RUMAH PENGGERGAJIAN

RUMAH PENGGERGAJIAN
162. MAKAM INGGRID


__ADS_3

“Kata menurut cerita oma Inggrid, dulunya disini hanya hutan… hutan yang angker”


“Karena keangkeranya itu kemudian digunakan penduduk pribumi untuk menakut nakuti penjajah, akibatnya tidak ada kaum penjajah yang berani masuk ke hutan ini, karena isunya siapapun yang masuk, maka tidak akan bisa keluar lagi”


“Dengan isu angker dan tidak ada bangsa penjajah yang berani masuk kesini, dan  keadaan ini digunakan bangsa Indonesia sebagai tempat untuk sembunyi dan menyusun rencana menyerang bangsa penjajah”


“Tapi yang namanya bangsa kolonial tidak akan percaya begitu saja dengan cerita rakyat, maka dibangulah sebuah pos disini”


“Mata-mata Belanda… karena waktu itu Belanda masih berkuasa, akhirnya nekat membuat sebuah pos penjagaan di sini, mereka juga membuat jalan setapak untuk masuk ke tengah hutan ini”


“Akhirnya jadilah sebuah bangunan atau pos penjagaan disini, dan memang benar, banyak Pribumi yang tertangkap di hutan ini dan akhirnya dibunuh juga disini”


“Kemudian mayatnya dibuang begitu saja ke sungai yang ada di belakang itu”


“Harap diingat, pada jaman dahulu,  sungai ini lebar, bersih dan dalam. Tetapi tepat di belakang rumah ini ada semacam  gundukan tanah yang  letaknya agak ketengah, dan sekitar gundukan tanah itu tidak terlalu dalam”


“Tahun demi tahun akhirnya Jepang mengambil alih Indonesia.. Pos ini kosong tidak ada seorangpun yang ada disini”


“Kemunculan Jepang yang kejam dan suka membunuh, dan mayat hasil pembunuhan itu dibuang ke sungai ini melalui jembatan yang ada di sana itu”


“Dan banyak mayat yang nyangkut di gundukan tanah itu”


“Sik sebentar Nggrid… kamu dan keluargamu kenapa kok aman saja disini, dan pada waktu itu kenapa kok bisa memiliki rumah mewah seperti ini?”


“Hehehe.. Keluarga Inggrid berasal dari negeri china, buyut Inggrid pendatang dari china waktu jaman penjajahan Belanda”


“Karena keluarga Inggrid ini dari China, dan keluarga Inggrid akhirnya tidak mempunyai masalah dengan orang penjajah Belanda”


“Keluarga Inggrid datang kesini untuk berdagang, dan lama kelamaan keluarga Inggrid mempunyai kedudukan  di pemerintahan dan sempat menguasai beberapa area tanah di sekitar sini sebelum semuanya disita Belanda lagi”


“Nah pada waktu zaman pendudukan Jepang, banyak mayat yang tersangkut di gundukan tanah itu”


“Hingga ada beberapa pribumi yang berinisiatif untuk mengambil dan mengubur jasad yang dibunuh oleh Jepang dan dibuang ke sungai ini”


“Ada juga mayat-mayat yang digantung jepang di atas jembatan besi, yang gunanya untuk menakut nakuti pribumi agar tidak lewat jembatan itu”


“Pembuangan mayat ini berakhir setelah kemerdekaan Indonesia, kemudian keluarga Inggrid membangun pos ini menjadi sebuah rumah tinggal”


“Tetapi waktu jaman PKI pembuangan mayat itu muncul lagi… karena munculnya mayat-mayat yang nyangkut di gundukan tanah, akhirnya rumah yang sempat ditinggali keluarga Inggrid ini kosong lagi, hingga PKI ditumpas”


“Pada waktu itu Papa Inggrid lumayan kaya raya,karena kami keluarga kami meneruskan apa yang buyut Inggrid lakukan, yaitu berdagang”


“Pada waktu itu kami punya mobil, dan kami tinggal di kota sebelah, selain itu Papa Inggrid juga beli rumah di daerah pegunungan yang dingin, dan disana ada oma Inggrid juga”


“Rumah ini adalah rumah peristirahatan apabila keluarga Inggrid ingin bersantai dan menikmati alam tanpa ada listrik, tv dan radio”


“Keluarga Inggrid sudah beberapa kali  tinggal disini, tetapi aman aman saja… hingga kemudian keluarga Inggrid hilang tidak berbekas sama sekali”


“Dan setelah itu kamu juga mengalami kejadian yang mengerikan dengan supir mu itu?” tanya mas Agus


“Iya mas” jawab Inggrid


Aku bingung dengan yang diceritakan Inggrid, aku bukan bingung dengan cerita Inggrid, tetapi aku bingung harus memulai dari mana?


