
terdengar riuh tepuk tangan setelah qiran usai menyanyikan beberapa lagu untuk pramudia dan tara
"Thank you "Qiran membungkukan badannya dan beranjak turun dari tempat duduknya di atas panggung
"qiran memang serba bisa ya tara" ucap pramudia
"ya dia memang serba bisa" tara melirik ke arah jay yang tak di sadari jay karena tatapan mata jay masih tertuju pada qiran "tapi satu yang tak bisa ia lakukan, menerima keadaan dan merelakan" cicit tara dengan suara lirih yang masih di dengar pramudia karena pramudia tepat disebelahnya
pramudia mengikuti arah mata tara "sedalam apa masalah kalian" batin pramudia
Qiran berjalan ke arah tara dan pramudia “ tara aku istirahat dulu ya, kita gladi resiknya
pagi kan?" qiran memegang tengkuknya " Aku capek sekali jadi ingin istirahat dulu” ucap qiran pamit pergi
“iya qiran, istirahat lah” balas tara mengizinkan sahabatnya untuk pergi
tara tentu tahu bahwa qiran begitu tak nyaman berada di dekat Jay, dan harus tetap memasang wajah kuat dan seolah tak ada apa-apa
Qiran meninggalkan tempat makan dan berjalan ke arah kamarnya yang kebetulan kabar tempat ia menginap melewati hamparan pantai
Jay berdiri dari kursinya berniat pergi dari meja makan tempat mereka berkumpul “jangan coba-coba menghampiri qiran” bentak tara yang tahu betul niatan jay ingin segera pergi setelah qiran pergi
Jay mengerutkan keningnya “kenapa aku tak boleh menghampirinya?” Tanya jay dengan nada penuh selidik
“aku tak suka dengan keadaannya setelah bicara denganmu” balas tara memang tak menyukai kondisi qiran saat bertemu dengan Jay
tara tentu tahu betul bagaimana keadaan qiran setelah bertemu Jay, setelah bertahun-tahun dan itu masih sama. walaupun ia tak bertemu langsung, keadaan qiran sudah terpuruk bagaimana ini saat mereka bertemu langsung dan bertatap muka
Jay terkekeh tak percaya dengan ucapan tara yang mengatakan tak menyukai keadaan qiran saat bicara dengannya. memangnya keadaan seperti apa yang tidak di sukan tara, bukankah jay bukan apa-apa bagi qiran jadi memang kenapa, batin jay terus bertanya dan seolah tak mau memahami maksud ucapan tara “memangnya dia kenapa? Bukannya dia biasa saja saat bertemu denganku. kamu lupa kalau aku hanya sebuah bayangan yang tak terlihat untuk sahabatmu itu” balas jay
"bayangan? pala kamu! kalau cuma bayangan mana mungkin dia bikin perusahaan dengan nama celetukan kamu itu!" umpat tara dalam hatinya
tara mengeratkan giginya menatap geram Jay yang selalu melukai hati sahabatnya “kamu jangan berani mengusik sahabatku!” bentak tara
Pramudia menahan tangan tara dan menggelengkan kepalanya mengingatkan jika qiran yang tak suka ada yang tahu tentang perasaannya pada jay. dan sikap tara bisa menimbulkan kecurigaan kalau qiran menaruh hati pada jay karena qiran sakit hati saat bertemu Jay
“ngapain juga kamu undang dia?” tara beralih menatap kesal ke arah pramudia
__ADS_1
“aku gak tahu kalau dia itu mantan qiran” balas pramudia merasa tak enak hati dengan kekasihnya karena mengundang masalalu sahabat kekasihnya yang menyakitkan
Jay tak enak hati pada pramudia karena dirinya, pramudia di marahi tara padahal pramudia selalu cerita bahwa kekasihnya selalu bertutur kata lembut padanya “jangan marah dengan kekasihmu, dia memang gak tahu kalau aku kenal dengan mu dan qiran, karena kalau aku tahu kekasih pramudia adalah kau, mana mungkin aku memilih datang ke sini” balas jay
Tara berdecih “kau pikir aku percaya kalau kau tak akan datang saat kau tahu ada qiran di sini. Mulutmu memang berkata tidak akan tapi pasti kakimu melangkah ke arah qiran” balas tara tepat sasaran
perkataan tara memang benar, jay masih saja selalu ingin berada di dekat qiran walaupun akal sehatnya selalu berkata jangan mendekat tapi hatinya selalu menyuruh untuk datang menemui sinar mataharinya
“ah” jay menghela nafas panjang “aku juga tak ingin terus menghampirinya tara, apa kau pikir aku tak kesulitan saat aku sudah tau dia tak mencintaiku tapi aku masih tetap mengarah padanya” balas jay dengan suara lirih
Pramudia melihat wajah jay yang juga sedih dan punya kesulitan sendiri dalam kondisinya “sudah tara” pinta pramudia agar tara menyudahi pertengkarannya bersama jay
melihat pertengkaran yang pasti tak akan ada akhirnya Jay melangkah pergi meninggalkan tara yang masih mengumpat tak jelas pada Jay yang menurutnya menyebalkan.
