
Tara berjalan ke arah apartemen miliknya dengan cukup lesu dan tak bertenaga, berulang kali ia menghela nafas panjang "ceklek" tara masuk ke dalam apartemen dengan langkah pelan
"apa kau sudah mengepak semua barangmu" tanya tara saat melihat pramudia yang sedang sibuk mengepak barang-barang miliknya dari apartemen miliknya
pramudia tersenyum simpul pada pria yang ada di hadapannya "sudah selesai" balas pramudia
tara menghampiri pramudia dan berjongkok tepat di depan pramudia " apa harus membawa semuanya, tinggalkan saja beberapa, toh kamu akan kembali nanti" balas tara
pramudia menggelengkan kepalanya tanda tak setuju "gak gitu tara, bentar lagi kamu kan akan menikah, nanti istri kamu marah loh kalau masih ada barang aku di sini" balas pramudia dengan senyum di buat seolah ia tak masalah kalau tara menikahi orang lain
tara meraih kedua tangan pramudia dan menggenggamnya erat "aku gak mau pisah sama kamu" mata tara sudah berkaca-kaca melihat kekasih yang amat di cintainya dan air mata itu meluncur begitu saja dari sudut mata tara
pramudia mengusap pipi tara "kita berpisah kan hanya sementara" balas pramudia dengan seutas senyuman
bibir tara bergetar "tapi aku takut pram" tara menundukan kepalanya
pramudia mencoba menahan laju air matanya dan mengangkat dagu tara "takut apa" tanya pramudia
tara menatap lekat pramudia "aku takut kamu akan melupakanku karena bersama wanita yang nantinya jadi istri kamu apalagi nanti kamu akan memiliki anak dengannya" balas tara yang sudah mulai terisak
"kamu ingat kan dengan apa yang kita ucapkan saat memulai hubungan kita ini" tanya pramudia
tara mengangguk "ingat, saat salah satu dari kita merasa cinta itu sudah menghilang atau kita sudah mulai bosan, maka berpisahlah dengan baik jangan saling membenci, walaupun hanya salah satu dari kita yang meminta itu" balas tara mengatakan perjanjian mereka saat mulai menjalin hubungan
pramudia tersenyum walaupun ia sudah tidak bisa menahan laju air matanya "kita sudah berkomitmen untuk hubungan kita tara, dan kita juga sudah memikirkan konsekuensi dari hubungan kita yang mungkin hanya bertahan sesaat dan ini sudah berjalan 8 tahun. 8 tahun yang kita habiskan bersama adalah kenangan yang begitu indah" pramudia menghela nafas panjang
"setidaknya dengan melakukan sedikit pengorbanan ini kita bisa memberikan sedikit kebahagiaan untuk orang tua kita yang sudah sering terluka karena pilihan yang kita ambil" pramudia memeluk erat tara
"mari bertemu setelah kita memiliki anak, dan entah pilihan kembali bersama atau berpisah jangan pernah saling membenci" ucap pramudia penuh harap
"iya" tangis tara pun kembali pecah mendengar apa yang di ucapkan pramudia
__ADS_1
tara yakin cintanya pada pramudia begitu besar begitupun sebaliknya, tapi ia juga tak munafik bahwa tetap saja ada kemungkinan tak bertemu dan hidup serumah dengan orang lain bisa menumbuhkan perasaan dan mengikis perasaan lama untuk menggantikan perasaan baru
"aku mencintaimu pram, sangat-sangat mencintaimu" ungkap tara
"aku juga tara, aku juga sangat mencintaimu" balas pramudia
sesuai rencana pramudia akan menikah dengan wanita pilihan ibunya sama halnya dengan tara yang akan menikahi wanita pilihan om Revandra
Pramudia melakukan pernikahan yang terbilang sederhana karena hanya di lakukan di kantor catatan sipil. setelah pramudia menikah, pramudia mengajak istri dan ibunya untuk tinggal di perancis demi mengejar cita-citanya karena om revandra membantu pramudia untuk menjalin kerjasama dengan salah satu desainer terkemuka di perancis
jay menpuk pelan pundak jay saat tara menghampiri jay di rumah sakit "kamu gak antar pram" tanya Jay
tara menoleh ke arah jay "kalau aku ke sana, yang ada aku akan menahannya pergi" balas tara
