RUMAH PENGGERGAJIAN

RUMAH PENGGERGAJIAN
182. TINA YANG SEBENARNYA


__ADS_3

“Semua sudah saya sampaikan ke istri saya, pada awalnya dia marah besar kepada saya, tetapi yah akhirnya kembali lagi ke pokok masalah yang timbul akibat dari ini semua”


“Istri saya meminta saya yang harus menyelesaikan persoalan ini, tetapi setelah saya jelaskan, akhirnya dia paham juga, dan nanti siang dia pamit untuk balik ke rumah keluarganya, sementara kita ada di rumah penggergajian”


“Kenapa harus pulang ke rumah keluarganya pak?” tanya mas Agus


“Lho bukanya kalian tidak tau? Kalau alam kita dan alam disana itu berbeda waktunya”


“Bisa saja kita merasa di alam sana hanya beberapa menit saja, tetapi kenyataanya kita sudah pergi dalam waktu beberapa hari”


“Oh iya pak bener kata bapak.. Waktu Tina dan mas Agus ke desa tempat leluhur Tina, padahal hanya beberapa menit saja, tetapi nyatanya kami pergi dari siang sampai sore hari hampir maghrib”


“Jam  berapa nanti kita ke rumah sakit pak?” tanya mas Agus


“Nanti saja setelah isya… kita ke tempat Joko, dan semoga Joko sudah bicara dengan penjaga kamar mayat untuk menitipkan tubuh kita bertiga”


“Siang sampai malam nanti kita apa tidak melakukan apa-apa pak?”


“Kalian istirahat di rumah saya saja, atau kalian akan ke kos tempat kalian tinggal, nanti malam saya akan jemput kalian berdua?”


“Kami ke kosan saja pak…” jawab mas Agus


*****


Rumah sakit kota malam hari setelah isya…keadaan masih ramai, karena masih ada beberapa poli yang masih buka.


Aku dan mas Agus sedang menunggu pak Pangat yang sedang mencari dokter Joko yang kata petugas disana sedang pergi ke gedung depan.


Keadaan bagian belakang rumah sakit ini lebih sepi, karena tidak ada ruangan periksa atau poli, hanya ada ruang UGD dan kamar mayat saja.


Pak Pangat sudah sekitar lima belas menit pergi mencari dokter Joko, aku dan mas Agus menunggu di depan ruang UGD yang saat ini sedang sepi.


“Mas, udah siap untuk melakukan sesuatu heheheh?”


“Ya disiap siapkan mbak…pokoknya setelah acara kita ini selesai… saya akan melamar mbak Tina!”


“Ah yang bener mas, masak sih mas Agus berani melamar Tina?”


“Jelas saya berani mbak…”


“Oh iya mbak… ada sesuatu yang membingungkan… saya tidak tau mana yang benar dan mana yang salah”


“Tentang apa mas?”


“Begini mbak… mbak Tina kan pernah cerita kalau mbak Tina ini adalah janda… dan ditinggal suami yang TKI itu,  lalu kenapa kok leluhur mbak Tina bilang kalau mbak Tina ini keturunan terakhir yang belum menikah?”


“Hmmm iya mas…..”


“Jadi memang yang benar itu Tina ini masih perawan… Tina masih perawan ting ting mas, Tina belum pernah menikah sama sekali, Tina sengaja membuat isyu itu agar Tina tau mana laki-laki yang busuk yang sukanya mempermainkan janda”

__ADS_1


“Asal mas Agus tau meskipun dulu Tina ini berantakan, bahkan Tina kan pernah cerita kalau pak Wandi juga pernah dengan TIna kan, tetapi Tina masih bisa menjaga kesucian Tina”


“Dulu di rumah…Tina sama sekali tidak punya kegiatan apa-apa, Tina nganggur di rumah seorang diri,  TIna akhirnya suka ngerjain dan morotin laki-laki yang berusaha mendekati Tina”


