
***
Qiran dan jay tengah berkendara bersama menuju apartemen yang di tinggali jay
jay melirik sekilas qiran yang sedang memandangi jendela mobilnya “kamu beneran mau ke apartemenku?” Tanya jay
“iya, lagi malas di rumah” balas qiran
“kenapa?” Tanya jay
“gak papa, lagi pengen ngehabisin waktu sama kamu saja, besok waktu ku pasti akan terbuang mengikuti keingan tara yang aneh-aneh” ucap qiran
Jay terkekeh “kamu kaya gak tahu kelakuan abstrak sahabat kita saja” sahut jay
“justru karena aku tahu, jadi malas ngurusin dia” keluh qiran
“kuliahmu gimana? Tanya jay
“gak tahu, lagi malas ngurusinnya” balas qiran mencebikkan bibirnya
“kamu kenapa sih qiran? sepertinya agak malas-malasan kuliah” Tanya jay
“daddy suruh aku langsung pulang ke korea kalau sudah menyelesaikan pendidkanku. Aku dah terlanjur betah di
sini” ucap qiran dengan nada lesu
Jay mengusap kepala qiran lembut “mereka hanya punya kamu anak merka satu-satunya yang mereka miliki jadi wajar kalau mereka ingin cepat kamu pulang. Kan sudah hampir lima tahun kamu jauh dari mereka” sahut jay
“aku ini sudah mau 22 tahun loh jay, tapi masih saja di anggap seperti anak kecil. merka selalu membuat keputusan untuk diriku” kesal qiran
“kan kamu memang masih kecil” kekeh jay meledek qiran
“aku anak kecil yang sudah bisa bikin anak kecil gitu?” ucap qiran berkacak pinggang menatap tajam jay
Jay terbatu-batuk dengan ucapan qiran “jangan asal ngomong qiran” pinta jay dengan suara lirih
“mau bukti” tantang qiran
“qiran…” ucap jay dengan tatapan mengiba
Qiran duduk bersdekap tangan menatap jendela mobil kembali
“kamu gak tahu seberapa mati-matiannya aku menahan ini qiran, 5 tahun aku terjerat olehmu dan tak bisa keluar dari pusaran cinta tak berbalas. jadi Jangan sampai aku kehilangan control atas diriku” batin jay berkecamuk menahan debaran di dadanya yang ia tahan sendiri selama bertahun
__ADS_1
Berpacaran dengan qiran tentu menjadi beban tersendiri bagi jay, jay tentu tahu kondisinya sedangkan kondisi
qiran seperti apa. Jay berasal dari kalangan bawah sedangkan qiran terlahir dengan sendok perak di tangannya
Bukanya ia tak tahu kalau orang tua qiran membencinya berhubungan dengan qiran tapi ia coba menahan sekuat
tenaga agar tetap bisa bersama qiran walaupun akhir kisah cintanya sudah bisa ia tebak dengan pasti
Terdengar klise mungkin kisah dirinya dan qiran. Dia sangat yakin mencintai qiran dan menyerahkan seluruh
hidupnya untuk wanita itu tapi dirinya tak pernah bertanya bagaimana perasaan qiran. Bukan karena dia takut untuk menghadapi keluarga qiran yang berasal dari kalangan atas yang jelas akan menolaknya mentah-mentah karena hanya seorang anak yatim piatu dan hanya bermodalkan beasiswa untuk menempuh pendidikan, tapi lebih ke dirinya yang begitu takut jika kenyataan yang akan ia dengar nantinya.