"sabar tar, setelah kamu punya anak kamu bisa kok ketemu pram lagi" ucap jay mengingatkan akan perjanjian tara dan orang tuanya
"plak" tara langsung memukul tengkuk jay dengan sebuah map yang ada di meja kerja jay"kau pikir semudah itu memiliki anak" kesal tara
"masalahnya aku bisa gak nyentuhnya, kamu kan pernah aku kasih tahu kalau si anu gak mau on kalau sama wanita" bisik tara mengingatkan jay akan permasalahannya
"itu mah gampang" sahut jay melirik tara dengan kedipan mata penuh arti
tara mengernyitkan dahinya heran "gampang gimana, kalau gak on gimana bisa masuk coba" tanya tara dengan sarkas
"kan ada obat kuat" balas jay memberikan ide jitu
"hah" tara langsung menganga lebar mendengar usul yang terlontar dari bibir jay "dasar sahabat sableng" umpat tara
jay langsung terkekeh melihat raut wajah tara yang merasa tak suka dengan idenya "kalau udah ngerasain sekali, aku jamin kamu ketagihan deh" kekeh jay
***
__ADS_1
keluarga tara sedang berkumpul di ruang makan rumah qiran dan Jay untuk makan malam dan juga pertemuan tara dengan calon istri yang sudah di pilihkan om revandra untuk tara "dengan siapa ayah akan menikahkanku" tanya tara memulai obrolan
"nanti kamu juga akan tahu" balas om revandra
tara melirik qiran "kamu gak mau kasih tahu aku" tanya tara pada sahabatnya
"aku gak tahu tara" balas qiran
"selamat malam semua" sapa seorang wanita perpakaian seksi dengan gaun panjang di bawah lutut tapi terlihat belahan dadanya yang sedikit menyembul keluar, wanita itu langsung duduk di kursi kosong di sebelah tara
tara dan qiran membelalakan matanya lebar, melihat siapa yang datang ke acara makan malam mereka "ngapain kamu ke sini, perasaan gak ada kerjaan yang harus di tandatangani geh" tanya tara saat melihat wanita yang datang berusaha menampik bahwa wanita itu adalah calon istrinya
"dia ke sini memang bukan mau minta tanda tangan untuk urusan pekerjaan tapi dia kesini mau minta tanda tangan kamu untuk buku nikah kalian" sahut om revandra menjelaskan bahwa wanita itu adalah calon istri tara
"apa!" tara begitu kaget dengan ucapan ayahnya
tara melirik ke arah qiran "jangan bilang kamu gak tahu tentang Lensi yang akan jadi istriku" tanya tara
ya wanita yang datang adalah Lensi, orang yang bekerja di perusahaan qiran yang sampai sekarang di pimpin tara. Lensi bertugas sebagai editor sekaligus salah satu direktur yang memegang bagian pemasaran
"aku beneran gak tahu tara, beneran sumpah deh " balas qiran yang juga ikut kaget ternyata lensi yang akan jadi istri tara dan akan melahirkan anak untuknya
"itu aku yang kasih usul ke om, tapi om sih yang milih" sahut jay dengan muka tanpa dosa
tara menelengkan kepalanya ke arah Jay "kau yang mengusulkannya" heran tara
"aku pikir akan lebih mudah untukmu jika yang kau nikahi adalah orang yang kau kenal jadi aku mengusulkannya dan kebetulan saat om revandra ketemu lensi, lensi setuju tanpa banyak bantahan ataupun permintaan" terang jay
tara menoleh ke arah Lensi "kenapa kau setuju menikah denganku, kalau orang luar mungkin tidak melihat langsung tapi tidak dengan kamu. kamu melihat langsung hubunganku dengan pram" heran tara pada wanita di sampingnya yang jelas tahu betul hubungannya dengan pramudia
lensi menoleh ke arah tara "karena aku tahu permasalahanmu, setidaknya kau tidak akan selingkuh, lagian aku juga kebetulan ingin anak tapi gak mau terikat dengan seseorang" lensi menatap kedua orang tua tara "apalagi mereka bilang tidak akan memaksa mengambil anakku nanti tapi tetap akan menjalankan kewajiban menafkahi anakku nantinya walaupun kau mungkin mangkir nanti saat kita bercerai" jelas lensi
__ADS_1
tara menatap lensi seolah tak percaya dengan apa yang di ucapkan lensi padanya, ingin anak dan tetap bertanggung jawab untuk anak mereka walaupun setelah menikah akan bercerai