
Setelah cukup berlibur di maldev lebih kurang 10 hari, melebihi jadwal awalnya sih karena qiran yang terlalu malas kembali ke Jakarta
tapi tetap saja akhirnya qiran kembali ke aktivitasnya sebagai seorang penulis, sebagai nerissa ningrum
"pagi nona risa" sapa pak satpam ramah seperti biasa
"pagi pak" balas qiran
qiran berjalan ke arah ruangannya untuk menulis teks drama seperti biasa
"cinta bagaikan udara yang tak bisa di lihat tapi begitu di butuhkan
bagaikan udara... yang begitu sulit di genggam tapi tetap di rasa
bagai udara yang bisa menenangkan tapi juga bisa meluluhlantahkan dalam sekejap mata
dan bagai udara yang selalu di butuhkan, tanpamu aku tak akan sanggup hidup"
qiran menulis sepenggal cerita yang mengingatkan dirinya akan jay
"kenapa kau mengatakan itu di wawancaramu, pasti daddy akan bersiap kembali mengusikmu" gumam qiran mengingat wawancara yang pernah di lakukan jay yang jelas itu menyinggung qiran
qiran kembali melanjutkan mengetik teks drama yang sedang ia kerjakan untuk proyek drama yang sedang di kerjakan nya dan di perankan oleh jay
tak terasa qiran berada di depan laptopnya sudah sampai pukul 9 malam. jam di mana ia harus pulang kerja agar bisa beristirahat walaupun sampai detik ini dia masih kesulitan tidur
qiran kembali memakai masker serta kacamatanya dan berjalan ke luar ruang kerjanya
"ceklek" qiran membuka pintu dan mendapati sepasang kaki ada di hadapannya
qiran mendongak untuk melihat siapa yang datang "Hai" sapa jay melambaikan tangannya pada qiran
jantung qiran makin berdegup kencang dan mengingat sisa percintaan mereka kemarin, dimana itu begitu panas dan hari itu dirinya bisa baru bisa tidur nyenyak setelah empat tahun lamanya
"sedang apa di sini? " tanya qiran mencoba mengatasi kegugupan nya akan kehadiran jay
"hanya ingin mengajakmu bercerita" balas jay
qiran melangkah terlebih dulu meninggalkan jay, dan jay mengikuti qiran yang di sadari qiran "kau bisa bercerita dengan temanmu, kenapa harus denganku? " tanya qiran
"aku gak punya banyak teman, sedangkan yang aku cukup kenal dekat tahu siapa yang ingin aku ceritakan" balas jay
"bagus dong, kalau mereka tahu kan ceritanya jadi lebih gampang" qiran menelan tombol lift
mereka menunggu pintu lift terbuka "kalau mereka tahu pasti mereka kembali menyarankan melepaskannya" balas jay
"deg" jantung qiran rasanya tak kuasa menahan sesak di dadanya "tiing" pintu lift terbuka
"ayo masuk" ajak jay menarik ujung lengan baju qiran
__ADS_1
"apa kau bicara tentang cinta pertamamu" tanya qiran
"ya" balas jay
"bukannya kau bilang dia tidak mencintaimu" tanya qiran
"iya memang aku bilang begitu, tapi aku sekarang tak peduli itu. aku ingin dia kembali padaku bagaimanapun caranya" balas jay dengan yakin
"bagaimana caranya? " tanya qiran penasaran
jay tersenyum tipis "rahasia dong" kekeh jay tak ingin memberi tahu qiran dan begitu senang akan raut penasaran qiran
"aku kemarin lihat wawancaramu" ucap qiran
"apa bagus" tanya jay dengan entengnya
"apa kau begitu mencintainya? " tanya qiran
"tentu saja" balas jay dengan yakin
"bagaimana jika gara-gara kau mengejar cinta pertamamu karirmu hancur? " tanya qiran
"tak masalah, dulu saja apa yang aku cita-citakan hancur karena dirinya saja aku masih mencintainya jadi jika karirku hancur pun tak masalah asal dia bersamaku" balas jay
