RUMAH PENGGERGAJIAN

RUMAH PENGGERGAJIAN
218. HAMPIR SAJA


__ADS_3

“Nggak mau …Dit udah janjian sama tante yang disana….” kata anak kecil yang bernama Dita itu


“Dik Dita memangnya janjian mau ngapain disana?” tanya mbak Tina


“Diajak ke istananya… disana banyak boneka kodok… tante itu punya banyak boneka kodok”


Pak Diran sedang mengambil segelas air dari dispenser yang ada di ruangan ini… kemudian dia membacakan doa ke segelas air yang sedang dia pegang


Aku hanya diam bersama istri pak Tedi yang memegang tangan anak laki lakinya, sedangkan pak Tedi sendiri sedang memegangi Dita anaknya bersama mbak Nita.


Pak Diran  mendatangi pak Tedi dan membisikan kepada bapak dari Dita itu… aku nggak tau apa yang sedang mereka bisikan.


Tapi kayaknya pak Diran menyuruh pak Tedi untuk memberikan segelas air ini kepada anaknya yang masih bersikeras untuk menuju ke arah sungai pada malam menjelang tengah malam ini.


Pak Cheng dan Jiang ada di bagian hotel. Mereka berdua berjaga-jaga agar tidak ada lagi kejadian orang yang menuju sungai pada tengah malam ini


“Dik… sebelum kamu ke sana… ini minum air putih dulu…biar kamu sehat dan nggak kehausan disana” kata bapak dari Dita


“Nggak pah…. Adik nggak haus sama sekali kok…. Lagi pula kalau adik haus, di istana tante itu kan juga ada air” jawab anaknya


“Iya dik Dita… papah tau disana juga ada minum, tetapi kan papah kepingin agar dik Dita juga minum, ayo diminum dulu nak….” kata pak Tedi


Akhirnya setelah beberapa kali bujuk rayu… anaknya yang bernama Dita itu. mau juga meminum air yang diberikan pak Diran.


Pelan namun pasti anak kecil itu menghabiskan air minum yang sudah diberi doa oleh pak Diran…kelihatanya anak kecil itu kehausan, karena satu gelas itu dia habiskan tanpa tersisa.


“Sekarang coba tanyakan kepada anak bapak…. Apakah masih kepingin ke belakang sana. Dari sini perlihatkan bagian hotel yang di belakang itu”  kata pak Diran


“Dik Dita…. Coba adik lihat dulu istananya… apa istana temen adik itu masih ada?” tanya pak Tedy ayahnya


Pak Tedy menggandeng anaknya yang tampangnya kebingungan…dia digandeng ayahnya menuju ke pintu kaca yang masih dalam kondisi terbuka.


Beberapa saat pak Tedi bersama anaknya berdiri di ambang pintu yang membatasi ruang utama dengan pondokan yang ada di belakangnya.


Anak kecil yang bernama Dita itu menoleh ke sana kemari dan mencari apa yang dia sebut sebagai istana


“Pah…. kok ngerik.. Kok gelap sekali dibelakang sana pah?” kata dik Dita


“Nah kan…. Dari tadi papah kan udah bilang ke adik… disana itu nggak ada apa-apa dik… gak ada istana atau  apapun… yang ada disana itu hanya sungai saja dik”


Mereka berdua kembali ke sofa setelah beberapa saat melihat apa yang ada di belakang sana… wajah anak perempuan itu nampaknya kecewa setelah melihat bagian belakang hotel ini hanya ada gelap saja.


“Gimana dik Dita…. Apa istananya masih ada?” tanya mbak Tina


“Udah gak ada tante….. Mungkin tante yang ada di dekat sungai itu marah sama Dita karena Dita nggak kesana cepat cepat… sekarang lampu istananya udah dimatikan” jawab anak kecil itu dengan polosnya


“Eh pak dan ibu Tedi,  sekarang kalian berdua bisa kembali lagi ke pondok… saya bisa pastikan kalau masih ada di area hotel ini semua aman terkendali… pokoknya jangan sampai malam-malam gini ada di luar area hotel” kata pak Diran


*****


Malam masih panjang…..


