You Are My Regret

You Are My Regret
Dia milikku sejak dalam kandungan


__ADS_3

Reagen terbang ke Indonesia untuk pembahasan kerjasama perusahaannya dengan perusahaan milik Lucas yang bertahan sejak zaman orang tua mereka dan kini saat perusahaan sudah jatuh ketangan penerusnya kerja sama itu masih terjalin dengan baik


"kak Reagen" panggil seorang wanita sambil melambaikan tangannya ke arah Reagen


Reageb yang melihat ke arah sumber suara pun tersenyum lebar "kamu yang jemput kakak" tanya Reagen


perempuan itu langsung melingkarkan tangannya ke lengan Reagen "iya dong, sih Lucas itu terlalu sibuk jadi aku menawarkan diri menjemput kakak pada tante Qiran" balas wanita tersebut yang tak lain adalah Nidya


Regaen mengusap kepala Nidya dengan sayang "jangan sampai aku kena amuk pacar kamu itu lagi ya" tukas Reagen dengan nada bercanda


"biarin saja dia marah, cemburunya berlebihan" Nidya mendengus kesal "mas semua orang di cemburuin sama dia lagian ya kak mana ada yang mau bertanding sama pacarku yang tampannya gak ketulungan itu" ucap nidya dengan mencebikkan bibirnya tapi masih tetap memuji Lucas


Semenjak Nidya berusia 17 tahun lebih tepatnya saat Nidya menyelesaikan pendidikan SMA nya 4 tahun lalu Lucas dan Nidya resmi berpacaran dan semua keluarga besar mereka juga tahu hal itu karena Lucas yang memang terlihat menaruh hati pada Nidya sejak mereka kecil


"kamu sudah mulai kerja di kantor ayah kamu" tanya Reagen


"males kalau kerja di kantor ayah, kemarin Nidya sudah ngajuin lamaran di beberapa perusahaan dan lihat mana yang nerima nidya masuk  saja" Nidya memang tak ingin bekerja dengan mengandalkan nama besar orang tuanya ataupun nama besar keluarga kekasihnya, ia hanya ingin bekerja biasa dan mencari pengalaman di luar sana agar lebih mandiri


"emang Lucas gak marah kalau kamu kerja di luar" tanya Reagen


Reagen dan Nidya masuk dalam mobil yang saat pintunya di buka oleh pengawal yang mengantar Nidya "biarin saja dia marah, kalau marah lagi aku ambekin dia gak akan angkat telponnya seminggu" balas Nidya dengan nada berapi-api


"kamu yakin bakal ngehentiin dia untuk lihat kamu" tukas Reagen tak percaya hal itu akan menghalangi lucas menemui Nidya


"tinggal aku gembok jendela kamarku kak, kemarin sudah minta ayah buat namabahin teralis di kamarku" balas Nidya dengan santainya


Regaen kembali terkekeh "kalian tuh emang lucu banget pacarannya " reagen memegang perutnya mengingat bagaimana cara mereka berpacaran yang terkadang di mata orang terlalu ekstrim tapi beruntung Lucas dan Nidya sungguh tahu batasan saat berpacaran dan tidak melangkah lebih jauh saat berpacaran walaupun keluarga mereka terbilang orang yang cukup berpikiran bebas selagi mereka serius dalam berpacaran


"kakak mau tinggal di mana selama di Indonesia" tanay Nidya

__ADS_1


"di apartemen saja" balas Reagen


"gak di rumah Lucas saja kak, kalau di sana kan ada yang melayani banyak gak harus keluar cari makan, atau loundry baju" tanya Nidya


Reagen menghela nafas panjang "kaya gak tahu alasan kakak saja gak mau tinggal di sana" balas Reagen


"iya ya kak, ada Edeline penggemar berat kakak" kekeh Nidya


Reagen mendengus sebal "sama kamu aja kakak gak mau karena jarak usia kita yang terlampau jauh apalagi dengan Edeline yang nambah jauh" ucap Reagen


Nidya mencebikkan bibirnya " yang mau sama kakak siapa coba, kan Nidya sudah punya pria tampan yang gak ada tandingannya" balas Nidya


Regaen mengacak rambut Nidya dengan kasar "dasar" kekeh Reagen


setelah sampai di apartemen yang akan di tinggali Reagen selama di Indonesia, nidya kekeh mau membantu membawa barang bawaan Reagen padahal Reagen sudah mengingatkan berkali-kali akan ada singa marah kalau Nidya ikut mengantar Reagen


