RUMAH PENGGERGAJIAN

RUMAH PENGGERGAJIAN
165.APA YANG SEDANG TERJADI DISINI?


__ADS_3

Kami berhenti tepat beberapa meter di luar gapura desa…


Tapi ada yang berbeda dengan gapura desa itu.. Kok kayaknya tidak sebagus ketika kami beberapa hari lalu lewat sini ketika bersama Hari timin diktir Jiki iti.


Dua hantu china yang mulai dari makam Inggrid mengikuti kami ini tidak pernah lepas dari aku dan mas Agus.


Meskipun Inggrid sedang melihat keadaan jalan untuk melihat apakah aman atau tidaknya, mereka berdua masih saja ada di sebelahku dan mas Agus.


Untungnya mas Agus tidak bisa melihat wajah kedua hantu china ini, jadi pandangan mata tidak terganggu bayangan hitam yang selalu ada di samping kami berdua.


Setelah melewati gapura, kami berhenti sejenak, karena Inggrid harus melihat keadaan sepanjang jalan ini hingga sampai ke pertigaan yang menuju ke rumah pak Pangat.


Kalau dilihat dari keadaan yang seperti ini, berarti kami sepenuhnya belum aman, entah itu dari anak buah Paijo atau bisa saja itu suruhan dari Solikin.


Apalagi ditambah dengan masalah si Inggrid, dan makam Inggrid yang aneh, serta kutukan yang menghantui kami berdua.


Makam Inggrid itu aku rasa penuh dengan misteri yang aneh, karena kenapa ada lubang yang ada disamping makam, apa memang dibuat seperti itu agar keluarganya bisa melihat keadaan mayat Inggrid?


Tapi aku rasa bukan hanya karena itu, pasti ada jawaban lainya atas keanehan makam Inggrid


“Sepanjang jalan ini hingga pertigaan setelah jembatan besi ini aman, tidak ada siapapun yang ada di sepanjang jalan yang akan kalian lalui” kata Inggrid yang datang setelah melihat keadaan jalan


“Nggrid, apa kita gak bisa mendayagunakan kedua hantu china ini, dari pada ada di samping kami terus menerus kayak gini Nggrid?”


“Gak bisa Tina… tugas mereka itu menjaga agar kalian tetap hidup agar kelima penjaga itu bisa melakukan tugasnya untuk mengutuk kehidupan kalian hingga kalian berdua mati karena kutukannya itu”


“Jadi mereka ini tidak akan pergi sebelum melakukan tugasnya kepada kami Nggrid?”


“Iya Tina… sesuai perintah yang tidak boleh dilanggar dari atasan mereka untuk melakukan tugasnya hingga selesai”


“Eh.. mbak Tina… saya kok gak paham dengan yang kalian bicarakan, apakah penjaga makam itu masih ada di sekitar sini?”


“Masih mas Agus, dan mereka tidak akan melepas kita sebelum mereka melakukan tugasnya hingga kita mati mas hehehe”


“Hmmm berarti mereka tidak akan melepas kita begitu saja, yang artinya mereka akan melindungi kita dari bahaya yang mengancam hidup kita selain dari kutukan yang mereka lakukan kepada kita mbak”


“Jadi mereka ini secara tidak langsung adalah pengawal kita mbak hehehe, karena kita tidak boleh mati karena sebab lain selain karena ulah dari mereka berdua”


“Berlima mas.. Yang tiga ada di makam sana” potong Inggrid


“Oh iya Nggrid, berlima ya… terus sekarang kenapa mereka tidak mengutuk kita hingga kita mati Nggrid?”


“Kan tadi Inggrid sudah negoin ke mereka mas, agar mereka menuda dulu, karena mas Agus dan TIna ini adalah teman Inggrid, dan bermaksud baik untuk menolong Inggrid”


“Jadi kutukan untu mbak Tina dan saya ini hanya ditunda ya Nggrid, terus sampai kapan penundaan ini Nggrid?”


“Ya ditunda saja mas… selama Inggrid masih bisa negosiasi oleh mereka, pada intinya mereka akan melakukan kutukan kepada kalian berdua, tapi tidak untuk saat ini” jawab Inggrid


“Ya wis lah.. Kalau memang waktunya kita kena kutukan ya sudah, itu berarti  memang takdir kita mas hehehehe”


“Iya betul mbak Tina… yang penting kita jalani saja dulu apa yang harus kita kerjakan… ayo kita jalan lagi”


Atas info dari Inggrid, motor dijalankan mas Agus, pelan tapi pasti tanpa menyalakan lampu sama sekali, hingga kami sudah dekat dengan jembatan yang katanya mengerikan itu.