qiran begitu terenyuh dengan ucapan jay "Terima kasih" ucap qiran dengan nada lirih
"apa" tanya jay yang tak begitu jelas mendengar ucapan qiran
jay tersenyum simpul mendengar penuturan qiran "semoga kita berhasil" ucap jay mengepalkan tangannya memberi semangat qiran
"oh ya, aku ke sini cuma mau bilang 2 minggu lagi kita akan ada baca naskah dan aku ingin kamu hadir" pinta jay
"baiklah" balas qiran
jay mengernyitkan dahinya menatap qiran "tumben gak banyak alasan" tanya jay
"cuma pengen lebih mengikuti dramaku saja kali ini" balas qiran
"oke kalau gitu" pintu lift terbuka
"dah nerissa" jay melambaikan tangannya ke arah qiran yang keluar lift, sedangkan jay menuju lantai bawah di mana robin sudah menunggu dirinya
qiran berjalan dengan senyum mengembang "kali ini aku pasti melindungimu dari daddy dan dari ayahmu sekalipun" gumam qiran dengan yakin
***
jay tengah duduk di balkon kamarnya "aku merindukanmu qiran" gumam jay
jay ingin menghubungi qiran tapi bagaimana caranya, kalau tanya pramudia nomor qiran pasti tidak akan di kasih karena di larang tara pastinya
__ADS_1
jay mengingat kembali apa yang di ucapkan qiran jika ingin menghubunginya "ah email" jay mengirim email pada qiran
"qiran aku merindukanmu" tulis jay
pesan itu tidak ada tanda-tanda di baca
"apa boleh kita bertemu qiran, aku sangat merindukanmu, mari bertemu sebelum aku sibuk syuting dua minggu lagi" pesan jay
jay terus menunggu balasan qiran tapi tak kunjung datang "bodoh sekali aku mengharapkan dia membalas pesanku" gumam jay memilih untuk tidur karena memang dirinya begitu lelah
"ting" terdengar notifikasi email masuk
"aku sedang ada pekerjaan selama dua minggu ini, aku akan menemuimu dua minggu lagi" pesan balasan qiran
qiran yang mempunyai insomnia akut, memang belum tidur walaupun matanya terpejam, dan entah karena apa dia tiba-tiba memeriksa emailnya di waktu tengah malam, sehingga ia bisa membaca pesan jay dan langsung membalasnya
"kali ini aku akan berani menentang dunia untukmu jay" ucap qiran penuh dengan tekad kali ini
***
Dua minggu kemudian
acar pembacaan naskah untuk drama berjudul "love shadow" akan di laksanakan, semua crew drama dan para pemain sudah berdatangan
"apa kali ini penulis nerissa akan hadir? " tanya sutradara pada lensi
"itu... " lensi bingung akan menjawab apa
"paling dia gak datang lagi, dia kan terlalu tertutup orangnya" celetuk lawan main jay
"apa dia punya masalah dalam bertemu orang" tanya sutradara lagi
"emmm" lensi masih bingung harus menjawab apa
sutradara paham kesusahan lensi yang harus menggantikan peran qiran dalam berkumpul saat berbicara tentang naskah yang di buat qiran "sudahlah, untung saja tulisannya bagus jadi gak masalah kalau dia gak datang lagi" sahut sutradara
"kali ini dia pasti dia datang" ucap jay dengan yakin
"tau dari mana kamu? " tanya sutradara
"iya tahu dari mana? " tanya wanita yang jadi lawan main jay
"tahu saja" balas jay
semua mulai bersiap untuk memulai pembacaan teks drama karena mulai pada yakin oasti qiran tidak akan datang seperti biasa
"maaf semua, apa saya telat" ucap seorang wanita cantik masuk dalam ruangan
jay mendongak menatap penuh heran wanita yang ada di hadapannya "qiran" batin jay
__ADS_1
lensi begitu girang saat qiran datang "qiii.... nerissa" seru lensi hampir salah sebut nama asli qiran
"dia penulis nerissa ningrum" seru lensi menunjuk qiran