You Are My Regret

You Are My Regret
Liburan sebentar saja dan harus kembali


__ADS_3

"iya mom, nnati aku akan datang ke rumah om Jo untuk mengingatkan Ara kalau sebentar lagi sudah akan masuk kuliah " ucap Reagen yang sedang berbincang bersama mommy Kassy


"mommy sedikit khawatir dengannya Reagen" terlihat mimik wajah sedih dari mommy Kassy sebab memang mereka melakukan video call


"ara tidak ada kasih kabar selama seminggu berarti dia nyaman saja tinggal bersama ayahnya mom" balas Reagen


"tapi tetap saja rasanya kurang nyaman, mommy masih ingat betul gimana sikap Edeline waktu meminta kalian tinggal terpisah" tukas Mommy Kassy


"sudah lah mom, lagian setelah aku pikirin lagi kalau ucapan Edeline itu ada benernya tapi cara ngomongnya saja yang keterlaluan" jelas Reagen


"sudah lah, pokoknya datang ke tempat adikmu dan ingatkan adikmu untuk cepat pulang" Mommy Kassy mengakhir panggilannya bersama Reagen


Reagen yang sedang berada di meja kerjanya saat berbincang bersama mommy kembali melanjukan pekerjaannya yang masih menumpuk agar bisa segera pulang dan datang untuk menemui adiknya untuk menyampaikan pesan mommy Kassy padanya


dan saat jam pulang kantor, Reagen langsung bersiap untuk bertandang ke rumah orang tua kandung dari adik sambungnya itu


"tok tok tok" Reagen mengetuk pintu sembari membawa parcel buah serta paper bag berisi kue sebagai buah tangan untuk bertandang ke rumah Jonathan


"iya tunggu" terdengar suara dari balik pintu dan terpampanglah sosok wanita yang paling Reagen hindari dalam hidup


"kak Reagen" gumam Edeline begitu terkejut melihat keberadaan Reagen di hadapannya


"ara nya ada" tanya Reagen langsung pada intinya sebab ia masih begitu tersinggung akan kelakuan Edeline yang coba mengatur hidupnya


Edeline hanya menghela nafas panjang sebab ia sadar kalau Reagen merasa risih dengannya "tunggu sebentar aku panggilin ara, tunggu di depan saja" tunjuk Edeline pada kursi yang ada di teras rumahnya


Reagen mengerutkan keningnya "kamu gak mempersilahkan kakak masuk" tanya Regaen memastikan tindakan Edeline yang tidak emngizinkannya masuk


"suamiku tidak di rumah kak, dan hanya ada aku juga ara di dalam rumah ini, yang satu istri orang dan yang satu adalah anak gadis jadi lebih baik bicara di depan saja" tukas Edeline kembali menutup pintu rumahnya


Reagen di buat mengaga akan jawaban Edeline "apa dia kesambet setan iprit" gumam Reagen yang merasa heran dengan tingkah Edeline padahal dulu Edeline lah yang selalu menempeli dirinya kemanapun walaupun berkali-kali Reagen meminta Edelina menjaga jarak tapi selalu tidak di dengar


tak lama berselang keluarlah ara dari dalam rumah dan menghampiri Reagen lalu memeluk kakaknya "kok kakak datang" tanya Ara saat pelukannya sudah terurai

__ADS_1


"di suruh mommy ingetin kamu kalau kuliah kamu sebentar lagi mulai" balas Reagen


"oh" Ara hanya mengangguk saja akan pernyataan kakaknya


Reagen melirik ke arah pintu "kamu betah tinggal di sini" tanya Reagen penasaran


ara mengerutkan keningnya "kok ngomong gitu kak, ini rumah ayahku dan ara juga sudah sering tinggal disini" tanya Ara tak mengerti kenapa Reagen sampai bertanya seperti itu padahal dari dulu saat liburan, dia memang tinggal bersama ayahnya


"secara kamu kan tinggal sama Edeline " yang Reagen ragukan adalah keberadaan Edeline di sana yang mungkin bisa menyakiti adiknya


"Edeline baik kok, lagian selama liburan di sini Edeline gak pernah keluar rumah kecuali belanja buat keperluan dapur jadi Ara ada teman ngobrol" balas Ara dengan jujur


"yakin" Reagen kembali memastikan


"iya kak" balas ara


tak lama berselang keluarlah Edeline dengan membawa nampan berisi dua gelas dan satu toples camilan serta satu piring buah "silahkan di nikmati" ucap Edeline


