
"Abel Pradana Kusuma" sebuah teriakan menggema ke penjuru ruangan keluar dari mulut ibu muda yang sedang berkacak pinggang ke arah anak berusia 7 tahun
sang anak langsung berhenti seketika saat namanya di panggil secara lengkap pertanda sang bunda sudah sangat marah akan tingkahnya "jangan marah bunda" pinta gadis kecil yang biasa di panggil Abel itu
"gimana bunda gak marah, Bunda cuma minta kamu makan aja susahnya minta ampun, kalau kamu gak mau makan ya sudah kerja saja sana di luar cari uang sendiri, bunda malas mengurusi kamu yang susah di atur" kesal ibu muda tersebut
"bunda" rengek abel menghampiri bundanya tapi di abaikan oleh ibu muda tersebut
"ayah" teriak abel dengan nada manjanya
pria yang di panggil ayah keluar menghampiri istri dan anaknya "ada apa ini Abel" tanya pria tersebut dengan nad lembut
"Bunda marah sama Abel yah" rengek Abel menangis di depan ayahnya
"gak usah pakai air mata palsu kamu abel, jangan selalu berlindung di belakang ayah kamu itu" ketus Ibu muda tersebut
pria tersebut menghampiri sang istri dan mengusap lembut bahunya "ada apa ara sayang, kok marah-marah terus" tanya pria yang tak lain Anantio Pradana Kusuma, suami dari Ara Adiratma Javerson
"anak kamu itu loh mas, di suruh makan saja banyak dramanya, gimana ara gak kesal coba" adu Ara pada suaminya
"Abel gak lapar bunda" elak Abel
"tuh anak kamu" Ara menunjuk ke arah Abel "mas gak lupa kan kalau dia masuk rumah sakit karena telat makan gara-gara dia yang ngeyel bilang gak laper padahal harusnya dia makan tepat waktu. Ara capek mas nyuruh dia makan sudah kaya nyuruh dia nyangkul di sawah" balas Ara merasa begitu lelah menyuruh Abel untuk makan
Tio tersenyum hangat kepada sang istri "ya sudah kalau anak kita si Abel ngeyel terus kita taro di rumah kakek dan neneknya saja, mereka pasti sangat senang mengurus Abel dan kita bisa bikin anak lagi yang jauh lebih patuh darinya " balas Tio dengan entengnya
Abel langsung berkacak pinggang "semudah itu ayah lupain Abel dan mau bikin adik buat abel" sinis Abel
"biarin saja, Abis Abel bantah bunda terus. Kamu kan tahu kalau ayah cintanya sama bunda bukan sama kamu" balas Tio dengan nada candaan
__ADS_1
"ayah" rengek Abel
Tio menoleh ke arah Abel "kalau kamu gak mau nurut sama bunda, ya sudah kamu tinggal sama kakek dan nenek saja, ayah gak mau ya wanita tercintanya ayah bersedih, kalau karena kamu istri ayah bersedih mending kamu ayah titipkan ke rumah kakek dan nenek saja " balas Tio
Ara menatap haru ke arah suaminya yang selalu mengedepankan dirinya walau di depan anaknya ia tak pernah ragu untuk membela dirinya "Abel ini anak ayah loh, tega-tega nya ayah membuang abel gitu saja" sinis abel
"ayah bukan membuang kamu abel, ayah cuma gak mau kamu menyakiti wanita yang akan menemani ayah di sisa umur ayah lagian ayah menitipkan kamu di rumah kakek dan nenek kamu kok bukan bukan di rumah orang lain" balas Tio
"abel juga bisa menemani ayah sampai sisa umur ayah nanti" protes Abel
Tio menggelengkan kepalanya "saat kamu bertemu dengan pria yang kamu cintai, kamu pasti akan lebih memilihnya dan melupakan ayah, berbeda dengan bunda yang akan selalu bersama ayah sampai ajal menjemput ayah ataupun bunda" balas Tio memberikan pengertian pada Abel walau dengan bahasa yang cukup berbeda
"kok ayah tega sih sama Abel" rajuk Abel
"ayah bukan tega Abel, tapi inilah hidup kalau kamu gak menghargai orang lain maka jangan meminta orang lain untuk menghargai kamu
Saat kamu tidak bisa menghargai usaha keras bunda kamu yang harus memasak, mengurusmu dan memberikan semua yang kamu butuhkan kenapa ayah harus menghargai rengekan kamu itu "jelas Tio
Ara tidak tega saat putrinya menangis dan akan menghampiri Abel untuk menenangkannya tapi langsung di tahajud oleh Tio
"terkadang kita harus keras Ara, agar Abel mengerti bahwa tidak semua yang ia inginkan bisa di dapatkan dengan mudah" Tio mengusap pipi Ara yang sudah berkeringat "kamu pasti sangat lelah setelah bekerja masih harus mengurus Abel bukan, jadi kita harus ajarkan dia untuk menghargai sesuatu agar ia tidak terus merajuk tidak mau makan" ucap Tio mengingatkan Ara untuk tidak lemah oleh tangisan Abel
Tio mengajak Ara masuk ke dapur untuk menghindari Abel dan membiarkan Abel untuk menangis
"apa gak kasih ah sama Abel mas" tanya Ara dengan panik
"sudah" Tio mengusap pipi Ara dan mengecup kening Ara
"minggu depan jadi kita ke Jakarta untuk jenguk ayah dan kedua adik kamu" tanya Tio
__ADS_1
"jadi mas, ayah kangen sama aku katanya" balas Ara
"ya sudah kita bersiap ke rumah ayah kamu, dan akhir tahun kita ke Inggris untuk jenguk mommy kamu" ucap Tio
Ara memeluk erat Tio "Terima kasih ya mas selalu meluangkan waktu untuk menjenguk orang tua Ara" ucap Ara
Tio mengusap punggung Ara "ini gak sebanding dengan bakti kamu sama orang tua mas, menjenguk dan mengurus mereka setiap akhir pekan padahal kamu juga lelah bekerja padahal saudara mas yang lain gak ada yang peduli loh sama mereka" ucap Tio
"ngurus apa sih mas, cuma nemenin mereka ngobrol setiap akhir pekan, tentu gak berat sama sekali, Ara senang kok bisa bantu mas berbakti sama orang tua mas. lagian orang tua mas sudah baik banget ngebesarin mas buat jadi suami Ara" balas Ara
"bunda" Abel datang menghampiri Ara dengan suara sesenggukan "Abel mau makan bunda, jangan biarin ayah buang Abel ya bunda" pinta Abel dengan sesenggukan
Ara memeluk Abel "enggak sayang, makanya Abel makan ya" pinta Ara
Abel menganggukkan kepalanya "iya bunda" balas Abel
Ara segera menyiapkan makan untuk Abel dan mulai menyuapi Abel makan, dan Abel pun makan dengan lahap
"anak pintar" Ara mengusap kepala Abel dengan sayang saat Abel menghabiskan makanan yang sudah ia siapkan
"Abel mau main ke depan ya bunda" izin Abel
"iya Abel, tapi soren pulang ya" balas Ara
"iya bunda" balas Abel
Ara memeluk erat Tio "mas emang bisa buat Abel nurut ya" Ara takjub akan suaminya yang selalu bisa memberikan pengertian untuk anak mereka tanpa berteriak seperti dirinya
"itu hanya mengambil beberapa pengalaman dari teman yang punya anak lebih dulu dari kita" balas Tio
__ADS_1
Silahkan baca karya Nerissa ningrum yang terbaru "Ajari Aku Mencintaimu" ya