
“Gimana mas, apa yang dibilang pak Jay?” tanya istriku setelah aku menutup panggilan telepon kepada pak Jay
“Besok dia dan pak Hendrik akan kesini, pak Jay minta penjelasan detail mengenai apa yang terjadi dan rencana kita”
“Terus mas Agus bilang apa?”
“Ya aku gak bilang apa-apa yank, karena mereka akan kesini besok… eh besok pagi malahan pak Jay bilang”
“Terus rencana kita gimana mas, apa Tina harus packing mulai sekarang?”
“Rencana tetap dan tidak berubah, masalah kita berangkat kan tergantung dari pembeli rumah kamu. Kapan pembeli itu akan bayar dp dan pelunasannya, jangan sampai kita pergi dari sini tanpa membawa apa-apa”
“Iya mas…besok pagi kan pembeli akan membayar dp rumah dulu, nanti setelah itu baru diadakan pelunasan dan ke notaris untuk urus semuanya”
“Nah berarti kan tidak bisa dalam waktu dekat ini kan kita pindahnya, bisa saja kita disini masih seminggu lagi”
“Kan bisa aja kita pergi dari sini besok siang mas, uang dp dua puluh persen kan akan dibayar besok pagi. Kita bisa nginap di losmen atau kos seminggu saja sambil menunggu uang pembayaran rumah lunas”
“Wah resiko juga lho yank, berarti kita ada di sekitar sini masih satu minggu lagi, dan apakah kita bawa juga si Gusta selama satu minggu itu?”
“Lha terus menurut mas Agus gimana mas?”
“Bagiku semakin cepat pergi dari sini dengan membawa dua anak kita itu semakin baik, dari pada kita tetap ada disini dengan berbagai macam perlawanan yang harus kita lakukan”
“Karena bagiku kita pasti akan mendapat perlawanan. Misal kita tetap ada disini dengan kondisi Gusta masih ada di tempat pak Diran, maka bukan aku saja yang akan mendapat masalah dengan kepala yang sakit”
“Tapi anak kita juga, coba kamu lihat si Gustin, akhir akhir ini semakin malas untuk bergerak, karena tubuh tak kasat mata merek bermain sepanjang malam”
“Kemudian yang aku takutkan dengan keadaan mereka, mereka akan semakin senang hidup di luar tubuh tak kasat matanya, karena dengan tubuh tak kasat mata, mereka bisa bersatu layaknya saudara kembar. Dan tentu saja dampaknya bahaya”
Keputusan pergi dari rumah untuk menuju ke luar pulau tentu saja merupakan hal yang tepat dan berat, dan harus dilakukan secepatnya, agar dampaknya terhadap keluargaku tidak semakin membahayakan.
Aku sudah tidak memikirkan proyek lagi, sudah dua hari ini aku tidak kontrol keadaan proyek, tapi ya sudahlah, memang aku sebenarnya sudah malas untuk pergi ke proyek.
Sore ini aku duduk di teras, sambil menunggu siapa tau pak Diran akan ke sini, saat ini aku gak tau apakah pak Diran piket malam atau pagi.
Aku hanya melamun tentang apa yang harus aku lakukan apabila ada di daerah yang asing, nggak terasa sore berubah menjadi senja adan adzan maghrib tiba.
Tapi aku masih ada di teras, sementara istriku sibuk dengan anakku yang dari tadi agak rewel. Ya si Gustin semenjak siang ini rewel, gak mau lepas dari gendongan ibunya.
__ADS_1
Aku lebih baik ada di teras dari pada mendengar bayi yang rewel. Aku masih membayangkan rencana apa yang akan kami lakukan di tempat yang asing, hingga tiba-tiba..
“Selamat petang bapak Agus” sapa seseorang yang sudah berdiri di depan pagar rumahku
Kusipitkan mataku agar aku bisa jelas melihat orang yang ada di depan rumah, karena entah kenapa kebetulan lampu penerangan jalan belum juga nyala, biasanya sore hari menjelang petang gini lampu penerangan jalan sudah nyala.
“Iya… siapa ya pak?” tanyaku kepada orang yang ada di depanku
“Boleh saya masuk dulu untuk memperkenalkan diri saya pak”
“Oh iya… silahkan masuk” aku berdiri dan berjalan ke pintu pagar untuk membuka pintu pagar dan mempersilahkan orang yang aku tidak kenal itu masuk
Nggak tau kenapa tiba-tiba aku merasa kenal dan tau orang itu.
Sehingga tanpa tanya siapa namanya, dari mana asalnya dan ada keperluan apa mencari aku, langsung aku bukakan pagar dan aku persilahkan masuk ke dalam rumah.