Karena yang dialami Inggrid itu sudah tiga puluh tahun lamanya, sedang kan selama itu kan jejak-jejaknya sudah tidak nampak lagi.


Bahkan bisa saja orang-orang yang bersinggungan dengan masalah ini sudah pada mati semua.


“Nggrid yang kamu ceritakan itu semua sudah terjadi puluhan tahun silam, sedangkan Tina dan mas Agus tinggal di tahun yang jauh dari kejadian yang mengakibatkan keluargamu hilang”


“Yang mau Tina tanyakan.. Kami harus mulai dari mana Nggrid, karena pastinya orang-orang yang ada di sekitarmu sudah pada meninggal. Pun kalau ada, mereka pasti sudah sangat tua heheheh”


“Kalau soal itu Inggrid juga tidak tau harus bagaimana, karena yang Inggrid tau  keluarga supir Inggrid itu masih ada di desa ini, karena supir itu berasal dari desa ini”


“Apa supir itu masih hidup Nggrid?” tanya mas Agus


“Inggrid nggak tau mas, karena selama ini Inggrid tidak pernah pergi dari rumah ini” jawab Inggrid


“Masak kamu gak bisa cari arwah supir itu Nggrid… kamu kan hantu” tanya mas Agus lagi


“Sudah Inggrid cari mas.. Siapa tau dia mati kemudian langsung ke alamnya, gak gentayangan macam Inggrid ini, tapi yang pasti  Inggrid rasa orang itu masih hidup  mas”


“Iya… bisa juga  supir itu masih hidup mas.. Eh  Nggrid nama supir itu siapa, mungkin Tina bisa tanya ke pak lurah atau pejabat desa lainya”

__ADS_1


“Namanya pak War.. Wardiono”jawab Inggrid


“Oke Nggrid, kalau keadaan aman, Tina akan ke pejabat desa untuk tanya-tanya”


“Itu nanti saja Tina… ada baiknya kalian ke seberang sungai saja, karena disana sangat Indah pemandanganya”


“Memangnya disana ada apa Nggrid, yang ada kan hanya semak belukar saja?” tanya mas Agus


“Pokoknya kalian berdua coba kesana saja, ada sesuatu yang Indah yang harus kalian lihat disana”


“Ya sudah, kami akan ke sana sekarang Inggrid” kata mas Agus


“Tapi tolong kembalikan kami dulu Nggrid, jangan buat kami bermimpi seperti ini dulu”


“Ok Tina.. akan Inggrid kembalikan kalian dari mimpi ini”


Setelah Inggrid berkata seperti itu, kemudian aku terbangun dari mimpi…


Aku dan mas Agus sedang duduk bersebelahan di bawah pohon beringin yang rindang.. Di sebelahku ada Inggrid yang berupa bayangan saja.


Inggrid melihatku dengan tersenyum, kemudian dia berdiri dan mengajak kami  berjalan ke jembatan yang menghubungkan rumah penggergajian dengan desa sebelah.


Tanpa banyak bicara, aku dan mas Agus mengikuti kemana Inggrid menuntun kami berdua..melewati jembatan bambu yang ringkih.


Setelah itu kami berbelok ke kanan, karena kalau belok ke kiri maka kami akan menuju ke desa temat tinggal Solikin dan WIto.


“Mas.. coba lihat disana, motor pak Pangat yang dipinjam  Hari itu masih ada atau tidak?”


“Coba saya lihatnya dulu mbak.. Eh mbak Tina disini saja dulu, biar saya saja yang melihat motor itu di semak belukar”


Aku menunggu mas Agus yang sekarang masuk ke semak belukar yang lebat, setelah beberapa lama dia ada di dalam semak  belukar itu.


“Masih ada mbak hehehe, dan lihat apa yang saya temukan ini” kata mas Agus sambil memamerkan sebuah kunci kecil kepadaku


“Itu kunci motor mas?”


