
"ya sudah mas taro di kantor cabang loh, gak boleh di sini" peringat Nidya sambil mengerucutkan bibirnya
"jangan ngambek dong, nanti cantiknya hilang loh" Lucas mencolek hidung Nidya saking gemasnya pada sang istri
"aku gak ngambek mas, tapi cemburu tahu gak... Ara itu menaruh hati sama kamu dari lama dan aku tahu itu. aku diam saja karena dia sepupu aku tapi tetap aku gak suka kalau dia dekat sama mas" balas Nidya dengan jujur tentang ketidaksukaannya jika suaminya dekat dengan wanita yang menaruh hati pada suaminya
"ihhhh gemes deh" Lucas mencubit gemas pipi Nidya
"gak lucu mas " ketus Nidya Menampik tangan Lucas
Lucas membawa Nidya kedalam pelukannya "mas seneng deh kamu cemburu itu tandanya kamu memang cinta sama mas, gak cuma mas saja yang suka cemburu sama kamu kalau dekat sama pria lain" ungkap Lucas pada Nidya
Nidya membalas pelukan Lucas "Nidya tentu cinta sama mas tapi wanita lain gak ada yang mengusik ketenangan Nidya karena mas yakin gak akan ada yang deketin mas tapi ara beda mas, ara itu anak aunty kassy, dan kalau sampai mas beneran jatuh hati padanya tak akan ada yang menentangnya karena keluarga kita semua tahu tentang ara" jelas Nidya menyampaikan ketakutannya akan ancaman Ara di dalam pernikahannya
"kamu lahir itu untuk di cintai mas sepenuh hati jadi gak ada ruang tersisa untuk wanita lain termasuk ara" tukas Lucas
"iya mas, Nidya percaya sama mas Lucas. Nidya cuma jaga-jaga agar tidak ada kemungkinan kamu tertarik padanya karena seringnya bertemu " balas Nidya
"iya sayang" Lucas memberikan kecupan di kening Nidya cukup dalam
***
Tiga bulan kemudian
kini kandungan Edeline sudah menginjak usia 4 bulan dan sudah mulai terlihat jelas kalau dia sedang hamil dengan perut buncitnya
semua teman sekampusnya tidak kaget Edeline hamil sebab dari awal Edeline tidak pernah menutupi statusnya yang sudah menikah
Edeline kini sedang sibuk memasak di dapur "jangan capek-capek sayang" Jonathan melingkarkan tangannya di perut sang istri sambil terus mengusap perut Edeline yang sudah makin terlihat kehamilannya
"cuma masak aja kok mas, lagian ara kan mau datang jadi Edeline mau masakin makanan kesukaan ara" balas Edeline
"apa mas tambah pembantu lagi ya buat urus rumah" Jonathan mulai merasa tak tega pada istrinya yang harus mengurus rumahnya di usia kandungannya yang sudah makin membesar dan terlihat makin kepayahan
"nanti saja mas nambahnya kalau bangunan yang bagian belakang sudah selesai, Satu-satu ya mas kalau mau nambahin pengeluaran" tolak Edeline secara halus
"tapi mas gak tega lihat kamu yang makin kepayahan karena perutmu makin membesar " sahut Jonathan merasa tidak tega dengan kondisi istrinya yang sedang hamil tapi hari repot mengurus rumah serta kuliahnya
__ADS_1
Edeline mematikan kompornya dan menoleh ke arah sang suami "mas lupa kalau sekarang Edeline sudah mulai nyusun skripsi dan gak perlu ke kampus lagi" tanya Edeline
"enggak lupa" balas Jonathan
"kalau terlalu nyantai di rumah nanti Edeline bosan mas" ucap Edeline mengusap pipi Jonathan
"tapi mas ngeri kalau kamu lagi ngapa-ngapain, takut kamu kenapa-napa" Jonathan tetap saja khawatir dengan Edeline
"gak papa kok mas, pokoknya kalau aku capek gak akan lanjutin kerjaannya, Edeline takut bingung di rumah kalau gak ngapa-ngapain, lagian skripsi Edeline sudah selesai dari lama tinggal bimbingan aja" Edeline memang sudah mengharap skripsinya dari lama dan tinggal memperbaikinya saja dengan dosen pembimbing yang ditugaskan membimbing skripsi Edeline
"ya sudah kalau itu mau kamu, tapi kalau kamu kerepotan jangan takut bilang ya, mas masih mampu kasih kamu tambahan pembantu lagi kok" Jonathan menurut saja apa keinginan istrinya
