You Are My Regret

You Are My Regret
Pertemuan tak terduga


__ADS_3

***


qiran bercermin di depan cermin besar kamar hotelnya "sudah lama sekali rasanya aku memakai pakaian ini denga rasa bebas "qiran memakai dres malam berwarna hitam, dress dengan panjang selutut dengan tali spageti yang membuat bahu putih mulusnya bisa terlihat dengan jelas


qiran tersenyum memandang pakaian yang ia pakai " cantik ternyata" qiran merasa dirinya cantik dan memang dirinya cantik, mau tanya pada siapapun juga pasti jawabannya akan sama


cantik


qiran berjalan keluar kamar dan turun ke bawah, tempat di mana sudah di setujui bersamauntuk acara makan malam bersama tara, pramudia dan teman-teman pramudia yang ikut hadir menyaksikan acara pramudia dan tara


qiran menghampiri tara dan pramudia yang sudah duduk di meja makan panjang yang sudah ada empat orang disana yang di yakini qiran bahwa dua orang yang membelakanginya adalah sahabat pramudia “hai” sapa qiran mendekat ke arah mereka


tara meliirik qiran  dengan tatapan penuh permintaan, ia menggelengkan kepalanya perlahan agar qiran tak mendekat tapi tentu saja qiran tak akan paham dengan maksud tara


qiran yang tak paham maksud tara tetap berjalan makin mendekat kearah tara sahabatnya “kamu ngapain


sih? Geleng-geleng kepala gak jelas gitu” Tanya qiran


tara hanya menghela nafas panjang sembari memejamkan matanya karena qiran menarik tempat duduk di hadapanya tepat di sebelah sahabat pramudia, ya karena itu kursi kosong yang terdekat untuk qiran jadi qiran memilih duduk di sana, toh sama sama saja di mana ia duduk, pikir qiran


“aneh” gumam qiran menarik bangku lebih dekat padanya  dan duduk berhadapan dengan tara juga pramudia


“kau datang juga rupanya ?” Tanya seorang pria yang suaranya begitu akrab di telinga qiran


qiran bertanya pada tara dengan tatapan matanya, tapi bagiamana mau menjawabnya coba? tara hanya memilih menutup matanya saja sebagai jawaban

__ADS_1


Qiran menoleh dengan gerakan lambat. tentu ia tahu betuk itu suara siapa tapi ia tetap mencoba menampiknya bahwa itu bukan dia, bukan dia, bukan. rapalan mantra doa yang terus di lantunkan qiran dalam hatinya


“jay” gumam qiran begitu terkejut dengan kehadiran jay di sana


bagaimana bisa ada jay di sana, kenapa? batin qiran berteriak kencang mendapati sosok pria yang duduk tepat di sebelahnya


seolah mengerti apa yang ada dalam pikiran qiran, pramudia pun akhirnya angkat bicara “dia salah satu sahabat aku, qiran. dia tahu kisahku tapi memang ini adalah pertemuan pertamanya dengan tara berbeda dengan kay yang sudah pernah bertemu dengan tara ” ucap pramudia tak enak hati dengan qiran karena tara baru memberitahunya perihal cerita qiran dan jay di masa lalu


Qiran menoleh ke arah pramudia dan memaksakan senyumnya yang sangat terlihat di paksakan  “it’s ok” balas qiran dengan bahas bibir tanpa ada suara yang keluar dari bibir mungil qiran


seolah mengerti dengan arah pembicaraan pramudia dan qiran, jay menoleh ke arah qiran “apa kau tak nyaman dengan kehadiranku, kalau kau tak nyaman, aku bisa pergi sekarang ?” Tanya jay


“aku tak masalah, lagi pula ini acara tara dan pramudia bukan acaraku, kita disini sama-sama tamu jadi aku tak ada hak mengusir ataupun menahanmu pergi” balas qiran datar


jay tersenyum kecut mendengar jawaban qiran “kau masih seperti dulu ya” balas jay