Yang pasti entah kenapa aku merasa kenal dan aku merasakan ada sesuatu yang bertautan dengan diriku, sehingga aku merasa senang ketika orang tinggi besar itu masuk ke rumahku.
Orang tinggi besar itu masuk ke halaman rumah, kemudian di tengah halaman dia berhenti melangkah dan melihat ke kiri, kanan sekitar halaman.
Orang itu diam beberapa saat hingga aku harus mengajaknya untuk masuk ke dalam rumah.
“Ah saya senang diluar sini saja, kita ngobrol di teras rumah saja pak.. Nggak usah manggil ibu Tina, kita berdua saja yang ngobrol di luar” kata pemuda tinggi besar sambil tersenyum ramah
“Eh gitu, ayo duduk di kursi teras saja pak… kita ngobrol disana”
Nggak tau kenapa, ketika dia menyebut nama ibu Tina, aku merasa bahagia, aku merasa seperti seorang tua yang dihormati oleh yang lebih muda, seolah perasaanku mengatakan bahwa orang yang ada di depanku ini bukan orang jauh.
Orang itu tersenyum ramah kepadaku, dan nggak tau kenapa aku belum menanyakan siapa namanya, dan ada keperluan apa kesini.
“Ah saya perkenalkan diri dulu bapak Agus, eh sebenarnya saya ini bukan orang asing bagi ibu Agustina dan bapak Agus Priambodo
“Eh kok anda tau nama lengkap saya dan istri saya?” aku heran ketika orang itu sebutkan nama lengkapku dan nama lengkap Tina istriku
“Hehehe saya kan bilang kalau saya ini bukan orang jauh pak, bahkan saya bisa dikatakan orang yang sangat dekat dengan bapak dan ibu”
“Sangat dekat sekali sehingga bapak merasa saya bukan orang lain lagi” kata laki-laki itu tersenyum
“Wah jangan kasih saya teka teki pak, bapak ini siapa dan ada keperluan apa ke sini”
__ADS_1
“Bapak Agus, jangan panggil saya pak, saya masih jauh terlalu muda, bapak bisa panggil saya mas saja hehehe”
“Ok baiklah, sampeyan ini siapa mas?”
“Maaf pak, saya datang kesini untuk memberitahu ibu dan bapak agar segera pergi dari sini dan mengajak saya sebelum masa depan saya dan adik saya berubah menjadi mengerikan”
“Eh kamu ini siapa anak muda, dan kenapa saya harus ajak kamu pergi dari sini, dan apa hubunganya saya dengan masa depanmu”
“Saya adalah anakmu pak.. Saya adalah Gusta” kata pemuda tinggi besar itu menunduk
Belum hilang rasa heranku, tiba-tiba istriku memanggilku untuk masuk dan sholat maghrib.
Ketika aku menoleh sejenak ke dalam, tiba-tiba pemuda yang mengaku bernama Gusta itu menghilang. Sekarang kursi sebelahku kosong, tidak ada pemuda tinggi besar dan ganteng.
Hanya aku sendirian di teras rumah saja.
Merinding!..... Aku segera masuk ke dalam rumah.
“Kenapa mas?” tanya Istriku
“Nggak papa yank… aku mau magriban dulu, nanti aku ceritakan apa yang tadi aku alami”
*****
Di ruang tamu setelah dik Gustin tidur di kamarnya, aku bersama Tina istriku, yang menunggu penjelasanku tentang apa yang tadi mau bicarakan dengan dia
“Tadi sebelum adzan magrib, ada pemuda tinggi besar datang ke sini….”
“Terus?” tanya istriku dengan tatapan penuh tanda tanya
“Nggak tau yank, awalnya aku sangat familiar dengan pemuda yang datang itu, hingga aku tidak menanyakan siapa dia, dan ada perlu apa datang ke sini
Aku ceritakan semua kepada istriku, dari gambaran wajah, cara berjalan, pakaian dengan style yang bermuda dengan apa yang dipakai pemuda pada masa ini, hingga cara dia menyebut dengan bapak dan ibu.
TIna mendengarkan dengan heran apa yang aku jelaskan..
“Kemudian ketika kamu memanggil aku, ketika aku menoleh ke kaca untuk menjawab panggilanmu, tiba-tiba saja pemuda itu hilang yank…. Dia hilang begitu saja”
“Apa yang terjadi dengan anak kita kalau kita tidak segera pergi dari sini mas?”
__ADS_1
“Nggak tau, Gusta tidak menjelaskan sama sekali, dia hanya bicara itu saja kemudian dia hilang”