You Are My Regret

You Are My Regret
Ujian


__ADS_3

semenjak malam itu qiran dan jay makin lengket saja, dan tak jarang qiran menginap di apartemen jay sekedar menghabiskan banyak waktu bersama jay


qiran sedang menyandarkan tubuhnya di dada bisang jay dan membuat gerakan abstrak di sana "bukankah hari ini terakhir koas kamu jay?" tanya qiran


jay mengangguk mengiyakan "hari ini terakhir, dan rencananya sih aku akan menjalani masa percobaan sebagai dokter di sana" balas jay


"semoga berhasil ya jay" ucap qiran


"terima kasih sayang" jay mengecup kening qiran dalam


"boleh gak, aku minta sekali saja sebelum kita keluar" pinta jay


qiran menegakkan tubuhnya, menatap tajam jay "semalam kan sudah 3 kali jay" balas qiran mengerucutkan bibirnya


"tapi aku ingin lagi" pinta jay dengan wajah memelas


"ya sudah" iran terpaksa menuruti jay, karena jika tak di turuti yang ada jay akan teruss merengek dan pasti harus membayar 2 kali lipat dari jatah yang harusnya di berikan oleh qiran


***


jay berjalan dengan santai ke arah ruangan direktur rumah sakit


"tok tok tok" jay mengetuk pintu sebelum masuk


"anda mencari saya pak?" tanya jay saat membuka pintu


dahi jay mengernyit dalam, melihat direktur rumah sakit sedang berdiri di sisi meja sedangkan ada seseorang yang duduk di kursi direktur dengan posisi membelakanginya


direktur rumah sakit yang bertugas di rumah sakit tempat jay bekerja sekaligus rumah sakit milik nenek alaya itu hanya diam dan terlihat sekali jika dirinya sedang gugup dan ketakutan


pria yang sedang duduk di kursi direktur pun berbalik agar bisa bertatapan dengan jay "can we talk sir jay handerson" pinta pria tersebut


jay tentu tahu betul dengan siapa ia berbicara sekarang, karena bukan sekali dua kali mereka bersisipan walaupun tak pernah berbincang tapi buka mereka tak tahu masing-masing dari diri mereka


jay langsung merubah raut wajahnya "Sure, please talk" jay memperagakan gerakan tangan mempersilahkan daddy attaf untuk berbicara

__ADS_1


daddy attaf duduk tegap dengan menyandarkan tubuhnya di sandaran kursi "aku tidak suka basa-basi" daddy attaf menatap tajam jay "putuskan hubunganmu dengan qiran selagi saya bicara baik-baik denganmu" ucap daddy attaf


"kalau saya tidak mau?" tanya jay dengan beraninya


daddy attaf terkekeh geli " rupanya ada anak kemarin sore yang berani menantangku" ucap daddy attaf dengan tatapan tajam


jay menatap lekat daddy attaf "saya tahu kalau menurut anda saya jauh di bawah standar yang anda inginkan sebagai pasangan qiran. tapi saya mencintai iran dan tak ingin menyerah padanya" balas jay


"kau menantangku rupanya" gumam daddy attaf


daddy attaf langsung menatap tajam direktur rumah sakit "aku mau karirnya hancur" ucap daddy attaf langsung meninggalkan ruangan


jay hanya menghela nafas panjang, ini sebenarnya sudah masuk dalam perhitungannya saat nekat memertahankan hubungannya bersama qiran


direktur rumah sakit hanya menatap sedih dan penuh rasa bersalah pada jay "maaf jay, saya gak bisa berbuat apapun" ucap direktur dengan suara penuh penyesalan


"iya pak, saya paham" dengan terpaksa jay keluar dari rumah sakit dengan membawa semua barang-barangnya dari kantor tempat biasa ia bekerja


***


uncle akhtar membanting pintu dengan keras saat sampai di halaman rumahnya. ia bergegas masuk ke dalam rumah mencari seseorang yang sedang di carinya "apa maksud kakak memecat pegawaiku hah!" teriak uncle akhtar


