
di ruangan bernuansa putih seorang pria paruh baya masih begitu setia menggenggam erat tangan seorang wanita muda
matanya tak beralih sedikitpun dari wajah wanita muda yang masih betah untuk terlelap padahal pria paruh baya tersebut ingin segera wanita itu membuka mata dan bisa menyapanya
"sayang, cepetan bangun ya... jangan kelamaan tidur nya " pria paruh baya tersebut mengusap lembut pipi sang wanita agar segera terbangun
merasa ada yang mengganggu tidurnya, wanita itu segera membuka mata dengan perlahan "ayah" gumam wanita itu dengan suara lemahnya saat mendapati sosok sangat ayah saat membuka mata
mata pria paruh baya tersebut langsung berbinar saat mendapati anaknya sudah siuman "kamu sudah bangun sayang, sebentar ayah panggil dokter dulu" pria yang tak lain dan tak bukan adalah ayah Tara langsung memencet bel khusus untuk memanggil petugas medis agar segera memeriksa Nidya
tak lama kemudian Nidya kembali di periksa dan di beri beberapa pertanyaan untuk mengetahui kondisi Nidya lebih detil "apa yang nona rasain saat ini" tanya Pria muda berjas putih sebagai jubah kebesarannya
"saya agak lemas, dan perut saya masih agak nyeri dok" Nidya me unjuk area mana perutnya yang masih terasa nyeri
dokter itu menghela nafas panjang "saya sudah membahas ini dengan dokter yang pernah menangani anda dari pihak rumah sakit sebelumnya perihal kondisi kehamilan anda yang memang lemah di tambah anda yang sempat tak sengaja meminum obat yang bisa menggugurkan kandungan jadi kondisi anda kali ini cukup mengkhawatirkan" jelas Dokter kandungan bernama dokter Pram perihal kondisi kehamilan Nidya
"tapi anak saya masih bisa di selamatkan kan dok" tanya Nidya
"kami akan berusaha nona, tapi anda tetap harus menyiapkan mental untuk kemungkinan terburuk" dokter pram tak ingin memberikan harapan besar pada Nidya sebab ia sendiri pun pesimis akan kehamilan Nidya
ayah Tara terus menggenggam tangan Nidya untuk memberi kekuatan putrinya "Terima kasih dok" Balas Nidya dengan wajah lesunya
ayah Tara langsung memeluk Nidya saat dokter Pram sudah keluar ruangan rawat Nidya
"tenang sayang, ayah akan selalu ada buat kamu, ayah akan bantu kamu buat jaga anak kamu, cucu ayah" ucap ayah Tara menenangkan Nidya
Nidya balas memeluk Ayah Tara dengan erat "aku gak mau kembali sama mas Lucas yah, mas Lucas jahat sama Nidya, dia menghina Nidya dan mau membunuh anak Nidya" adu Nidya dengan isak tangis
ayah terus mengusap punggung Nidya, baru kali ini ia menjadikan kesalahan Luca yang itu artinya kesalahan Lucas sudah sangat fatal dan begitu menyakiti hati Nidya "kalau begitu jangan kembali padanya, ayah akan selalu melindungi kamu, biarpun dunia menentang ayah untuk memisahkan kalian jika kamu ingin pisah maka ayah akan memisahkan dengannya " ayah Tara ikut menangis melihat anaknya yang bersedih
__ADS_1
mamah Lensi yang baru saja datang bersama Raymond langsung ikut memeluk Nidya ketika melihat istri dan anaknya sama-sama menangis mendengarkan curahan hati Nidya dengan isak tangis pada ayahnya "kamu juga masih ada mama dan adik kamu, kami akan selalu melindungi kamu sayang" tambah Mamah Lensi
"Raymond juga akan selalu melindungi kakak" terus Raymond
Nidya membalas pelukan ketiga orang yang sangat di sayanginya "Terima kasih" ucap Nidya begitu bersyukur memiliki keluarga yang begitu menyayanginya dan mau mengerti dirinya
