
"sayang mas ke kantor dulu ya" pamit tara mengecup kening lensi setelah sarapan bersama
"ikut sih mas" rengek lensi ingin ikut tara kerja
entah kenapa setelah mendengar pria di masa lalu suaminya meminta izin bertemu suaminya ada rasa cemas membludak di dadanya
"ayolah lensi jangan ikut terus, hari ini mas ada banyak pekerjaan di luar nanti kamu kecapean" tara mengusap perut lensi "itu gak baik buat anak kita sayang" ucap tara mengingatkan lensi agar tidak terlalu lelah karena dokter sudah pernah mengingatkan itu
"tapi lensi pengen ikut mas" rengek lensi
tara berulang kali menghela nafas "kalau kerjaan mas gak banyak pasti mas izinin kamu ikut tapi gak kali ini ya sayang" pinta tara memohon lensi agar mengerti dirinya
"ya sudah" lensi mencebikkan bibirnya berusaha menerima keinginan suaminya
"tadi mas sudah nelpon mika buat cepat pulang jadi nanti kamu ada teman" tara kembali mengusap kepala lensi dengan lembut
melihat punggung tara yang makin menjauh entah mengapa hatinya begitu sakit, seolah mungkin suaminya tidak akan kembali "tes" lensi terus mengusap pipinya yang basah akan air mata yang entah kenapa terus turun dengan bebasnya
lama lensi termenung di sofa ruang keluarga dengan posisi TV menyala, Mika yang baru pulang ke rumah pun heran dengan kakaknya yang bengong di depan TV "kakak kenapa" tanya mika menepuk pundak lensi
"ah" lensi tersadar dari lamunannya "kamu sudah pulang" tanya lensi
"iya kak, semalam ketiduran di rumah tuan adrian, terus kata tuan adrian sudah izin sama kak tara jadi mika lanjut tidur lagi deh" balas mika
"ya sudah mandi sana, terus temani kakak" ucap lensi
"iya kak" mika langsung naik ke lantai atas di mana kamarnya berada yang berdekatan dengan kamar kassy
setelah mandi dan berganti pakaian, mika yang sudah segar datang menghampiri lensi "kassy lembur lagi apa kak" tanya mika tak mendapati keberadaan kassy di rumah
"dia di minta nemenin klien nya jalan-jalan sekitaran jakarta" balas lensi
mika mengernyitkan dahinya "jalannya berdua" tanya mika memastikan
"engga, ada jonathan juga yang nemenin" balas lensi yang tahu aktivitas adik iparnya itu karena memang kassy yang menceritakan itu tadi pagi saat sarapan
"ohhh" mika duduk di samping lensi dan mengusap perut bulat lensi "jadi pengen cepet kamu lahir deh" ucap mika dengan gemasnya
lensi menoleh ke arah mika "kamu capek gak mika" tanya lensi
"kenapa kak kok nanya gitu" tanya mika balik
"bisa nemenin kakak enggak" tanya lensi dengan hati-hati
"bisa sih, emang mau kemana" balas mika
__ADS_1
mika memutar bola matanya jengah "jangan kebiasaan ngintilin kak tara terus kak, kak tara itu kerja jangan suka gitu ah" mika memang merasa keterlaluan saat melihat lensi yang begitu lengketnya pada tara dan tak ingin berpisah jauh dari tara
"kakak cuma mau mastiin sesuatu" ucap lensi dengan pandangan mata yang sulit di artikan
melihat tatapan mata kakaknya yang penuh harap itu tentu mika tak mampu menolak keinginan lensi, dan pada akhirnya mika mengantar lensi sampai ke kantor tara
mika menemani lensi masuk perusahaan tempat tara bekerja "kakak yakin mau nyamperin kak tara" tanya mika memastikan sekali lagi kakaknya yang ingin menyusul tara
"iya, kamu kalau mau pulang, pulang saja, kan kakak di sini, nanti kalau kakak kamu sibuk kakak bisa minta sopir buat jemput kakak" lensi memang memiliki sopir pribadi yang sengaja di carikan tara untuknya
"mika tunggu di lobi saja dulu ya kak, nanti pulang kalau kakak sudah ketemu kak tara" ucap mika yang ingin memastikan kakaknya tidak marah padanya karena mengantar lensi ke kantor padahal sudah sering di ingatkan kalau lensi tidak boleh terlalu lelah
lensi berjalan ke arah lantai dimana kantor tara berada, semua orang yang sudah mengenal lensi tentu menyapa istri dari bos mereka dan lensi membalas sapaan mereka dengan ramah
lensi berjalan ke arah juan yang menunggu di luar ruangan tara "juan suami saya ada tamu ya" tanya lensi saat juan diam menunggu di luar ruangan tara padahal biasanya juga dia ada di ruangannya atau kalau tidak ada di dalam ruangan tara
juan menunduk hormat pada istri bosnya "tadi kita mau ketemu klien di luar nyonya, tapi ada tamu yang tiba-tiba datang, sudah 1 jam dan mereka belum selesai bicara" balas juan
entah kenapa dadanya makin sesak "laki-laki atau perempuan" tanya lensi
