
lensi membuka matanya saat merasa ada tangan yang melingkar di perutnya dan membuat ia merasa begitu berat dan tidak nyaman "kebiasaan tidur meluk terus" gumam lensi kesal dengan kebiasaan tara yang sellau memeluk lensi saat tidur
lensi menoleh ke arah tara yang masih terlelap, lensi menatap wajah tara dengan begitu lekat, dia begitu menikmati pahatan indah Tuhan yang berbentuk Kennedy Dirgantara, yang kini berstatus sebagai suaminya "terkadang aku tersentuh dengan sikapmu padaku, dan sempat sekilas memikirkan pernikahan kita bisa bertahan lama" gumam lensi yang langsung tersenyum kecut "tapi kesadaran akan laki-laki sepertimu selalu kembali menamparku agar tersadar" lensi menyentuh bibir tebal tara "kau pasti sama dengannya, sama dengan pria itu yang meninggalkan ibuku. dan kau juga pasti akan begitu jadi aku tak akan jatuh padamu" gumam lensi merasakan bahwa semua laki-laki itu sama
lensi beranjak pelan agar tak membangunkan tara dan bergegas masuk kamar mandi untuk membersihkan diri karena ia akan bersiap untuk bekerja
mendengar suara lensi yang menutup pintu kamar mandi tara langsung membuka mata "apa tadi' gumam tara yang sebenarnya sudah bangun dari tadi tapi ia terlalu malas membuka mata jadi ia bisa denga jelas mendengar setiap ucapan lensi
***
tara dan lensi sarapan bersama di meja makan "lensi kamu nanti mau pulang bareng atau gimana" tanya tara
"aku nanti ada meeting sama penulis perusahaan kita di luar, nanti jemput ya" pinta lensi dengan nada manja
"emang jam berapa pertemuan kamu" tanya tara
"ketemunya sih jam 5an tapi biasanya dia tuh banyak maunya jadi pasti lama waktu yang aku habiskan untuk bicara dengan pria tua itu" balas lensi dengan wajah kesal karena mengingat dirinya yang selalu kesusahan saat bicara dengan penulis yang cukup berumur tapi hasil tulisannya cukup bagus itu
"jadi pulang jam berapa" tanya tara lagi
"nanti aku kabarin saja deh, lagian takut mas jadwalnya padat kalau padat nanti aku naik taksi saja" balas lensi tak ingin merepotkan tara
"pokoknya kabarin loh" pinta tara tak ingin di bantah oleh lensi
"iya mas" balas lensi
lensi dan tara berjalan bersama memasuki perusahaan tempat mereka bekerja dengan tujuan berbeda-beda karena lantai tempat mereka bekerja berbeda
setelah pekerjaan di perusahaan selesai, lensi berangkat bertemu dengan penulis berumur yang sempat ia bicarakan dengan tara yang bernama handoko di salah satu restoran di jakarta pusat
"kebiasaan banget kalau ketemu di restoran mewah gini" lensi duduk dengan gerakan cepat di hadapan handoko
"gak usah pelit deh, lensi yang bayar kan perusahaan" balas handoko dengan ketus
lensi mencebikkan mulutnya "kalau melebihi batas limit yang harus di keluarkan perusahaan tetap saja aku yang nanggung kali "ketus Lensi
"kumat lagi deh pelitnya, lupa ya kalau suami kamu orang kaya" sahut handoko tak suka dengan lensi yang selalu perhitungan tentang uang dengannya
__ADS_1
"yang kaya suamiku bukan aku" balas lensi tak mau di sangkut pautkan dengan harta tara
"sama saja kali, kalau suami kamu kaya ya kamu juga lah, kan kamu ikut nikmatin " balas handoko
"sudah deh, ayo bahas naskah yang kamu kasih ke aku" lensi meletakan setumpuk tinggi kertas di atas meja
"itu ada bagian yang sudah aku tandai, dan aku kasih catatan kekurangannya dan option penggantinya" ucap lensi
handoko membuka lembar demi lembar, dan dia begitu terperangah akan banyaknya tulisan tangan lensi "kamu gak kasihan sama aku yang sudah tua ini" tanya handoko tak percaya dengan banyaknya catatan yang di berikan lensi
"kerja ya kerja gak ada urusan sama tua ataupun muda" sahut lensi tak setuju dengan pemikiran handoko
lensi membahas habis buku Handoko yang masih di rasa kurang oleh lensi, dan menekankan di setiap kata mapun alur, bahkan ada 10 halaman berurutan yang di coret habis oleh lensi dan di beri tanda, (tidak nyambung)
