
Lucas memeluk erat tubuh polos sang istri yang hanya tertutup kain selimut tebal sama seperti dirinya "bisa gak mas kalau kita masih di sini beberapa hari lagi" tanya Qia sembari membuat pola abstrak di dada Lucas membuat Lucas merasa ada yang akan terbangun
"kenapa emangnya, kamu emang gak kangen Danish, Lala sebentar lagi juga akan pulang loh setelah berlibur di Bandung" tanya Lucas
"bukannya gak kangen mas, tapi Qia juga pengen kaya pasangan suami istri yang lain" ungkap Qia dengan suara lirihnya dengan masih memainkan dada Lucas
Lucas mencoba mencerna pembahasan Qia "kamu mau bikinin adik buat Danish" tanya Lucas yang langsung di hadiahi geplakan tangan oleh Qia
"plak" Lucas mengaduh sakit saat Qia memukul dadanya dengan cukup kuat "kalau bikin adik, di rumah juga bisa kali mas, mau jerit sekencang apapun gak ada yang bisa dengar juga kali" sinis Qia akan Lucas yang tak mengerti maksudnya
Lucas tergelak akan tingkah lucu istrinya "iya maaf deh, mas sudah minta Jeremy untuk handel kantor selama mas gak hadir kok, dan Danish kan juga sama kakek dan neneknya jadi kita bisa buat honeymoon tertunda yang belum kita lakuin selama yang kamu mau" ucap Lucas membuat wajah Qia langsung sumringah
"makasih ya mas" Qia langsung mengecup pipi Lucas dengan gemas
Lucas mengusap pipinya "jangan mancing mas terus dong" ucap Lucas dengan suara seraknya lalu membuka selimutnya untuk menunjukan benda keramat miliknya yang sudah keras bagaikan tongkat baseball itu
Qia bisa melihat itu dan terkekeh akan Lucas yang sudah langsung menegang saja hanya karena di cium pipinya "sabar dulu ya mas, kita sholat ashar dulu keburu waktunya abis, sekalian shalat maghrib baru kita lanjut lagi" balasĀ Qia
Lucas langsung lemas "selama itu" tanya Lucas tidak percaya
"tidak lama mas, ini sudah jam lima, kita mandi terus sholat dan makan malam kan gak terasa" balas Lucas
"tapi ini sudah kaya gini loh" rajuk Lucas
"suruh tidur dulu bentar mas, tadi kan sudah mas, nanti malam lagi ya" Qia langsung beranjak dari pelukan Lucas dan berjalan ke arah kamar mandi dengan santainya padahal ia sekarang tak memakai sehelai benangpun
Lucas melongo melihat kelakuan Qia "ya ampun Qia, sengaja kamu ya" teriak Lucas yang tak di gubris sama sekali oleh Qia dan hanya di balas dengan tawa renyah oleh Qia saja di dalam kamar mandi
***
Lucas langsung menghubungi Mommy Qiran untuk memberitahukan rencananya yang akan mengambil libur beberapa hari bersama Qia dan menitipkan Danish pada Mommy Qiran
"sudah santai saja, bahagiakan istri kamu dulu, urusan Danish biar mommy yang urus, pokoknya semua beres deh" balas Mommy Qiran
__ADS_1
"makasih ya mom, mommy memang yang terbaik deh" balas Lucas dengan girangnya
"giliran ada maunya baru baikin mommy " sindir Mommy Qiran
"pokoknya mommy gak akan nyesel deh bantuin Lucas kali ini, Lucas akan bawain cucu baru buat mommy biar mommy tambah seneng" sahut Lucas
"boleh deh, tapi mommy request nya cewek ya biar ada yang buat nemenin mama dandan, sekarang Lala harus bagi waktu sama kakek dan neneknya yang di sana gak sama kita terus, kalau ada cucu perempuan lain, mommy kan gak terlalu kesepian nanti" balas Mommy Qiran
"oke mom, beres deh. Lucas pasti berjuang keras buat kasih yang mama mau, kalau gak dapat yang cewek kali ini, nanti Lucas ulang lagi deh usahanya saat adik Danish lahir kalau masih gak dapat lagi nanti kita coba buat lagi sampai jadi"seru Lucas
