
lensi menggandeng tangan ibunya "kita pilih perabotan yang mana ya bu" tanya lensi bingung melihat banyaknya pilihan perabotan bagus yang lensi inginkan
"tinggal pilih mana yang kamu suka saja, untuk kamar ibu kemarin sudah pesan sama teman ibu tinggal buat kamu sama tambahan buat dapur saja" balas ibu dhira
"syukur qiran kasih hadiah furniture untuk ruang tamu ya bu, jadi gak telalu pusing mikirin beli apa lagi, pilihan qiran benar-benar bagus" ucap lensi
"iya ya nak, pekerja di rumah juga sudah nata taman kita bikin tambah bagus, nanti kalau anak-anak kamu main di sana pasti betah" balas ibu dhira
lensi begitu bahagia melihat ibunya bisa tertawa lepas "kalau ibu sesenang itu dengan rumah baru kenapa gak dari dulu aja ibu izinin lensi buat renovasi rumah, lensi kan sudah nyaranin itu dari dulu" tanya lensi
"ibu senang bukan karena rumah, itu hanya sebuah bonus, yang bikin ibu senang kamu sapat saumi yang begitu baik dan pengertian dan sayang sama kamu, di tambah suami kamu mau tinggal nemenin masa tua ibu" jelas ibu dhira
"syukur deh kalau ibu senang" lensi dan ibu dhira kembali memilih furniture yang masih di butuhkan rumah baru mereka
"mba, yang tadi kami pesan itu nanti di kirim ke alamat ini ya" lensi akan menyerahkan kartu miliknya pada petugas kasir
"jangan pakai uang kamu nak, pakai uang ibu aja" ibu dhira mendorong kartu milik lensi dan menyerahkannya pada petugas kasir
"sreeet" kartu milik ibu dhira kini berpindah tangan "ini pasti kartu pemberian mas adnan, gak mungkin kamu punya uang sebanyak ini kalau bukan pemberian mas adnan" ucap nyonya listia yang merebut kartu milik ibu dhira secara paksa karena tak percaya ibu dhira membeli begitu banyak barang dengan uangnya karena ibu dhira tidak bekerja dan hanya di rumah saja
"kembalikan" pinta ibu dhira menengadahkan tangannya
"ini pasti kartu suamiku jadi tidak akan aku kembalikan, aku gak suka ya suamiku ngasih uang ke kalian" nyonya listia menatap jijik ke arah lensi dan nyonya listia
__ADS_1
"jaga kata-katamu itu!" tunjuk ibu dhira terlihat sangat marah dengan kelakuan nyonya listia "sepeserpun aku tidak pernah menerima uang dari suami tak bergunamu itu" ucap ibu dhira dengan penuh amarah
lensi menatap heran dengan kemarahan ibunya, baru kali ini lensi melihat kemarahan ibunya yang cukup mengerikan "sekali lagi aku minta kartuku kembali selagi aku memintanya baik-baik" pinta ibu dhira dengan penuh penekanan
"kau pikir aku akan takut hah"nyonya listia mematahkan kartu ibu dhira menjadi dua dengan santainya "ooopss sudah hancur" kekeh nyonya listia
"plak" ibu dhira menampar pipi nyonya listia dengan cukup kasar
nyonya listia memegang pipinya yang berdenyut "berani sekali wanita ****** sepertimu menamparku!" teriak nyonya listia dengan suara lantang
"bukan aku yang ******, tapi kamu yang ******. jelas-jelas mas adnan berpacaran denganku selama lima tahun dan kami sudah menyiapakan rencana pernikahan jauh sebelum kamu bertemu denganya, tapi akal licikmu menjerat mas adnan dengan dalih vidio ranjang kalian untuk mengancamnya agar menikahimu tapi kau malah mengatakan aku ******, padahal jelas aku menikah dengan mas adnan dulu dengan restu keluarga mas adnan, harusnya kau mengaca walaupun kau membatalkan pernikahan kami di pengadilan keluarga mas adnan hanya menganggap lensi sebagai anak mas adnan bukan anak kamu itu" teriak ibu dhira
