
setelah menjemput Ara, Jonathan dan Ara juga Reagen segera pulang ke rumah menggunakan mobil mereka masing-masing karena Edeline sudah menunggu di rumah akan kedatangan Ara
di persimpangan jalan, Jonathan berhenti sehingga Reagen ikut menepikan mobilnya " kenapa berhenti om" Reagen jadi heran kenapa Jonathan berhenti dan ia memilih untuk turun dari mobil
Reagen menghampiri Jonathan dan Ara "ada apa om, kok berhenti" tanya Reagen saat melihat Jonathan berjalan ke arah pedagang kaki lima
Jonathan menoleh ke arah Reagen "ah, istri om nitip martabak saat pulang. Mendingan kamu pulang duluan sama ara, saya akan segera pulang setelah pesanan Edeline jadi" balas Jonathan menunjuk ke arah martabak yang masih di buat oleh pedagang martabak tersebut
Ara menoleh ke arah Reagen "pulang duluan yuk kak, aku capek banget" ajak Ara
"ah, boleh saja" Reagen dan Ara memutuskan pulang lebih dulu sedangkan Jonathan akan menunggu martabak pesanan Edeline jadi terlebih dahulu
Reagen memarkirkan mobilnya terlebih dahulu di halaman rumah Jonathan "rumah ayah kamu di renovasi" tanya Reagen saat melihat rumah Jonathan nampak berbeda dari terakhir ia datang
"iya, kata ayah rumah harus di renovasi karena aku kan mau punya adik" ara menunjuk ke arah bagian rumah yang dulu terhalang pagar "itu dulu tanah untukku tapi ayahku menggantinya di tempat lain, sebab rumah kami terlalu kecil kalau adik-adikku lahir nanti" jelas Ara akan pilihan Jonathan untuk merenovasi rumah mereka sekarang
Ara dan dan Reagen turun dari mobil menuju pintu utama rumah Jonathan untuk memencet bel
datanglah seorang wanita paruh baya membuka pintu "kamu orang baru di sini" tanya ara saat ia melihat orang yang membuka pintu bukan lah Edeline
"iya non, nona pasti anak tuan Jo ya" tebak wanita berusia kisaran 40 tahun bernama Rita
"iya mba" balas Ara
"mari masuk, nyonya lagi liat pengerjaan bangunan yang di belakang tadi kata nyonya suruh masuk saja jika non Ara sudah datang" balas Rita
Ara mengajak Reagen masuk ke dalam rumah dengan pandangan takjub "siapa arsitek rumah ini, bagus banget desainnya" puji Reagen
"tentu ini desain mamahku, siapa lagi" balas Ara dengan pongahnya
"mamah" Beo Reagen bingung siapa mamah Ara sebab ia dan Ara memanggil kassy dengan panggilan mommy
"iya kak, kan Edeline sekarang jadi mamahku, kakak lupa ya" balas Ara
Reagen hanya terdiam dengan penuturan Ara. Rasa hati Reagen makin menyesal setiap melihat kelebihan yang Edeline punya
__ADS_1
"tunggu di sini dulu ya non, biar saya panggil nyonya" Rita meminta Ara dan Reagen untuk duduk di sofa ruang keluarga sedangkan ia akan memanggil Edeline
Ara dan Reagen duduk sambil memindai setiap sudut Ruangan "terlihat bagus ya kak" ucap Ara
"iya" balas Reagen
tak lama kemudian Edeline datang menghampiri "Ara" sapa Edeline
"mamah" teriak ara langsung menghampiri Edeline dan memeluknya begitu erat
Edeline membalas pelukan Ara "tolong jangan panggil aku mamah, usiaku jauh lebih muda darimu" pinta Edeline dengan kesal
Ara mengurai pelukannya "loh kamu kan istri ayahku jadi wajar dong kalau di panggil mamah" balas Ara dengan kekehan
"tapi aku berasa tua, aku gak mau ara" rengek Edeline dengan mengerucutkan bibirnya membuat ara gemas
"ya itu resiko menikah dengan ayahku" kekeh Ara
"ara... " tegur Jonathan yang baru kembali dari membeli martabak
Jonathan menoleh ke arah Ara "ayah kan sudah memperingati kamu hal ini Ara" ucap Jonathan dengan nada Rendah
"iya ayah" Ara menoleh ke arah Edeline "maafkan aku jika kamu tidak suka dengan panggilan ini, aku hanya ingin menghormatimu sebagai istri ayahku, sama seperti aku yang menghormati suami mommy ku dengan memanggilnya Daddy" jelas Ara akan maksudnya memanggil Edeline dengan mamah