“Iya mbak Tina, saya temukan tidak jauh dari posisi motor itu tergeletak mbak”


“Ya sudh mas, disimpan saja dulu kuncinya itu, nanti kita laporkan ke pak Pangat saja dulu mas”


Aku dan mas Agus berjalan sedikit cepat untuk menyusul Inggrid yang sudah jauh dari kami berdua. Inggrid sudah ad di atas sebuah semak-semak yang rimbunya sama dengan semak-semak tempat motor pak Pangat disembunyikan.


“Kalian berdua dari mana sih… Kok lama sekali kalian berdua jalan?”


“Heheheh kami tadi mau lihat motornya pak Pangat Nggrid, motor yang digunakan Hari waktu itu”


“Tenang saja… motor itu nggak akan ada yang ambil kok, penduduk desa itu tidak akan berani  mengambil sesuatu yang bukan miliknya, ayo kalian cepat kesini, ada yang mau Inggrid tunjukan kepada kalian berdua”


Aku  dan mas Agus berjalan cepat menuju sebuah semak belukar yang subur, Inggrid sedang melayang di sebelah semak belukar itu.


Sesampai kami di depan semak belukar yang dituju Inggrid, aku sempat menoleh ke arah rumah penggergajian.


Ternyata semak belukar ini adalah tempat yang yang tadi ditunjuk Inggrid ketika aku dan mas Agus sedang duduk di bawah pohon beringin itu.


Tempat inilah yang dikatakan Inggrid indah itu, dan mungkin tempat yang dikatakan indah itu letaknya ada di dalam semak belukar.


“Ayo masuk ke semak belukar itu” kata Inggrid


Awalnya aku ragu, karena semak belukar itu juga ada duri-duri yang tajam.. Aku gak mau hanya karena untuk melihat tempat yang Indah, kulit dan bajuku robek-robek karena duri semak itu.


Dan Kelihatannya mas Agus tau kalau aku ragu untuk masuk ke sana.. Dia kemudian tersenyum sambil menghampiriku.


“Tunggu ya mbak Tina, saya akan buka semak ini agar mbak Tina bisa masuk ke sana”


“Iya mas, Tina takut kalau kulit dan pakaian Tina tergores”


Mas Agus kemudian masuk ke dalam semak belukar yang ada di depannya, dengan menggunakan tangan dan sebuah ranting pohon yang agak besar, mas Agus menyingkap dan meminggirkan semak belukar itu.


Beberapa kali mas Agus memukul mukul semak belukar yang ada di depannya hingga semak itu merunduk, dan kemudian dia menginjaknya.


Tidak seberapa lama, sudah terbentuk sebuah jalur yang bisa aku lalui hingga ke bagian tengah semak semak.


“Ayo mbak Tina.. semak ini udah bisa kita lalui kok” kata mas Agus yang ada di tengah semak belukar yang sudah dia bikin jalur setapak

__ADS_1


“Iya mas….”


Aku berjalan memasuki semak semak ini…


Ternyata semak ini tidaklah begitu panjang.. Mungkin hanya sekirat lima meter, kami sudah ada di sebuah padang rumput


Dan tidak jauh dari tempat aku dan mas Agus berdiri, ada sebuah bangunan yang terbuat dari semen, eh bukan banguan sih tepatnya… tapi sebuah bong china, atau sebuah kuburan china yang besar.


Sebuah makam china yang besar dan luas yang terbuat dari semen dan keramik, ada juga hiasan, hiasan dengan aksara mandarin yang indah dengan tinta merah dan kuning yang sudah memudar.


Bentuk makam china itu setengah lingkaran. Makam  itu kotor dengan banyaknya daun semak, batu dan pasir.


“Itu tulisan apa Nggrid?” tanya mas Agus sambil menunjuk ke aksara mandarin yang tertulis di dinding makam”


“Yang sebelah kiri sendiri itu nama Inggrid mas…. FEN FANG ONG… Fen fang itu artinya harum.. Sedangkan Ong itu marga keluarga Inggrid”


“Sedangkan yang tengah hingga ke kanan itu hanya kata-kata pepatah saja yang artinya, Belajarlah untuk tidak menyalahkan orang lain, belajarlah untuk lebih menghargai orang lain, karena kita butuh orang Lain."