Jembatan besi yang kalau siang hari terlihat sangat berkarat, karena mungkin sudah lama tidak ada perbaikan dan peremajaan dari pemerintah.


Padahal jembatan ini sangat penting bagi penduduk desa itu, sebuah desa yang sampai detik ini belum mendapat fasilitas PLN, meskipun sudah ada tiang-tiang listrik yang akan dipasang.


Masak sih pembangunan negara ini tidak merata hingga ke pelosok desa ini, apakah karena desa ini tidak menghasilkan apa-apa sehingga belum masuk kategori desa yang harus dilakukan pembangunan?


Apalagi jembatan besi itu.. Sebuah jembatan besi yang sudah berkarat, dan sama sekali tidak ada usaha dari pemerintah daerah untuk mengecat atau merawatnya.


Ya memang mengerikan kan, karena kami pernah melihat penampakan banyak orang yang digantung dan juga ada penampakan cikar ghaib yang mengambil mayat yang digantung itu.


Motor yang dikemudikan mas Agus sudah melewati jembatan besi yang menyeramkan apabila malam hari tiba.


Tapi tadi waktu kami lewat desa, ada yang aneh di desa itu. Kenapa desa itu keadaanya sangat sepi, dan kenapa tidak ada seorangpun yang riwa riwi di desa itu, padahal saat ini kan mungkin baru pukul 20.00 , dan belum terlalu malam.


Bahkan di jalan yang kami lalui ini juga kelihatan sepi…dan ada yang berbeda juga dengan jalan ini, tapi aku nggak tau apa yang berbeda itu, karena keadaan disini gelap gulita.


Wajar sepi kalau tengah malam, tapi ini kan masih jauh dari tengah malam.. Kenapa keadaan disini sepi sekali.

__ADS_1


“Mas, berhenti dulu saja mas.. Dan coba nyalakan HT yang mas Agus pegang itu, coba  panggil pak Burhan mas”


“Ada apa mbak”


“Berhenti saja dulu sebelum kita berbelok ke kanan mas, Tina kok merasa keadaan disini gak aneh”


“Padahal ini kan mungkin belum ada pukul 20.00 mas… seharusnya keadaan jalan dan desa itu tidak sesepi ini mas”


“Jam segini harusnya kan masih ada orang yang lalu lalang di desa dan jalan ini, tapi kenapa tadi waktu kita lewat desa itu tidak ada orang yang keluar dari rumah”


“Hmm iya  benar juga mbak… sik sebentar mbak, saya kok gak yakin kalau sekarang ini pukul 20.00 mbak,  rasanya sekarang ini sudah tengah malam mbak”


Mas Agus melihat jam tangan digitalnya, sebuah jam tangan yang ada lampu yang bisa dinyalakan apabila dalam keadaan gelap.


Beberapa kali mas Agus berusaha meyakinkan dengan mengetuk ngetuk kaca jam tangannya, kayaknya ada yang tidak beres dengan jam yang dia kenakan itu.


Ketika sedang memperhatikan jam tangan, tiba-tiba mesin motor yang kami naikin ini mati.


“Eh mbak Tina… kayaknya jam tangan saya rusak ini”


“Kenapa mas, ada yang salah kah?”


“Iya mbak.. Masak sih sekarang ini waktu sudah menunjukan pukul 23.45 mbak… sudah hampir tengah malam hehehe?”


“Tapi kalau lihat suasana di sini kayaknya memang kita sudah ada di tengah malam mas, tapi kok aneh ya mas?””


“Asyu… asyudahlah mbak Tina.. ayo kita teruskan perjalanan menuju ke rumah pak Pangat saja, Lagipula HT ini kayaknya rusak, karena tidak ada suaranya sama sekali mbak”


Motor dinyalakan lagi oleh mas Agus, tapi kali ini agak sulit untuk dinyalakan, ada sekitar sepuluh kali mas Agus menginjak kick starter untuk menyalakan motor, tapi motor sulit untuk menyala.


