
“Oh iya mas Agus dan pak Diran… ada yang mau saya katakan kepada kalian tentang solikin dan Solikan” kata pak Jay tiba-tiba
“Jadi yang ditangkap polisi memang benar si Solikan… kembaran Solikin…”
“Solikan ditangkap di terminal bus, ketika akan melarikan diri ke luar kota”
“Ketika ditangkap Burhan heran, karena kok aneh Solikin tidak mengenalnya ketika diajak bicara Burhan, tapi setelah melalui proses interogasi baru ketahuan bahwa yang ditangkap itu adalah Solikan, yang tersangkut jual beli itu adalah Solikan, saudara kembar dari Solikin”
“Pada awalnya Solikan tutup mulut tentang keterlibatan Solikin, tetapi lambat laun dia mengakui kalau dia juga dibantu oleh saudara kembarnya yang bernama Solikin, bantuan dalam hal ilmu ghaib”
“Burhan pun mendatangi rumah Solikin yang ada di desa, tapi rumah itu kosong, Burhan kemudian bertemu dengan orang yang bernama bu Tugiyem, yang tadi dikatakan mas Agus itu”
“Burhan dan bu Tugiyem sudah kenal lama, ketika Burhan menjalankan aksi undercover sebagai anak buat saya yang bekerja di penggergajian.
“Nah dia pun menceritakan tentang kejahatan Solikin dan Solikan. Bu Tugiyem tidak kaget dengan dua bersaudara kembar itu, Yang bikin kaget bu Tugiyem adakah masalah narkoba yang menjadikan mereka dicari polisi”
“Dari situ kemudian Burhan minta tolong kepada bu Tugiyem apabila melihat keberadaan Solikin untuk segera menghubungi Burhan”
“Mungkin waktu tadi mas Agus dan pak Diran melakukan sesuatu di rumah Solikin, ada saksi mata yang melihat dan melaporkan ke bu Tugiyem…” kata pak Jay mengakhiri ceritanya
“Tapi aneh lho pak.. Bu Tugiyem sudah tau kalau Solikin mati… eh bentar.. Saya baru ingat” aku mencoba mengingat ingat masa lalu ketika aku ada disini
“Bu Tugiyem itu juga memiliki ilmu ghaib juga.. Iya waktu saya pertama kali ada di rumah penggergajian, Dan Solikan itu takut dan tidak suka dengan bu Tugiyem pak” aku ingat ketika aku mulai ditakut takuti di rumah itu.
“Eh pak Jay dan pak Agus, saya kira kita cukup ngobrolnya… kita fokus dengan yang ada di dalam itu dulu saja” potong pak Diran
__ADS_1
Kami berenam masih di depan hotel… ada yang berbeda dengan hotel itu..
Kaca depan dan pintu depan Hotel Singgasana Adem Ayem hancur berantakan…. Sedangkan kedua petugas polisi yang bertugas berada disini tidak ada di tempat… entah mereka ada dimana.
“Hotel saya kenapa pintu dan kaca depannya hancur seperti itu?” kata pak Jay
“Apa mungkin ada yang merampok atau melakukan vandalisme pak?” jawab mbak Tina
“Bukan bu Tina…memang ada yang sengaja menghancurkan hotel ini, ingat ketika kita datang ke sini, ketika Watuadem atau Solikin mati tenggelam, tidak ada petugas kepolisian yang menuju ke belakang… mungkin mereka sengaja ditulis, dan setelah kita pergi dari belakang, mereka dirasuki iblis yang ada disini atas suruhan arwah Solikin” kata pak Diran
“Jelas berbahaya untuk masuk ke dalam, karena di dalam sana pasti ada dua petugas kepolisian yang menjadi gila dan menghancurkan semua yang ada disini, dan sekarang keduanya ada di dalam sana pak” aku berusaha untuk berlogika saja atas kejadian yang sekarang terjadi di sini.
