
Tengah malam bergulir menuju pagi…
Pagi yang masih terlalu dini untuk disebut pagi, karena saat ini masih pukul 01.20….
Setelah selesai menjelaskan kepada pak Kamidi tentang aku dan mas Agus, kemudian kami berdua menuju ke rumahku… rumah yang sudah kutinggalkan semenjak mas Agus masuk rumah sakit.
Aku dan mas Agus berjalan kaki menuju ke arah rumah yang tidak jauh dari tempat pos kamling.
Sengaja mas Agus tidak menyalakan mesin motor, selain memamg susah untuk dinyalakan, juga agar tidak membangunkan tetangga rumahku.
Motor pak Pangat mas Agus tuntun, motor ini sangat berguna untuk transportasi kami berdua. Meskipun sebenarnya aku ada motor juga kan.
Tapi sayangnya motorku sekarang ada di rumah sakit, aku tinggal disana karena aku harus ikut dengan Paijo pada waktu itu.
“Mas… gimana kalau motor Tina kita ambil di rumah sakit saja?”
“Iya mbak… harusnya kita ambil saja, tapi paling juga keadaanya sama kayak motor pak Pangat ini, atau bahkan bisa saja lebih buruk mbak, karena disana motor mbak Tina kan dijemur matahari”
“Atau bahkan bisa saja saat ini motor itu sudah tidak ada disana lagi mbak. Mungkin sudah diamankan karena selama satu tahun tidak ada yang mengambil motor itu”
“Saya yakin kita sedang melintasi waktu mbak, ketika kita turun ke lubang yang ada di makam Inggrid, mungkin secara tidak sengaja kita menyenggol pintu gerbang waktu”
“Saya penasaran dengan keadaan rumah penggergajian mbak.. Apakah selama satu tahun kita tinggal rumah itu sudah berubah fungsi atau gimana”
“Iya mas… tapi sebelumnya kita harus tau dulu, kenapa dan apa alasannya kok sampai kita berdua melintasi waktu” aku lirik si Inggrid yang melayang tanpa melihat ke arahku.
“Saya rasa Inggrid harus menjelaskan hal ini mbak… tapi nanti saja ketika kita sudah sampai di rumahnya mbak Tina”
Rumahku yang gelap dan sangat kotor….
Halaman depan penuh dengan daun dan debu.. Ada beberapa sampah tas kresek yang nyangkut di pagar rumah..
Rumahku yang seharusnya tidak ada dua minggu aku tinggalkan.. Tapi ternyata kenyataanya ada sekitar satu tahun aku tinggalkan.
“Kunci rumah ada di mana mbak?””
“Ini mas.. Selalu Tina bawa kemanapun Tina pergi mas… kunci rumah ini tidak pernah ketinggalan!”
“Bawa sini mbak.. Biar saya buka dulu gemboknya”
Dua buah kunci.. Yang tergabung menjadi satu aku serahkan ke mas Agus…
Yang satu kunci gembok, dan satunya kunci pintu depan. Sedangkan kunci rumah yang lainya aku sembunyikan di tempat yang orang-orang tidak pernah menyangkanya.
Mas Agus berhasil membuka pintu pagar, teras rumah meskipun gelap tapi aku bisa lihat banyak sekali sampahnya. Bahkan ada juga tulang belulang ayam yang berserakan disini.
Sebelum mas Agus membuka pintu rumahku…. Aku suruh Inggrid untuk masuk ke dalam rumah dan melihat ada apa di dalam rumahku.
“Aman.. tidak ada manusia sama sekali , paling juga ada banyak mahluk ghaib miskin yang tinggal di rumah ini” kata Inggrid setelah masuk ke dalam rumahku
“Kenapa kamu bilang mahluk ghaib miskin Nggrid?” tanya mas Agus
“Iya mas… karena mereka yang ada di rumah Tina ini tidak punya tempat tinggal, sehingga mereka akan menempati rumah yang sudah lama kosong mas”
“Dalam waktu tiga hari kosong saja sebuah rumah bisa saja ditempati oleh beraneka ragam demit Nggrid!” jawab mas Agus.
Mas AGus memasukan kunci rumah, setelah membaca basmallah, pintu rumah dibuka oleh mas Agus.
