You Are My Regret

You Are My Regret
Hamil


__ADS_3

tara jalan bolak-balik tak jelas, begitu cemas akan lensi yang masih ditangani dalam ruang IGD


Mika yang melihat tara yang ia ketahui sebagai kakaknya dari pihak mamanya itu, sadar betul betapa tara sangat mencintai lensi dan sangat mengkhawatirkan keadaan lensi "bisakah anda diam sebentar, terlihat memusingkan sekali melihat anda bolak-balik tak jelas" ungkap Mika


" haaa" tara masih sibuk memainkan jemarinya saking cemas nya sampai membuat tara tak mendengar ucapan mika


"diam dulu, jangan bikin pusing karena bolak-balik enggak jelas, nanti dokter juga keluar kasih kabar kenapa dia pingsan" seru mika lelah akan tara yang terus mondar-mandir tak jelas


"gak bisa" tara masih terus bolak-bakik seperti setrikaan dan mika hanya bisa memutar bola matanya malas


"ceklek" pintu terbuka dan datanglah pria berpakaian serba putih


"keluarga pasien lensi" panggil pria tersebut


tara berjalan mendekat ke arah dokter muda itu "bagaimana keadaan istri saya dok" tanya tara dengan begitu khawatirnya


dokter jaga tersebut tersimpul melihat raut cemas di wajah tara "tidak papa, hanya terlalu lelah saja maklumlah kan masih hamil muda" balas dokter tersebut


"apa dok, istri saya hamil" tara begtu terkejut lensi hamil


"iya dia lagi hamil muda, untuk memastikan kesehatan bayi anda lebih baik ke dokter obgyn saja" dokter jaga tersebut menepuk pundak tara dan pergi mneinggalkan tara


tara diam terpaku akan kabar kehamilan istrinya. tara menoleh ke arah pintu ruang IGD dengan tatapan yang sulit di artikan


mika menepuk bahu tara  pelan "gak pengen lihat keadaanya" mika membutarkan lamunan tara


"ah iya" tara berjalan masuk ke ruang IGD


tara berjalan ke arah lensi yang tidur dengan tatapan menerawang ke atap "sayang" tara menghampiri lensi dan berdiri di tepi ranjang


"mas" lensi menatap tara dengan wajah sendunya


tara langsung memeluk lensi "dokter bilang lensi hamil" cairan bening itu langsung turun dari sudut matanya begitu saja

__ADS_1


"iya, mas dengar" balas tara yang entah mengapa ikut menangis


mika hanya menatap bingung dua orang yang ada di hadapannya, bukannya setelah menikah kehadiran anak itu sangat membahagiakan kenapa malah seperti sebuah petaka karena yang mika lihat adalah tangis kesedihan bukannya tangis kebahagiaan


***


setelah menjalani pemeriksaan kandungan lensi dan tara berniat pulang ke resort untuk beristirahat karena memang sudah cukup malam dan ini sungguh melelahkan


tara menoleh ke belakang di mana mika masih mengikuti dari belakang "kamu menginap di mana" tanya tara


"aku mau pulang saja" balas mika


"ikut pulang kami saja ke vila istriku kebetulan vilanya tak jauh dari sini" ucap tara


"tidak perlu, aku bisa menyetir pulang ke rumah" tolak mika


"gak usah ngeyel, ini sudah malam nanti aku telpon ayahmu agar tidak cemas" ucap tara denga tegas


"baiklah" balas mika terpaksa menurut karena tara sedikit meninggikan suaranya


mika memindai villa yang terbilang cukup mewah itu "anda yang belikan villa ini" tanya Mika saat tara masih mengganden lensi untuk berjalan masuk


"ini mah hadiah dari kakeknya lensi bukan saya yang beliin" balas tara yang pernah di beri tahu kalau villa ini adalah hadiah dari mendiang kakekknya lensi saat masih hidup


kakek lensi memanglah bukan pengusaha hebat tapi dia memiliki cukup banyak tanah di mana-mana. hampir setiap tanahnya menghasilkan pundi-pundi uang, kakek lensi akan pakai untuk membeli tanah baru sehingga tanah milik kakek lensi cukup banyak dan sekarang jadi milik dhira sebagai anak ibu dhira satu-satunya