“Mas… apa double starternya gak bisa digunakan?”


“Iya mbak.. Gak bisa, dari tadi waktu kita menyeberang sungai, motor ini sudah sulit untuk dinyalakan kan mbak”


“Waduh… tadi Tina gak perhatikan mas hehehe”


Setelah beberapa kali dicoba, akhirnya motor ini berhasil dinyalakan, kami lanjutkan perjalanan meskipun suara mesin motor ini agak berbeda…


Di depan kami sudah nampak pertigaan, kalau belok ke kanan kami akan sampai di rumah pak Pangat, sedangkan kalau belok ke kiri maka kami akan sampai di kios penjualan solar oplosan dan curian.


Meskipun saat ini malam hari, tapi aku masih bisa melihat keadaan di sekitar sini, jalan ini sepi dan agak bergelombang…


Selain ini ada beberapa lubang yang mengakibatkan mas Agus sering mengerem dan berhenti untuk menghindari lubang yang ada di depan motor kami


Tapi baik aku dan mas Agus tidak membahas masalah jalan yang kelihatannya berbeda ini, kami lebih fokus untuk melihat sekeliling kami yang kayaknya berbeda dengan sebelumnya


Dua hantu china itu masih ada di samping kiri dan kanan, tapi aku tidak melihat penampakan Inggrid, mungkin dia sekarang sedang ada di depan sana untuk mengamati keadaan disini, apakah aman atau tidaknya.


Motor terus berjalan tanpa menggunakan penerangan sama sekali…


“Kita sudah dekat dengan kuburan kembar mbak…. Kayaknya di depan itu adalah kuburan kembar itu”


“Iya mas, Tina bisa lihat kuburan kembar itu… hati-hati kalau ada preman yang suka minum-minum mas”


Kuburan kembar sudah kami lewati, dan untungnya tidak ada preman yang ada disana, tidak ada siapapun yang mencegat kami hingga kami hampir mendekati gang rumah pak Pangat.


Tetapi dimana Inggrid berada, aku dan mas Agus jelas memerlukan bantuan Inggrid untuk melihat keadaan di sekitar sini dan rumah pak pangat.


Apalagi ini malam hari, dan mas Agus tidak menyalakan lampu motor sama sekali.


“Mbak Tina, ada baiknya kita tunggu hingga Inggrid datang dulu, kita butuh Inggrid untuk melihat situasi kondisi toleransi pandangan dan jangkauan yang disingkat menjadi…”


“Sikontolpanjang mas”


“Iyak betul sekali itu mbak.. Kita butuh Inggrid untuk melihat sikontolpanjang, jadi kita tunggu saja disini dulu mbak”


Gang rumah pak Pangat tinggal beberapa meter di depan kami, tapi kami tidak berani mengambil resiko dengan nekat menujuke sana tanpa tau keadaan sikontolpanjangnya.


Ketika untuk sekian menit kami ada disini tiba-tiba Inggrid datang dari arah depan.


“Kamu dari mana saja Nggrid?” tanya mas Agus

__ADS_1


“Ada yang aneh disini… ayo ke rumah pak Pangat saja.. Disana aman tidak ada siapapun” jelas Inggrid


Mesin motor yang tadinya mati, sekarang mas Agus berusaha untuk menyalakan lagi, tetapi setelah berkali kali menggunakan kick starter, tetap saja tidak bisa nyala.


“Jangkreeek… ada yang bikin gara-gara sama motor ini mbak”


“Maksudnya gimana mas, apa ada yang menyabotase motor pak Pangat ini mas?”


“Iya mbak.. Takutnya orang-orang yang mengejar kita itu yang bikin ulah dengan motor ini mbak”


“Akan saya coba untuk menyalakan lagi mbak… kita butuh motor ini untuk  transportasi kita mbak”


“Gini aja mas, taruh dulu saja motornya disini, kita ke rumah pak Pangat dulu saja, kita tidak tau apa yang aneh kata Inggrid itu kan mas”


Akhirnya mas Agus setuju dengan omonganku, dia menjagang motor milik pak Pangat di pinggir jalan, kemudian kami jalan kaki menuju ke gang rumahnya pak Pangat.


Aku tidak tau apa yang kata Inggrid aneh itu, karena yang aku tau keadaan dari mulai desa hingga disini memang aneh dan aku tidak paham sama sekali apa yang aneh itu.