Pintu dibiarkan terbuka lebar dulu, agar udara pengap yang terperangkap di dalam bisa dikeluarkan semua, dan berganti dengan udara yang berasal dari luar.
Setelah menunggu sekitar sepuluh menit, mas Agus masuk duluan ke dalam rumah… dengan menggunakan senter kecilnya mas Agus mencari saklar lampu rumah.
“Mbak Tina.. kayaknya listrik rumah ini sudah dimatikan oleh PLN mbak heheheh, sudah satu tahun tidak ada yang menempati mbak hehehe”
“Iya mas, terus gimana ini mas?”
“Gini saja mbak.. Motor ini saya perbaiki dulu sebentar, di depan rumah kan ada lampu jalan, jadi saya bisa lihat keadaan mesin motor ini, mbak Tina ambil barang-barang di dalam rumah yang kita perlukan mbak..”
“Nanti kita coba cari penginapan yang murah di kota sana, penginapan yang mungkin masih buka malam-malam gini mbaki”
“Untungnya bensin di dalam motor ini masih ada, aneh juga lho mbak.. Seharusnya motor yang ditinggal dan tidak dipakai sangat lama bensin akan menguap mengering dengan sendirinya” kata mas Agus sambil menggoyang goyangkan motor hingga terdengar cairan bahan bakar yang ada di dalam tangkinya
Aku masuk ke dalam rumah bersama Inggrid, dengan menggunakan senter kecil milik mas Agus, aku ambil beberapa potong pakaian milikku dan beberapa potong lagi untuk mas Agus.
__ADS_1
Untungnya aku masih punya simpanan uang dalam jumlah yang cukup banyak, dan uang itu aku simpan di bagian rumah yang orang tidak akan temukan.
Bukanya aku nggak percaya dengan bank, tetapi rasanya lebih percaya diri dengan menyimpan uang dalam kotak besi yang aku taruh di bawah lantai kamarku.
Tepatnya di bawah meja rias kamar.. Ada dua buah keramik yang bisa diangkat dengan mudah, dan dibawahnya ada semacam kotak safety box yang berukuran sedang.
Dan isinya adalah uang hasil pembagian warisan ketika orang tuaku meninggal heheheh.
Sebuah tas ransel yang biasanya digunakan oleh orang-orang yang suka naik gunung aku gunakan untuk menampung pakaian dan tentu saja kotak uang yang tadi sempat aku ambil.
“Gimana keadaan motor ini mas?” tanyaku setelah selesai dengan urusan pakaian dan lainnya.
“Sangat aneh mbak… motor ini aneh mbak…”
“Aneh gimana mas?”
“Bensin ada separuh, ban hanya gembos sedikit, mesin perlu sedikit pembersihan saja, mungkin karena kena air, tetapi yang saya tidak habis pikir adalah oli mesin,dan minyak rem”
“Harusnya dengan waktu satu tahun, motor ini sudah tidak berbentuk, ban sudah kempes, busi kotor, oli mesin pasti juga sudah mengerak, tangki bensin kosong dan berkarat”
“Jadi kayaknya motor ini selalu diisi bensin dan ban nya juga selalu dipompa secara berkala, dan juga oli mesinnya juga pernah ada yang mengganti mbak”
“Tadi saya lihat oli mesin ini masih kental dan masih berwarna kecoklatan bening!”
“Maksudnya gimana mas, TIna makin bingung mas?”
“Ada orang yang memelihara motor ini, dan kadang memanasi motor ini juga mbak”
“Ada orang yang memang sengaja mempersiapkan motor ini dalam kondisi baik, sehingga bisa di pergunakan untuk pergi dan melarikan diri dari sekitar rumah penggergajian”
“Jadi selama setahun ini ada orang yang selalu datang ke belakang pohon beringin hanya untuk mengecek keadaan bensin dan ban motor serta memanasi mesin nya juga”
“Heran kan mbak Tina”
“Iya mas… jadi kesimpulannya motor pak Pangat ini masih layak jalan, dan hanya butuh bersih bersih saja gitu mas?”
“Tepat mbak… motor ini sudah disiapkan disana selama ini!”
“Ya saya tinggal saja mbak, saya gak kepikiran untuk mencabut kunci dari rumah kunci motor”
“Sik sebentar mbak.. Eh tadi mbak Tina ingat nggak apa yang dikatakan pak Kamid, waktu mereka pak Pangat, beberapa polisi dan pak Kamid menemukan motor ini”
“Iya mas.. Terus kata-katanya pak Kamid yang mana yang harus digaris bawahi?”
