
Tara masih setia duduk di hadapan Lensi dan tetap menggenggam tangannya dan tak henti terus mengecup punggung tangan istrinya "bangun sayang, ini sudah dua bulan sayang" keluh tara dengan suara lirih
"lihat ini" tara mengarahkan tangan lesi ke arah dagunya yang sudah di tumbuhi rambut yang sudah memanjang "ini sudah terlalu panjang bukan" tara terkekeh pelan "biasanya kamu akan marah kalau sudah ada yang tumbuh sedikit, tapi ini sudah sangat panjang sayang" ucap tara dengan suara serak
tara kembali mengecup punggung tangan lensi dengan meletakannya di pipi sebelah kanannya "anak kita belum di beri nama loh, kamu gak mau marahin mas" tanya tara dengan kekehan "aku sengaja belum kasih nama buat anak kita biar kamu marahin aku" tara masih terkekeh tapi air matany sudah turun dengan bebas
"marahlah jika mau marah sayang, jangan menahannya dan jangan malah tidur terus" tara mengusap pipi lensi berharap istrinya akan segera bangun dari tidur panjangnya
"mas emang salah sama kamu karena gak kasih tahu kalau dia datang, tapi mas sungguh gak mau salah paham jika melihat mas bertemu dengannya "tara masih mengecup punggung tangan lensi "dan benar saja kamu salah paham melihat mas bersamanya, kamu tidak mendengar obrolan kami sampai selesai sayang" tara mengusap pipinya yang makin basah
"dia ingin mengakhiri hubungan kami, dia ingin hidup dengan istri dan anaknya tanpa khawatir dengan mas" tara kembali tersenyum ke arah lensi "dan mas juga ingin seperti itu sayang, mas pengen kita hidup bareng dengan anak-anak kita, mas cinta banget sama kamu sayang, mas mohon bangun" tara membawa tangan lensi ke dadanya dan memejamkan matanya erat "mas akan lakukan apapun untuk kamu, apapun yang kamu inginkan asala kamu bangun sayang, bangun ya, marahin mas sepuas kamu mau" tara kembali terisak di samping lensi yang masih betah saja untuk tidur
"srek srek srek" tara merasa ada pergerakan di dadanya
tara menoleh ke arah dadanya dan melihat tangan lensi yang mulai bergerak " kamu sadar sayang" tara langsung berlari keluar memanggil dokter untuk melihat keadaan lensi
saking terkejutnya tara sampai lupa kalau di kamarnya ad tombol yng di gunakan untuk memanggil tenaga medis, jadi dia hanya berlari mencari dokter ataupun perawat agar bisa melihat kondisi istrinya
tara menunggu di luar sambil bolak-balik menunggu lensi di periksa oleh dokter "ceklek" dokter keluar ruangan lensi
"istri saya sudah sadar dok" tanya tara
"sudah ta..."belum selesai dokter bicara tara sudah nyelonong masuk saja
tara berjalan perlahan ke arah lensiyang sedang duduk menatap jendela, sambil duduk terdiam "sayang" panggil tara dengan mata yang sudah berkaca-kaca
lensi menoleh ke arah tara dengan tatapan datarnya "mas seneng banget kamu sudah sadar" tara ingin memeluk lensi tapi lensi langsung mendorong tubuh tara menjauh
"anda siapa" tanya lensi bingung dengan siapa pria yang ada di hadapannya
tara terkekeh "kamu masih marah sama mas sayang, jangan terus marah sama mas ya" pinta tara dengan suara lirih
__ADS_1
lensi mengerjapkan matanya ke arah tara "anda siapa, saya gak kenal dengan anda" balas lensi memberitahu bahwa dirinya tak mengenali tara
"maaf tuan tara" sela dokter
tara menoleh ke arah dokter "istri saya kenapa dok, kenapa dia gak inget sama saya" tanya tara dengan nada tinggi
dokter itu menghela nafas "itu yang mau saya ucapkan dari tadi ke anda" ungkap dokter
"kenapa istri saya" tanya tara lagi
"istri anda mengalami hilang ingatan sebagian tuan, tadi saya tanya ke dia cuma ingat sampai usianya 18 tahun, saat dia masih kuliah semester 3 tuan, banyak hal yang dia lupakan bahkan dia tidak ingat tentang anda bahkan anak anda" jelas dokter
"apa" tara benar-benar terkejut kejadian yang menimpa lensi bahwa lensi melupakan begitu banyak kenangan tentang masa lalunya
tara mulai menjelaskan tentang dirinya adalah suami lensi dan lensi yang koma setelah melahirkan dan segala macam kejadian yang menimpa lensi selama 7 tahun belakangan, bahkan ia juga menceritakan bahwa hubungannya dan mika membaik dan ibunya yang sudah menikah lagi dengan om jovan
"maaf saya tidak ingat" ucap lensi tak enak hati dengan tara
"iya terimakasih" balas lensi dengan canggung
mika mengernyitkan dahinya melihat kakaknya yang aneh "kakak kenapa" tanya mika
"dia hilang ingatan" ungkap tara
"kok bisa" itu suara ibi dhira yang menyela mika yang akan bertanya
tara menggelengkan kepalanya "belum tahu bu, dokter masih melakukan pemeriksaan" balas tara
ibu dhira mendekat ke arah lensi "kamu gak ingat dengan anak kamu nak, ini anak yang kamu lahirkan dengan taruhan nyawa sayang" ucap ibu dhira menyodorkan anak lensi agar lebih dekat dengan lensi
"tidak bu" balas lensi
__ADS_1
"masa kamu lupa sih lensi" tanya ibu dhira lagi
lensi memegang kepalanya yang serasa berdenyut "lensi gak ingat bu" lensi meremas kepalanya "jangan paksa lensi mengingat bu" lensi meronta merasa kepalanya yang terasa berdenyut
lensi kembali di periksa oleh dokter karena terus berteriak tidak ingat dan merasakan sakit di kepalanya. Lensi di suntik obat penenang dan sekarang dalam kondisi tertidur
"gimana jika lensi gak akan ingat tentang kamu dan anak kalian" tanya ibu dhira
"gak papa bu, kalau dia gak ingat tara akan membuat kenangan baru dengannya" balas tara dengan senyuman "aku sudah sangat bersyukur lensi bisa sadar, tara bahkan sudah menyiapkan diri jika dia akan marah dengan tara jadi gak masalah kalau dia gak ingat dengan tara" balas tara
***
qiran yang mendengar kabar lensi sudah sadar, datang ke rumah sakit untuk menjenguk sahabatnya "lensi sudah sadar " tanya qiran menepuk bahutara yang sedang duduk di meja depan ruang rawat lensi
"sudah, tapi dia melupakanku dan juga anakku" balas tara dengan raut muka sedih
qiran duduk di samping tara "kok bisa" tanya qiran
tara menggelengkan kepalanya "aku juga gak tahu qiran, dokter cuma bilang kenangannya berhenti di usianya 18 tahun, dia melupakan banyak hal tentangku" balas tara
"aku coba masuk ya tara, aku kan kenal lensi sedak dia usia 18 tahun, setengah tahun sebelum kalian saling kenal" ucap qiran
'iya qiran" balas tara
qiran masuk untuk bertemu lensi "lensi" panggil qiran
lensi menoleh ke arah qiran "hai qiran" balas lensi
"kau mengingatku" tanya qiran
"tentu, kau kan sahabatku" lensi mengerutkan keningnya " biasanya kan keluar pakai kacamata kuda itu, kenapa sekarang enggak" tanya lensi
__ADS_1