You Are My Regret

You Are My Regret
Bertemu dengan identitas berbeda


__ADS_3

***


“bagaimana?” Tanya seorang pria muda


Orang yang di Tanya menggelengkan kepalanya “dia masih gak mau bertemu denganmu” balas robin seorang yang berprofesi sebagai manager artis


“apa dia merendahkan aku seorang Jay Handerson “ ucap Jay Handerson salah satu actor papan atas dengan raut wajah kesal karena permintaannya yang selalu di tolak untuk bertemu dengan penulis drama yang sering ia bintangi


Jay Handerson adalah salah satu actor papan atas yang juga berprofesi sebagai seorang penyanyi. Jay berusia 29 tahun, jay pria keturunan blasteran korea dan Inggris, dan jawa yang membuatnya memiliki wajah tampan, tinggi dan putih


Dirinya yang rutin berolahraga membuatnya mempunyai tubuh atletis yang jadi dambaan para pria dan di gilai wanita. Jay actor yang cukup terkenal dan di gandrungi fans kaum hawa yang berjumlah jutaan tak hanya dalam negeri tapi juga luar negeri


Robin menghela nafas “ bukan merendahkan jay, tapi dari yang aku dengar dia memang orang yang tertutup, dia saja tak pernah menampakkan wajahnya di depan umum, mungkin yang tahu wajahnya hanya pemimpin perusahaan dan lensi saja” balas robin


“emang dia kemana-mana pakai penutup wajah? Dia kan sudah lama bekerja di perusahaan itu masa gak ada yang mengenali wajahnya?” Tanya jay dengan asal ucap


Robin menautkan kedua alisnya “kok kamu tahu? Kalau memang dia pakai penutup wajah kemana-mana, dia pakai masker terus tahu” balas robin mengetahui qiran yang selalu memakai masker dari para pegawai kantor dreams shadow


Mulut jay menganga lebar dengan kebenaran yang ia lontarkan asal “memangnya dia ada cacat sampai menutupi wajahnya?” Tanya jay tak percaya tebakan asalnya adalah suatu kebenaran


Robin mengedikkan bahunya “ mana aku tahu” balas robin tak tahu alasan qiran yang terus memakai masker kemanapun


“tapi aku ingin sekali bertemu dengannya” ucap jay dengan wajah penuh harap


Robin menepuk bahu jay “sudah, jangan paksakan keinginanmu, sudah 4 tahun dan dia selalu menolak bertemu denganmu. Jangan lupa jay karena karyanya lah kamu jadi terkenal seperti sekarang, jangan sampai karena egomu yang terus memaksa bertemu dengannya, dia tak ingin menjadi penulis naskah dramamu lagi” ucap robin mengingatkan akan sumbangsih qiran dengan nama nerissa ningrum terhadap karir jay yang bisa sampai sebesar ini


“tapi aku benar-benar penasaran dengannya, entah mengapa setiap aku membaca ceritanya, seolah ada suatu hal yang ingin ia sampaikan padaku” balas jay merasa ada maksud dalam setiap tulisan Qiran


“itu hanya perasaanmu saja jay”  ucap robin menepis apa yang dipikirkan jay


Jay menggeleng “tak bisa, aku harus bertemu dengannya apapun caranya, walaupun aku harus keluar dari dreams shadow sebagai taruhannya” tekad jay dengan semangat berkobar


***


Seperti biasa qiran berjalan dengan santai menuju perusahaan dengan pakaian serba tebal dan tertutup tak lupa ia memakai kacamata serta masker untuk menutupi wajahnya

__ADS_1


“pagi nona risa” sapa pak satpam dengan  ramah


“pagi pak” balas qiran mengangguk sopan


Qiran berjalan menuju lift untuk naik ke lantai 17  tempat ruangannya berada


“tunggu” ucap seorang pria menahan pintu lift agar tidak tertutup


Qiran mendongak ke arah sumber suara membuat qiran membelalakkan matanya lebar mendapati pria yang ada di hadapannya adalah pria yang selalu ia hindari sekaligus orang yang sangat ia rindukan


Pria tersebut memencet angka 28 pada tombol lift. Mereka saling terdiam tanpa bicara sepatah katapun.


