You Are My Regret

You Are My Regret
Siapa dia sebenarnya


__ADS_3

Lucas masih memandangi penampilan Reagen dari atas sampai bawah "siapa sebenarnya wanita yang ada di atas kak" todong Lucas dengan tatapan menuntut


"hah" Reagen begitu terkejut akan pertanyaan Lucas


"sudah mas" Nidya mengguncang lengan suaminya mengingatkan Lucas untuk tidak terlalu menuntut


Lucas menoleh ke arah Nidya "mas hanya penasaran dengan tamu kak Reagen sampai membuat dia tidak perduli dengan penampilannya agar kita tidak naik ke atas" ucap Lucas


Reagen melirik penampilannya. Celana kolor dengan kaos oblong serta sanda jepit "lah kenapa, ini kan emang pakaian santai aku, masalahnya apa" heran Reagen


"ya gak masalah kak, cuma aneh saja. Biasanya kan kakak paling gak suka berpenampilan santai did epan orang asing. Dan aku yakin dia tas bukan keluarga karena aunty brianna pasti nemenin suaminya di acara perusahaannya sedangkan uncle thomas, aunty kassy serta ollin masih di Inggris" Lucas memicingkan matanya "bukan ara yang ada di atas bukan" tiba-tiba saja terlintas di benaknya akan tuduhan Edeline tentang hubungan Reagen dan juga Ara


"jangan asal ngomong ya Lucas, Ara kan di rumah ayahnya nemenin adik kamu di rumah" kesal Reagen


Nidya menepuk pelan lengan Lucas "maafin suami Nidya ya kak" Nidya menyerahkan sebuah paper bag pada Reagen "ini ada titipan dari mama buat kakak katanya pesenan aunty kassy" ucap Nidya menyampaikan maksud kedatangannya bersama Lucas di hari minggu seperti ini


Reagen menerima paper bag yang di berikan Nidya "sampaikan rasa terima kasihku untuk ini pada mama kamu ya" ucap Reagen setelah melihat apa yang di berikan Nidya padanya


"iya kak, nanti aku sampaikan ke mama" balas Nidya


"kakak gak nawarin kita masuk" tanya Lucas masih ingin tahu siapa tamu Reagen


 begitu saja


"tidak" ketus Reagen langsung berbalik meninggalkan Lucas dan Nidya begitu saja


Lucas memicingkan matanya ke arah Reagen "aku curiga kak Reagen punya kekasih dan umpetin dari kita" tukas Lucas masih berpegang teguh pada pikirannya


"kalau emang kak Reagen punya pacar harus kita syukurin dong, dia kan sempat kecewa karena Edeline menolak dia dengan kehamilannya" sahut Nidya


Lucas terkekeh "iya sih, kalau sampai kak Reagen punya kekasih harusnya kita ikut bersyukur untuk itu" Lucas menggandenga tangan Nidya untuk meninggalkan gedung apartemen Reagen karena mereka ingin menghabiskan waktu weekend mereka berdua


Reagen buru-buru berjalan ke arah unit apartemennya dan kembali menonton acara film yang tadi sedang ia tonton bersama Zahira

__ADS_1


"ceklek" Reagen membuka pintu membuat atensi Zahira teralihkan pada Reagen yang baru saja masuk


"loh sudah ketemuannya mas" tanya Zahira


Reagen meletakn sandalnya dai rak sepatu dekat pintu "sudah, dia cuma kasih titipin mommy Kassy untuk mas" Reagen meletakan paper bag yang sempat ia bawa di atas meja


"boleh lihat mas" tanya Zahira yang penasaran dengan barang Reagen


"silahkan saja" Reagen mempersilahkan Zahira untuk melihat barang apa yang di bawa Reagen


"wah, jam mahal ini ya mas" Zahira melihat kotak hitam berisi jam tangan mahal di sana


"kok kamu tahu kalau itu mahal" tanya Reagen


"ya tahu lah mas, jam tangan ayah kan banyak yang kaya gini dan kata mama itu mahal, makanya ayah sayang banget" balas Zahira


"oh" Reagen mengangguk saja akan ucapan Zahira


"oh ya Zahira" Reagen melirik ke arah Zahira "kamu sekolah di mana sih" tanya Reagen yang tiba-tiba ingin tahu di mana Zahira bersekolah