Kami sedang duduk di sofa ruangan utama setelah keluarga pak Tedi kembali ke kamarnya, awalnya istri pak Tedi takut untuk balik ke kamarnya, tetapi setelah diyakinkan oleh pak Diran, akhirnya mereka mau juga kembali ke kamarnya.


Tentu saja untuk saat ini Jiang ada di halaman belakang. Sedangkan pak Cheng sedang diskusi bersama kami


“Satu masalah yang sudah mulai muncul bisa diselesaikan dengan baik” kata pak Diran


“Apakah akan ada masalah yang muncul lagi pak Diran?”


“Saya tidak tau pak Agus… tapi yang pasti yang ada di seberang sungai itu akan terus berusaha untuk mengganggu wilayah ini entah  bagaimana caranya itu”


“Dan saya rasa kalian semua ini lebih tau daripada saya apa yang sebenarnya terjadi disini”

__ADS_1


“Dan saya rasa penunggu yang ada di wilayah ini yang selalu menjaga hotel ini tentu saja tidak akan selamanya menjaga, tentu saja mereka akan selesai memagari hotel ini atau wilayah ini apabila semua sudah selesai”


“Eh maaf… pak Cheng… apakah pak Cheng tau siapa yang ada diseberang sana itu dan bagaimana cara menetralisirnya?” tanya pak Diran


“Eh maaf pak Diran.. Semua kejadian ini sebenarnya berpangkal pada sesuatu.. Sebuah kudeta kekuasaan yang ada disana”


“Akan saya jelaskan kepada pak Diran apa yang sebenarnya terjadi disini, dan saya yakin pak Diran sudah bisa menebak siapa saya dan Jiang itu, dan tentu saja siapa mbak Tina dan pak Agus” kata pak Cheng


Pak Cheng mulai bercerita tentang keadaan yang ada di alam nya, di benteng yang letaknnya persis di seberang sungai depan hotel ini.


Selesai pak Cheng cerita, kemudian aku dan mbak Tina yang mulai bercerita dari awal aku kerja disini sebagai pengawas rumah pengggergajian hingga berubah menjadi sebuah hotel yang indah.


Pak Diran mendengarkan dengan serius tanpa menyela sama sekali apa yang kami sedang ceritakan ini… dia kayaknya mulai memahami apa yang menjadi permasalahan di sini.


“Saya mulai paham….. Semua ini adalah masalah yang berbeda…bukan sebuah masalah yang sama… tetapi yang ada di alam kita dan alam pak Cheng dan jiang  ini arahnya ke ketamakan”


“Ada manusia yang menginginkan sebuah harta yang ada di seberang sana itu, hingga dia berani mengorbankan kalian dan bekerja sama dengan iblis betina yang kata kalian bernama Inggrid itu”


“Sedangkan roda kepemimpinan di alam sana juga sedang dalam keadaan yang bahaya, karena iblis betina itu menginginkan kekuasaan… dan atas bantuan manusia, iblis betina itu bisa mendapatkan kekuasaan, tetapi akhirnya dari semua intrik ini yang menjadi tertuduh adalah dari kaum manusianya”


“Dan itu semua adalah akal dari perempuan yang tadi berusaha mengambil anak  kecil itu. Benar tidak kesimpulan saya ini?” tanya pak Diran


“Yah seperti itulah pak Diran… jadi semua masalah yang ada disini itu saling berkaitan.. Hanya saja kita tidak tau bagaimana cara menyelesaikanya”


“Karena yang kami lawan itu sekarang sudah menjadi tonggak pimpinan disana” kata pak Cheng


“Eh begini saja… biarkan saya berpikir dulu… saya akan tanyakan ke guru saya dulu nanti pagi… kemudian apa yang akan kita lakukan tunggu info dari saya dulu. Yang penting leluhur bu Tina tidak bosan-bosanya melindungi daerah ini” kata pak Diran


“Oh iya pak AGus…kemudian untuk mayat hidup yang bernama pak Pangat itu… bagaimana dengan dia?”


