You Are My Regret

You Are My Regret
Bertemu kenalan lama


__ADS_3

Edeline kini mengajak Lucas untuk menemui Ara yang sedang sibuk mengobrol dengan seorang pria


"itu calon suami ara kak, baru bulan lalu Ara di kamar dan mereka akan menikah 3 bulan lagi" ucap Edeline menjelaskan siapa pria yang bersama Ara tanpa di minta


"Ara" panggil Edeline


sang pemilik nama pun menoleh dan begitu terkejut ada Lucas di sana walau ia sudah di beritahu oleh Edeline kalau Lucas akan datang "apa kabar kak" tanya Ara pada Lucas


"seperti ini saja" Lucas mengangkat kedua bahunya dan melirik ke arah pria yang ada di samping Ara "wah kamu akan menikah dengan direktur di tempatmu bekerja" Lucas tentu mengenal siapa pria yang jadi calon suami Ara karena pria itu adalah salah satu direktur di perusahaan miliknya


pria itu mengangkat tangan kanannya untuk berjabat tangan dengan Lucas "apa kabar tuan Lucas" sapa pria yang di gadang-gadang sebagai calon suami Ara


"kabarku baik Tio, kamu bagaimana" balas Lucas


"selalu baik tuan, apalagi kini Ara setuju menikahi saya setelah hampir dua tahun berjuang mengejarnya" balas Anantio dengan senyuman lebarnya


"jangan lupa mengundangku di acara pernikahan kalian ya" pinta Lucas


"tentu kami akan ngundang kakak" balas Ara dengan senyum tipisnya


entah kenapa kali ini hatinya tidak sesakit dulu saat mengingat Lucas bukan miliknya. Mungkin ini karena kehadiran Anantio yang begitu menghiburnya dan selalu ada di saat ia membutuhkan


"tentu kakak akan di undang, Ara kan anak sambung aku dan kakak itu kakak aku otomatis Ara itu keponakan kakak jadi harus datang dong di pernikahan keponakan kakak" ucap Edeline membuat gelak tawa antara Ara, anantio dan Edeline tapi tidak begitu bagi Lucas


Lucas hanya diam dan tak berekspresi dengan berlebihan, sungguh datar pokoknya


"kamu sudah mau keluar Lucas" suara seseorang yang akrab di telinga Lucas membuat hatinya tak karuan dan serasa panik


Edeline melihat itu dan langsung menggenggam tangan Lucas agar serangan panik Lucas tidak muncul kembali "apa kabar om" tanya Edeline


"kabar om baik" pria paruh baya itu menoleh ke arah Lucas "apa karena kamu sudah tidak menjadi menantu ayah, kamu tidak mau menyapa ayah lagi" tanya pria paruh baya yang tak lain adalah ayah tara


"bukan begitu yah" Lucas begitu gugup dan bingung harus bicara apa pada Ayah Tara

__ADS_1


"mungkin perceraian kalian berakhir karena hal yang tidak baik Lucas, tapi kamu tetap anak sahabat ayah dan seperti apa yang ayah ucapkan dulu, ayah tetap jadi ayah kamu" seru ayah Tara


Lucas langsung memeluk ayah Tara "Terima kasih yah" tangis Lucas langsung pecah dalam pelukan Ayah Tara dan itu tentu membuat atensi mereka teralih pada Lucas yang ada dalam pukan ayah Tara dalam keadaan menangis


tak ada yang menyela dan hanya ikut menangis harus karena ayah Tara masih mau menganggap Lucas anaknya padahal Lucas pernah menyakiti Nidya


"maafkan Lucas yah, maaf karena melukai putri ayah" ucap Lucas dengan sesenggukan


Ayah Tara mengusap punggung Lucas " sudah lah Lucas, lupakan hal itu. itu terjadi hanya karena penyakitmu. sekarang anak ayah sudah menemukan kebahagiaannya walaupun itu tidak bersama kamu dan ayah harap kamu juga bisa berbahagia walau tidak bersama anak ayah" ucap Ayah Tara dengan tulus


"tapi sepertinya tidak bisa yah" sahut Lucas masih dengan sesenggukan


"yakinlah pasti bisa Lucas, seperti kami sekeluarga yang sudah bersama dengan keadaan dan sudah memaafkan kamu. Kamu juga harus bisa berdamai dengan keadaan dan memaafkan diri kamu sendiri" pungkas ayah Tara