"iya mas" Edeline mengecup pipi Jonathan dengan sayang
"mau main sekarang apa sayang" tanya Jonathan sembari menggerlingkan matanya ke arah Edeline
"jangan lupa kalau mas mau jemput ara di bandara, jangan biarin dia nunggu lama" tegur Edeline
"sebentar aja kita main abis itu mas langsung jemput ara" mohon Jonathan
Jonathan terkekeh " enggak bisa" Jonathan hanya bisa menggaruk tengkuknya yang tak gatal karena memang dirinya yang tak akan bisa bermain sebentar jika bersama Edeline
Jonathan mana bisa sebentar menyentuh istrinya, paling sebentar juga 2 jaman karena bagi Jonathan tubuh Edeline begitu candu untuknya sehingga begitu sulit untuk berhenti jika sudah memulai
"jadi jangan bilang sebentar mas nanti kasihan ara kalau nunggu mas lama di sana" ucap Edeline mengingatkan suaminya harus bertanggung jawab pada anak sulungnya
"iya deh" Jonathan langsung mengecup bibir sang istri " mas berangkat dulu ya" pamit Jonathan
"iya mas, nanti sekalian mampir beli martabak yang arah komplek rumah kita" pinta Edeline
"oke sayang" Jonathan segera keluar rumah untuk menjemput putri sulungnya yang akan tinggal bersamanya karena ara memutuskan magang kerja di Indonesia
Jonathan mengendarai mobilnya menuju bandara untuk menjemput sang putri yang sudah tak bertemu selama hampir 5 bulan lamanya
Jonathan menunggu di terminal kedatangan luar negeri dan mengamati setiap yang keluar agar putrinya tidak terlewat
"Ara" panggil Jonathan sembari melambaikan tangannya
__ADS_1
"ayah" Ara membalas lambaian tangan ayahnya dan segera berlari memeluk sang ayah "aku kangen ayah" ucap ara begitu rindu pada ayahnya
"ayah juga kangen ara" balas Jonathan
ara mengurai pelukannya "bohong ayah kangen sama ara, ayah kan sekarang sudah punya istri muda dan sebentar lagi punya anak lagi" Ara mengerucutkan bibirnya
Jonathan jadi panik akan tanggapan ara "jangan ngomong gitu ara, walaupun ayah sudah punya istri dan akan punya anak lagi tapi sayang ayah ke kami gak akan hilang, sampai kapanpun ayah akan tetap cinta dan sayang sama kamu, karena kamu putri ayah gak akan mungkin cinta itu hilang" jelas Jonathan
Ara terkekeh akan reaksi ayahnya "ara bercanda yah, ara yakin kalau ayah tetap sayang dan cinta sama ara walaupun ayah sudah berkeluarga kembali dan memiliki anak lain" balas ara
Jonathan menghela nafas lega "ayah sampai cemas kalau kamu beneran gak suka ayah sudah menikah dan akan memiliki anak lagi" ungkap Jonathan perihal kekhawatirannya
"ya sudah yuk pulang, ara laper pengen segera mencicipi masakan mamah muda ara " ungkap Ara
"mamah muda" beo Jonathan
"ya kan istri ayah masih muda, lebih muda dari ara pula jadi ara panggil dia Mahmud, mamah muda" kekeh Ara
"jangan panggil itu depan Edeline nak, bisa ngambek dia. Sekarang Edeline emosinya seperti roler coaster semenjak hamil, kasihani ayah ya" pinta Jonathan dengan wajah memelas
"iya deh" ara mengiyakan saja sebab tak tega juga jika menyusahkan ayahnya
"ara" panggil seseorang
ara dan Jonathan menoleh secara berbarengan
"kak Reagen " gumam ara tersenyum menanggapi kehadiran kakaknya di sana
Reagen berjalan menghampiri ara "kakak di minta mommy untuk jemput kamu tapi ternyata sudah ada ayah kamu" ungkap Reagen kenapa ada dia di sana
"oh ya, aku lupa kasih tahu mommy kalau sudah kasih kabar ayah tentang kedatangan ara" Ara menepuk jidatnya karena melupakan hal itu
"ya sudah gak papa, terlanjur juga kamu datang. Mending ikut makan di rumah om saja, istri om sudah masak banyak untuk menyambut kepulangan ara" ajak Jonathan
"emang boleh" tanya Reagen
"tentu saja" balas Jonathan
__ADS_1