“Pak Pangat bilang kalau motor itu biarkan di sana saja, dan jangan diambil… itu kan tadi kata-kata dari pak Kamid mbak”
“Hmm iya mas.. Artinya pak Pangat tau bahwa kita berdua akan datang dan mengambil motor ini lagi mas”
“Nah itu mbak…. Tapi tujuan pak Pangat apa?”
“Dan kenapa pak Pangat sampai mengubur mayat palsu segala mbak, lalu kenapa juga ada dokter Joko yang jelas-jelasnya dia bersekongkol dengan paijo?”
“Kayaknya kita harus berpikir lebih luas lagi mas… Tina rasa ada sesuatu diantara Pangat, Paijo dan Joko… kita saja yang belum mampu berpikir ke arah sana mas”
“Kita pikir nanti saja mas… yang penting kita segera pergi dari sini dan mencari penginapan di kota saja dulu… Eh motornya apa sudah bisa dinyalakan lagi mesinnya?”
“Bisa mbak…..”
*****
Setelah perjalanan menuju kota yang hampir tidak ada masalah apapun, akhirnya aku dan mas Agus sudah ada di sebuah kamar losmen yang hingga jam segini masih buka.
Tiga hantu yang dari tadi ikut bersama kami pun sekarang ada di dalam kamar losmen yang tidak bisa dikatakan bersih, karena di tembok dan sebagian sprei ada bercak bercak semacam lendir yang sengaja ditumpahkan ke dinding dan sprei
Yah wajarlah.. Mungkin losmen ini disewakan untuk para wanita malam yang berdagang malam hari hingga pagi hari.
Kami ada di losmen ini hanya untuk sementara saja,karena besok paginya kami akan naik bus untuk menuju ke kota S, kami akan menemui pak Burhan.
“Inggrid… sekarang jujur saja kepada kami… apa yang sebenarnya sedang terjadi pada Tina dan mas Agus?”
“Sebenarnya tujuan kamu ini apa Nggrid?”
Tidak ada jawaban dari Inggrid, dia hanya diam dengan tatapan kosong..
__ADS_1
Inggrid sepertinya sedang menyembunyikan sesuatu yang tidak ingin dibicarakan dengan orang lain.
“Nggrid sekali lagi Tina tanya…. Sebenarnya apa yang sedang terjadi dengan kami berdua ini?”
“Ingat Nggrid, Tina ini keturunan dari penduduk ghaib yang tinggal di tengah hutan, Tina bisa aja tanya ke mereka dan mengusir kamu dari sana dengan mudah”
“Jadi pikirkan baik-baik Nggrid, sebelum kami pergi dari losmen ini, Tina dan mas Agus harus sudah mendapat jawabanya, atau Tina mencari informasi dari Leluhur Tina yang ada di tengah hutan itu”
“Ok kalau memang kamu tidak mau menjawab pertanyaan Tina nggak masalah… nanti setelah dari kota S, Tina dan mas Agus akan datangi leluhur Tina saja”
“J..jangan Tina… jangan bilang ke penghuni hutan…” kata Inggrid
“Kalau begitu jawab pertanyaan Tina Nggrid, apa yang sebenarnya terjadi dengan kami berdua, kenapa kami sekarang ada di masa depan?”
“Dan kenapa pak Pangat sampai tau kalau kami akan muncul lagi di masa depan ini?”
“Begini Tina… sebenarnya ini eeh.. Sebenarnya lubang yang ada di sebelah makam Inggrid itu…”
“Apa Inggrid. Ayo katakan dengan jelas.. Atau Tina akan laporkan ke leluhur Tina yang ada di tengah hutan itu”
Inggrid terdiam, dia kelihatannya bingung harus berkata apa, dia sempat berbicara dengan dua penjaga makam dengan menggunakan bahasa mandarin yang aku tidak paham apa artinya.
Aku bisa menebak, pasti ada sesuatu yang dirahasiakan oleh Inggrid, tentang makam dia dan lubang yang ada di sebelahnya itu.
“Eh.. sebenarnya lubang yang Tina dan mas Agus masuki itu eh itu bukan lubang biasa..”
