RUMAH PENGGERGAJIAN

RUMAH PENGGERGAJIAN
43. HARUS DIRAWAT


__ADS_3

Beberapa perawat datang, mereka menghampiri aku yang masih duduk di kursi ruang tunggu IGD. Dadaku rasanya panas dan seperti melepuh.


Padahal waktu tadi pagi hingga siang hari hanya lebam hitam saja, aku heran kenapa bisa seperti melepuh begitu.


Seorang dokter menghampiriku kemudian Tina berbicara tentang luka yang aku derita, kemudian dokter itu mendatangiku dan melihat luka yang ada di dadaku.


“Kenapa bisa begini pak, ini luka bakar sepertinya sudah beberapa hari hingga ada beberapa bagian yang mulai bernanah” kata dokter muda itu


“Ini baru kemarin dok” sanggahku


“Kok bisa luka sebesar ini di bagian dada, memangnya terkena apa pak” tanya dokter itu lagi


“Saya tidak tau dok, tiba-tiba waktu bangun tidur dada saya seperti itu”


“Luka bapak ini mirip dengan luka terkena besi yang sedang membara, sehingga bisa melelehkan jaringan kulit dan sebagian daging bagian dada ini”


“Mungkin seumpama kalau besok sampean kesini, jelas sudah ada jaringan yang membusuk, dan itu tentu saja harus dirujuk ke rumah sakit kota” kata dokter jaga itu lagi


“Eh untuk sementara ini apa yang bisa dilakukan dok? maksud saya apakah luka suami saya ini bisa mendapat pertolongan disini?” tanya Tina


“Tentu saja bisa bu, nanti akan kita bersihkan dan sebagian jaringan yang mulai bernanah akan kita ambil, memang sedikit sakit , tetapi langkah pertama itu agar steril dulu” jawab  Dokter itu


“Ya sudah dok ndak papa, pokoknya luka suami saya tidak menimbulkan infeksi”


“Iya bu, hanya saja saya heran, apa yang menyebabkan luka berbentuk bundar yang ukuranya lumayan besar ini”


“Karena luka seperti ini itu seperti kalau kita dinyos besi yang masih membara” kata dokter itu sambil memerintah perawatnya untuk mengambil beberapa obat


Dengan cermat dokter muda itu membersihkan luka yang ada di dadaku secara perlahan-lahan menggunakan kain kasa dan kapas yang dicelupkan di cairan alkohol.


Kalau ini bukan sakit sedikit , tapi bukan main sakitnya. Dokter itu dengan telaten membuang bagian luka yang bernanah hingga luka di dadaku bersih dan berdarah tentunya.


Setelah itu dia memberikan sebangsa salep yang dibalurkan ke seluruh luka yang ada di dadaku, hingga dadaku rasanya tebal. Kemudian menutupnya dengan perban.


“Sudah selesai, untuk tahap pencegahan terhadap infeksi sudah selesai, nanti akan saya beri obat minum yang harus diminum, Dan tidak boleh sampai lupa”


“Pokoknya jangan sampai lupa minum obat, karena itu adalah antibiotik dan ada lagi obat antinyeri dan antiradang” kata dokter itu lagi


“Bu, kalau nanti malam suami ibu kesakitan, tolong berikan obat minum  yang akan saya resepkan nanti dan bisa ditebus di sini saja, karena bagian farmasi tentu saja sudah jam segini sudah tutup”


“Oh iya bu, seumpama nanti malam perbannya sudah mulai banyak darahnya, lebih baik diganti yang baru saja, tetapi sebelumnya harus dioles salep anti infeksinya dulu.


“Lho dok bukanya buka perban bisa besok pagi saja?” tanya Tina


“Begini bu, luka yang diderita suami ibu ini rawan infeksi, saya takut darah yang membekas di perban itu bisa menimbulkan infeksi lagi.

__ADS_1


“Kalau perbannya nanti malam tidak penuh darah, maka  besok pagi saja perbannya dibuka dan kemudian dioles salep yang seperti yang saya berikan tadi itu, kemudian diperban lagi”


“Oh iya bu luka itu jangan sampai kena angin, karena akan sakit kalau terkena angin”


“Besok pagi datang kesini, ke poli umum saja, karena saya juga ada praktek disana”


Setelah selesai dengan biaya administrasi, kami kemudian pulang ke rumah Tina, Tina benar-benar memperlakukan aku sebagai suaminya, aku yang merasa makin tidak enak.


