You Are My Regret

You Are My Regret
Positif!


__ADS_3

"bisa gak sih kakak gak teriak gitu, zahira kaget tahu" kesal Zahira mengusap dadanya yang masih terkejut akan teriakan Reagen yang begitu mengagetkan dirinya


"kamu tadi lihat hasil test nya berapa lama" tanya Reagen dengan suara begitu ingin tahu


"sebentar sih mas, abis bete kalau nunggu lama, emang kenapa" balas Zahira dengan santai


Reagen melangkah lebar ke arah Zahira yang masih betah berbaring di atas ranjang "emang harusnya nunggu berapa lama waktu buat lihat tesnya terlihat" tanya Reagen lagi


Zahira mengerutkan keningnya heran "ngapain juga mas tanyain itu sih, biasanya mas juga gak pernah nanya" ketus Zahira sebab mengingat kembali saat tadi melihat hasil tes dan ternyata ia yak hamil karena hanya muncul satu garis


"jawab aja napa sih Zahira" kesal Reagen karena Zahira tidak langsung menjawabnya


"biasanya sih 10 menitan, tapi kadang sebelum itu sudah bisa terlihat sih mas, itu kata artikel yang aku baca " balas Zahira


"kalau kaya gini, kira-kira hasilnya gimana" Reagen menunjukan alat tes kehamilan yang ia ambil dari wastafel yang sudah pasti itu milik. Zahira


"garis dua" gumam Zahira melihat ada garis dua di alat testpack yang sempat ia pakai tadi


Zahira mulai memproses hasil alat tes kehamilan yang ada di depannya dan itu menunjukan garis dua "aku hamil mas!" teriak Zahira menyadari kalau hasil itu menunjukkan kalau dia sedang hamil


"iya sayang, kamu tadi terlalu cepat melihatnya makanya belum terlihat jelas " Reagen mengangguk mengiyakan pertanyaan Zahira


Zahira memeluk erat tubuh Reagen "aku hamil mas, beneran ini" Zahira masih tidak percaya bahwa dirinya tengah hamil. Kehamilan yang sudah cukup lama ia tunggu dan sudah sangat ia harapkan sejak awal menikah


"kalau gitu kita langsung periksa ke dokter saja" usul Reagen agar semuanya lebih pasti


"tapi kata mas Reagen, mas mau rapat sebentar lagi" sahut Zahira mengingat jawaban suaminya tadi saat ia mencoba merayu Reagen

__ADS_1


"gampang itu, kasih ke Rasya saja. Kamu lebih penting dari apapun lagian Rasya kan mas gaji dengan besar jadi ia harus benar-benar bekerja keras dong" Reagen seolah melupakan apa yang tadi sempat ia ucapkan karena saking bahagianya mendengar kabar istrinya sedang hamil


"nanti Rasya misuh-misuh loh mas" peringat Zahira


"biarin, mas mau lihat kondisi anak mas dulu" balas Reagen dengan cuek


"semoga anak kita sehat ya mas" ucap Zahira penuh dengan doa untuk kesehatan anaknya yang masih ada dalam kandungan


"Amin" balas Reagen dengan cepat


setelah tahu hasil alat tes kehamilannya ternyata menunjukkan dua garis, Reagen langsung membawa Zahira ke rumah sakit tempat Daddy Jay bekerja.


Dan karena Reagen adalah kenalan Daddy Jay, dia bisa memeriksakan Zahira lebih awal walaupun aslinya praktek dokter kandungan belumlah di mulai tapi namanya punya dekengan ya pasti beda lah


"pagi dok"sapa Reagen menjabat tangan dokter kandungan yang akan memeriksa Zahira saat ini


dokter tersebut begitu terkejut melihat siapa yang datang dengan memakai nama atasannya "ternyata kamu Reagen" seru dokter Risma saat melihat pasien yang datang adalah Reagen, salah satu kenalannya saat zaman kuliah dulu


