You Are My Regret

You Are My Regret
Gugurkan saja


__ADS_3

Nidya membaringkan tubuhnya menghadap langit pagi hari. tubuhnya begitu merasa letih sampai ia tak sanggup untuk bangun dari tidurnya


"Nidya" panggilan terdengar dari balik pintu


"masuk saja, tidak di kunci" seru Nidya


tak lama berselang Nenek Tasmirah datang membawa nampan berisi makanan "kamu belum sarapan kan" tanya nenek Tasmirah membawa makanan yang ia bawa ke atas nakas


"maafin Nidya merepotkan nenek" ucap Nidya dengan senyum tipisnya


"enggak sayang, buat kamu dan cicit nenek tidak ada yang merepotkan " Nenek tasmirah mengusap kepala Nidya


"kamu kelihatan lesu sekali Nidya" Nenek Tasmirah tentu khawatir melihat keadaan Nidya yang kurang baik


"gak papa kok nek, Nidya cuma ngerasa lemes saja jadi Nidya milih tiduran" balas Nidya


"kasih tahu nenek kalau ada apa-apa ya sayang, jangan di pendam sendiri" pinta Nenek Tasmirah


"iya nek"Nidya mengangguk saja akan permintaan nenek tasmirah


Nidya mulai menyuapkan makanan ke dalam mulutnya dengan perlahan "apa kamu masih belum memberitahu kabar kehamilanmu pada Lucas" tanya nenek Tasmirah


Nidya sempat diam sejenak dan menggelengkan kepalanya "belum sempat nek" bohong Nidya


"cepat beritahu hal ini sayang, biar wajah suami kamu itu gak di tekuk terus" pinta nenek Tasmirah


"iya nek" balas Nidya


di tempat lain Lucas kini sedang berpikir keras untuk permasalahan yang sedang terjadi dengannya "kalau sampai anak itu lahir, pasti om Aiden akan rebut Nidya dari aku" Pikir Lucas akan kehamilan Nidya yang membuatnya ketakutan, takut kehilangan istri tercintanya


entah dapat pemikiran dari mana kalau Nidya hamil anak Aiden padahal jelas itu adalah anak Lucas


"aku harus gugurin kandungannya, harus" gumam Lucas bertekad untuk menggugurkan kandungannya


pikiran Lucas sudah benar-benar rusak kali ini, bagaimana bisa ia ingin anaknya sendiri untuk mati padahal anak itu sudah ia tunggu selama bertahun-tahun tapi saat mendapatkannya ia dengan mudahnya ingin menghilangkannya


inilah pentingnya mendengar nasehat orang tua. Lucas sudah di ingatkan berkali-kali untuk tidak melupakan obatnya agar kewarasannya tetap terjaga tapi ia malah lalai


di tambah dengan keadaannya bersama Nidya memanglah kurang baik setelah kejadian ara, sehingga pengawasan Nidya menjadi berkurang dan tak ada yang mengingatkan Lucas untuk meminum obatnya secara rutin


***

__ADS_1


Lucas berjalan perlahan ke arah kamarnya bersama Nidya, di tangannya terdapat seikat bunga mawar merah dan satu kotak kue


"ceklek" Lucas membuka pintu dan menatap Nidya dengan wajah sendunya "maafin mas ya sayang" pinta Lucas dan tentu masih di abaikan oleh Nidya


Nidya tak memperdulikan Lucas dan membalik tubuhnya agar membelakangi Lucas


"maafin mas sayang, harusnya mas gak ngomong gitu ke kamu. Kamu sudah menunggu kehamilan ini selama bertahun-tahun dan pasti kamu sangat bahagia dengan kabar ini tapi mas malah buat kamu bersedih" ucap Lucas dengan suara lirih


"maafin mas ya sayang" pinta Lucas lagi


Nidya menoleh ke arah Lucas "kamu tahu mas, kalau kamu tuh nyakitin aku " ungkap Nidya dengan isak tangis


Lucas mengusap air mata Nidya dengan ibu jarinya "maafin mas ya, mas salah" Lucas mengambil bunga mawar yang ia bawa tadi


"jangan lakuin lagu ya mas, atau aku benar-benar menyerah sama kamu" pinta Nidya dengan serius


dengan mudahnya Nidya memaafkan Lucas yang sudah menyakitinya dan meragukannya. Memang kadang cinta membuat mata kita buta