***


Lucas sedang duduk di balkon kamarnya, memandangi langit malam yang terasa begitu sepi dan tidak ada bintang yang bertaburan di sana


"biasanya aku menghabiskan waktu bersama lala" gumam Lucas merindukan bocah kecil yang biasa mengisi hari-harinya selama di Bandung


Buru-buru Lucas mengangkat panggilan Itu "Hai om Lucas " sapa anak kecil yang sempat ia pikirkan tadi


Lucas membalas lambaian tangan Lala yang sudah memenuhi Layar ponselnya "kenapa belum tidur jam segini" tanya Lucas


"lala rindu om, tapi dari tadi minta ibu nelpon gak di kasih izin katanya takut ganggu om" seru bocah kecil itu dengan mengerucutkan bibirnya


Lucas menyunggingkan senyumnya ke arah Lala " coba kasih dulu ponselnya sama ibu" pinta Lucas


Lala menuruti perintah Lucas dan memberikan ponselnya pada Qia, ibu dari Lala "kemarin kan saya sudah bilang ke kamu kalau saya 24 jam menerima panggilan Lala, jadi ngan Lala untuk menghubungi saya Qia " ucap Lucas


Qia menundukkan wajahnya "maaf mas, saya gak enak kalau Lala ganggu acara keluarga mas Lucas" jelas Qia


"tidak akan Qia, di sini saya hanya mengikuti acaranya tanpa terlibat terlalu jauh jadi kamu dan Lala gak akan ganggu saya" balas Lucas meyakinkan Qia

__ADS_1


"ya sudah kalau gitu, besok-besok Qia gak akan larang Lala kalau mau telpon mas Lucas. Tapi kalau mas Lucas tolong beritahu saya ya, biar saya bisa kasih pengertian untuk Lala " pinta Qia


"iya Qia" balas Lucas


Lucas dan Lala melanjutkan mengobrol mereka dengan begitu antusias, apalagi saat kamar Lucas muncul di layar membuat Lala bertanya akak banyak hal yang belum pernah ia lihat


"om Lucas punya bioskop ya" tanya Lala begitu polosnya saat melihat TV besar di kamar Lucas yang masih dalam keadaan menyala


"itu bukan bioskop Lala, hanya TV yang berukuran besar saja" balas Lucas


"om Lucas pasti kaya banget ya sampai bisa punya TV sebesar itu, TV di rumah Lala kecil banget loh, dan harus begitu dekat lihatnya biar lebih jelas. kayanya kalau pakai TV itu jelas banget ya om" tanya Lala


Lucas melirik ke arah TV besar miliknya "kamu pengen nonton di TV sebesar ini" tanya Lucas


"mau sih om, tapi Lala gak ada uang buat beli" balas Lucas


"nanti lihat di rumah om saja, jadi Lala gak usah beli" balas Lucas


"emang om punya? bukannya TV om yang gak segede itu ya" tanya Lala


TV rumah Lucas memang lebih besar dari rumah Lala tapi tergolong ke TV yang standar dengan ukuran 32 inch


"kebetulan om ada rencana mau beli, tapi bingung mau di antar kapan karena om Lucas kan masih ada seminggu di sini. Tapi karena Lala suka biar di antar ke rumah besok saja kan ibu ada kunci rumah om Lucas, biar ibu yang Terima TV nya dan Lala bisa nonton selagi ibu bersihin rumah om Lucas" jelas Lucas


"yeeeey" teriak girang Lala


"sudah malam La, kasihan om Lucas nya mau tidur " tegur Qia pada putrinya sebab sudah satu jaman mereka mengobrol apalagi ini sudah pukul 10 malam tentu Qia tidak enak jika mengganggu istirahat Lucas


"iya mah" Lala menoleh ke arah Lucas "Lala tidur ya om, besok kita ngobrol lagi" Lala melambaikan tangannya pada Lucas dan menyerahkan ponselnya pada ibunya


"Qia, besok ada yang antar barang ke rumah nanti di Terima saja dan di taro di ruang tamu ya" pinta Lucas sebelum mengakhiri panggilannya


" iya mas" Qia langsung mengakhiri panggilannya

__ADS_1


Lucas menyimpan ponselnya dan naik ke atas ranjang untuk beristirahat


__ADS_2