juan mengerutkan keningnya bingung tapi tetap saja ia menjawab "laki-laki nyonya" balas juan
lensi melangkah ke arah pintu dan ingin membuka pintu "tuan bilang jangan di ganggu nyonya" ucap juan mengingatkan lensi agar tidak mengganggu tara
"saya tidak akan mengganggu, cuma mau mastiin saja" balas lensi
suaranya tercekat, dadanya begitu sesak mendapati siapa tamu suaminya yang ternyata adalah kekasih suaminya, kekasih yang sampai detik ini belum mengakhiri hubungan mereka dan selalu menjadi momok menakutkan di benak lensi
"nyonya" panggil juan
"husst" lensi meminta juan untuk diam dan tidak bersuara
lensi mendengarkan dengan seksama percakapan suaminya dengan pria di masa lalunya "apa anakmu sudah lahir" tanya tara
"sudah, dia laki-laki yang tampan" balas pramudia dengan senyuman
"aku dengar istrimu juga sebentar lagi akan melahirkan" tanya pramudia
tara mengangguk mengiyakan "iya, mungkin sekitar dua bulan lagi" balas tara
"sepertinya pernikahanmu berjalan dengan baik" tanya pramudia
"iya, dia orang yang sangat baik dan dia juga istri yang cukup baik" balas tara dengan suara lirih
pramudia tersenyum getir ke arah tara "bukankah lucu hubungan kita tara, dulu kita berjuang bersama bertahun-tahun dan selalu menentang orang tua kita tapi nyatanya kita sudah memiliki istri dan juga anak" ucap pramudia dengan mata berkaca-kaca
__ADS_1
tara memeluk pramudia dan mengusap punggung pramudia dengan gerakan perlahan "ini sudah jalanya pram, keputusan ini dulu kita ambil agar tidak di tentang terus" balas tara
lensi memegang dadanya kuat, hatinya begitu sakit mendengar ucapan suaminya pada pria yang ada di dalam pelukannya, air mata lensi jatuh dengan bebasnya di pipi mulus lensi
"nyonya gak papa kan" tanya juan khawatir dengan wajah lensi yang terlihat pucat dan air matanya yang jatuh begitu bebasnya
lensi mengangkat tangannya "saya gak papa" lensi beranjak dari ruangan suaminya dan berjalan menjauh dari sana
"nyonya gak mau nunggu tuan dulu" tanya juan
lensi menggelengkan kepalanya "tidak" lensi berjalan dengan tertatih dan itu sangat membuat juan khawatir
juan yang khawatir dengan keadaan lensi mengikuti lensi dari belakang "nyonya gak papa" tanya juan
"tidak, kamu kembali saja nanti mas tara nyari kamu" balas lensi masih terisak tertahan
"saya antar nyonya pulang ya" tawar juan
"saya ke sini dengan mika juan jadi jangan khawatir" balas lensi
juan masih memastikan lensi keluar sampai bertemu mika baru dia kembali ke ruangan tara
lensi berjalan dengan sempoyongan ke arah mika "mika" panggil lensi dengan suara lirih
mika mendongak melihat wajah kakaknya yang begitu pucat dan itu sangat membuatnya khawatir "kakak kenapa? aku panggil kak tara ya" tanya mika
lensi menggelengkan kepalanya "kakak kamu bakal ninggalin kakak, mika" tangis lensi makin pecah saat ada bersama mika
"kakak ngomong apaan sih, kak tara tuh cinta benget sama kak lensi jadi ngapain kakak ngira kak tara bakal ninggalin kakak" balas mika merasa lensi bicara ngawur
"kakak kamu gak cinta sama kakak, enggak" lensi meraung tak jelas membuat atensi semua pekerja melihat ke arah lensi yang sedang menangis meraung keras dan coba di tenangkan mika berkali-kali
juan baru saja sampai di lantai ruangan tara dan ponselnya sudah berbunyi "drrrttt" juan langsung mengangkat panggilan dari nomor kantor, lebih tepatnya nomor pesawat telpon di bagian lobi perusahaan
mata juan membelalak lebar mendengar ucapan petugas resepsionis tentang kejadian di bawah, langsung saja juan berlari ke ruangan tara tanpa mengetuk pintu
"brak" pelukan tara terlepas begitu saja saking terkejutnya akan juan yang masuk tiba-tiba
"kamu gak bisa ketuk pintu ya juan" bentak tara
"maaf tuan, ini keadaan darurat, nyonya lensi sedang teriak-teriak di bawah dan bilang tuan gak cinta sama nyonya" ucap juan menyampaikan ucapan petugas resepsionis
tara langsung berdiri "apa maksudmu juan, istriku sedang di rumah tadi" tara sudah meminta lensi untuk di rumah saja jadi mana mungkin lensi sedang mengamuk di bawah
"beneran tuan kalau nyonya ada di bawah, tadi nyonya juga sempat ke sini dan sempat ngintip ruangan tuan saat tuan berpelukan dengan orang ini nyonya pergi" balas juan
__ADS_1
"apa!" tara langsung berlari sekencang yang ia bisa untuk turun ke bawah menghampiri istrinya