“Ini adalah kuburan Inggrid hehehe.. Gimana menurut kalian, indah kan” kata Inggrid yang duduk di atas makamnya


“Iya.. tapi lebih indah lagi kalau dibersihkan Nggrid” kata mas Agus


“Iya mas.. Tapi semenjak rumah ini tidak ditempati oleh keluarga Inggrid, tidak ada lagi yang membersihkan rumah ini mas”


“Ya sudah akan kami bersihkan Nggrid, tenang saja kamu, eh gini saja, kami akan ambil sapu dan beberapa peralatan dari rumah penggergajian dulu saja” kata mas Agus lagi


Aku dan mas Agus balik  ke rumah penggergajian, kami masuk ke bagian dalam rumah dengan cara lewat pintu rahasia yang ada di dekat pohon beringin.


Ada sekitar satu jam aku dan mas Agus membersihkan makam si Inggrid, dan untungnya saat ini matahari tidak terlalu terik, karena ada awan yang menghalangi sinar matahari.


Ternyata setelah dibersihkan, makam ini bagus dan indah juga… memang benar kata Inggrid kalau ada yang indah disini, dan ternyata yang indah itu adalah rumah peristirahatan jasad Inggrid yang yang ditemukan dalam keadaan menggantung di kamar mandi.


Tapi ada yang aneh dengan keadaan makam ini, di sebelah samping makam seperti ada sebuah pintu yang terbuat dari besi dan ada semacam gagang yang mungkin bisa diputar untuk membuka pintu itu.


Dan juga pintu itu dalam keadaan terkunci dengan gembok…. Gembok ini modelnya kuno dan sudah berkarat.


Tetapi ada yang bikin aku tertarik dengan gembok itu, karana di sekitar gembok itu ada semacam kertas berwarna merah yang sama sekali belum pudar warnanya, dan ada tulisan mandarinnya juga.


Aku tidak tau bahan kertas ini dari apa, karena kertas itu masih berwarna merah dengan tulisan hitam yang ada di seluruh permukaan kertas itu.


Jadi tadi aku gak sengaja waktu menyapu daun-daun yang berserakan, dan ketika aku menyapu daun dan ranting semak belukar itu, tidak sengaja tanah dan batu kerikil yang ada di samping makam itu juga ikut tersapu.


Ketika tanah pasir dan kerikil itu ikut tersapu, aku menemukan semacam pintu yang terbuat dari besi, dan pastinya di bawah pintu itu ada semacam ruangannya.


Ah masak sih itu pintu untuk menuju peti mati yang berisi  jasad Inggrid sih hehehe. Biasanya adanya pintu di sebuah ruangan  fungsinya adalah untuk media keluar masuknya sesuatu.


“Mas… udah selesai belum?”


“Undah mbak Tina… ada apa memangnya?”


“Coba kesini mas… eh Nggrid kamu kesini juga dong”


*****


“Waduh ini apa ya Tina, selama ini Inggrid gak tau ada pintu di sebelah makam ini”


“Ah masak kamu gak tau Nggrid, ini kan makam kamu, dan kamu tiap hari pasti ada disini kan?”


“Nggak, Inggrid jarang ada disini, kalau pun ada disini paling hanya masuk ke dalam untuk lihat tulang belulang Inggrid saja”


“Terus itu Nggrid.. Ada kertas yang bertuliskan mandarin, itu gunanya untuk apa Nggrid?”


“Ini semacam kertas segel dengan mantra yang Inggrid gak paham… pokoknya dengan adanya kertas segel ini diharapkan tidak ada yang masuk kesini, karena apabila nekat masuk ke sini, maka akan ada kutukan yang mengerikan”


“Dan kutukan itu berlaku bagi manusia dan ghaib selain keluarga Ong yang nekat masuk ke sini”


“Tapi apakah segel dan kutukan itu berlaku untuk kamu Inggrid?” tanya mas Agus


“Untuk Inggrid kayaknya nggak mas”


“Coba kamu masuk ke sana Nggrid, siapa tau tujuan dari pintu itu hanya ke tempat peti matimu saja” kata mas Agus


“Iya.. akan Inggrid coba dulu….”

__ADS_1


Inggrid masuk ke dalam semacam pintu berbentuk bundar yang sudah berkarat karena dimakan usia, aku penasaran juga kemana arah pintu itu menuju.


Tapi aku juga gak berani untuk membuka pintu itu,  karena ada segel yang mengatakan tentang kutukan untuk siapapun yang berusaha masuk ke dalam sana.


__ADS_2