“Memang Tina ahli dalam melakukan hal yang berhubugan dengan **** juga mas… tapi hingga detik ini vhagina Tina belum pernah kemasukan alat khelamain laki-laki manapun”


“Mas Agus ingat kan apa yang Tina lakukan di rumah Tina kepada mas Agus kan, dan semua itu hanya di luar saja mas, artinya tidak akan Tina persembahkan kesucian Tina kepada mas Agus pada waktu itu”


“Cara memuaskan seorang laki-laki itu banyak cara mas, bisa dengan oral atau dengan tangan saja.. Dan Tina selalu akan menolak tiap laki-laki yang meminta lebih kepada Tina”


“Laki-laki itu gampang… pokoknya udah puas.. Udah *******, gampang deh uangnya keluar. Paling-paling juga butuh waktu paling lama sepuluh menit aja  untuk muasin laki-laki,  udah deh uang mereka akan pindah ke dompet Tina mas”


“Setiap laki-laki apabila sudah mencapai *******, maka terongnya akan lemes dan tidak ada keinginan untuk melakukan apapun lagi, dan itu yang selama ini Tina lakukan, Tina akan membuat laki-laki puas dengan menggunakan keahlian Tina saja mas”


“Jadi yang bener mbak Tina ini bukan Janda?”


“Bukan mas.. Ayo kita test di rumah sakit ini untuk tes keperawanan hehehehe, Tina ini masih ting ting mas”


“Meskipun sebelumnya kelakuan Tina ini nakal, tapi Tina masih punya harga diri, Tina gak mau  menyerahkan kesucian Tina kepada siapapun hanya karena uang yang tidak seberapa”


“Warisan Tina yang diberi mbahnya Tina ini lumayan mas, belum lagi orang tua Tina yang ada di ibu kota, mereka berdua termasuk orang yang sukses disana”


“TIna cuman suka permainkan laki-laki aja mas…. Porotin uang mereka saja, tetapi asal mas Agus tau, uang hasil porotin laki-laki tidak Tina gunakan untuk kebutuhan hidup”


“Tina kasih kan ke pengemis dan gelandangan yang kadang Tina temui di jalan hehehe”


“Sedangkan uang dari pendapatan wartel yang sedikit itu sudah bisa tina gunakan untuk hidup di desa seorang diri saja.


“Tina cerita seperti ini karena Tina rasa mas Agus ini cocok untuk menjadi suami Tina”


“Gimana, mas Agus pasti tidak menyangka dengan apa yang Tina baru ceritakan kan mas?”


“Hehehe iya mbak Tina, wah kalau saya jadi nikahin mbak Tina gimana mbak, masak harus pakek tangan mbak?”


“Hiihihi ya nggak lah mas Agusku sayang… Tina kan serahkan tubuh Tina sepenuhnya kepada mas Agus heheheh


Aku lega juga sudah mengatakan hal yang jujur kepada mas Agus, aku tau mas dari mulai pertama ketemu, mas Agus ini bukan tipe laki-laki kebanyakan.


Mas Agus ini berbeda, dia bisa menahan hasratnya hingga pada saatnya tiba.


Semoga aku dan mas Agus akan menikah setelah semua masalah ini selesai.


*****


Pak Pangat dan dokter Joko akhirnya muncul juga setelah beberapa lama pak Pangat mencari dokter Joko.


Mereka berdua ada di depan pintu ruang UGD, wajah Dokter Joko kelihatanya tegang, karena mungkin sebentar lagi kami akan lakukan sesuatu yang tidak bisa dinalar akal sehat.


“Kalian tunggu disana dulu, kami mau temuin penjaga kamar mayatnya dulu, nanti kalau semua sudah siap,kalian akan kami panggil” kata pak Pangat dari depan ruang UGD.

__ADS_1


“Mas… Tina kok deg deg an ya….”