Inggrid ada di depan kami, dua hantu china yang tugasnya mengutuk kami ada di samping kiri dan kanan aku dan mas Agus. rasanya kayak orang penting dengan pengawalan macam ini.


Gang rumah pak Pangat ada di depan… kami berhenti sejenak untuk memperhatikan keadaan gang rumah pak pangat.


Setelah kami rasa aman, kami lanjutkan masuk ke gang rumah pak Pangat…


Dari ujung gang ini aku merasa ada yang berbeda, tapi aku belum bisa merasakan apa yang berbeda itu hingga aku dan mas Agus sampai di depan rumah pak Pangat…


Rumah yang gelap gulita, dengan pagar rumah terbuka dan teras yang kotor akibat daun-daun yang berserakan…


Rumah yang kelihatannya sudah beberapa lama ditinggalkan dan tidak terawat sama sekali, sehingga halaman depan rumah ini kotor, bahkan ada beberapa plastik pembungkus makanan yang berserakan di teras depan rumah pak Pangat.


Hingga beberapa waktu aku dan mas Agus terpaku di depan rumah pak Pangat yang kelihatannya sudah kosong  dalam jangka waktu yang lama.


Bahkan lampu rumah depan yang terang benderang pun sekarang sudah tidak nyala lagi, keadaan sekitar rumah ini menjadi gelap gulita.


“Mas…. “ jantungku berdebar sambil kupegang tangan mas Agus


“Iya mbak…ada yang tidak beres mbak…, eh lebih baik kita cari penjaga malam saja dulu mbak…”


“Jangan bicara dulu mbak.. Saya sedang berusaha berpikir, sebenarnya apa yang sedang menimpa kita ini”


“Kita sekarang cari penjaga malam desa dulu… kita harus tau apa yang terjadi dengan pak Pangat ini mbak”


Aku dan mas Agus berjalan keluar dari gang rumah pak Pangat dan berharap bertemu dengan seseorang yang mengerti tentang keberadaan rumah pak Pangat


“Nggrid…aku minta tolong lihatkan di sekitar sini ada penjaga malam atau tidak”


“Iya Tina.. sebentar.. Kalian tunggu disini, tadi Inggrid lihat ada dua orang yang berjalan ke arah sana” jawab Inggrid


“KIta tunggu kamu  di motor saja Nggrid, gak enak kalau ada di depan gang ini”


Keanehan demi keanehan mulai aku rasakan mulai dari desa sebelah sungai. Aku merasa ada yang  janggal disana.


Tapi waktu itu aku belum bisa merasakan kejanggalan itu, hingga sekarang ini kejanggalan semakin jelas dengan keadaan rumah pak Pangat yang kosong.


“Disana ke arah jalan tengah desa ada pos keamanan, dan di dalamnya ada penjaga malam yang sedang ronda,kalian bisa kesana sekarang” kata Inggrid


“Kok aneh, kenapa sekarang di sepanjang jalan ini sudah ada pos kamlingnya, padahal sebelumnya tidak ada pos kamling sama sekali mbak”


“Iya mas.. Tina jadi bingung mas”


Kami setengah berlari menuju ke arah tengah desa, dimana disana juga letak rumah aku, aku penasaran juga apa yang terjadi dengan rumahku setelah beberapa hari tidak aku tempati.


Tapi yang aneh itu kenapa di sekitar jalan ini sekarang ada pos keamanan, dan semoga yang jaga malam itu pak Kamid, jadi aku bisa tanya-tanya dengan dia.


Setelah beberapa menit kami berjalan cepat, akhirnya keliatan juga pos kamlingnya.. Pos kamling yang diterangi sebuah lampu yang ber watt kecil sehingga tidak begitu terang keadaanya.


Dan benar Inggrid, di dalamnya ada dua orang yang sedang berjaga. Dan salah satunya aku kenal yang bernama pak Kamid.


“Assalamualaikum pak Kamiiid”


Dua orang itu tidak langsung menjawab ucapan salam aku , mereka hanya diam di dalam pos kamling, sambil memandang aku dan mas Agus saja.

__ADS_1


Tapi kemudian salah satu penjaga malam itu tiba-tiba lari tanpa sempat bicara sama sekali, kini tinggal pak Kamid sendirian yang masih berdiri di dalam pos kamling itu.


__ADS_2