"mas bawain bunga mawar buat kamu, bagus kan" ucap Lucas dengan senyum hangatnya


Nidya beranjak dari tidurnya dan membetulkan posisi duduknya "bagus banget bunganya mas" ucap Nidya mencium harum bunga yang di berikan Lucas


"wah" terlihat binar bahagia saat Lucas memberikannya satu kotak kue yang paling ia sukai, cheesecake "makasih loh mas" Nidya begitu senang Lucas memberikan kue dan bunga padanya


"mas ambilkan piring dan sendok buat makan ya" Lucas berjalan keluar untuk mengambil piring dan sendok untuk Nidya makan


baru saja Lucas keluar ponsel Nidya bergetar dan Nidya bergegas mengangkatnya saat tahu siapa yang menelponnya "mamah" panggil Nidya saat mengangkat panggilan yang ternyata dari mamah Lensi


"sayang, kok kamu gak ngasih tahu mamah kalau sedang hamil" tanya Mamah Lensi


"maafin Nidya mah, niatnya mau kasih tahu mama setelah mas Lucas tahu" balas Nidya


"Sekarang Lucas sudah tahu kan" tanya Mama Lensi


"sudah mah" balas Nidya


"mama ke sana ya sama ayah" tanya Mama Lensi


"ke sini aja mah, nanti kalau sudah sampai langsung ke atas saja ya mah. Kata dokter aku gak boleh kecapean dan harus bed rest total" jelas Nidya


"oke sayang, mamah sama ayah jalan ke sana " Mama Lensi langsung mengakhiri panggilannya setelah menyampaikan niat Mamam Lensi untuk menjenguk Nidya

__ADS_1


Nidya berbaring sambil memainkan ponselnya dan mengecek sosmed miliknya atau sekedar melihat video-video lucu


"ceklek" pintu terbuka dan tampil ah Lucas membawa piring dan air minum di atas nakas


"lama ya sayang" tanya Lucas


"enggak kok mas" balas Nidya


Lucas berkalan ke arah kue yang ia letakan di atas nakas "mas sengaja pilihin kue ini buat kamu loh sayang" Lucas memotong kue menjadi bagian-bagian kecil dan meletakan di atas piring kecil


"mau mas yang suapin atau kamu makan sendiri sayang" tanya Lucas


"suapin mas saja" balas Nidya


Lucas mengambil kue dengan sendok kecil lalu menyuapi Nidya "kamu tahu sayang kalau mas itu cinta banget sama kamu" ucap Lucas mengutarakan rasa cintanya


"iya mas Nidya tahu" Nidya mengunyah kue cheese cake yang benar-benar lumer di mulutnya


Lucas menyiapkan kue tersebut untuk kedua kalinya "saking cintanya mas, mas bisa maafkan semua kesalahan kamu, apapun itu asal kamu tetap berada di samping mas" ujar Lucas masih terus menyuapi Nidya


Nidya menelan dengan cepat suapan ketiga "maksud kamu apa mas" tanya Nidya merasa aneh dengan ucapan Lucas


"mungkin waktu itu kamu sedang sangat marah sama mas karena masalah ara sampai kamu dengan tega tidur dengan Om Aiden" ungkap Lucas menatap lurus ke arah Nidya


Nidya mengerutkan keningnya "mas masih berpikir aku selingkuh" Nidya kini benar-benar tersinggung akan ucapan Lucas


Lucas menggenggam tangan Nidya "saat mas sembuh kita masih bisa memiliki anak lain, jadi jangan bersedih saat kehilangan anak om Aiden ya" cicit Lucas


Nidya menautkan alisnya "mas gila! " suara Nidya tercekat saat berbicara itu


"akkkhhhh" Nidya memegang perutnya yang teras nyeri "akhhhh" Nidya mengerang merasakan sakit teramat sangat


Nidya menatap tajam Lucas "mas fak ngelakuin apa yang aku pikirin kan" tanya Nidya dengan sisa-sisa tenaganya


"mas akan maafin kamu kok sayang, mas akan anggap kamu gak ngelakuin hal itu ke mas" balas Lucas dengan entengnya


"ini anak kamu mas!" teriak Nidya


"mas tahu kamu sangat menginginkan anak jadi kamu menganggap anak orang lain sebagai anak mas" ujar Lucas tanpa rasa berdosa sama sekali padahal istrinya sedang kesakitan


Nidya menggelengkan kepalanya "aku gak akan biarin anaku kenapa-napa" teriak Nidya beranjak dari duduknya dengan susah payah

__ADS_1


__ADS_2