongan, dan berapa biji palet yang dihasilkan”
“Dengan melihat perbandingan kayu gelondongan yang terpakai dan yang dihasilkan saya bisa memperkirakan berapa liter solar yang diperlukan”
“Dengan melihat mesin Diesel yang digunakan dan melihat asap dari mesin dan suara mesin, saya bisa tau mesin itu masih baik atau tidak”
“Dan semua itu saya laporkan ke bos besar…. bisa dikatakan saya adalah mata kedua bagi Bos Jay”
“Untuk pak Agus ketahui, saya sudah lama kenal dan ikut bos Jay…”
__ADS_1
“Tetapi orang penggergajian taunya saya hanya seorang kernet truk dan kuli angkut saja”
“Bos Jay punya empat rumah penggergajian yang tersebar di beberapa tempat, dan tugas saya ya tadi itu memperkirakan dan melaporkan”
“Kemudian laporan saya akan dibandingkan dengan laporan dari para penjaga di tiap rumah, kebetulan yang ada disini waktu itu adalah pak Wandi.
“Dan masalah yang terjadi disini adalah penyelewengan bahan bakar solar hampir 60% dari solar yang dianggarkan tiap beberapa hari itu”
“Kemudian juga ada penyelewengan jumlah kubikasi kayu gelondongan yang dibeli”
“Dengan hanya melihat tumpukan kayu gelondongan itu bisa saya perkirakan berapa kubik jumlahnya itu, dan itu tidak sesuai dengan laporan yang diberikan pak Wandi”
Aku hanya melongo mendengar cerita Burhan yang ternyata benar-benar seorang mata-matanya Bos besar ay.
Dan untungnya aku tidak melakukan tindakan apa-apa disini.
“Mas Burhan, selama disini saya juga melakukan penyidikan tentang apa yang terjadi disini, hingga kenapa kok ada orang yang tidak suka dengan saya”
“Oh pak Agus juga melakukan penyidikan?”
“Ya… saya lakukan penyidikan, dan orang yang saya curigai adalah sampean mas hehehe. biarkan saya cerita dulu apa yang sudah saya selidiki”
Kuceritakan kepada Burhan apa saja yang sudah aku lakukan disini, termasuk bicara dengan pak Solikin, tetapi aku tidak cerita tentang Yetno dulu.
Aku kepingin tau dulu sampai mana Burhan melakukan penyidikanya.
“Siapa yang mas Burhan curigai disini?”
“Tokoh utama dari semua ini adalah pak Wandi dan Mamad, karena mereka yang mengkalkulasi angka-angka yang akan dilaporkan ke bos Jay”
“Untuk yang lainnya saya masih belum berani menebak.. “
“Ketika waktu itu pak Wandi keluar dari pekerjaan sini yang dikarenakan akibat dia main gila dengan perempuan lain, dia merekomendasikan sampean kan pak”
“Sebagai pengganti pak Wandi adalah sampean pak Agus, dengan harapan pak Agus bisa disetir oleh pak Wandi”
“Tapi sayangnya setelah kepergian pak Wandi, Mamad juga ikut pergi, dan kabarnya dia sudah meninggal”
“Tetapi menurut teman-teman saya Mamad masih ada di desanya”
“Dan kadang dia kesini juga lho pak hehehe”
“Perkiraan saya Mamad pergi dari sini karena ketakutan sendiri akibat ditinggalkan oleh bosnya yang bernama Purwandi itu”
“Nah ketika Mamad tidak ada… bos Jay mengirim saya ke sini, tujuannya agar saya lebih mendalami apa yang sedang kami selidiki ini”
“Sek mas Burhan… sik sebentar.. bagaimana sampeyan bisa tau tentang apapun yang ada disini. tentang jumlah log yang dibeli atau jumlah pemakaian solar?”
“Disini saya punya sahabat yang bernama pak Wito…. dia orang yang paling jujur disini”
“Dan akhirnya selama beberapa hari disini saya sudah berhasil memecahkan misteri tentang cara mereka mendistribusi solar, ayo akan saya tunjukan sekarang pak”
“Sik mas Burhan sebentar, ada yang mau saya tanyakan lagi…..”
“Mengenai gangguan ghaib yang mengganggu mas Burhan, apakah itu benar-benar terjadi?”
“Itu betul pak, baru kali ini saya ketakutan dengan hal-hal aneh yang dikirim orang yang tidak suka dengan kehadiran saya”
“Saya benar-benar ketakutan , hingga waktu pak Agus ada di rumah sakit, saya menginap di rumah pak Wito”
__ADS_1
“Sebentar mas Burhan… ada yang ingin saya tanyakan lagi, apakah mas Burhan kenal dengan yang namanya Yetno?”
“Woow… penyidikan pak Agus sudah sampai di penjahat antar kota yang bernama Yetno juga”