merasa sudah terlalu lama qiran pergi dan mungkin saja qiran sudah masuk dalam kamarnya, Jay memilih berjalan menyusuri bibir pantai dengan berjalan kaki sembari mengangkat alas kakinya dan membiarkan kaki telanjangnya bersentuhan langsung dengan pasir pantai dan deburan ombak malam
Saat dirinya berjalan tanpa sengaja ia melihat qiran yang diam menatap ombak pantai “qiran” panggil jay
Qiran menoleh “jay” qiran tersenyum kaku ke arah jay
Jay menghampiri qiran “katanya kau mau tidur karena capek ?” Tanya jay yang mendapati qiran masih di luar dan belum tidur
Qiran berjalan meninggalkan Jay dengan santai dan langkah pelan
“qiran” panggil jay menatap punggung qiran yang mulai menjauh
Qiran diam sejenak kemudian menoleh ke arah jay “ada apa?” Tanya qiran mencoba tersenyum, senyum senatural mungkin
“aku merindukanmu” ucap jay dengan suara lirih
Qiran tersenyum “hemmm” dalam batinnya ia juga mengatakan juga merindukan jaya, sangat-sangat merindukannya tapi tentu saja kata itu tak bisa terlontar dari bibir mungil qiran
qiran kembali berbalik untuk meneruskan langkahnya meninggalkan jay “tidak bisakah kau memelukku sebentar saja” pinta jay dengan nada memohon "aku benar-benar merindukanmu, dadaku rasanya sesak menahan kerinduanku" jay menunduk dengan mata mulai berkabut
Qiran diam sesaat mencoba mengatur deru nafas dan ritme jantungnya yang tak karuan karena pernyataan jay yang begitu menusuk hatinya, tusukannya begitu dalam dan berkali-kali dengan jumlah yang banyak sehingga rasanya sakit.
qiran menoleh ke belakang menautkan kedua alisnya menatap Jay “aku mohon qiran sebentar saja” pinta jay dengan wajah memohon
__ADS_1
Qiran berjalan ke arah jay dan memeluknya erat ”hiks hiks hiks” tangis jay dalam pelukan qiran
“aku sangat merindukanmu, qiran” ungkap jay dengan isak tangis memeluk erat qiran
Qiran mengusap punggung jay lembut “jangan merindukanku jay” pinta qiran berusaha menahan air matanya sekuat tenaga agar tak jatuh
jay menelusupkan kepalanya ke ceruk leher qiran “aku juga inginnya begitu, tapi aku gak bisa”Jay terus merindukan qiran setiap saat walaupun akal sehatnya mengatakan jangan merindukan wanita ini tapi perasaan memang tak bisa sembarangan kita atur sesuka hati kita . Rindu ya rindu saja, emang mau apa….
Qiran terus mengusap punggung jay, menenangkan jay yang terus menangis dalam pelukan qiran
Tangisan jay mulai mereda, ia pun melonggarkan pelukannya menatap manik mata qiran lekat “ajarkan aku untuk bisa melupakanmu” pinta jay dengan sorot mata mengiba
Qiran hanya bisa menundukan wajahnya tak mampu menatap sesorang yang selalu mengisi hatinya “apa yang kau inginkan dariku?” Tanya qiran seakan tahu apa maksud ucapan jay padanya , pasti ada sesuatu yang di inginkan jay darinya
“bantu aku untuk melupakanmu” pinta jay lirih
“terus aku harus apa jay, untuk membantumu melupakanku?” balas qiran yang memang tak tahu bagaimana bisa membuat jay melupakannya, dia sendiri saja tak bisa melupakan jay ini malah di minta untuk di bantu melupakan
“aku juga gak tahu qiran, aku gak tahu harus bagaimana?” balas jay menggelengkan kepalanya
“aku sudah menjauh darimu sejauh mungkin jay, aku juga tak pernah berada di sekitarmu lagi. Aku juga sudah meminta orang tuaku untuk tak menginjakkan kaki di Indonesia ataupun mengusikmu. Jadi aku harus apa lagi?” Tanya qiran tak tahu harus apa lagi agar jay bisa baik-baik saja ataupun terluka karena dirinya, segala yang ia bisa lakukan sudah ia lakukan sebisa mungkin untuk tak mengusik jay
Jay menatap lekat qiran “menikahlah dengan orang lain, buat aku menyerah padamu” pinta jay dengan berat hati
Qiran tersenyum kecut ke arah jay “ini sudah di luar batasanku” apa-apaan permintaan jay ini, memang gampang menikah dengan orang lain, dirinya saja masih mencintai pria yang sama selama bertahun-tahun
tak ingin meladeni permintaan gila jay, qiran bergegas meninggalkan jay dengan langkah cepat. Dia memang sebisa mungkin ingin membantu jay tapi bukan berarti jay bisa menyuruh dirinya menikah dengan orang
lain, hal itu hanya akan menyakiti orang yang akan jadi suami qiran kalau qiran melakukan itu semua karena jelas hatinya masih tertinggal pada seseorang dan belum bisa ia ambil dari sana
Jay berlari mengejar qiran dan memeluk qiran dari belakang “aku juga tak ingin kau bersama orang lain, dan jika kau memilih menuruti ucapanku, entah apa yang akan aku lakukan dan sehancur apa diriku nanti” ucap jay menangis sesenggukan
qiran memejamkan matanya “tapi aku juga tak bisa memintamu kembali padaku walaupun aku masih sangat
mencintaimu. Aku benar-benar tak tahu harus apa? Aku terlalu mencintaimu dan terlalu takut terluka karena mencintaimu” jay makin mengeratkan pelukannya
Qiran mendongakkan wajahnya ke atas, menahan sebisa mungkin laju air matanya yang sudah ingin jatuh sedari tadi. Qiran mencoba menetralkan perasaaanya yang campur aduk tak jelas karena hubungan rumit antara dirinya dan jay “kau saja yang cari kekasih baru, saat kau mendapat cinta baru, kau pasti melupakanku seperti debu yang tertiup angin” balas qiran melepaskan pelukan jay dengan kasar
__ADS_1
Qiran kembali melangkah meninggalkan jay “apa kau pikir mudah melupakanmu!”teriak jay yang sampai pada indera pendengaran qiran yang belum terlalu jauh berjalan