"tapi bukan berarti kakak seenaknya saja seperti itu"kesal uncle akhtar yang sudah mendengar  perihal jay di pecat dan di tangguhkan kelulusannya karena ulah daddy attaf


"kenapa memangnya?" tanya daddy attaf mengangkat kedua tangannya tanda tak peduli


uncle akhtar menunjuk daddy attaf "kakak tahu betul qiran menyayanginya, dan jika sampai dia tahu pasti dia akan berontak pada kakak!" teriak uncle akhtar


daddy attaf mengedikkan bahunya tanda tak peduli " I don't care" ucap daddy attaf dengan entengnya


nenek alaya yang tak begitu paham dengan ucapan kedua anaknya pun jadi penasaran "siapa yang kalian maksud?" tanya nenek alaya


uncle akhtar menunjuk daddy attaf  "dia menangguhkan kelulusan jay mah, dan dia bikin jay di pecat dari rumah sakit karena sifat piciknya itu" ucap uncle akhtar


nenek alaya menatap nyalang daddy attaf "siapa yang mengizinkanmu memecatnya tanpa persetujuan mama!" teriak nenek alaya

__ADS_1


"aku pemegang saham di sana mah" sahut daddy attaf kesal


"kamu punya saham itu karena pemberian mama, dan mama dengan mudahnya bisa mengambil itu semua" balas nenek alaya dengan keras


"mama lebih bela cecunguk itu ketimbang aku, putra kandung mama sendiri?" tanya daddy attaf


nenek alaya menghela nafas panjang "kamu tahu betul mama menyayangi jay, berani kamu mengusik kesayangan mama hanya karena kamu gak setuju hubungan jay dan qiran" ucap nenek alaya


qiran yang mendengar suara perdebatan bergegas masuk ke dalam untuk mencari tahu apa yang terjadi "ada apa ini?" tanya qiran


daddy attaf menatap tajam putrinya "ini peringatan untukmu yang membangkang pada daddy" ucap daddy attaf lantang


"daddy mengusiknya?" tanya qiran mulai kesal


daddy attaf bersedakap tangan dengan tatapan merendahkan "apa yang gak bisa daddy lakukan hah?" ucap daddy attaf penuh dengan tantangan pada sang putri


qiran mengeratkan rahangnya "sudah berapa kali qiran tegaskan jangan mengusiknya dad!" teriak qiran


"berani kau membentak daddy hah!" teriak daddy attaf


daddy attaf dan qiran saling melempar tatapan tajam penuh permusuhan dan tak ada yang mau mengalah


qiran menatap daddy attaf "harusnya daddy sadar sifat jelek daddy itu turun kepadaku!" teriak qiran menunjuk daddynya


"qiran!" bentak daddy attaf


qiran melangkah maju mendekat pada daddy attaf "jangan memancingku dad" ucap qiran penuh penekanan


daddy attaf terkekeh "berani kau menentang daddy, akan daddy hancurkan dia sehancur-hancurnya " ucap daddy attaf


qiran mengepalkan tangannya menatap daddy attaf dengan tatapan tajam penuh permusuhan. keluarga yang lain tak ada yang bernai menyahut karena memang keduanya memiliki sifat sama dan keras yang sama jadi ucapan apapun tak akan mempan untuk mereka


***


qiran berjalan dengan gontai menuju sebuah lorong apartemen. tangannya terlihat bergetar, berkali-kali qiran terlihat akan jatuh tapi ia berusaha kuat menopang tubuhnya agar tak terjatuh. berkali-kali qiran menghela nafas panjang

__ADS_1


kata demi kata terus terngiang di kepala qiran, kata-kata yang begitu sulit untuk ia lakukan,  tapi tetap harus ia lakukan walaupun terpaksa


qiran memencet pin apartemen tersebut dengan gerakan pelan "ceklek" saat qiran membuka pintu ia langsung melihat tubuh jay yang sedang duduk meringkuk di sofa. rasa bersalah itu langsung menelusup ke relung hati qiran yang terdalam "maaf "  batin qiran memandangi wajah jay yang tersenyum padanya


__ADS_2