You Are My Regret

You Are My Regret
Ingin memulai


__ADS_3

Aiden nampak panik saat melihat istrinya hanya diam saja tak berucap sepatah katapun "sayang" Aiden menahan tangan Nidya sebelum mereka menuju ranjang mereka "are you...." belum sempat Aiden bertanya Nidya sudah memotongnya


"Nidya pengen mandi dulu kak, boleh kan? rasanya gerah banget" tanya Nidya sembari mengibaskan tangannya ke arah wajahnya


"ah... tentu saja, mandi dulu saja" Aiden mempersilahkan Nidya untuk mandi dan menunda pertanyaannya


ia akan bertanya setelah Nidya mandi saja, mungkin nanti pembicaraannya akan jauh lebih nyaman setelah tubuh Nidya segar setelah di guyur dengan air


Aiden berganti pakaian tidur di kamar gantinya dan memilih menunggu Nidya di atas ranjang sambil bermain ponsel untuk melihat laporan keuangan perusahaan serta perkembangan di beberapa perusahaannya yang tentu jumlahnya tidak sedikit


"kak" panggil Nidya dengan suara lembutnya


"iya sayang" Aiden meletakan ponselnya dan mendongak ke arah Nidya membuat mata Aiden membelalak lebar akan penampilan Nidya yang baru pertama kali ia lihat


melihat tatapan Aiden yang begitu terkejut, seketika itu Nidya jadi panik dan merasa tidak nyaman saat memandangi penampilan dirinya yang memang terlalu berani "aku jelek ya kak, ya sudah aku ganti saja" Nidya merasa malu di depan Aiden apalagi tatapan Aiden terasa tidak nyaman untuknya


Aiden langsung tersadar dan menahan tangan Nidya "kamu cantik kok Nidya, selalu cantik di mata kakak apapun yang kamu pakai, tadi kakak hanya  terkejut melihatmu untuk pertama kali memakai baju seperti ini. Kakak takut salah mengartikan bahwa kamu mulai mau melayani kakak sebagai istri dalam artian lebih" jelas Aiden akan reaksi Aiden saat melihat Nidya


Nidya kini bisa merasa lega dan mengajak Aiden untuk duduk "Nidya pikir kakak ngira aku seperti cewek murahan yang pakai pakaian begini" pikir Nidya akan anggapan Aiden terhadap dirinya


Aiden langsung menggelengkan kepalanya dengan cepat " tentu tidak Nidya, kamu tuh bebas mau berpakaian apapun saat di depan kakak bahkan saat tidak pakai apapun pun kamu bebas, kan kamu istri kakak" Aiden langsung menutup mulutnya saat ia sadar kalau bahasa terlalu frontal


"maaf" ucap Aiden dengan rasa bersalah


Nidya terkekeh akan tingkah Aiden "kakak lucu banget"

__ADS_1


"maaf ya kak kalau selama ini aku tidak bisa melayani kakak selayaknya seorang istri " tangan Nidya mulai mengarahkan tangannya ke arah gundukan besar di area berbahaya milik Aiden "apa kakak kesulitan menahannya selama ini" Nidya mulai mengusap benda keramat milik Aiden yang sudah mulai mengembang dan kini makin mengeras saat tangan Nidya memberikan sentuhan di sana


"emmm" Aiden memejamkan matanya menahan sekuat tenaga gejolak yang sudah Nidya buat "kakak harus ke kamar mandi dulu" milik Aiden sudah makin sesak dan itu membuatnya mulai panik apalagi Nidya belum bisa melayaninya dan Aiden tidak ingin memaksakan itu


"kakak harus ke kamar mandi sekarang" Aiden akan beranjak dari duduknya tapi Nidya menahannya


"Nidya akan bantu kakak" tanpa Aba-aba Nidya melepaskan celana tidur milik Aiden dan membuka apa yang ada dalam sana agar bisa bebas dan begitu tegak paripurna saat benda keramat itu keluar dari sangkarnya


Aiden begitu terkejut akan tindakan Nidya tapi ia diam saja toh dia menyukai ini apalagi ini adalah inisiatif istri tercintanya yang ingin bermain-main dengan benda pusaka miliknya yang sudah siap untuk berperang