"baik kok" Edeline kembali masuk ke dalam rumah setelah menjawab pertanyaan Reagen


Reagen menunjuk ke arah Edeline "Edeline kenapa? apa ayah kamu mengancamnya sampai dia seperti itu" tebak Reagen dengan segala pikrian buruknya


ara menatap tajam kakaknya "maksud kakak itu apa? ayhku gak pernah ngancam-ngancam ya" ara tentu saja tidak terima dengan tuduhan tidak beralasan dari Reagen pada ayahnya


"ah maaf ara" Reagen baru menyadari kalau ucapannya sedikit keterlaluan pada ara "kakak hanya terkejut dengan perubahan sikap Edeline yang tidak seperti dulu padahal baru seminggu kan Edeline menikah dengan ayah kamu " jelas Reagen


"sejauh yang aku lihat saat tinggal di sini, hubungan ayah dan Edeline baik-baik saja dan Edeline selalu nurutin semua ucapan ayah tanpa banyak protes" menurut Ara tidak ada yang salah dengan sikap ayahnya pada Ara


"ya aneh saja rasanya ra, dulu dia selalu ngintilin kakak kemanapun dan selalu menolak menjauh dari kakak sat di minta tapi tadi waktu kakak datang, dia gak ngizinin kakak masuk ke dalam dengan alasan gak ada ayah kamu di rumah dan hanya ada kalian yang seorang istri dan seorang gadis" jelas Reagen  menyampaikan rasa aneh yang ia rasa pada Edeline


"oh" kini ara tahu maksud kakaknya "itu mah pesan ayah ke edeline untuk tidak ngebiarain laki-laki masuk kalau gak ada ayah di rumah solanya waktu ada pegawai ayah ke rumah tapi di izinin masuk ke dalam rumah buat nunggu padahal cuma ada Edeline dan ara saja di rumah.


Dan kebetulan karena lingkungan rumah ayah yang memang padat penduduk ini ngebuat seolah-olah kami sengaja memasukan pria ke dalam rumah dan ayah kena tegoran dari pak RT karena adukan ibu-ibu komplek yang rempong jadi Edeline gak pernah kasih izin lagi pria yang bukan keluarga masuk rumah" jelas Ara akan sikap Edeline yang tidak mengizinkan Reagen masuk ke dalam rumah saat tak ada Jonathan di rumah

__ADS_1


"oh" Reagen mengangguk paham


dan entah kenapa ada persaan lega di hati Reagen saat Edeline menghindarinya hanya karena suatu kejadian yang kurang mengenakan dan bukannya karena Edeline menjaga jarak darinya


"nanti Ara telpon mommy deh kalau pulang ke rumah lusa" ucap Ara pada akhirnya


"ah ya sudah" Reagen menyerahkan bingkisan yang sempat ia bawa pada ara dan beranjak dari duduknya "kakak pulang dulu dan sampaikan salam kakak pada Edeline bahwa kakak pamit pulang" ucap Reagen


"pamit sendiri saja kak" ara memundurkan sedikit tubuhnya agar berdiri di depan pintu


"Edeline" panggil Ara


dan tak lama Edeline pun datang "ada apa" tanya Edeline yang masih memakaiapronnya sebab sedang memasak makan malam


"kak Reagen mau pamit" tunjuk ara pada Reagen


Edeline menoleh ke arah Reagen "oh ya kak, hati-hati" ucap Edeline


Edeline menoleh "aku lagi masak jadi jangan berisik lagi" Edeline buru-buru masuk ke dalam rumah membuat ara terkekeh


"ngapain si Edeline kok buru-buru amat" tanya Reagen makin penasaran dengan pakaian yang barusan Edeline pakai dan gerak Edeline yang berlari saat masuk dalam rumah


"lagi masak dia kak, pasti takut gosong" kekeh Ara akan kelakuan ibu sambungnya itu


"Edeline masak" tanya Reagen tak percaya


"heran kan" ara tertawa melihat wajah terkejut kakaknya  yang menurutnya begitu lucu


"awalnya aku juga terkejut tahu kak saat Edeline bisa memasak, dan masakan Edeline tuh enak banget tahu kak, ayah saja selalu bawa bekal makan siang, dan makan malam di rumah" tambah ara lagi


"bekal" Reagen kembali di buat terkejut saat jonathan di bawakan bekal oleh Edeline


Reagen menatap nanar ke arah pintu, tidak menyangka wanita yang ia kira manja tapi bisa mengurus suami sampai segitunya padahal ia biasa di layani sejak lahir

__ADS_1


__ADS_2