You Are My Regret

You Are My Regret
Kamu cemburu...?


__ADS_3

Nidya sama sekali tak mengalihkan pandangannya dari Aiden semenjak ia tahu pria itu berada di satu tempat dengannya dan bersama wanita pula "Nidya kok kamu belum makan juga sih, waktu istirahat kita mau habis loh" ucap Hesti mengingatkan Nidya bahwa istirahat makan siangnya akan habis


"ah" Nidya melirik e arah makananya dan benar saja kalau makanannya masih tersisa banyak padahal milik temannya sudah habis semua


"aku sudah kenyang" sahut Nidya tak ingin menjelaskan lebih jauh tentang dirinya yang belum selesai makan


"kenyang apaan sih Nidya, sedikit gitu makannya " protes Kellin melihat isi piring Nidya hanya berkurang sedikit saja


" aku beneran sudah kenyang" ucap Nidya kembali


"ya sudah" teman-teman Nidya mulai bermain ponsel sambil menghabiskan minuman mereka yang masih tersisa


Sedangkan Nidya terus mengamati pergerakan suaminya dan ia makin tidak suka melihat wanita kegenitan dengan Aiden walaupun Aiden terus menjaga jarak dari wanita itu tapi nyatanya wanita itu tidak punya urat malu dan terus menggangu Aiden


Nidya mengambil ponselnya dan menekan nomor seseorang lalu meletakan ponselnya di pipi kanannya


"kakak di mana" tanya Nidya saat panggilannya sudah tersambung


Viona yang kebetulan masih betah memandangi Aiden jadi keheranan saat Aiden mengangkat panggilannya bersamaan dengan Nidya yang sedang menelpon seseorang tapi rasanya tak mungkin menyambungkan dia kebetulan itu


"di cafe" jujur Aiden


"ngapain kak" tanya Nidya lagi


"ketemu sama teman" balas Aiden


"teman laki-laki atau perempuan" tanya Nidya lagi


Aiden mengerutkan keningnya "kenapa kamu bertanya seperti itu, biasanya juga gak pernah nanya kakak ketemu sama cewek atau cowok" Aiden merasa aneh dengan Nidya yang tiba-tiba bertanya hal yang jarang atau bahkan belum pernah Nidya tanyakan


"aiden kok telponan terus sih, kita kan masih ngobrol sudah lama gak ketemu nih" sahut wanita yang ada di sebelah Aiden


Nidya bisa mendengar suara wanita itu dengan jelas dan ini bisa Nidya jadikan sebuah alasan "oh, kakak sama cewek toh, asyik dong bisa ketawa-ketawa sama perempuan" celetuk Nidya begitu kesal dengan tingkah suaminya yang daru tadi asyik bercanda dengan wanita lain

__ADS_1


"gak gitu kok sayang" Aiden jadi panik saat mendengar suara Nidya yang sedang menahan kesal apalagi tadi perempuan di sebelahnya bersuara saat dirinya sedang menjawab panggilan istri tercintanya


"bohong! orang aku lihat sendiri kakak ketawa lepas gitu sama wanita itu" kesal Nidya langsung mengakhir telponnya begitu saja karena saking kesalnya


Aiden memandangi heran ponselnya yang sudah jelas menandakan panggilannya berakhir karena layarnya mulai menghitam "kenapa Nidya ya" gumam Aiden


"ada apa sih den, kamu jangan mengabaikan aku dong" wanita itu mengguncang lengan Aiden dan aiden tak begitu menanggapi sebab ia sedang fokus memikirkan Nidya yang entah marah karena apa


"prank!" terdengar dentingan piring yang pecah membuat atensi semua orang beralih ke arah sumber suara begitupun Aiden yang memandang ke arah sana


"maaf nona, saya akan menggantinya " nidya memberikan kartu miliknya pada pelayan cafe  karena memecahkan piring milik cafe dengan tidak sengaja


Aiden kini bisa melihat Nidya ada di tempat yang sama dengannya, pantas saja dia tadi tahu kalau dia sedang tertawa dengan perempuan lain "nidya" seketika itu Aiden panik melihat Nidya di sana, di tempat di mana ia sedang mengobrol dengan teman wanitanya apalagi tadi tangannya sempat di sentuh oleh si wanita


"gawat!" Aiden langsung berlari menghampiri Nidya tak perduli jika wibawanya sebagai seorang pemimpin akan turun karena berlari kencang dalam cafe yang ramai


Aiden langsung saja mendekat ke arah Nidya yang masih menunggu pembayarannya di proses oleh kasir di depan meja kasir


"apa memangnya" ketus Nidya tak terlalu menggubris Aiden dan hanya fokus pada meja kasir