Jay tak akan sanggup mendengar hal yang paling di takutkannya selama ini . Dia takut qiran tak mencintainya jay takut saat dirinya mengatakan cinta, qiran akan menjauh darinya jadi jay memutuskan berjalan seperti ini saja toh semua orang taunya qiran adalah kekasihnya
***
qiran menghampiri jay yang sedang duduk di sofa ruang tamu apartemennya “jay” panggil qiran
“emmm” jay yang sedang sibuk dengan laptopnya hanya menjawab sekenanya tanpa menoleh pada qiran
“aku menginap ya” pinta qiran
Jay langsung menoleh ke arah qiran “nanti uncle tanya kamu kenapa gak pulang, aku harus jawab apa” balas jay
jay menghela nafas panjang “terserah kamu saja” balas jay
Qiran merebahkan tubuhnya di sofa dan menjadikan pangkuan jay sebagai bantal “jay” panggil qiran dengan nada lirih, tatapannya mengarah ke televisi yang tidak menyala
“hmmmm” balas jay yang tetap sibuk dengan laptopnya
“apa sebaiknya kita putus saja” Tanya qiran tak mampu menatap mata jay
“deg deg deg” jantung jay seakan berhenti berdetak tangannya seakan kaku ia tak sanggup bergerak mulutnya
seakan kelu tak mampu untuk bicara
“aku tahu kamu gak mencintaiku, jadi sebaiknya kita putus saja jangan sampai hubungan ini menghalangi kisahmu
bersama wanita lain” qiran mendongak agar bisa menatap jay yang sedari tadi hanya diam
“tes” qiran mengusap pipinya yang basah
Bukan air matanya yang jatuh tapi air yang jatuh dari sudut mata jay “jay kau menangis” Tanya qiran menyadari air itu bukan berasal dari tubuhnya
__ADS_1
Jay buru-buru mengusap pipinya “ah tidak, aku hanya kelilipan saja” sangkal jay
Qiran bangun dan duduk menatap jay “jangan bohongi aku jay” Tanya qiran ingin mengamati wajah jay memastikan apa yang di ucapkan jay
“tidak” jay menghindari qiran dengan masuk ke kamarnya
Qiran yang khawatir dengan jay bergegas mengejarnya “jay” qiran menghampiri jay yang berdiri membelakanginya
dengan gerakan pelan
“jay, kamu kenapa?” qiran meraih lengan jay berusaha membalik tubuh jay agar menghadapnya tapi jay tak mau
berbalik
“ayo ngomong jay. Apa aku ada salah bicara” Tanya qiran
Jay menengadahkan kepalanya ke atas berusaha keras menahan laju air matanya “kau ingin putus dariku” Tanya jay tanpa menoleh ke arah qiran dengan suara lirih, begitu lirih tapi masih bisa di tangkap indera pendengaran
qiran yang cukup tajam
Qiran menundukan wajahnya “toh, kita tak saling mencintai jay, kita saja tak pernah menyatakan cinta ataupun sekedar menanyakan kesediaan untuk berpacaran jadi tak ada salahnya mengakhiri hubungan tanpa pondasi ini" ucap qiran
Jay meraih lengan qiran “apa kau pikir aku tak mencintaimu?” Tanya jay
Mendengar pertanyaan jay seketika itu qiran mengangkat wajahnya menatap lurus jay “bukankah kau hanya menyayangiku sebagai seorang sahabat” balas qiran
Sebenarnya dalam hatinya qiran tahu apa yang di rasakan jay, tentu qiran tahu sekali bagaimana jay mencintainya tapi ia coba menampik semua perasaan jay, karena jay tak mampu menjanjikan apapun ataupun sekedar membalas cinta jay
“kau pikir kenapa aku menolak semua wanita yang ingin dekat denganku?” Tanya jay
“karena kau ingin serius dengan kuliahmu dan tak ingin terganggu” balas qiran dengan yakin
"mungkin itu adalah salah satu alasan tapi aku punya alasan lain kenapa tetap diam saat kau bilang ke semua
orang aku kekasihmu padahal kita saja tak pernah sepakat untuk berpacaran” jelas jay
Qiran memicingkan matanya menatap jay “apa maksudmu?” qiran bertanya-tanya apa maksud jay walaupun dalam hati kecilnya ia bisa menebak apa yang ada dalam pikiran jay kala itu
Jay menghela nafas panjang “itu semua karena aku mencintaimu qiran” ucap jay dengan penuh nada penekanan di
setiap katanya
qiran hanya diam mematung mendengar pernyataan cinta dari Jay, seseorang yang sudah empat tahun lebih jadi kekasihnya
__ADS_1