
Nidya memegang sebuah kertas hasil pemeriksaan dokter perihal kehamilannya dengan kuat di tangannya "mas Lucas pasti senang banget kalau tahu aku sedang hamil" monolog Nidya membayangkan Lucas akan sangat bahagia akan kabar kehamilannya
Nidya kali ini memilih memakai gaun malam yang indah untuk memberikan kabar kehamilannya ada Lucas
walaupun ia tahu kondisi kehamilannya cukup lemah karena posisi Lucas yang belum benar-benar pulih saat membuahinya tapi tetap saja ia begitu bahagia saat penantiannya selama hampir lebih dari dua tahun lamanya, ia bisa hamil yang itu artinya Tuhan masih memberikan ia kesempatan untuk memiliki seorang anak dari rahimnya
beruntung ia mengatakan hati untuk menunda mengadopsi seorang anak walaupun Lucas mengatakan tidak masalah jika ingin mengadopsi anak tapi Nidya berkata ingin berusaha dulu untuk beberapa tahun
jika masih belum di beri kesempatan, maka mereka bisa mengadopsi anak setelahnya
"ceklek" pintu terbuka dan tampilah sosok yang ia nanti sepanjang hari ini
"mas Lucas" Nidya berjalan ke arah Lucas dan memeluknya begitu berat
Lucas balas memeluk erat Nidya "kamu tumben banget segininya sayang, biasanya gak gini deh" bingung Lucas akan sikap Nidya yang jarang terjadi
"mas gak suka" Nidya mencebikkan bibirnya sebal
Lucas mengurai pelukannya dan menatap lekat istrinya "gak gitu sayang" elak Lucas mengecup mesra bibir Nidya
Nidya langsung menyunggingkan senyumnya "aku punya kabar gembira buat mas Lucas" ucap Nidya dengan senyum cerahnya
melihat senyum istrinya tentu ia juga ikut tersenyum "ada apa sih sayang, sampai sebahagia itu" tanya Lucas
Nidya berjalan ke arah meja riasnya dan membuka laci di sana" sreeet" Nidya mengambil map hasil pemeriksaan dokter tadi saat bersama nenek tasmirah
"nih mas lihat " Nidya menyerahkan hasil pemeriksaan kehamilannya pada Lucas membuat Lucas diam mematung saat membacanya
"aku gak nyangka loh mas kalau hasil pengobatan kamu gak sia-sia, walau dokter bilang kita masih sulit mendapatkan anak dan resikonya cukup besar tapi Nidya senang banget mas saat di beri tahu kalau Nidya hamil, kita jaga anak kita bareng-bateng ya mas" ucap Nidya dengan senyum bahagianya
__ADS_1
Lucas begitu fokus membaca detil demi detil isi dari laporan kehamilan Nidya, sampai-sampai suara Nidya tidak terdengar oleh Lucas
Nidya yang tak mendapat tanggapan oleh Lucas, sedikit mengguncang tubuh Lucas "mas dengerin aku gak" tanya Nidya menyadarkan lamunan Lucas
Lucas menatap Nidya dengan mata berkaca-kaca "kamu mengandung berapa lama" tanya Lucas
"7 minggu mas, kata dokter itu ngitungnya sejak hari terkahir menstruasi. Nidya kan dua minggu sebelum ke Inggris sedang Datang bulan dan kita pulang dari Inggris tepat sebulan sekarang" balas Nidya
air mata Lucas jatuh begitu saja tanpa bisa terbendung "loh mas Lucas jangan nangis dong" Nidya mengusap pipi Lucas yang basah dengan ibu jarinya "mas Lucas pasti senang banget aku hamil ya mas" tanya Nidya ikut hari saat suaminya menangis setelah mendengar kabar kehamilannya
"mas itu kesulitan membuahi kamu, kenapa kamu bisa hamil" kata itu terlontar begitu saja dari bibir Lucas
"itu karena... " Tiba-tiba suara Nidya terhenti saat mulai paham arti pertanyaan Lucas
"apa maksud mas tanya kaya gitu ke Nidya" tanya Nidya merasa apa yang ia dengar sedikit ada masalah, atau dia yang terlalu sensitif