“Mas , duduk dulu di sofa sana mas, Tina mau lihat luka mas Agus dulu” katanya dengan serius


“Tapi mbak Tina, aku harus pulang, karena Burhan ku tinggal sendirian dirumah”


“Mas Agus tadi apa tidak dengar apa yang dibicarakan oleh dokter, kalau mas Agus ndak dengar… sini Tina ulangi lagi hingga mas Agus paham” katanya lagi dengan serius


“Iya mbak Tina, saya paham sekali, tapi bagaimana dengan Burhan yang baru pertama kali dia ada di sana”


“Biarkan saja dia mas, dia kan sudah dewasa, pasti dia bisa mengatasi yang ada disana, seperti mas Agus hingga mengalami kejadian seperti ini”


“Pokoknya hingga besok pagi luka mas Agus mulai baikan, mas Agus bisa balik ke rumah sana lagi, tetapi dengan syarat lukanya harus baik dulu”


“Atau begini saja, Mas Agus disini sementara Tina akan memberi kabar kepada teman mas Agus bahwa mas Agus sedang  sakit”


“Jangan mbak Tina, lebih baik besok pagi saya yang pulang untuk memberitahu Burhan dan pak Solikin”


“Ok mas dan kalau mas Agus mau pulang, nanti Tina yang akan antar mas Agus” kata Tina lagi


Kenapa juga lukaku semakin parah hingga harus dirawat dengan intensif gini, kalau aku ada disini lalu aku harus alasan apa kepada Burhan dan bu Tugiyem.


Apa yang harus kulakukan ini…


“Kenapa mas kok diem, ada yang dipikirkan mas?”


“Iya mbak Tina, saya kepikiran sama Burhan dan rumah penggergajian”


“Gini aja mas, gimana kalau malam ini Tina antar pulang ke sana, nanti Tina ikut nginap disana, besok paginya kita ke rumah sakit lagi mas”


“Hmm saya takut kalau Burhan curiga sama saya dan mbak Tina, bisa-bisa dilaporkan ke bos besar nanti mbak”


Aku berusaha mencari alasan yang tepat agar bisa lepas dari Tina dan bisa pulang ke rumah dengan selamat.


Tapi hingga kini aku belum bisa mendapatkan alasan yang tepat untuk pulang kerumah.


“Saya mau saja mbak Tina antar ke rumah, dan besok pagi kita ke rumah sakit, tetapi saya takut kalau dilaporkan Burhan dan solikin bahwa saya bersama seorang perempuan cantik hihihii”


“Jangan gitu mas, pokoknya mas Agus harus sehat dulu baru Tina perbolehkan pergi”

__ADS_1


Aku makin puyeng dengan keadaan ini….


Apa lebih baik sekarang aku bersama Tina pulang dulu untuk beritahu Burhan, tapi kemudian balik lagi ke sini…


Mungkin itu ide bagus untuk ku, jadi  ada alasan bagus bagi Burhan, tetapi bagaimana dengan bu Tugiyem dan Anik, karena mereka pasti akan datang siang harinya.


“Mbak Tina, besok pagi kita ke rumah sakit jam berapa kira-kira?”


“Poli disana itu biasanya jam delapan sudah buka mas, gimana apa mas Agus tetap akan pulang, Tina akan antar mas Agus, nanti terserah mas Agus mau balik ke sini atau Tina sekalian tidur di rumah itu”


“Jangan mbak, malah jadi omongn orang kalau mbak Tina tidur di rumah sana”


“Eh gini saja mbak, kalau mbak Tina bersikeras mau antar saya ayo dah mbak, tapi setelah itu kita kembali ke rumah mbak Tina lagi”


Akhirnya daripada rame, aku putuskan untuk pulang ke rumah sebentar untuk bilang kepada Burhan bahwa aku akan ke rumah sakit besok paginya.


Sebenarnya aku cukup takut juga dengan keadaan lukaku, karena sekarang semakin cenat cenut daripada tadi.


“Mbak Tina, dada saya kok sekarang cenat cenut gini aduuuhhh”


“Nah kan,, gini kok mas Agus minta pulang sendirian, sudah lah minum obat dulu saja, setelah itu ayo Tina antar pulang”


“Tapi dengan satu syarat, jangan menoleh apapun yang memanggil mas Agus apabila kita lewat tengah hutan nanti


Akhirnya dengan menggunakan motor mbak Tina, kami berdua jalan menuju ke rumah penggergajian.


Saat ini pukul 21.16, cukup malam juga apabila lewat hutan mengerikan ini, tapi berhubung saat ini aku bersama dengan mbak Tina, mungkin ketakutanku tidak seperti biasanya.


Tidak ada yang berarti selama perjalanan bahkan bisa dibilang saat ini adalah perjalan menembus hutan yang  paling aman.


Beberapa menit kemudian dari kejauhan rumah penggergajian sudah terlihat karena terkena lampu motor yang tidak begitu terang sempat menerangi pagar rumah.


Hingga akhirnya motor sudah sampai di pagar rumah….


“Mas, kok gelap gitu, jangan-jangan Burhan tidak ada dirumah” kata Tina


“Nggak mungkin mbak, saya sudah bilang dia untuk tidak meninggalkan rumah apapun yang terjadi”


“Iya kalau mas Agus, meskipun sampai dihantui macam-macam ya tetap saja ada disini, beda dengan orang lain mas. Mungkin lebih baik menyelamatkan diri


Aku turun dari boncengan motor, kemudian aku berjalan ke pintu pagar..


Dari tempatku berdiri aku bisa lihat bahwa pintu pagar tidak digembok sama sekali.


“Mbak Tina… pagar rumah itu tidak digembok” aku berkata sambil memegang dadaku yang makin sakit, mungkin karena terkena angin malam

__ADS_1


“Jangan buru-buru masuk dulu mas, lebih baik mas Agus lihat sekeliling dulu”


__ADS_2