"lumayan agak jauh dong dari sini, nanti kamu gimana ke sekolahnya" tanya Reagen


"ya naik bus lah, Zahira sudah searcing buat akses ke sekolah Zahira dari sini dan sudah ada pemberitahuannya tapi buat jaga-jaga Zahira mau cobanya pas jalan pulangnya nanti pas berangkat naik taxi saja" jelas Zahira


"sama mas saja berangkatnya, kebetulan sekolah kamu searah sama kantor mas jadi mending bareng mas saja kalau berangkat nanti pulangnya baru kamu jalan sendiri" tawar Reagen


"boleh sih mas, setuju sama ide mas" balas Zahira dengan girangnya


senyum Zahira membuat Reagen begitu gemas sehingga rasanya ia ingin mencubit pipi Zahira "lucu banget sih tingkah kamu" Reagen mencubit gemas pipi Zahira


"iya lah lucu" balas Zahira yang tak tersinggung sama sekali saat Reagen mencubit pipinya


***

__ADS_1


Kesokan harinya Zahira dan Reagen sarapan bersama dengan sadwich yang Reagen buat "ayo berangkat nanti kamu telat ke sekolah kalau kelamaan" ajak Reagen


"iya mas" Zahira berjalan berdampingan bersama Reagen menuju lift


"oh ya Zahira" Reagen menoleh ke samping "ayahmu belum mencoba menghubungimu" tanya Reagen


"belum" Zahira mengerucutkan bibirnya "biarin saja, mungkin ayah kira aku baik-baik saja di luar karena aku kan ada kartu dari mama dan juga beberapa rumah yang di tinggalin ibu" balas Zahira


"loh kamu punya rumah  sendiri toh" Reagen tentu terkejut saat zahira mengatakan memiliki rumah


Zahira jadi menyadari kesalahannya "kakak mau usir aku ya" Zahira langsung menunjukan wajah sedihnya pada Reagen


melihat wajah Zahira tentu Reagen jadi tak tega "tidak kok, kalau kamu masih betah tinggal sama mas, boleh saja kamu tinggal di apartemen mas Reagen " balas Reagen


"terima kasih ya mas" balas Zahira dengan senyum manisnya


Reagen segera keluar lift saat terbuka di ikuti oleh Zahira. Reagen segera mengantar Zahira ke sekolahnya agar Zahira tidak terlambat sekolah nantinya


Reagne memarkirkan mobilnya di dekat pintu gerbang sekolah SMA persada Bangsa "kalau kamu kesulitan mendapatkan bus, segera hubungin mas ya, biar mas jemput kamu nanti" ucap Reagen saat Zahira akan turun dari mobil


"iya mas" Zahira langsung menarik tangan Reagen bagian kanan dan mencium punggung tangannya "Zahira sekolah dulu ya mas" pamit Zahira langsung keluar mobil Reagen


Reagen masih diam mematung dengan kejadian yang tiba-tiba dan mengejutkan itu "apa tadi" Reagen memandangi tangannya yang di cium oleh Zahira meninggalkan perasaan yang sulit di artikan


di Negara Reagen memang tidak ada istilah mencium punggung tangan seperti ini, apalagi selama dia Indonesia tidak ada yang begitu, bahkan kedua adiknya yang notabene campuran Indonesia dan lama tinggal di Indonesia lebih sering memeluknya ketimbang mencium punggung tangannya


"ah sudahlah" Reagen mencoba mengalihkan pikirannya terhadap kegiatan yang barus saja di lakukan Zahira padanya dan memilih segera bernagkat ke kantornya


Zahira berjalan ke arah kelasnya dengan langkah santainya "Zahira "  panggil seseorang


Zahira menoleh dan tersenyum lebar tatkala tahu siapa yang memanggilnya " Rani" sapa Zahira pada sahabat baiknya di bangku SMA itu


"kamu kemana saja, kok hari jumat kemarin gak masuk sekolah" tanya Rani penasran sebab Zahira tak ada kabar sat tidak masuk sekolah kemarin

__ADS_1


"ada masalah keluarga saja" balas Zahira


Rani tidak ingin bertanya lebih sebab ia tahu sekali kalau sahabatnya adalah oang yang sangat tertutup terutama masalah keluarganya, apalagi setelah mama dari zahira sakit-sakitan, seolah ada dinding tak terlihat yang di bangun Zahira agar orang tak bisa dengan sembarangan orang yang bisa menerobos masuk dengan mudah


__ADS_2