“tuing” pintu lift terbuka saat sampai di lantai 17


Qiran berniat keluar lift saat sudah sampai di lantai tempat kantornya berada  “ tunggu” jay menahan tubuh qiran agar tak keluar ruangan dengan tangannya


Qiran menoleh ke arah jay dan menautkan alisnya bingung dengan sikap jay yang menahan tubuhnya tiba-tiba. Ada rasa berdebar tak karuan takut pria dihadapannya mengenalinya


“kau nerissa ningrum kan? Kita harus bicara” ucap jay meminta qiran untuk bicara


Qiran hanya terdiam tak menanggapi jay, dia masih gugup dan bingung dengan sikap jay membuat lidahnya kelu untuk bicara, dia bingung harus apa. tak pernah ia sedekat ini dengan jay sejak 4 tahun lalu


“tuing” pintu lift terbuka menandakan qiran dan jay yang sudah di lantai paling atas


“ayok” jay menarik tangan qiran untuk keluar lift


Qiran hanya menatap tangan yang berada dalam genggaman tangan  jay dalam diam


jay menatap lekat qiran “kau nerissa ningrum kan?” Tanya jay yang di jawab anggukan kepala oleh qiran


Jay melipat tangannya di dada “apa kau harus selalu menghindari ku?” Tanya jay kesal karena qiran yang selalu menghindarinya selama ini padahal sudah berkali-kali ia meminta bertemu tapi qiran selalu saja menolaknya


qiran berusaha sekuat tenaga menahan kegugupannya dan mencoba biasa saja di depan Jay “apa aku harus bertemu denganmu?” Tanya qiran balik dengan berusaha bersikap biasa dan datar


“deg” ada rasa aneh dan entah apa itu  saat mendengar suara qiran, tapi jay berusaha menepisnya

__ADS_1


“tentu saja ia, kau penulis dan aku adalah actor yang memainkan isi naskahmu jadi tentu kita harus saling bicara” balas jay ingin dia dan qiran bertemu sebagai penulis dan pemeran dari isi cerita yang ia buat


“aku hanya suka menulis, bukan berinteraksi dengan seorang actor. Yang mengatur naskahku diberikan pada siapa adalah perusahaan bukan aku. Toh dalam kontrak kerjaku tak ada catatan aku harus menemui actor yang mengambil peran dalam ceritaku” balas qiran


“apa mukamu rusak?” Tanya jay melambaikan tangannya kearah wajahnya sendiri untuk memberi kode alasan qiran  menutup wajahnya dengan masker dan memakai kacamata tebal seolah begitu takut wajahnya di kenali seseorang


Qiran paham maksud pertanyaan jay “emmmm, bisa jadi” balas qiran datar


“kenapa kau selalu menutupi wajahmu? Apa kau punya dosa besar pada seseorang?” Tanya jay lagi


Qiran terkekeh “aku tak ada kewajiban menjawab pertanyaanmu bukan” balas qiran beranjak pergi


Jay menahan tangan qiran “kita belum selesai bicara” ucap jay menatap manik mata qiran


Qiran memandang lekat jay, jantungnya serasa melompat-lompat mendapati tangannya yang di sentuh jay tapi ia coba menampiknya, qiran menarik tangannya “apa lagi?” Tanya qiran


“aku ingin, saat kerjasama kita pada proyek baru nanti, kita bertemu langsung dalam membahas naskah tidak melalui perantara” pinta jay


“kalau aku tak mau?” Tanya qiran menaikkan sebelah alisnya


“aku akan keluar dari perusahaan” balas jay


Qiran tersenyum kecut mendapati ancaman jay “ya sudah keluar saja” balas qiran berniat berbalik arah


“apa kau punya dendam padaku?” Tanya jay


Qiran menyipitkan matanya dan kembali menoleh ke arah Jay “kenapa kau bertanya seperti itu?” Tanya qiran, jantungnya mulai berlomba berlari keluar saking gugupnya


“orang-orang mendekatiku dengan berbagai cara tapi kau malah menjauhiku selama ini” Jay masih tidak mengerti jalan pikiran Qiran


Qiran menggenggam tangannya erat seolah meminta kekuatan untuk tetap bisa berhadapan


dengan Jay “itu hanya karena aku tak ada keinginan berbicara dengan siapapun” balas qiran, yang kini bergegas pergi meninggalkan jay


jay hanya menatap tak percaya pada qiran yang melangkah pergi begitu saja

__ADS_1


__ADS_2