You Are My Regret

You Are My Regret
Jadikan suatu ajang ujian


__ADS_3

Jay menjemput qiran  ke kantornya untuk pergi bersama "sore jo, istriku ada" tanya jay sambil menunjuk ruangan qiran


"ada tuan, masuk saja" balas jonathan


jay masuk ke dalam ruangan qiran "sore istriku" sapa jay menghampiri qiran dan langsung memeluknya


qiran tersenyum hangat pada jay "kamu datang menjemputku" qiran begitu senang jay datang untuk menjemputnya di sela kesibukan jay di rumah sakit


"tentu" jay mengecup kening qiran


jay menatap qiran dengan posisi tangannya yang masih berada di pinggang qiran "kita ada janji loh dengan dua orang itu" ucap jay mengingatkan qiran akan janji yang sudah mereka buat


"iya. aku ingat kok" balas qiran


jay berjongkok dan mendekatkan wajahnya di perut qiran "hai jagoan ayah, kau tidak nakal dengan mommy mu kan" tanya jay


qiran tersenyum simpul "tidak daddy, aku bersikap baik hari ini" balas qiran menirukan suara anak kecil


jay berdiri dan menghadap qiran "ayo sayang, kita berangkat sekarang" ajak jay


"iya" qiran menggandeng lengan jay dengan cukup mesra  untuk keluar ruangan


qiran melirik sekar dan jonathan "hari ini kalian pulang saja, sudah ada suamiku yang menjaga" ucap qiran mempersilahkan asisten dan sekertaris nya untuk pulang


"baik nona" jonathan dan sekar membungkuk hormat dengan serempak


***


jay sedang menyuapi qiran makan dengan telatennya "kamu gak malu jay kalau ada yang lihat kamu lagi nyuapin aku" tanya qiran yang sibuk mengunyah makanan


"kenapa malu" balas jay


"ya kan image aktor cool mu itu nanti akan hilang, tergantikan oleh image suami yang takut istri" balas qiran mencebikkan bibirnya

__ADS_1


jay terkekeh "ini bukan takut istri sayang" jay mencubit pelan pipi qiran "tapi suami yang sanat mencintai istrinya" balas jay membenarkan keadaannya


"ckckckc" terdengar suara orang berdecak "jangan kebiasaan mengumbar kemesraan di depan semua orang" tara duduk di hadapan qiran dan jay dengan tatapan malas


jay dan qiran menoleh ke arah tara yang sudah duduk didepan mereka "mana pram, kok gak bareng" tanya qiran tak melihat pramudia bersama tara


"lagi di jalan mungkin, dia tadi sempat ketemu klien soalnya" balas tara


"oke" jay kembali menyuapi qiran makan "pesan saja makanan yang kamu mau, dan sekalian pram biar nanti dia langsung makan pas datang" ucap jay


tara pun memesan makanan untuk dirinya dan juga pramudia, dan benar saja saat makanan yang di pesan sudah datang semua, pramudia sampai di tempat yang sudah mereka janjikan


"mau bicara apa" tanya pramudia di sela kegiatan makannya


"habisin makannya dulu baru bicara" balas Jay sambil membersihkan mulut qiran yang terkena noda makanan


pramudia dan tara makan dalam diam, sedangkan Jay sibuk mengajak ngobrol anaknya di depan kedua sahabatnya tanpa canggung sama sekali


Jay menatap perut buncit qiran "kalau kamu sudah lahir jangan coba memonopoli mommy kamu ya, mommy kamu hanya milik daddy" ucap Jay dengan nada serius


"terlalu posesif emang suami kamu itu" tara mengelap bibirnya dengan tisu pertanda ia sudah selesai makan begitupun pramudia


melihat itu qiran dan jay langsung membenarkan posisi duduknya untuk bertatapan dengan pramudia dan tara