"baik, ada perlu apa ni, apa istri kamu sedang isi" dokter Risma melirik ke arah Zahira yang berdiri di sebelah Reagen


"iya Risma, kebetulan tadi pagi kami baru melakukan tes kehamilan menggunakan testpack dan hasilnya adalah positif jadi kami ingin langsung memeriksanya agar lebih jelas" jelas Reagen


"baiklah, ayo naik dulu" Dokter Risma mempersilahkan Zahira tidur di atas brankar dan dokter Risma mulai menempelkan gel dingin di perut Zahira dan mulai mengarakan alat ultrasonografi ke arah perut Zahira dengan perlahan


"wah selamat Reagen, istrimu memang sedang hamil dan itu anak kalian" Dokter Risma  menunjuk ke arah bulatan kecil di dalam layar yang ada di hadapan mereka


"sekecil biji kacang itu" tanya Reagen memastikan apakah bulatan kecil itu adalah anaknya

__ADS_1


"iya Reagen, itu memang masih sangat kecil sebab kandungan istri kamu masih berusia 7 minggu jadi masih berupa bulatan kecil" balas dokter Risma


Dokter Risma terus menjelaskan perihal kehamilan Zahira dan Reagen yang di minta untuk lebih memperhatikan Zahira dan segala asupan makanan serta vitamin Zahira, tak lupa Reagen juga di minta untuk menjaga mood Zahira agar tetap baik


"kamu cuti kuliah saja dulu sayang, jangan sampai kelelahan" ucap Reagen membuka obrolan saat mereka sedang berkendara di jalan setelah memeriksakan kandungan Zahira


"ih kak kata dokter masih bisa tetap kuliah kok, asal jangan terlalu kecapean" protes Zahira tidak mau di larang untuk kuliah


"mas hanya khawatir sama kamu" pungkas  Reagen


"aku akan hati-hati mas, kalau semisal Zahira capek nanti Zahira langsung ambil cuti kuliah deh" putus Zahira memberikan solusi pada Reagen agar tidak terus mendesaknya


"rumah kita masih belum jadi sih, jadi kita masih tinggal di apartemen, kayanya kalau tinggal di apartemen kurang nyaman deh" Reagen menoleh ke arah Zahira


"gimana kalau kita tinggal di rumah ayah sampai rumah kita jadi, di rumah sana kan ada nenek yang bisa jaga kamu saat kakak kerja atau saat kakak harus kembali ke Inggris " usul Reagen agar ada yang menjaga istrinya sat tak ada dirinya di rumah


"kalau mas gak keberatan tinggal di sana sementara, Zahira sih mau saja" balas Zahira ikut saja dengan usul suaminya, toh itu juga rumah masa kecilnya jadi tak masalah seperti nya


Reagen memutar kemudinya menuju rumah ayah Arman untuk memberitahu perihal kehamilan Zahira dan izin untuk tinggal sementara di sana setidaknya sampai rumah mereka rampung pengerjaannya


"jadi kamu hamil Zahira" teriak girang nenek Larasati saat mendengar kabar kehamilan Zahira begitu Reagen dan Zahira sampai tadi


"iya nek, baru tadi kita ngecek ke dokter dan kata dokter Zahira hamil 7 minggu " balas Zahira


"kamu harus hati-hati ya sayang, jaga anak kamu dengan baik" ucap nenek larasati


"karena itu Reagen mau minta izin tinggal di sini untuk sementara nek, kayanya saya agak gak tenang ninggalin Zahira sendirian di apartemen jadi Zahira dan Reagen mau nginep sini setidaknya sampai rumah kami jadi nek, boleh kan" tanya Reagen meminta izin pada nenek Zahira

__ADS_1


"ya ampun Reagen, tentu saja boleh, ini itu juga rumah zahira, rumah ini akan selalu terbuka lebar untuk kamu dan Zahira " balas nenek Larasati menerima cucu dan cucu menantunya dengan tangan terbuka


"Terima kasih nek" balas Reagen


__ADS_2