Edeline menjadi merasa bersalah pada Ara "maafkan aku Ara, bukannya aku marah tapi entah kenapa kehamilan ku ini membuatku lebih sensitif, aku tidak marah padamu kok" jelas Edeline
"tidak masalah Edeline, aku mengerti itu" balas Ara
Edeline menoleh ke arah Reagen yang entah kapan ada di sana "loh kok kak Reagen ada di sini" tanya Edeline
"tadi kita ketemu di bandara jadi sekalian saja mas ajak makan di rumah, gak masalah kan" sahut Jonathan
"ya gak papa sih mas" balas Edeline agak canggung
Jonathan menoleh ke arah Ara "oh ya sayang, kamar kamu di sebelah sana ya" tunjuk Jonathan pada sebuah kamar di lantai atas "ayah pilihkan di sana biar kamu lebih nyaman, kamar kami ada di bawah" tunjuk Jonathan pada kamarnya bersama Edeline
__ADS_1
"yang bagian depan sudah jadi, yang di belakang itu apa yah" tanya Ara yang penasaran sejak tadi
"ah itu dapur sama taman yang lagi di buat, Edeline ingin punya dapur yang lebih besar biar bisa masak banyak untuk calon adik-adik kamu, kan Edeline pengen punya anak banyak biar ramai katanya" balas Jonathan
"wah bener itu Edeline, kalau bisa adikku 5" Ara mengangkat satu tangannya menunjukkan kelima jarinya dengan semangat
"aku malah pengennya enam, biar gak sepi kalau ada yang mau sekolah di luar negeri" tukas Edeline dengan tawa renyahnya
Reagen tak henti menatap Edeline tanpa berkedip saat tengah bercerita tanpa di sadari sampai pada saat Edeline tak sengaja menoleh ke arah Reagen dan melihat tatapan Reagen yang mengarah padanya membuat ia langsung menghilangkan tawanya dalam sekejap
"ah lebih baik kamu bebersih dulu Ara, aku akan siapin makan siang buat kita" ucap Edeline berusaha memecah kecanggungan antara dirinya dan Reagen saat tatapan mereka tak sengaja bertemu
"ya sudah aku ke atas dulu ya yah, nanti minta tolong bawain koper Ara ke atas ya yah" Arab berjalan ke arah kamarnya yang ada di lantai atas untuk mandi sebab ia menempuh jarak cukup jauh dari Inggris sampai ke Indonesia
Reagen Menoleh ke arah Ara yang berjalan menjauh dan beralih kembali ke arah Jonathan "mau saya bantu bawa kopernya ara" tawar Reagen
"boleh saja kalau tidak merepotkan " balas Jonathan
"ya sudah saya ambilkan koper ara di bagasi mana om kuncinya" Reagen meminta kunci mobil pada Jonathan
Jonathan mengambil kunci mobil dari saku celananya dan memberikannya pada Reagen "lupakan perasaanmu pada istri om" ucap Jonathan dengan lirih" ucap Jonathan saat memberikan kunci mobilnya pada Reagen
Reagen mengerutkan keningnya "maksud om" tanya Reagen
"om tahu kamu mulai sadar memiliki perasaan untuk Edeline, tapi sekarang Edeline istri om dan calon ibu dari anak om jadi segera hapus perasaan kamu agar tidak semakin jauh kamu merasakan sakit" balas Jonathan
Reagen tersenyum kecut "reagen tahu om kalau gak pantas menaruh hati pada istri orang lain dan jangan khawatir kalau aku akan merebutnya dari om. Aku tahu tempat jadi aku tidak akan membuat seorang anak akan merasakan hal yang sama denganku dan karena tidak memiliki orang tua yang utuh" jelas Reagen
"Terima kasih Reagen, andai kamu lebih cepat menyadari perasaanmu saat awal kami menikah, om pasti rela melepaskannya untukmu tapi sekarang om gak bisa, dia cinta dalam hidup om jadi om gak akan melepaskannya sampai kapanpun" tegas Jonathan
"iya om" Reagen berjalan ke arah garasi mobil untuk mengambilkan koper ara yang masih ada dalam bagasi
Reagen jatuh merosot di belakang mobil "kenapa harus seperti ini" keluh Reagen yang hanya bisa terucap dalam hatinya
menyesal memang selalu datang belakangan ya, kalau di awal namanya kesadaran
__ADS_1