"bairin sih kak, cuma bantu kakak beberes doang, lagian kak Reagen sudah Nidya anggap sebagai kakak kandung Nidya jadi biarin aja tuh singa kalau ngamuk" balas Nidya


Nidya dan Reagen saling melempar tawa sepanjang perjalanan sampai tak menyadari ada sepasang mata yang terus menatap mereka tajam "Nidya, apa kalau siang-siang bisa ada hantu" tanya Reagen


Nidya memegang tengkuknya "jangan nakutin aku deh kak, kakak kan tahu kalau Nidya itu penakut" balas Nidya


Reagen ikut memegang tengkuknya dan mengusapnya pelan "gak tahu kenapa kaya ada yang ngawasin kita dan rasanya ngeri tahu gak" balas Reagen


"kakak" Nidya yang ketakkutan langsung melempar koper kecil Reagen dan mengalungkan tangannya di lengan Reagen karena meras ketakutan


"nidya!" suara baritone seseorang berteriak dan membuat bulu kuduk makin merinding


"ah!" teriak nidya ketakutan dan malah makin menguatkan tangannya di lengan Reagen

__ADS_1


pria itu langsung melangkah lebar dan memaksa tangan nidya lepas dari tangan Reagen "jangan sentuh pria lain "ucap pria itu dengan tegas


"lucas" Nindya kesal bercampur lega melihat Lucas yang ternyata memberi perasaan merinding itu


Lucas menggeser tubuh Nidya kebelakang tubuhnya dan memberika tatapan tajam pada Reagen "sudah aku bilang berapa kali ke kakak kalau Nidya itu milik aku sejak dalam kandungan jadi jangan dekat-dekat deh" kesal Lucas


Reagen terkekeh geli akibat kelakuan lucas yang masih belum berubah sama sekali saat menjaga Nidya "ya ampun Lucas, Nidya itu sudah aku anggap sebagai adik aku jadi jangan lebay deh" balas Reagen mengambil kopernya yang di jatuhkan Nidya tadi dan bergegas membuka pintu apartemennya dan mempersilahkan Nidya dan Lucas masuk ke dalam unit apartemennya


Lucas menarik Nidya untuk duduk di sampingnya berhadapan dengan Reagen "maaf tidak menawarkan kalian minum, apartemen ini sudah lama tidak di tinggali jadi tidak ada apa-apa" ucap Reagen


"tak masalah kak" balas Nidya


Lucas memicingkan matanya ke arah Reagen "aku kan sudah minta kakak tinggal di rumah kenapa malah tinggal di sini" tanya Lucas


Reagen menautkan kedua alisnya "harusnya kamu tahu alasan kenpa kakak gak mau tinggal di sana" balas Reagen


"ya ampun kak, Edeline kan tinggal di asrama dan kuliahnya di Amerika" balas Lucas


"dan harusnya kamu tahu kalau liburan semester sebentar lagi, kamu lupa kalau ara juga berkuliah sama seperti  Edeline" sahut Reagen yang tahu kalau sebentar lagi adalah liburan semester dan pasti Edeline akan pulang dan dia gak mau terus di ganggu wanita itu


"iya ya" Lucas jadi tak ingin mempermasalahkan lagi akan keputusan Reagen untuk tinggal di mana


"oh ya kemarin tante brianna minta tolong aku untuk pegang perusahaannya sampai adik kamu cukup umur untuk ambil alih" Lucas meminta pendapat Reagen sebab biar gimana Tante Brianna adalah ibu kandung Reagen


"terserah kamu saja mau bantu atau tidak" balas Reagen dengan acuh


"kamu gak kasihan sama mommy kakak, dia kayanya makin kurus saat terakhir aku lihat dia, dan mommyku minta buat bantu karena kasihan sama mommy kamu yang terus di tekan istri pertama papa kamu itu" tanya Lucas


Reagen menatap tajam Lucas "dia bukan papaku" ucap Reagen dengan tegas

__ADS_1


"iya deh" Lucas tak ingin terlalu ikut campur urusan keluarga Reagen itu  "ya sudah aku akan minta pengacara biar perusahaan mommy kamu itu bisa aku ambil alih sampai adik kamu itu cukup umur untuk ambil alih" balas Lucas


"hmmmm" Reagen hanya membalas singkat apa yang di ucapkan Lucas


__ADS_2