"ibu" lensi menganga lebar saat ibunya berteriak di depan banyak orang, padahal dulu ia sangat menghindari itu
"berani sekali kau!" nyonya listia akan melayangkan tangannya ke arah ibu dhira
"oh jadi kamu sekarang berani dengan ibu yang melahirkan kamu hah!" teriak nyonya listia
tara terkekeh "seingatku ibu yang mekahirkanku sudah mati" tara tersenyum smirk "sepertinya anda lupa kalau anda bilang seperti itu pada saya dulu" tanya tara dengan santainya
nyonya listia geram dengan tara "berani kau" tunjuk nyonya listia
tara mengabaikan nyonya listia dan menghampiri ibu dhira dan istrinya "pakai kartu kamu saja sayang, terus kita pulang" ajak tara
__ADS_1
"iya mas" lensi langsung membayar belanjaannya dengan kartu yang ia miliki hasil pemberian tara
"maaf ya tara, padahal ibu yang mau bayar itu, padahal itu uang ada hasil kerja lensi yang di berikan sama ibu dan uang hasil dari kebun dan kosan ibu yang sudah ibu kumpulkan bertahun-tahun untuk ibu berikan pada lensi saat sudah menikah, malah sekarang tetap kamu juga yang bayar semuanya" ucap ibu dhira
"gak papa bu, uang tara kan juga uang lensi jadi jangan gak enak sama tara karena pakai uang yang harusnya jadi hak lensi" balas tara
"sudah di bayar mas" lensi menghampiri tara untuk memberitahukan kalau pembayarannya sudah selesai
tara melirik ke arah juan asistenya yang sedari tadi mengikutinya "juan kamu minta rekaman CCTV dari tempat ini, dan tuntut wanita itu " perintah tara pada asistennya
"baik tuan" juan mengangguk dan mulai melaksanakan apa yang diperintahkan bosnya
"kamu mau nuntut saya" tanya nyonya listia tidak suka dengan perkataan tara
"tentu saja, anda sudah berbuat tidak sopan pada ibu saya, dan anda menuduh beliau mengambil uang suami anda padahal ibu saya tidak pernah melakukannya, ibu saya tidak pernah kekurangan uang selama ini, dan jika dia ingin memakai barang mewah melebihi yang anda pakai saat ini" tunjuk tara pada barang yang menempel di badan nyonya listia "saya masih sanggup memberikan itu pada ibu saya" tara menatap tajam nyonya listia "jangan membanggakan uang suami anda yang tak seberapa itu" hina tara pada uang tuan adnan yang menurutnya hanya harta sedikit
dan memang benar jika uang tuan adnan tidak ada apa-apa dibandingkan harta yang di miliki oleh tara karena beberapa perusahaan ayahnya sudah di pegang oleh tara. walaupun tara belum memegang harta pemberian ayahnya, uang di miliki tara pun cukup banyak karena beberapa perusahaan yang di dirikan qiran, ia juga menanam saham di sana dan ia selalu mendapat profit bagus dari perusahaan qiran
"gak usah menyombongkan harta ayahmu" teriak nyonya listia tak suka dengan tara yang menymbongkan harta yang ia miliki yang jelas itu adalah harta milik ayah tara
"kenapa aku tak boleh menyombongkan uang ayah saya, toh ayah saya dengan senang hati memberikan itu pada saya" balas tara dengan santainya
"ayo buk" ajak tara pada ibu dhira agar meninggalkan
__ADS_1
nyonya listia menatap kesal kepergian lensi dan ibunya dengan di dampingi tara "maaf ya nak tara, kamu jadi bertengkar dengan mama kandung kamu karena ibu" ucap ibu dhira merasa tak enak dengan menantunya
"tanpa kejadian ini, hubungan kami memang tidak baik bu jadi jangan salahkan diri ibu" balas tara