Nidya mulai memainkan milik Aiden menggunakan tangan serta mulutnya membuat Aiden mendesah tak karuan karena merasa begitu nikmat akan perlakuan Nidya untuknya, bahkan perbuatan Nidya membuat Aiden sungguh tidak kuat dan melepas cairan kental berwarna putih itu di depan wajah Nidya


"ah maaf Nidya" buru-buru Aiden mengambil tisu yang ada di nakas saat mulut Nidya terkena cipratan lahar panas dari benda pusaka miliknya


Aiden mengusap mulut Nidya yang belepotan akibat ulahnya "maaf Nidya kakak gak sengaja" Aiden terus mengusap mulut Nidya dari sisa cairan putih di sekitar mulut Nidya "kakak sudah minta kamu berhenti tapi kamu gak mau berhenti sih jadi keluar di mulut kamu kan" Aiden merasa bersalah karena mengeluarkan cairan putih kental itu di wajah Nidya walaupun sebenarnya Nidya yang tak mau melepasnya sehingga hal itu bisa terjadi


Aiden menyentuh benda kenyal bak squisy yang sudah menjulang dengan menantangnya sebab semua yang menutupinya sudah terlepas akibat ulah aiden dan dirinya tadi menggunakan tangan kanan sedangkan tangan kirinya memposisikan benda keramat miliknya ke arah lembah surgawi milik Nidya


Aiden menatap sayu Nidya "boleh kah" tanya Aiden dengan hati-hati


Nidya mendekatkan bibirnya di telinga Aiden "aku ingin anak yang banyak dari kakak" bisik Nidya


mendengar itu tentu Aiden langsung melancarkan aksinya untuk memberi kenikmatan pada Nidya, ia akan bekerja keras memberikan anak yang banyak untuk istrinya agar istrinya bahagia


***

__ADS_1


"Eugggghhhh" Aiden mencoba bergerak tapi tubuhnya terasa begitu berat


Aiden membuka mata dan mendapati Nidya ada dalam pelukannya dan dalam keadaan tanpa busana hanya tertutup selimut saja


"jadi semalam benar" batin Aiden yang merasa perbuatannya semalam hanyalah mimpi


"cup' Aiden mengecup kening Nidya cukup lama


"jangan minta lagi kak, Nidya capek mau tidur saja" gerutu Nidya masih dengan memejamkan matanya dan makin memperat pelukannya pada tubuh Aiden


"kakak mau ke kantor sayang, ini sudah siang" ucap Aiden


"kakak izinin aku dulu ya, aku capek banget mau tidur lagi" Nidya menggeser tubuhnya masih dalam keadaan mata terpejam  dan membiarkan Aiden untuk bangun "sarapan sendiri ya kak tadi Nidya sudah minta pelayan buat siapin sarapan sama setelan kerja kakak sudah ada di gantung di sana " Nidya menunjuk ke arah di mana ia sudah menyiapkan setelan kerja Aiden yang entah kapan Nidya menyiapkannya


Aiden menyunggingkan senyumnya dan langsung mengecup pipi Nidya dan hanya membuat Nidya menggeliat dan terus berteriak mengantuk "ya sudah tidur saja, nanti kakak yang bilang kalau kamu izin hari ini" Aiden masuk kamar mandi untuk membersihkan dirinya agar bisa segera berangkat kerja


Aiden melihat Nidya dari pantulan cermin saat sedang memakai dasi "jangan lupa makan ya sayang" ucap Aiden sebelum berangkat kerja


"iya kak, nanti Nidya makan kok" balas Nidya


Aiden kembali mengecup pipi Nidya "maaf ya sudah bikin kamu kelelahan" ucap Aiden


"gak usah minta maaf kak, kan semalam Nidya yang goda kakak" Nidya membuka matanya dan mencoba duduk sambil tetap memegang selimutnya agr asetnya tidak kembali terpampang "berangkat kerja gih" Nidya mengecup pipi suaminya dengan sayang


"apa kakak gak usah kerja juga ya" tanya Aiden membuat mata Nidya membelalakkan matanya lebar

__ADS_1


"enggak ya kak, Nidya capek" tolak Nidya tahu betul arti ucapan Aiden


Aiden terkekeh "iya sayang" Aiden mengecup kening Nidya dan kembali mengingatkan istrinya untuk tidak lupa makan dan segera berangkat ke kantor agar tidak kembali kelepasan saat melihat tubuh polos istrinya


__ADS_2