You Are My Regret

You Are My Regret
Ingin membangun rumah


__ADS_3

Seusai makan siang mereka selesai, mereka memutuskan mengobrol di ruang tamu “ibu gak


kesepian tinggal di sini sendiri” Tanya tara di sela kegiatannya memakan buah potong yang sudah di siapkan ibu dhira


“kadang kesepian sih apalagi saat lensi sudah tinggal sama kamu tapi mau gimana, namanya seorang istri kan harus ikut suami gak harus tinggal sama orang tuanya terus-terusan” balas ibu dhira


“gimana kalau ibu tinggal sama kita saja” Tanya tara menawarkan ibu dhira untuk ikut tinggal dengannya


“ibu gak bisa tinggal di apartemen nak, gak biasa soalnya ” tolak ibu dhira dengan halus


“kalau kita yang tinggal di sini mau bu” Tanya tara lagi


senyum cerah langsung terbit dari bibir ibu dhira “mau aja sih nak, ibu malah senang banget kalau kalian mau tinggal sama ibu, tapi rumah


ibu sempit nak nanti kamu gak betah lagi  kalau tinggal di sini lama” balas ibu dhira jujur akan keadaan rumahnya yang biasa saja


walaupun ibu dhira belum pernah menginjakan kakinya secara langsung di rumah tara, tapi dari yang ia lihat dari apartemen tara dan bagaimana keluarga tara memberikan pesta pernikahan megah untuk putrinya, pastilah keluarga tara adalah keluarga berada dan otomatis rumahnya pasti besar dan mewah


“itu mah gampang bu, tinggal di bangun lagi saja yang agak besar kan beres” balas tara dengan entengnya


“kalau ibu bangun lagi rumahnya, kamu mau tinggal disini” ibu dhira jadi girang sendiri dengan pembicaraan sang menantu yang mau tinggal bersamanya


“iya bu” balas tara mengiyakan


Lensi hanya bisa menatap tajam ke arah tara tanpa bisa berucap apapun karena ada ibunya di


sana “gila apa ya dia, masa mau tinggal di sini, nanti kan kita juga mau cerai, ini malah ngajak tinggal bareng sama ibu, gak mikir kali dia”


batin lensi terus berteriak kesal pada tara


“ya sudah nanti ibu bakal nyari tukang bangunan buat renovasi rumah biar bisa di tempati kalian juga” ucap ibu dhira dengan semangat

__ADS_1


“katanya ibu gak mau terlalu capek ngurus rumah kalau rumahnya besar bu” sahut lensi ingin ibunya tidak menyetujui pembangunan rumah karena kalau sudah di bangun itu artinya mereka harus tinggal dengan sang ibu. lalu bagaimana nanti kalau mereka bercerai


“gak papa nak, kan kata suami kamu mau bayarin orang buat kerja di rumah jadi gak masalah kalau rumahnya jadi besar kan nanti ada yang bantu ibu urus rumah” balas ibu dhira


“bikin rumah itu keluar banyak uang loh bu, kayanya uang lensi gak akan cukup deh” sahut lensi masih tak ingin ibunya merenobasi rumah mereka


Ibu dhira menepuk pelan paha lensi “itu jangan khawatir, ibu juga punya uang kok jadi kalau Cuma bangun rumah dua lantai dengan 8 sampai 10 kamar, ibu masih bisa” balas ibu dhira dengan senyum mengembang


Tara tersenyum simpul melihat kebahagiaan ibu dhira “ibu gak usah keluar uang buat bikin


rumahnya, biar itu jadi urusan tara saja” sahut tara


ibu dhira menghelengkan kepalanya “ih jangan nak, masa kamu yang bangun rumahnya” tolak ibu dhira


“sekarang kan tara suaminya lensi bu jadi gak masalah, nanti uang ibu buat isi perabotan aja, jadi biar adil” balas tara mengambil jalan tengah agar ibu dhira tidak tersinggung akan niat baiknya


“terima kasih ya nak” ibu dhira jadi sangat senang akan rencana yang di ucapkan oleh tara


***


Malam harinya mereka kembali ke apartemen mereka untuk beristirahat karena lensi pikir tara akan tidak nyaman jika tinggal di rumah ibunya yang kecil dan kamar


mandinya ada di luar tidak seperti di apartemen yang memiliki kamar mandi di dalam kamar


lensi memandangi punggung tara yang masuk dalam apartemen “mas” lensi menahan tangan tara saat akan masuk dalam kamar mereka


Tara menoleh ke belakang “apa sih lensi, mas mau mandi nih gerah banget” balas tara


tara mencium bau tubuhnya yang memang banyak keluar keringat karena tadi sempat memetik buah mangga dan jeruk yang ada di halaman untuk di bawa pulang


“maksud mas apa tadi bilang ke ibu mau tinggal di sana” Tanya lensi

__ADS_1


“ya emangnya kenapa, ibu juga sendirian kasihan kan “ balas tara dengan cuek


“iya sih mas, tapi kamu lupa ya kalau kita bakalan cerai kalau kita sudah punya anak” ucap lensi mengingatkan tara akan perjanjian pernikahan mereka yang akan bercerai setelah memiliki anak


“deg” tiba-tiba saja tara tersadar akan hal itu


perjanjian pranikah yang sudah di tandatangani oleh tara dan lensi sebelum mereka resmi menikah


“cerainya kan gak tahu kapan lensi, kamu kan belum hamil” balas tara dengan entengnya


Tara berjalan ke arah kamarnya yang di ikuti lensi di belakang “ biarin kita kasih kebahagiaan buat ibu kamu dulu lensi, kamu gak lihat tadi kalau ibu kamu senang banget kita mau tinggal di sana setelah


rumah itu di bangun lagi” ucap tara mengingat kan wajah bahagia ibu dhira saat membahas akan tinggal serumah


“tapi mas…” lensi sedikit ragu akan keputusan untuk tinggal dengan sang ibu


tara menghentikan langkahnya dan menoleh ke belakang agar bisa berhadapan dengan lensi “sudah sih lensi” tara mengusap kepala lensi dengan lembut “mas juga pengen kasih rumah yang terbaik untuk anak kita nanti. kalau kita sudah cerai nanti dan kamu nikah lagi, gak mungkin kan mas bangunin rumah buat anak kita, gak enak sama suami kamu nanti kan” ucap tara


"aku gak akan nikah lagi, dan hanya akan hidup dengan anakku saja" balas lensi dengan suara tegas


tara menelan salivanya dengan susah payah " yang penting niat mas mau kasih rumah yang bagus buat anak mas, lagian tanahnya kan punya kamu juga, jadi cuma modal bangunnya doang. ibu kamu senang dan anak kita bisa terjamin tempat tinggalnya. sudah beres" sahut tara


Lensi langsung memeluk tara “terima kasih mas, terima kasih sudah baik sama ibu. Walau ini


hanya sementara tapi lensi benar-benar berterima kasih. Lensi janji akan jadi istri yang baik selama jadi istrinya mas” ucap lensi dengan sungguh-sungguh


"kalau gitu mulai besok masak, jangan mas terus yang masak" balas tara


lensi mengurai pelukannya dam memicingkan matanya ke arah tara " perasaan lebih sering beli deh dari pada masak" sangkal lensi akan anggapan tara yang selalu memasak


"sudah ah mau mandi" tara langsung bergegas masuk kamar mandi untuk membersihkan diri

__ADS_1


__ADS_2