Nidya di rawat selama satu minggu di rumah sakit. Nidya di bawa pulang ke rumah orang tuanya menjaga jarak dari Lucas yang sudah menyakiti fisik dan hati Nidya
Bahkan ayah Tara menyiapkan dokter dan perawat yang akan berjaga 24 jam di rumah untuk memantau kondisi kehamilan Nidya yang cukup lemah
kini Nidya di haruskan benar-benar bed rest total selama masa yang belum di tentukan karena menunggu sampai kandungannya benar-benar kuat akan aktifitas sehari-hari
Jika di tanya kemana Lucas, Lucas masih di kurung di rumah oleh Daddy Jay untuk menjalani pengobatan, bahkan Daddy Jay menyiapkan dua perawat dan tiga bodyguard untuk mengawasi Lucas agar tidak kembali berulah ataupun mengejar Nidya
"aku mohon daddy lepasin Lucas, Lucas mau ketemu Nidya" pinta Lucas dari balik pintu kamar Lucas
tapi Daddy Jay kini benar-benar tak menggubris teriakan Lucas dan menganggap suara Lucas adalah angin lalu
"aku mohon dad" itu terus yang selalu di minta Lucas setiap harinya tanpa ada rasa lelah sama sekali
sedangkan Daddy Jay kini sedang sibuk dengan tabletnya saat Jonathan memberikan Laporan perusahaan yang terpaksa daddy Jay ambil alih karena ia melarang Lucas untuk keluar rumah sampai di rasa kondisinya sudah stabil "gimana dad, ada yang perlu Jo rubah" tanya Jonathan saat Daddy Jay memeriksa laporan kerjasama yang harusnya di tangani Lucas tapi kini berpindah ke tangan Jonathan
"tidak perlu Jo, sudah cukup" Daddy Jay mengembalikan tab milik Jonathan sebagai keputusan akhir perihal kerjasama yang sedang di lakukan perusahaan istrinya
"baiklah" Jonathan kembali menyimpan tablet miliknya
"aku ke kantor dulu ya dad" pamit Jonathan
Jonathan menghampiri Edeline untuk mencium kening Edeline serta mencium pipi gembul puteranya Daiyan
__ADS_1
"mas berangkat ya sayang" pamit Jonathan
"iya mas" Edeline mengantar suaminya berangkat kerja sampai teras rumah dan melambaikan tangannya saat mobil suaminya makin menjauh
Mommy Qiran menghampiri Suaminya "Dad" panggil Mommy Qiran
"hemmm" Daddy Jay hanya membalas deheman sebab ia sedang sangat sibuk mengurus dua pekerjaan sekaligus
"Daddy sampai kapan mengurung Lucas " tanya Mommy Qiran
"lihat sampai mana perubahan mentalnya " balas Daddy Jay
"apa Daddy juga akan membiarkan Nidya menggugat cerai Lucas" tanya Mommy Qiran
Mommy Qiran sudah mendengar perihal ayah Tara yang mulai intens bertemu dengan pengacara keluarga ayah tara dan hal itu menjurus ke arah perpisahan walau belum pasti
Daddy Jay melepas kacamata bacanya dan menoleh ke arah Mommy Qiran "kalau memang Nidya mau minta pisah, ya biarkan saja" balas Daddy Jay begitu entengnya
"Daddy tega sama anak kita" Mommy Qiran tak menyangka jika suaminya akan biasa saja menanggapi Nidya yang akan meminta pisah dari Lucas
"hati anak kita akan hancur dad" protes Mommy Qiran
"hati Nidya lebih dulu hancur saat anak kita dengan teganya mengira Nidya berselingkuh dan akan membunuh anak yang sudah di tunggunya selama bertahun-tahun" balas Daddy Jay
"tapi dad" mommy Qiran akan kembali berucap tapi Dengan cepat Daddy Jay menahannya dengan mengangkat tangan kanannya
"jangan buat Daddy marah mom" tegur Daddy Jay tak ingin berdebat akan masalah yang sama
Mommy Qiran hanya bisa diam sebab saat suaminya berucap ia tak akan bisa membantahnya dengan apapun
__ADS_1