Aiden meraih tangan Nidya mendekat ke arahnya "kakak gak ada hubungan apapun sama dia sayang, sumpah" Aiden membentuk huruf V dengan jari tangannya ke arah Nidya


ke empat teman Nidya hanya diam mematung sambil menganga lebar melihat bosnya menghampiri teman kerja mereka dan memanggilnya 'sayang'


"lanjutin aja loh ngobrolnya, kasihan tuh temen kakak cemberut lihat kakak ke sini" tunjuk Nidya dengan dagunya pada wanita yang tadi mengobrol bersama Aiden


Aiden menggelengkan kepalanya menolak ucapan Nidya "enggak, aku gak mau jauh dari istriku. Istriku jauh lebih penting dari wanita manapun" cetus Aiden bersungguh-sungguh akan ucapannya


"hah!" serempak Kellin, Arsy, Viona dan Hesti terkejut dan makin menganga lebar saat mendengar kalau Nidya adalah istri Aiden, padahal tadi mereka sedang membicarakan bos mereka Dan ternyata, istri bos mereka ada di sana bersama mereka dan mendengar segala gosip dari bibir mereka


Nidya menoleh ke arah teman-temannya "tutup mulut kalian nanti ada lalat masuk" ucap Nidya memperingatkan teman-temannya


"hmmm" serempak ke empatnya kembali menutup mulut dengan rapat

__ADS_1


Nidya kembali menoleh ke arah Aiden "sana kembali loh, lanjutin lagi ketawa-ketiwinya sama teman perempuan kakak yang seksi  dan cantik itu " sinis Nidya dengan kesal


"dia gak cantik sama sekali, kamu yang paling cantik di dunia ini sayang" balas Aiden dengan cepat membuat Nidya mati-matian menahan senyumnya karena Aiden memuji dirinya di depan teman-temannya yang tentu begitu terkejut bis mereka bisa gombal juga


"apaan sih kak" sahut Nidya menahan pipinya yang sudah merona merah


"jangan marah ya, jangan cemburu sama kakak, kakak cuma cinta sama istri kakak yang paling cantik ini kok" rayu Aiden menggenggam tangan Nidya dengan begitu erat


kini Nidya tak bisa lagi menahan senyumnya "apaan sih kak, Nidya gak cemburu kok" kini Nidya sudah kembali tersenyum saat Aiden mengatakan cinta padanya dan tidak sekesal tadi saat pertama ia melihat kedekatan Aiden dengan seorang wanita yang entah siapa


melihat Aiden yang begitu lama berbicara wanita itu berjalan menghampiri Aiden "kamu ngapain sih Aiden, lama banget buat ngurusin wanita gak penting macam mereka dan malah mengabaikan aku yang seorang model papan atas" pongah seorang wanita muda dan berpakaian begitu seksi menatap sinis ke arah Nidya yang menurutnya hanya wanita tidak penting


"freya!" bentak Aiden tak terima istrinya di katakan tidak penting


aura Aiden kembali menggelap dan tatapannya begitu dingin saat istrinya di hina orang lain "jaga kata-kata kamu tentang istriku  atau mulutmu itu tidak akan bisa bicara lagi besok!" bentak Aiden


Nidya mengusap dada suaminya "tenang kak" pinta Nidya dengan suara lembutnya agar atensi Aiden kembali kepadanya


seketika itu wajah Aiden langsung berubah manis di hadapan Nidya "tapi tadi dia ngehina kamu sayang, masa di bilang kamu gak penting padahal kan kamu paling penting di hidup kakak" ucap Aiden dengan wajah  manisnya


"hoeeeek" Bram memasang wajah seolah akan muntah melihat Aiden yang berubah jadi kucing jinak di depan istrinya


Bran berani berlaku seperti itu karena memang posisi Bram ada di belakang Aiden, jadilah ia berani berekspresi seperti itu, karena jika sampai Aiden melihat itu, bisa tamat riwayatnya


"iya kak, tapi gak usah marah-marah nanti teman-teman aku takut" ucap Nidya menoleh ke arah teman satu kantornya


Aiden menoleh ke arah teman Nidya itu "kalian takut sama saya" tanya aiden dengan wajah datarnya


"enggak" serempak ke empatnya menjawab pertanyaan Aiden


bisa mati jika mereka berkata ia, mending cari aman saja, pikir mereka


"tuh kan sayang enggak" balas aiden dengan senyum manisnya yang sungguh bisa melelehkan bongkahan es batu besar jika lama-lama di beri senyuman manis dari aiden ghazanfer itu

__ADS_1


__ADS_2