lensi dan handoko menikmati makan malam mereka dalam diam "kamu mau pulang dengan siapa, sendiri apa di jemput suami kamu" tanya handoko mulai mengelap mulutnya tanda ia sudah selesai makan
"ah aku lupa ngabarin" lensi langsung membuka ponselnya untuk mengabari tara kalau ia sudah selesai meeting
"apa mau aku antar pulang saja" tawar handoko
"ya sudah, aku langsung saja ya, maklum bujang lapuk ini ingin tidur seharian setelah lelah bekerja" sahut handoko dengan kekehan
"idiiiih gak sadar kalau sudah dua kali gagal menjalin pernikahan dan sudah punya tiga anak" sanggah lensi yang tahu kalau handoko dua kali bercerai dan memiliki 3 anak dari pernikahan pertamanya
"hehehehe, berasa bujang, soalnya hidup sendiri, anaku gak ada yang mau ikut aku jadi berasa bujang lapuk aja" balas handoko dengan kekehan
"sudah pulang sana, aku mau nunggu suamiku saja" usir lensi yang ingin handoko segera pergi dari hadapannya
sambil menunggu tara yang menjemputnya, lensi memainkan ponselnya untuk melihat di platform novel perusahaan tempat ia bekerja, terutama tulisan dari penulis yang berada di bawahnya langsung
"lensi" panggil seseorang
lensi mendongak dan memutar bola matanya malas, ia kembali memutuskan kembali memainkan ponselnya
"kamu gak mau mau nyapa ayah" tanya pria paruh baya di hadapannya
lensi terkekeh pelan "kayanya di akta kelahiranku hanya ada nama ibu deh, jadi sepertinya aku gak punya ayah" balas lensi
__ADS_1
"jangan bilang gitu lensi" pria itu ingin meraih tangan lensi tapi lensi langsung menjauh
lensi melirik wanita yan ada di sebelah pria paruh baya itu " tuan Adnan Dharmendra harusnya lihat raut wajah istri kesayangan anda saat melihat anda menyapa saya" ucap lensi dengan sarkas
tuan adnan melirik listia maheswari istrinya yang memang terlihat kesal saat melihat lensi "jangan ngelunjak kamu ya, cuma anak haram aja belagu" ucap nyonya listia dengan nada penuh hinaan
lensi mengepalkan tangannya erat "andai dulu aku bisa melihat orang ini" lensi menunjuk tuan adnan "menipu ibuku dulu, sudah aku babat habis" teriak lensi meluapkan amarahnya
"alah, dasar ibumu saja yang murahan" hina listia
"plak" lensi langsung menampar nyonya listia dengan kasar "jaga kata-katamu itu" lensi menatap nyalang nyonya listia
"jika ada yang di salahkan harusnya suami kamu ini, kenapa malah merayu wanita lugu macam ibuku" teriak lensi
"lensi!" teriak tuan adnan "jangan tidak sopan" bentak tuan adnan
lensi terkekeh pelan "harusnya anda ngaca, di sini siapa yang gak sopan" lensi kembali merubah raut wajahnya dengan cepat dan kembali ke mode serius "dari aku lahir ke dunia ini, ibuku maupun keluarga kakekku tak pernah menuntut apapun pada anda saat anda menipu ibuku. dan aku juga tak butuh sosok ayah menjijikan macam anda " lensi langsung mengambil tasnya dan pergi menjauh dari sana
lensi begitu sial hari ini bisa bertemu dengan orang yang paling ingin ia hindari dalam hidup ini
"lensi" panggil tuan adnan mengejar lensi
lensi makin mempercepat langkahnya tak ingin tuan adnan bisa mengejarnya, rasanya begitu malas bertemu orang yang selalu mengingatkan kalau dirinya adalah yang harus di akui lensi
"lensi" tara mencekal tangan lensi yang berjalan begitu cepat
lensi menoleh ke arah tangannya yang ternyata di cekal oleh tara "ada apa " tanya tara
"lensi" dengan susah payah tuan adnan mengejar lensi
tara mengernyitkan dahinya melihat seorang pria paruh baya yang masih terlihat gagah di usianya memanggil lensi "siapa dia" tanya tara menunjuk tuan adnan
"ayah mau bicara sama kamu lensi" sahut tuan adnan
tara memicingkan matanya ke arah tuan adnan "dia ayah kamu" tunjuk tara pada tuan adan
"dia bukan ayahku" balas lensi dengan nada tegas
__ADS_1