You Are My Regret

You Are My Regret
Cemburu


__ADS_3

"maaf ya Edeline om gak bisa jemput soalnya lagi meeting" ucap Jonathan dari seberang telpon


"gak papa om, lagian Edeline juga kasih tahunya dadakan kalau ternyata gak ada dosen di jam kedua" balas Edeline tahu akan kesibukan suaminya


"pesan taksi saja, biar cepat sampai rumah" pinta Jonathan


"iya om" Edeline mematikan ponselnya dan berjalan ke halaman depan untuk menyetop taksi


sesampainya di rumah Edeline merapihkan rumah yang belum sempat ia bereskan dengan benar karena saking terburu-burunya


"ah sudah beres" Edeline tersenyum puas tatkala melihat rumahnya yang sudah terlihat rapi


"masak dulu ah" Edeline membuka kulkas untuk memasak makan siang


"tanyain om kali ya mau di antar makanan apa gak, kan tadi gak di bawain bekal" gumam Edeline


Edeline mengambil ponselnya dan menghubungi suaminya " om sibuk gak" tanya Edeline


"kalau sekarang sih gak soalnya masih istirahat baru balik dari meeting di luar, ada apa" tanya Jonathan


"om sudah makan" tanya Edeline membuat kening Jonathan mengerut


"ini masih jam 10 Edeline masa sudah makan, kan sudah sarapan barung kamu tadi pagi" balas Jonathan


"mau di bawain makan siang gak om" tawar Edeline


"emang kamu gak capek ke sini" tanya Jonathan tak ingin membuat Edeline lelah


"enggak, gak ada kerjaan om. Kesana ya anter makanan" Edeline ingin saja mengantar makanan untuk Jonathan


"ya sudah terserah kamu saja, om seharian di kantor juga soalnya ada klien yang mau datang kemari" balas Jonathan


"oke" Edeline langsung saja kembali memasak dengan hati yang begitu bahagia karena setiap masakan yang ia buat bisa di nikmati oleh Jonathan dan itu membuat Edeline begitu bahagia, rasanya kerja kerasnya terbayar dengan piring tersapu bersih oleh suaminya yang itu tandanya kalau apa yang ia lakukan bisa berguna


Jonathan melirik ke arah ponselnya yang masih tertera nama istrinya karena panggilannya baru saja berakhir.

__ADS_1


'istriku' itu lah nama yang tersimpan di kontak ponselnya. Nama yang baru ia ganti namanya sebab mulai tadi malam ia sudah benar-benar jadi suami Edeline sebab mereka sudah melakukan hal yang biasa di lakukan pasangan suami istri apalagi Jonathan menjadi orang pertama bagi Edeline. Entah perbuatan baik apa yang pernah ia dapatkan sampai mendapatkan dua kali mahkota seorang wanita, dulu ibu kandung putrinya dan sekarang istrinya.


"tok tok tok" terdengar suara pintu di ketuk menyadarkan lamunan Jonathan


"masuk" titah Jonathan


tak lama berselang masuklah lusi sekertaris Jonathan " maaf Pak, sekedar mengingatkan kalau bapak ada janji dengan Pak Reagen satu jam dari sekarang" ucap lusi mengingatkan jadwal siaran pertemuannya


"iya lusi" balas Jonathan


"aduh ada Reagen ya" Tiba-tiba saja ada perasaan tidak nyaman saat istrinya akan datang tapi pria yang pernah di taksir istrinya juga punya janji temu dengannya


"ah buat dia cepat pulang saja" Jonathan berencana mempercepat pembahasan bisnis mereka agar istrinya tidak bertemu dengan reagen


rasanya tidak rela jika sang istri mengenang kisah romansa cinta picisan yang pernah di rasakan istrinya apalagi ia tahu kalau lah Edeline belum mencintainya dan hanya merasa nyaman saat melakukan hubungan suami istri dengannya


"SIAL" Jonathan terus mengumpat dalam hati sebab apa yang di rencanakannya tidak berjalan sesuai keinginannya


tatapanya begitu sinis melihat pria yang terus berucao dan tak berhenti mengoceh sedari tadi " kenapa kau ribet sekali Reagen, kita kan melakukan semua yang sudah di sepakati di awal" ucap Jonathan


"tapi itu akan menambah budget yang sudah kita sepakati dan aku harus menjelaskan apa pada Lucas nanti" sanggah Jonathan tak ingin apa yang sudah di sepakati di rubah begitu saja


"maka dari itu kita harus membahas ini secepatnya om, sebelum proyek selesai dan hasilnya jelek" timpal Reagen