“Iya mbak, saya juga, sepertinya kita akan melakukan sesuatu yang luar biasa gitu mbak”


“Iya mas… semoga tidak terjadi apa-apa dengan kita mas”


Aku dan mas Agus menunggu hingga pak Pangat dan dokter Joko keluar dari kamar mayat, terus terang jam segini di daerah belakang rumah sakit ini serem juga.


Tapi untungnya hantu -hantu yang ada disini semuanya sama saja, paling juga ada poci, kunti, gendruo dan semacamnya.


Tidak ada yang mengerikan kayak waktu aku di rumah sakit yang ada di permainan Inggrid itu.


Dan ternyata pak Pangat dan dokter Joko tidak terlalu lama ada di kamar mayat.


“Mas… mbak ayo ke sini, kita harus melakukan beberapa persiapan dulu” panggil pak Pangat dari depan kamar mayat


Di depan ruang tunggu kamar mayat, ada seorang yang berpakaian hem putih lengan panjang dengan celana berwarna gelap, dia sedang bicara dengan dokter Joko yang ada di sebelahnya.


Orang itu sudah tua, dengan kepala bagian atas tengahnya botak, dan rambut yang tebal di sisi kiri, kanan, dan belakang kepalanya.


Wajah orang tua itu terkesan dingin, yah mungkin karena sehari harinya dia selalu berteman dengan mayat.


“Ini pak No, Jaino.. Dia penjaga kamar mayat disini” kata dokter Joko


“Nanti pak Jaino yang akan menjaga kita mas, mbak” sahut pak Pangat


“Jadi selama arwah kita tidak ada di tubuh kita, maka pak Jaino yang akan menjaganya” kata pak Pangat lagi


Tidak lama kemudian orang yang bernama pak Jaino itu pun masuk ke  bagian dalam kamar mayat, aku tidak tau apa yang sedang dilakukannya, karena tiba-tiba saja dia masuk ke dalam sana.


“Dia sedang menyiapkan tiga brankar yang kan kita gunakan untuk tempat tubuh kita anak-anak, dan nanti yang akan mengawasi tubuh kita yang ada disana adalah Joko sendiri” kata pak Pangat


“Sudah siap dok, tolong dilihat apakah sudah sesuai dengan yang diminta dokter Joko?” kata pak Jaino yang njemunuk keluar dari dalam kamar mayat


“Ayo kita masuk ke dalam, kita lihat apa yang sudah disiapkan pak Jaino di dalam sana” ajak dokter Joko


Kamar mayat ini tidak terlalu besar…ruangan berbentuk bujur sangkar yang kemungkinan berukuran sekitar tujuh meter kali tujuh meter.


Di bagian pinggir sebelah kiri dari pintu  masuk ada semacam meja paten yang terbuat dari semen, dengan keramik yang melapisinya.


Meja itu modelnya cekung di bagian dalamnya… aku tidak tau apa fungsi dari meja itu yang pasti meja itu gunanya mungkin untuk memandikan mayat.


Di sebelah meja itu ada beberapa brankar yang tidak bisa dibilang bagus bentuknya kemudian di sebelah kanan dari pintu masuk ada lemari kaca yang aku nggak tau apa isinya, aku gak berani menebak apa isi dari lemari kaca itu.


Di rumah sakit daerah ini tidak ada yang namanya lemari pendingin, mungkin karena ini rumah sakit kota kecil, sehingga tidak ada kulkas mayatnya.


“Itu ada tiga brankar yang sudah saya siapkan untuk bertiga” kata pak No kepada dokter Joko


“Nanti kamu taruh dimana tia tubuh ini, lalu apabila ada mayat datang gimana, atau apabila ada pegawai rumah sakit yang datang gimana?” tanya dokter Joko

__ADS_1


“Hehehehe…. Akan siapa yang berani masuk ke sini dok… selama saya ada disini, tidak ada dokter atau pegawai rumah sakit yang berani masuk ke kamar mayat”


“Paling mereka hanya di ruang tunggu saja… tidak ada yang masuk sampai ke sini”


__ADS_2