“Pak Diran… saya bisa deteksi dua polisi itu ada dimana” kata pak Hendrik
“Iya pak Hendrik.. Dari energi yang ada disana, saya bisa tau mereka sekarang ada di kamar belakang ruang utama.. Gimana kita selesaikan juga kah mereka pak?” kata pak Diran
“Gini saja pak Hendrik, kebetulan di kantong celana saya, saya masih simpan kemenyan, kita bisa pancing mereka keluar dari rumah, kemudian kita bakar iblis yang ada di dalam tubuh mereka” kata pak Diran
“Sebentar pak Diran… tadi kata bu Tugiyem, arwah Solikin akan cari tubuh untuk bisa masuk ke hotel ini, sedangkan untuk sekarang yang ada di sini hanya kita dan mungkin dua petugas polisi yang tugasnya berjaga disini saja kan”
“Yang menjadi pertanyaan, apakah saya, mbak Tina, pak Jay tidak akan dimasuki arwah Solikin?”
“Hmm benar juga.. Ehhm tapi kalau bu TIna tidak mungkin karena bu Tina ada yang melindungi, yang saat ini kosong adalah pak jay.. Jadi pak Jay yang harus kita lindungi, akan saya beri pagar di tubuh pak Jay” kata pak Diran
Setelah selesai dengan urusan pak Jay, pak Diran mengeluarkan bungkusan kecil dari dalam kantong celana, bungkusan koran kecil itu kemudian dia buka.
__ADS_1
Pak Diran berjalan pelan menuju ke sedekat mungkin dengan ruang utama… kemudian dia mengeluarkan korek api, di depan kantor lobi dan kantor hotel pak Diran menyalakan kemenyan, kemudian dia mundur ke tempat kami menunggu.
“Pak Hendrik.. Sebentar lagi iblis itu akan keluar dari dalam hotel, kemudian kita lawan mereka pak” kata pak Diran
“Iya benar pak Diran.. Saya sudah mulai merasakan adanya kekuatan hitam yang bergerak dari dalam sana menuju keluar… gampang banget memancing mereka keluar dari sana ya” kata pak Hendrik
Kami menunggu sesuatu yang akan keluar dari dalam hotel, asap putih dari kemenyan yang dibakar pak Diran itu memenuhi bagian depan dari hotel Singgasana Adem Ayem.
Suara langkah kaki yang tidak beraturan dan suara brak brak mulai terdengar…pasti kedua petugas polisi yang kerasukan iblis suruhan Solikin atau Waduadem ini.
Suara sesuatu yang didorong dan dilempar yang kemudian menimbulkan suara sesuatu yang berantakan makin jelas terdengar dari sini.
“Ayo kita maju ke sana pak Hendrik, mereka sudah jalan menuju ke kemenyan yang saya bakar” bisik pak Diran
“Eh pak Jay, pak Agus, bu Tina dan Jiang. Cari sesuatu yang bisa kalian gunakan untuk memukul dan mempertahankan diri, apabila ada serangan dari yang akan keluar sekarang ini” kata pak Diran’
Untungnya di sekitar parkiran ini ada batang-batang pohon yang cukup besar, batang pohon yang ditebang ketika proses pembangunan hotel Singgasana Adem Ayem.. batang pohon itu dipotong potong dan disusun hingga nampak bagus seperti tumpukan kayu bakar.
Aku, mbak Tina, pak Jay dan Jiang mengambil beberapa kayu yang besar dan bisa kami gunakan untuk mempertahankan diri apabila ada serangan dari yang akan keluar nanti.
“Merunduk….”
“Kalian tunggu disini, saya dan pak Hendrik akan berusa mengurung mereka dulu, sehingga nanti bisa kita buang iblisnya” kata pak Diran
“Kalian jangan takut, karena kemenyan itu sudah saya beri doa yang bisa melemahkan energi mereka yang menghisapnya dalam-dalam” tambah pak Diran
__ADS_1
Meskipun keadaan sangat gelap, tapi aku bisa melihat orang yang keluar dari lobi hotel, pintu lobi hotel yang sudah rusak itu mereka tabrak saja… dan kayaknya mereka tidak merasa kesakitan sama sekali ketika menabrak daun pintu hotel yang sudah patah.
Dua orang berseragam dinas polisi keluar dari dalam ruangan lobi hotel.. Tangan kanan mereka memegang kayu yang sangat besar. Pakaian mereka sudah compang camping, dan cara berjalan mereka agak aneh, karena agak sempoyongan gitu