RUMAH PENGGERGAJIAN

RUMAH PENGGERGAJIAN
25.TOLONG JANGAN GANGGU SAYA


__ADS_3

Apa yang mengganggu pikiranku saat ini, kenapa aku tidak bisa memejamkan mata sama sekali?


Kualihkan pikiranku pada hal-hal lain, tetapi tetap saja tidak bisa, karena yang ada di kepalaku saat ini adalah sosok yang ada di depan rumah.


Aku masih belum bisa menebak siapa yang ada di luar tadi, tapi aku yakin itu hanya batang pohon yang terkena bayangan bulan


Hanya saja rasa yakin bahwa itu hanya sebatang pohon akhirnya sirna ketika aku merasa bahwa yang ada disana itu bukan batang pohon.


Batang pohon tidak bisa membentuk kepada, lengan, tubuh , kaki!.


Analisa otaku yang makin mengerucut ke tubuh orang.


Akibatnya sekarang sama sekali tidak ada rasa ngantuk. pikiranku masih mengacu pada sosok yang ada di antara pohon pohon depan rumah.


“Itu koyoke Mamad!” kataku dengan mantab


Jantungku berdebar, keringat dingin mengalir ketika aku bayangkan sosok yang ada di antara pohon itu dengan temanku yang baru saja meninggal.


Kupadu padankan sosok bayangan itu dengan tubuh Mamad, ternyata tinggi badan dan bentuk postur tubuhnya mirip dengan Mamad


“Kenapa kok persis sama Mamad!”


“Apakah itu Mamad. Tapi dia kan sudah mati”


Darahku berdesir ketika kusebut nama temanku yang sudah meninggal itu, sekarang yang ada di pikiranku adalah wajah Mamad yang ada di antara pohon di luar itu


“Nggak… nggak mungkin, dia kan sudah meninggal, tidak mungkin dia ada disini”


Aku terus berusaha agar tertidur, tapi mata ku ini masih segar, dan otaku terus menganalisa sosok yang ada disana itu tadi.


Kulihat jam tanganku, ternyata sudah pukul 21.08. masih jauh dari pagi untuk melakukan aktivitas. Masih jauh dari munculnya matahari pagi.


“Besok pagi akan ada solar datang, dan mungkin juga ada kayu datang, apa yang harus aku lakukan?”


“Ah dipikir besok pagi saja lah”


Aku berusaha memikirkan masalah lain tentang solar dan kayu yang akan datang besok pagi.


Tapi tiap aku berhasil memikirkan solar dan kayu, tiba-tiba wajah Mamad yang ada di balik pohon muncul lagi di dalam pikiranku.


Untungnya ruang tamu terang benderang, di area dapur dan kamar mandi juga terang, kamarku juga ada cahayanya, kecuali kamar bekas Mamad.


Jadi aku tidak seberapa ketakutan, aku masih bisa melihat cahaya yang ada di ruang tamu.


“Tapi aku harus bisa tidur….”


Setelah beberapa saat ku alihkan pikiranku ke  hal-hal yang menyenangkan seperti memikirkan pacarku eh nggak ding, aku mikirkan wajah dik Anik akhirnya perlahan lahan aku bisa ngantuk, dan akhirnya aku bisa tidur.


*****


Tok…Tok…Tok…Tok…Tok…Tok…


Suara ketukan lemah itu membangunkanku..


Aku menatap langit langit kamar yang gelap. ku toleh kiri kanan semua gelap. tidak ada cahaya sama sekali baik di kamar atau di ruang tamu.


“Kenapa gelap…?”


“Suara apa tadi itu…..”


Keadaan kamar gelap gulita..


Pintu kamar tertutup rapat, tapi dari celah lantai aku bisa tau keadaan di ruang tamu yang harusnya terang benderang karena ada dua lampu petromak yang menyala.


Tapi ruang tamu tidak terang!…

__ADS_1


“Kenapa lampu petromak di luar itu tidak terang cahayanya?”


“Kok cahayanya malah mirip cahaya lilin”


Celah antara daun pintu dan lantai kamar memang agak lebar, mungkin sekitar dua centimeter, sehingga cahaya yang ada di ruang tamu akan terlihat dari kamar.


Mataku tidak pernah bisa lepas dari celah pintu, karena rasa penasaran dengan cahaya lampu petromak yang sekarang mirip cahaya lilin.


Keringat dingin mulai membasahi dahiku, bulu kudukku pun berdiri ketika sinar yang terlihat dari celah pintu dan lantai itu terhalang oleh sesuatu.


Ada yang sedang menghalangi sinar dari ruang tamu.


Akibatnya tidak ada cahaya temaram lagi yang masuk ke dalam kamar melalui celah pintu.


Ada sesuatu yang sedang berdiri di depan pintu kamarku!


Sesuatu itu berdiri di depan kamarku, entah kenapa aku bisa merasakan ada sesuatu yang sedang berdiri di depan pintu kamar.


Cahaya temaram yang harusnya masuk ke dalam kamar melalui celah antara lantai dengan daun pintu pun sudah tidak nampak lagi.


Sesuatu itu tetap berdiri di depan kamarku….


Aku masih bisa merasakannya…..


“Ada orang di depan kamarku……” gumamku pelan


Jantungku berdegup keras, kepalaku mulai terasa berat dan besar. Tapi sayangnya mataku tidak pernah bisa lepas dari celah pintu itu.


Mataku terus terpaku pada celah antara lantai dengan daun pintu!. Aku terus memandang itu!


Aku mematung di tempat tidurku, nafasku menjadi kencang, sesuatu itu masih menghalangi cahaya yang masuk melalui celah pintu!