Jonathan memijit pelipisnya yang berdenyut akibat ulah Reagen yang terus merengek untuk merubah kesepakatan


terdengar suara pintu di ketuk dan munculah lusi dari balik celah pintu "maaf tuan, istri anda datang jadi mau gimana" tanya Lusi saat melihat pembicaraan Reagen dan Jonathan masih belum selesai


" suruh istriku masuk saja lusi" balas Jonathan yang di angguki lusi


Jonathan melirik ke arah Reagen "maaf reagen, ini sudah jam makan siang dan istri om sudah membawakan makan siang jadi kita teruskan nanti setelah jam makan siang" ucap Jonathan membuat Reagen melongo


"aduh" Edeline terkejut melihat masih ada orang di ruangan suaminya "maaf om, edeline gak tahu kalau masih ada orang soalnya kata kak lusi aku masuk saja" ucapan Edeline tidak enak hati karena masuk ruangan suaminya saat masih ada tamu


"tidak apa Edeline, ini juga sudah jam makan siang dan sudah waktunya makan siang" Jonathan menghampiri Edeline dan membawakan tas bekal yang di bawa Edeline

__ADS_1


Edeline melirik ke arah Reagen yang masih duduk memandangi arah kedatangan Edeline dan juga Jonathan "kakak belum makan siang juga ya" tanya Edeline


"iya belum" ada senyum cerah terbit begitu saja dari wajah Reagen


"duh maaf ya kak gak bisa nawarin soalnya aku bawanya dua porsi saja dan kebetulan aku juga belum makan, jadi maafin Edeline gak bisa menawarkan untuk ikut makan ya kak" Edeline ingin sebenarnya menawarkan makan tapi dia juga lapar dan suaminya juga pasti belum makan siang


"tidak apa-apa Edeline, kan Reagen punya banyak uang tentu dia bisa makan di restoran " Jonathan mengusap kepala Edeline dengan lembut


Edeline menoleh ke arah suaminya " iya ya om, kak reagen kan banyak uang beda ama kita yang uangnya terbatas" kekeh Edeline


Reagen menatap sinis ke arah pasangan suami istri yang saling melempar senyuman "aku memang bisa makan di restoran" Reagen beranjak dari duduknya untuk keluar ruangan Jonathan


"Hati-hati, dan kita akan bahas pekerjaan kita lagi setelah jam makan siang" ucap Jonathan mengantar kepergian Reagen


Edeline mulai menata makanan yang ia bawa " yuk makan om, Edeline lapar soalnya" ajak Edeline


"iya" Jonathan duduk di samping Edeline dan menyantap hidangan yang di sediakan Edeline


"om nanti kasih komentar rasa masakan Edeline ya om, soalny Edeline baru coba resep yang di ajarin tetangga kita yang rumahnya paling ujung itu" ucap Edeline


Jonathan mengerutkan keningnya "kamu kenal sampai yang sebelah sana" Jonathan begitu heran dengan istrinya yang begitu cepat mengenal tetangganya "padahal om saja gak kenal loh" tambah Jonathan


"ya abis setiap Edeline beli sayur di ajak cerita melulu, terus Edeline cerita dong kalau om suka masakan Indonesia ketimbang masakan kota, dan karena mereka lihat wajah Edeline yang blasteran gini mereka jadi kepikiran takut aku gak bisa masakan Indonesia jadi mereka ajarin Edeline deh" jelas Edeline


Jonathan memucingkan matanya ke arah Edeline "gak nyangka loh om sama kamu" takjub Jonathan membuat Edeline tertawa melihat wajah terkejut Jonathan


Edeline dan Jonathan makan dengan saling bercanda ringan sampai tak terasa waktu bergulir begitu cepat sampai tak terasa kalau makanan mereka sudah habis " ya ampun Edeline" Jonathan mengusap mulut Edeline yang belepotan bekas semur yang ia makan


"masa sih" Edeline ikut menyentuh bibirnya padahal Jonathan tengah membersihkannya membuat tangan mereka saling bersentuhan dan tatapan mereka saling mengunci


"cup" Jonathan langsung mwnyambar benda kenyal berwarna pink milik istrinya


"ih om" Edeline menepuk-nepuk pelan lengan Jonathan berkali-kali "kasih aba-aba dulu dong om jangan asal nyosor gitu" protes Edeline


"kaya gini" Jonathan mendekat ke arah wajah Edeline membuat Edeline menutup matanya dan mereka pun saling bertukar saliva

__ADS_1


tanpa mereka sadari ada sepasang mata yang menatap tajam ke arah Edeline dan Jonathan yang sedang berpangutan itu "SIAL" umpat pria itu dalam hatinya dan menutup kembali pintu ruangan Jonathan dengan perlahan


__ADS_2