“Saya tidak tau pak Diran… karena sudah beberapa hari mayat hidup pak Pangat tidak nampak disini”


“Ya sudah… malam masih  panjang.. Kita tetap berjaga disini hingga matahari terbit.. Dan sesuai dengan apa yang saya katakan, bahwa saya tidak mau ikut campur urusan kalian, tetapi keselamatan tamu di sini yang akan menjadi prioritas saya”


“Eh saya panggil Jiang dulu pak” kata pak Cheng


“Tidak usah pak.. Biar saya yang memanggil Jiang sekalian saya dan pak Agus akan ke belakang untuk berjalan jalan sebentar”


*****


“Tunjukan saya dimana letak kuburan china itu pak Agus.. cukup tunjuk saja dan saya sekarang sedang berusaha untuk mendeteksi dimana letak benteng dan pemukiman itu”


Aku dan pak Diran berjalan ke belakang rumah.. Menyusuri deretan kamar dan taman bunga yang asri di area hotel… kemudian dibagian belakang yang dibatasi pagar, aku dan pak Cheng menuju ke arah tepi sungai.


Di dekat tepi sungai kami berhenti berjalan, kemudian aku tunjuk di mana aku menemukan makam dan pada akhirnya aku dan mbak Tina masuk ke dalam makam itu.


“Disana pak.. Disana itu ada sebuah makam china yang saya ceritakan itu.. Dan disana juga ada benteng dan pemukiman tempat pak Cheng dan Jiang tinggal”


“Hmm  iya pak.. Tapi sayangnya saya tidak bisa melihat pemukiman itu, tetapi saya bisa merasakan dari sini.. Sebuah pemukiman yang ramai, dan sama dengan yang ada di tengah hutan itu”


“Dan sesuai dengan yang pak Agus katakan.. Kedua pemukiman itu tidak sedang dalam keadaan bersahabat dikarenakan sebuah ketamakan seseorang disana”


“Ya sudah pak.. Pagi nanti setelah saya diganti oleh rekan saya si Yogi.. saya akan ke tempat guru saya, saya mau cari solusi apa yang harus saya lakukan untuk melindungi hotel ini dan tamu yang ada disini”


“Dan sekali lagi saya minta maaf pak Agus… sesuai dengan yang kita bicarakan, saya tidak mau ikut campur dalam urusan pak Agus dan teman-teman”


“Tidak papa pak Diran… ya sesuai dengan jobdesknya pak Diran saja yang bapak lakukan”


“Ayo kita kembali pak… bapak kan harus ada di posnya bapak”


“Sebentar pak Agus… lebih baik kita duduk disini dulu saja, di pasir pantai ini dulu.. Karena saya merasa ada sesuatu yang sedang mengintip kita disini”


“Ada apa pak.. Saya sih hanya bisa lihat pocong dan sahabat sahabatnya saja, tetapi untuk yang lainya saya tidak bisa pak.. Dulu saya bisa lihat Inggrid, tapi semenjak saya dan mbak Tina tau bahwa dia itu jahat, saya sekarang sudah tidak bisa melihat dia lagi”

__ADS_1


“Sabar pak Agus.. kepekaan manusia terhadap makhluk ghaib itu ada tingkatannya, jadi ya tidak papa kalau pak Agus hanya bisa melihat yang tingkat dasar saja.. Yang penting pak Agus meyakini bahwa mereka ini ada”


“Ayo kita duduk di bawah pohon beringin itu saja pak Agus.. saya kok kepingin ngobrol sama kunti yang ada disana. Dia dari tadi melihat kita berdua dengan tatapan mata nanar”


“Sepertinya ada yang ingin dia sampaikan kepada kita pak Agus”


Aku dan pak Diran akhirnya pindah duduk di bawah pohon beringin yang sekarang terpangkas rapi. Tidak seperti dulu yang sulurnya kemana mana dan sangat mengerikan.


Aku dan pak Diran ada di bawa pohon , dimana tepat di atas kepala kami berdua bergelantungan tante-tante berdaster putih lusuh dengan rambut awut awutan… mereka hanya diam dan  melotot ke arah kami berdua.


Ketika aku dan pak Diran mendongak… mereka tertawa tawa cekikikan.. Dan tentu saja cara tertawa mereka yang cekikian itu apabila masuk ke gelombang suara manusia yang sedang dalam keadaan kosong pasti akan terdengar.