Nafasku tersengal-sengal seakan akan oksigen yang ada di dalam kamar ini habis ketika tiba-tiba aku mendengar sesuatu yang tidak asing……..


Suara  handle pintu kamar yang di tekan , handle pintu kamarku bergerak gerak ke bawah dan keatas dengan lambat.


“Ya Allah… lindungi aku ya Allah….”


Aku berdoa dengan suara lirih, aku takut apabila yang ada di depan kamar tiba-tiba mendobrak masuk ketika mendengar suaraku.


Handle kamar bergerak pelan, ada yang berusaha membuka pintu kamar, tetapi tidak bisa terbuka karena sebelum tidur kamar ini aku kunci.


Beberapa kali handle kamar bergerak gerak pelan dan lembut, tapi tetap saja tidak bisa terbuka.


Mataku nanar, pikiranku buntu, aku tidak bisa berpikir apa atau siapa yang ada di depan kamarku.


Tidak ada yang bisa kulakukan selain berdoa dan berharap agar yang ada di depan kamarku segera pergi dari sana.


Aku tidak bergerak sama sekali, bergeser atau pindah posisi tidur pun aku tidak berani, karena tempat tidur ini akan berbunyi apabila aku sedikit saja bergerak.


Untuk teriak pun percuma karena aku tinggal sendirian disini.


Hingga Beberapa kali handle pintu kamar bergerak gerak,  beberapa menit  kemudian berhenti, tetapi bayangan itu masih ada di depan kamar.


Beberapa saat setelah gerakan handle pintu itu berhenti, mendadak bayangan yang terlihat melalui celah lantai pun hilang.


Tapi ada lagi yang kutakutkan…..


Perlahan-lahan cahaya lampu petromak yang sudah redup itu makin meredup, dan akhirnya cahaya petromak yang makin redup itu akhirnya mati sama sekali!


“Ya Allah lampu petromak itu mati!”


Kini kegelapan yang ada di sekelilingku, tidak ada cahaya sama sekali di dalam kamar, tetapi tanganku masih memegang senter kecil andalanku.


Tidak ada suara apapun, baik itu binatang malam atau jangkrik yang biasanya selalu terdengar di sisi kamar.

__ADS_1


Yang terdengar keras hanya suara nafas dan degup jantung saja!.....


Aku masih telentang di tempat tidur tanpa berani bergerak sama sekali, bunyi yang timbul akibat gerakanku pasti akan mengundang mereka yang diluar untuk masuk ke sini.


Tubuhku kaku, otot ku seolah olah mati, separuh anggota tubuhku kebas,hingga aku tidak bisa merasakan kakiku lagi.


Aku telentang dengan senter kecil yang ada di tangan kananku…


“Apa yang harus kulakukan ya Allah…”


“Tolong jangan ganggu aku….”


“Tolong jangan ganggu aku….”


“Aku hanya bekerja disini, tolong jangan ganggu aku”


Dalam kondisi mematung ini kemudian aku mendengar suara…


Suara langkah kaki, tetapi suara itu ada di dalam rumah….


Suara orang yang sedang jalan dari ujung ruang tamu menuju ke ujung dapur dan kembali lagi ke ruang tamu….


Tidak terasa air mataku mulai mengalir dari sudut mataku, hingga membasahi kelopak bawah samping mata dan  telinga.


Kututup mataku yang penuh dengan air mata yang terasa hangat di dalam kelopak mata.


Suara langkah kaki orang itu terus berjalan mondar-mandir dan tidak berhenti, mulai dari ujung pintu ruang tamu kemudian ke dapur dan kembali lagi begitu seterusnya.


Suara orang yang sedang mondar mandir dengan langkah yang sangat lambat dan tekanan kaki dan langkah yang lemah.


Punggung terasa panas, kepala rasa nya semakin membesar,  tubuhku bergetar, jantungku semakin terpacu hingga akhirnya aku tidak ingat apapun!


*****


Aku terbangun ketika sinar matahari pagi mengenai wajahku, mataku belum bisa terbuka dengan sempurna, mungkin karena silau oleh sinar matahari yang masuk melalui kisi-kisi jendela.


“Ya Allah ternyata tadi aku pingsan..”


“Alhamdulillah aku masih selamat!”


Ku Toleh kiri kanan di kamarku, ternyata lampu minyak yang ada di dinding kamar masih nyala, pintu kamar pun tertutup rapat.


Suara cuitan burung-burung terdengar ramai sekali di samping kamar yang bersebelahan dengan hutan, kemudian kucoba untuk duduk di tepi tempat tidur.


“Uhhggh punggungku sakit sekali, dan ternyata saat ini sudah pukul 07.15”


Aku terus perhatikan lampu minyak yang masih menyala, karena semalam kan lampu minyak itu mati!


Badan ini rasanya sakit semua dan kaku, sehingga beberapa kali aku jatuh ketika kucoba untuk berdiri, meskipun pada akhirnya aku bisa berdiri juga.


Tetapi aku masih belum berani membuka pintu kamar meskipun saat ini matahari sudah mulai terang.


Tetapi aku harus keluar kamar, karena pagi ini katanya sudah ada yang akan bekerja.


Harus dipaksakan untuk keluar dari kamar meskipun rasa takut itu masih ada.


“SOLAAARRRR…. SOLAAARRRR”


Suara teriakan orang dari depan rumah, dengan beberapa kali orang itu membunyikan klakson mobilnya


“Ya Allah pagi ini kan memang ada kiriman solar yang datang, duh kok bisa sampai lupa aku!”


“IYA PAAAAK SEBENTAR…. SAYA AKAN KELUAAARR!!”


Aku berteriak agar pengirim solar itu tau kalau di rumah ini ada manusianya

__ADS_1


__ADS_2