"kami sudah bicara dengan orang tua kalian" ucap Jay dengan wajah seriusnya membuka obrolan utama mereka


tara dan pramudia menatap lekat Jay yang sedang bicara "aku tahu kalau kalian sahabatku dan harusnya aku mendukung apapun keputusan kalian sebagai seorang sahabat" Jay menatap tara dan pramudia secara bergantian sebelum memulai ucapan selanjutnya


" tetapi aku juga sebentar lagi akan menjadi orang tua" Jay mengusap perut qiran "jadi sedikit banyak aku tahu apa yang mereka takutkan" tambah jay


"langsung saja, jangan berputar-putar. apa kesimpulan kalian mengumpulkan kami berdua seperti ini" tanya tara yang sedang dalam mode serius


"menikahlah" Jay memandangi tara dan pramudia "menikahlah dengan wanita pilihan orang tua kalian" ucap Jay dengan nada tegas

__ADS_1


"gila kau! " tara menatap nyalang Jay "aku meminta kalian membantuku bukan malah membantu orang tua kami" balas tara dengan nada penuh amarah


"aku tahu cinta kalian dan aku tak pernah meragukan itu. tapi mereka juga mencintai kalian dan ingin yang terbaik untuk kalian" ungkap Jay menyampaikan apa yang di rasakan orang tua tara dan pramudia


tara menarik tangan pramudia "ayo kita pergi saja, jangan dengarkan ucapan mereka" tara ingin segera pergi dari sana karena merasa percuma meminta bantuan Jay dan qiran


"jadikan ini sebagai ajang ujian cinta kalian! " teriak Jay dengan suara lantang


tara menoleh dan memicingkan matanya ke arah Jay "apa maksudmu" tanya tara


qiran berdiri dan meminta tara juga pramudia kembali duduk agar lebih leluasa bicara "apa maksudmu berkata seperti itu? kau meragukan cinta kami" tanya tara dengan nada tak suka ke arah jay


"bukan seperti itu" jay menggelengkan kepalanya tak setuju dengan anggapan tara akan maksudnya


"hasil dari pembicaraan kami, intinya adalah pernikahan kalian akan jadi ajang terakhir usaha mereka" Jay menatap lekat tara dan pramudia "jika setelah memiliki anak kalian masih memiliki perasaan itu, kalian bisa bercerai dan kembali bersama tapi jika ternyata kalian nyaman dengan pasangan kalian nanti, kalian bisa hidup normal kembali" ucap Jay mengutarakan apa yang jadi rencana orang tua Jay dan pramudia


tara menatap kesal akan ucapan Jay tentang Hubungannya "apa kau pikir menikah segampang itu? dan apa mungkin ada wanita yang menerima keadaan kami" tanya pramudia berusaha realistis akan prahara hidupnya


"itu akan jadi urusan orang tua kalian. yang terpenting adalah kemauan kalian untuk setuju dengan permintaan orang tua kalian" balas Jay


"tapi saat kalian menikah, jangan pernah bertemu satu sama lain untuk menghargai pasangan kalian nantinya" sela qiran


"apa?! " kaget tara dan pramudia menatap tajam ke arah qiran


"hanya saat kalian punya anak dan anak itu sudah lahir" tambah jay meluruskan perpisahan keduanya


"aku gak bisa begini, bagaimana mungkin aku berpisah dari pram" tara jelas tak Terima rencana itu


"tapi orang tua kalian menjamin gak akan mengusik hidup kalian lagi, kalau kalian sudah memberikan mereka cucu" sahut qiran


"tapi itu jelas akan menyiksa kami" balas tara


"ayolah Jay, ini hanya akan berjalan satu atau dua tahun saja" sahut qiran

__ADS_1


"kau pikir membuat anak segampang itu" tara menatap tajam Jay dan qiran "kamu gak ingat bagaimana usahamu dulu menghamili qiran tapi tak kunjung berhasil dan kalian berpisah selama empat tahun" ucap tara mengingatkan Jay yang dulu ingin mengikat qiran dengan anak tapi nyatanya membuat anak tak semudah itu


__ADS_2