Dan itu pastinya akan sangat mengerikan.


“Husssh diam….” bentak pak Diran


“Kalian mengganggu orang yang sedang tidur… kalau cekikikan pakai adab dong.. Masak malam-malam gini kalian cekikian kayak gitu. Pelankan suara cekikikan kalian” lanjut pak Diran


Tiba-tiba suara tertawa itu berhenti…tidak ada lagi suara tertawa dan cekikikan… hanya hening dan suara geraman marah dari atas kepala kami yang terdengar.


“Ojo nesu nesu (jangan marah marah) nanti cepet tua… ayo sini duduk sama saya.. Nanti saya ceritakan cerita kancil nyolong timun” kata pak Diran sambil melihat ke atas.


Tidak ada reaksi dari atas.. Tetapi suara geraman itu semakin keras dan tentu saja mengganggu  pak Diran dan aku yang ada dibawahnya.


“Pak Agus.. salah satu dari mereka tidak terima dengan teguran saya… keliatanya yang tidak terima ini tante-tante berdaster  yang merupakan pimpinan mereka”


“Pak Agus diam saja dan jangan beranjak satu sentipun dari saya” bisik pak Diran


“Lha tadi  katanya ada yang kepingin bicara dengan pak Diran?”


“Iya pak…. Tapi karena pimpinan mereka ini jahat, yang tadi ingin bicara dengan saya pun tidak berani mendekati saya”


Tidak lama kemudian bau busuk muncul di sekeliling kami berdua… bau yang sangat busuk ini bisa jadi mereka sdang tidak suka dengan kami berdua.


Bau yang sangat busuk ini terus menerus tercium hingga kemudian pak Diran mulai  bertindak


“Koe ora usah kemaki… aku luwih tuo daripada koe ( kamu tidak usah sombong, saya lebih tua dari kamu)”


“Aku iso mateni koe saiki… tapi aku gak gelem ( saya bisa bunuh kamu sekarang, tapi sayangnya saya tidak mau)” kata pak Diran


Ternyata tidak lama kemudian  dari atas pohon muncul mahluk yang mengerikan… dia berbentuk mbak kunti.. Hanya saja ukuranya lebih besar dari pada yang lainya.


Wajahnya pun lebih tua.. Dan yang bikin aku kaget.. Rambut dia lurus mirip di rebonding hihihihi.


Mau ketawa tapi kok ya gak pantes….


“Nyapo koe mudun merene… arep nantang aku? ( ngapain kamu turun ke sini, mau nantang saya?)” tanya pak Diran


Tidak ada jawaban dari kunti senior berambut rebonding itu.. Yah karena yang aku tau… yang namanya kunti itu kan rambutnya awut awutan… dan nggilani.


Tapi kenapa kunti yang ini rambutnya lurus panjang dan terawat.. Masak sih di dunia mereka ada perawatan rambut. Tapi sayangnya kayaknya dia gak perawatan wajah juga.


Kunti itu berdiri di depan pak Diran.. Dia menatap lekat wajah pak Diran…. Tapi tentu saja pak Diran tidak takut.. Dia tidak beranjak dari duduknya sama sekali.


Aku sebenarnya takut juga, tapi karena aku lihat rambut kunti yang kayak rebondingan itu aku gak bisa nahan ketawa.


“Mau apa kamu mbak Kun, saya tau kamu adalah pimpinan dari kelompokmu… apa maumu dengan tingkahmu yang ada di hadapanku?” tanya pak Diran


Kunti itu sekarang berhadap hadapan dengan pak Diran… bau busuk yang keluar dari tubuhnya sempat membuat aku mual mual. Tapi  untuk menghormati kunti itu, aku tetap tahan saja..meskipun aku kepingin ketawa melihat rambutnya itu.


Tiba-tiba kunti itu menjauh perlahan lahan… dia menjauh dan makin menjauh dari depan pak Diran….


Ketika sudah cukup jauh, dia diam dan kemudian melesat ke arah paK Diran dengan cepat…..

__ADS_1


__ADS_2