“Tidak… Inggrid tidak bisa mengatakannya, karena ini adalah sangat rahasia…kamu boleh tanya kepada siapapun dan mendapat jawaban dari siapapun asal tidak berasal dari mulut Inggrid”
“Baiklah kalau begitu, sekarang kamu bukan urusan Tina dan mas Agus lagi Nggrid, kamu urus dirimu sendiri saja dan biarkan kami mengurus diri kami sendiri”
Setelah aku selesai bicara. Kedua hantu penjaga itu tiba-tiba mendekati aku, sangat dekat sekali.
Mereka berdua ada di samping kiri dan kananku, mereka seakan akan mulai mengancam aku yang memaksa Inggrid untuk mengatakan lubang apa yang mengantar kami satu tahun ke depan seperti ini.
Kedua hantu penjaga itu mulai menunjukan ancamanya dengan berusaha memasuki tubuhku, tetapi tiap kedua hantu itu ingin memasuki tubuhku, tiba-tiba seperti ada yang mendorong mereka berdua menjauh dari sisiku.
Sekarang kedua hantu itu mendekati mas Agus yang tidak bisa melihat keberadaan kedua hantu itu.
Mas Agus yang tidak mempunyai kelebihan apapun mulai terancam oleh kedua hantu itu.
“Jangan dekati mas Agus…atau kalian berdua akan menyesal!”
“Mas, gandeng tangan Tina sekarang, dan jangan lepaskan Tina dulu mas… kayaknya kita harus ke tengah hutan untuk bicara dengan leluhur Tina mas”
“Tapi kayaknya gak perlu deh mas… Hihihihi Tina tinggal manggil dan membayangkan mbah-mbah Tina saja, mereka akan datang kesini membantu kita berdua kok mas”
“Kamu Inggrid…. Tina tidak tau apa yang kamu rencanakan, tetapi dengan keadaan seperti ini, Tina rasa kamu mempunyai niat yang tidak baik untuk kami berdua”
“Mas..ayo kita pergi dari sini saja, Tina rasa kita kayaknya harus ke tengah hutan untuk bertemu dengan leluhur Tina mas”
"Soalnya dari tadi Tina berusaha bàyangkan leluhur Tina..tapi kok gak ada yang muncul mas hehehehe"
“Jangan Tina… jangan pergi kesana…, bantulah Inggrid, Inggrid sangat butuh bantuanmu Tina”
“Tidak perlu Nggrid… kamu sudah punya dua pengawal tolol yang selalu ada bersama aku.. Dan Ingat, jangan buat Tina marah… karena saat ini pun Tina bisa memanggil leluhur Tina dan suruh mereka untuk mengusir kalian dari sana!”
Baru saja aku selesai bicara… tiba-tiba aku mencium bau bunga melati. Bau bunga yang awalnya hanya tipis itu semakin lama semakin tajam.
Aku yakin leluhurku sedang ada di sekitar aku dan mas Agus.
Kini kedua hantu penjaga itu mulai resah.. Mereka melayang kesana kemari, kayaknya mereka sedang berusaha mencari sesuatu yang mungkin akan datang ke sini.
Tidak hanya dua penjaga saja yang sedang kebingungan, Inggrid pun mulai gelisah, wajah dia yang cantik itu perlahan lahan mulai berubah…
Ketiga hantu itu sepertinya sedang berusaha untuk pergi dari sini, tetapi kayaknya ada sesuatu yang menahan mereka bertiga untuk pergi dari sini. Sepertinya ada yang menahan mereka bertiga untuk tetap ada disini.
Bau bunga melati yang sebagai pertanda datangnya leluhurku semakin lama semakin tajam, dan akhirnya samar-samar aku bisa lihat….
Tidak hanya satu …. Tapi banyak sekali orang berpakaian hitam yang sedang berdiri mengelilingi Inggrid dan dua hantu penjaga kuburannya.
Semakin lama aku semakin jelas melihat penampakan satu, dua, tiga….. Tujuh orang berpakaian hitam dengan ikat kepala yang menyerupai udeng itu sedang memegang kedua hantu pengawal dan Inggrid.
“Lihat itu Nggrid, kamu jangan meremehkan Tina… bisa saja Tina suruh mereka yang merupakan penduduk ghaib dari hutan untuk memusnahkan kalian bertiga”
__ADS_1