"oh ini miliknya" mika tentu heran ternyata lensi bunya vila sebagus ini tapi bukan pemberian orang lain


tara tentu tahu arah pembicaraan mika dan prasangka yang ada di otak Mika "jangan hanya percaya mama kamu kalau lensi itu cuma ingin harta ayah kamu, harusnya kamu bisa mengamati kehidupan lensi dari dulu. ibunya tidak bekerja tapi punya rumah dengan halaman seluas itu dan lensi juga bersekolah di sekolah yang bagus" tara melirik mika "kamumungkin juga tahu kalau semua keuangan ayahmu di pegang mamamu untuk hidup glamornya itu" tambah tara


mika menghentikan langkahnya menatap punggu tara dan lensi yang makin menjauh. pikiran mika berkelana entah kemana saja. apa iya dulu ia salah mengira lensi hanya ingin meraup harta ayahnya dan ucapan ibunya adalah salah


tara mendudukan lensi di sofa "mau makan dulu sayang" tanya tara

__ADS_1


"iya mas, laper" balas lensi memegang perutnya dengan gerakan mengusap


tara menoleh ke belakang, melihat mika masih diam mematung "mika bantuin masak buat makan malam" seru tara menyadarkan lamunan mika


"ah iya" mika berjalan masuk ke dalam dan menghampiri tara


"emang mau masak apa? aku gak bisa masak" ucap mika yang jujur tak bisa memasak


"lihat dulu di kulkas ada apa, tadi pagi sudah minta penjaga vila sih buat belanja bahan masaka, nanti kamu bantu potong-potong sayuran sama bersihan saja, biar saya yang masak" ucap tara


"ya sudah yuk" balas mika


tara menoleh ke arah lensi "tiduran dulu saja sayang, nanti mas masak buat kita makan malam dulu" ucap tara


"iya mas, masak yang sederhana saja ya mas, aku lapar banget soalnya" balas lensi


"iya" tara berjalan ke arah dapur di ikuti Mika


tara memasak nasi goreng akhirnya setelah meihat isi kulkas yang ternyata lebih banyak bahan masakan yang cukup memakan waktu lama untuk memasaknya


setelah matang tara membawa dua piring ke meja makan, dan mika membawa piring nasi gorengnya sendiri


mereka bertiga makan dalam diam "mika, nanti kamu pilih kamar yang kamu suka aja, aku tidur di sana" tunjuk lensi pada kamar dekat ruang tamu "kamarnya sudah di bersihkan semua sama penjaga villa kok" ungkap lensi


"iya" balas mika


"ngomong-ngomong tentang mama kamu yang saya tuntut dan harus di penjara, apa kamu marah dengan kami" tanya tara


"kalau sedih iya sih, tapi kalai marah tidak lagian kata-kata mama memang kadang begitu pedas jadi kalau gak kalian yang nuntut mungkin orang lain" mika menyendokan nasi goreng terakhirnya "lagian anda juga tega nuntut mama kandung anda jadi mungkin kali ini mama keterlaluan" balas mika


lensi menganga lebar mendengar jawaban mika yang di luar ekspetasinya "kamu baik-baik aja kan" lensi memeriksa kening mika "gak panas tapi" lensi ikut menempelkan punggung tangannya ke keningnya sendiri untuk mengecek suhu tubuh mika


"apaan sih, aku gak sakit ya" ketus mika

__ADS_1


"nah gitu baru itu kamu" lensi merasa lega setelah melihat reaksi mika yang terlihat seperti mika biasanya yang suka marah dan memiliki emosi yang  tipis


mika meminum air gelasnya hingga tandas "ayah sudah cerita semuanya ke aku" mika menatap tara dan lensi secara bergantian "aku sudah tahu kalau orang tuaku yang bersalah pada kalian, dan aku minta maaf untuk itu" ucap mika menundukkan kepalanya merasa bersalah pada kedua kakaknya itu


__ADS_2