“qiran, jay ini salah satu sahabatku sejak 10 tahun lalu, kita bertemu di Inggris, tentu kau tahu aku pernah sekolah di sana walaupun berbeda kampus dengan kalian. tapi aku benar-benar tak tahu jika kau dan dia saling mengenal dan berkuliah di kampus yang sama. sedangkan yang disebelah jay namanya kay” pramudia mengenalkan kay  temannya yang lain pada qiran


"walaupun aku berkuliah di kampus yang sama dan kami lulus di waktu yang sama, tapi aku tak memiliki ijazah di sana jadi taka da yang tahu aku lulusan sana" jay tersenyum pahit saat mengungkapkan itu semua


qiran meremas tangannya dengan kuat, ia coba menahan sesak di dadanya mendengar itu semua dari mulut jay


tara tentu tahu kekalutan sahabatnya tapi ia tak ingin ada yang tahu sahabatnya sedang lemah karena qiran sudah sekuat tenaga menahannya agar tak di lihat siapapun


kay yang duduk di sebelah jay mencondongkan tubuhnya ke arah qiran “kay” kay mengarahkan tangannya kearah qiran untuk berkenalan

__ADS_1


qiran mencoba bersikap biasa saat melihat tangan kay ada di hadapannya “qiran” balas qiran menjabat tangan kay


“kau teman tara sejak kapan, atau bertemu di mana?” Tanya kay untuk sekedar berbasa-basi karena yang di beritahu pramudia bahwa yang hadir hanya dirinya, jay dan sahabat tara


“sejak kami lahir kami sudah berteman” balas qiran  dengan jujur


"wah" kay begitu takjub bahwa qiran dan tara ternyata bersahabat dari mereka lahir


"orang tua kami cukup dekat, jadi kami sudah kenal sejak kami masih berada dalam perut mommy kami" sahut tara dan kay mengangguk paham kisah persahabatan tara dan qiran


Jay terkekeh dengan penuh sesak di dadanya yang ia coba sembunyikan sekuat mungkin, untung dia ktor jadi tak begitu sulit untuk menutupi perasaan aslinya pada orang-orang “aku benar-benar tak menyangka bahwa yang akan bersanding dengan tara itu adalah sahabatku" jay memandang pramudia dan tara yang duduk berdampingan dengan begitu mesra " Aku kira dulu kau…” ucap jay menggantungkan ucapannya menatap qiran dan tara secara  bergantian


Qiran tersenyum simpul  “dari dulu aku juga bilang ke kamu kalau aku dan tara hanya sahabatan tidak lebih dari itu dan tak ada apapun antara kita, kita tulus hanya bersahabat karena kita dekat semenjak dalam kandungan mommy kami dan kita yang saling memahami dan mengerti sebagai sahabat dan juga saudara ” balas qiran datar


“aku pikir saat orang tuamu bilang tara calon suamimu, itu benar” balas jay mengutarakan ucapan orangtua qiran kala itu saat meminta jay menjauhi qiran dulu


Qiran menoleh ke arah jay “sudah lah jay jangan di bahas lagi,  toh itu sudah lama berlalu jadi lupakan semuanya” balas qiran


“maaf” ucap jay dengan wajah tertunduk


qiran berusaha keras menahan laju air matanya “sudah lah, ini adalah acara bahagia sahabatku tolong jangan rusak itu” qiran beranjak dari duduknya


“aku akan menyanyi untuk kalian” ucap qiran ke arah pramudia dan tara


Qiran berjalan ke arah panggung kecil yang terletak di restoran tempat mereka makan. qiran menyanyikan beberapa lagu yang begitu merdu di telinga semua orang, membuat semua orang yang hadir disana menikmati setiap lagu yang dilantunkan qiran

__ADS_1


jay menatap qiran tanpa berkedip, hatinya begitu sesak mengetahui satu hal yang ternyata hanya kepalsuan "rasanya begitu sakit qiran, andai aku kekeh menikahimu mungkin tak akan seperti ini" batin jay yang sebenarnya tahu walaupun ia nekat menikah dengan qiran pun, masalah di antara mereka tak akan bisa selesai dengan mudah


__ADS_2