" kamu kira Qia itu pabrik anak apa" sindir Mommy Qiran akan perkataan anaknya yang akan terus membuatkannya cucu perempuan sampai dapat
"Qia nya mau-mau aja kok mom selagi mommy mau bantu buat urus anak kami" kekeh Lucas
"udah lah, makin ngelantur kalau bicara sama kamu" Mommy Qiran menutup panggilannya karena lucas sudah mulai ngaco bicaranya
Lucas menggandeng tangan Qia untuk keluar kamar mereka "ayo makan dulu" ajak Lucas
"iya mas" Qia menurut saja saat Lucas membawanya untuk makan malam di luar
"iya, kan dulu Qia janda anak satu, jadi harus bawa buntutnya kemanapun " balas Qia dengan santainya
"tapi bersama kamu dan Lala waktu itu, adalah momen yang sangat membahagiakan, tingkah lucu Lala itu sangat menghibur mas yang sedang hancur waktu itu" jelas Lucas kembali mengingat masa sedihnya dulu
Qia makin mengeratkan pelukannya di lengan Lucas "jangan ingat hal yang menyakitkan lagi mas, toh itu sudah berlalu, dulu mas masih belum bisa mengendalikan kondisi kesehatan mas yang kurang stabil" ucap Qia memberi dukungan pada Lucas
Lucas mengecup kening Qia "terima kasih sudah mau menerima mas dengan baik terlepas dari masa lalu yang mas miliki dan maaf kalau mungkin kedepannya masih ada pertentangan antara mas dan Nidya" ucap Lucas dengan suara lemahnya
"maksud mas" tanya Qia heran
Lucas menghela nafas panjang "sebaiknya kita makan dulu baru bicarakan ini ya" pinta Lucas
"iya mas" Qia menurut saja apa yang di ucapkan Lucas dan akan kembali membicarakannya nanti setelah mereka makan
__ADS_1
setelah acara makan Lucas mengajak Qia untuk duduk di pantai dan menceritakan perdebatannya dengan Nidya terakhir kali bertemu
"mas sudah nanya belum kenapa dia gak rela mas menikah" tanya Qia
"sudah dan jawabannya, dia gak. rela mas bahagia karena mas yang sudah menyebabkan anak kami meninggal dulu" balas Lucas
"mas sudah bilang belum kalau anak itu memang lemah" tanya Qia
Lucas menggelengkan kepalanya "enggak, karena biar gimanapun mas Bicara, mas itu tetap salah" balas" Lucas
"nanti kita hadapin sama-sama ya mas" Qia menggenggam tangan suaminya dengan erat
"Terima kasih " Lucas memeluk Qia dan menyembunyikan Qia di balik jaketnya "semoga Nidya gak akan berbuat jauh seperti ancamannya ke mas ya" harap Lucas
"iya mas semoga" balas Qia mengaminkan apa yang jadi harapan Lucas
***
"ayo kita pulang sayang, Anak-anak kita harus segera balik ke Inggris dan kembali. melanjutkan pendidikannya " ajak. Aiden pada Nidya
"gak mau, Nidya belum mau pulang kak" tolak Nidya
"kamu mau banyak ucapan suami kamu" tanya Aiden dengan raut wajah kesalnya
"ada yang masih mau Nidya lakuin di sini mas" sela Nidya
"berapa kali kakak bilang lupain dendam kamu itu, Lucas begitu hanya karena penyakitnya bukan benar-benar ingin menyakitimu" ucap Aiden memperingatkan Nidya
"tapi tetap saja dia membunuh anak kami, Nidya mau istrinya ikut merasakan apa yang dulu Nidya rasakan" sahut Nidya
"kenapa kamu jadi bawa-bawa istrinya, istrinya itu gak salah Nidya" sentak Aiden
"Nidya gak perduli kak, pokoknya dia harus merasakan apa yang Nidya rasakan" balas Nidya dengan begitu bertekad
__ADS_1
"kamu akan menyesali ini Nidya" Aiden memilih pergi dan membawa anak-anak mereka kembali ke Inggris
biarkan saja Nidya mengurusi keserakahannya sendiri, karena akan percuma melarang Nidya sebab jika Nidya sudah bertekad tak ada yang bisa menghalaunya