"bagaimana bisa kamu hamil jika dokter masih mengatakan kalau mas masih belum sembuh total" tanya Lucas dengan nada meninggi
"kamu hamil 7 minggu, terhitung saat kamu terakhir menstruasi dan bulan lalu kita pergi ke Inggris" ulang Lucas akan kondisi Kehamilan Nidya
Nidya memicingkan matanya ke arah Lucas "kamu meragukan aku mas" tanya Nidya tak percaya dengan apa yang ia tangkap tentang maksud Lucas
"aku masih ingat betul kamu pernah satu lift bersama Aiden, dan kamar kalian bersebelahan " ulang Lucas
"brak" Nidya langsung melempar Lucas dengan map wadah kertas hasil pemeriksaannya yang masih ia pegang "kurang ajar kamu mas! " sentak Nidya tak Terima akan pikiran kotor Lucas padanya
Lucas ketakutan dengan kemarahan Nidya "sayang" Lucas mencoba meraih tangan Nidya tapi langsung di tepis Nidya
"pergi kamu mas, pergi! " teriak Nidya mengusir Lucas keluar kamarnya
__ADS_1
"dengerin mas dulu sayang" pinta Lucas dengan wajah memelas
"pergi aku bilang! " jerit Nidya
dengan terpaksa Lucas keluar kamar sebab Nidya begitu marah dengannya
sepeninggal Lucas Nidya menangis meraung sekuat tenaga "hiks hiks hiks" Nidya menutup wajahnya dengan kedua tangan dan menangis kencang
harga dirinya benar-benar terlukai saat Lucas meragukan anak yang ia kandung padahal dia selalu menjaga intensitas pertemuan dengan pria lain atau jarak yang ia jaga bersama pria lain agar suaminya tidak cemburu
tapi nyatanya Lucas masih berpikiran buruk padanya, meragukan anak yang ia kandung sebagai anaknya
Lucas yang terpaksa keluar, diam mematung di depan kamar "aku harus kasih tahu mommy" gumam Lucas ingin turun dan bertemu mommy nya
"tidak tidak" Lucas menghentikan langkahnya "kalau aku memberitahu mommy kalau anak yang di kandung Nidya bukan anakku pasti mommy akan marah dan minta kami bercerai, tidak" Lucas menggelengkan kepalanya "aku gak mau pisah dari Nidya" Lucas memilih kamar lain untuk ia tempati agar tidak ada yang curiga padanya
"kurang ajar kamu om Aiden, berani sekali kamu menyentuh Nidya " pikiran buruk sudah merasuk ke otak Lucas karena rasa curiganya yang dulu masih tertanam saat ia melihat Nidya dan Aiden satu lift dan tinggal di lantai yang sama
Lucas mengepalkan tangannya erat "Nidya tetap akan jadi milikku apapun yang terjadi" tekad Lucas bahwa tidak ada yang bisa merebut Nidya darinya
"jangan sampai Orang tuaku tahu perihal kehamilan Nidya, yang ada mereka akan mencurigai anak itu dan misahin kita berdua" pikir Lucas
Lucas kali ini benar-benar berhalusinasi tak jelas. Bagaimana bisa ia meragukan Nidya dan tak percaya bahwa Nidya sedang hamil anaknya. apa dia lupa kalau waktu itu mereka bermain sampai dini hari, dan apa mungkin Nidya masih mampu melayani pria lain saat tubuhnya sudah sangat lelah di gempur habis-habisan oleh Lucas
Lucas merebahkan tubuhnya di atas ranjang kamar kosong yang jarang di pakai, tepat di sebelah kamar miliknya dan Nidya
"aakkhhh" teriak Lucas dengan frustasi
Lucas meraih sesuatu dalam sakunya "obat ini makin percuma aku minum" Lucas melempar satu botol obat dalam saku jasnya membuat isinya berhamburan
__ADS_1
Ah Lucas lupa jika saat kondisinya memburuh sangat penting terus meminum obatnya agar akalnya bisa terus berjalan dengan baik dan tetap normal tapi ternyata dia melupakan obatnya itu....