You Are My Regret

You Are My Regret
Pindah rumah


__ADS_3

tara menggandeng tangan ibu mertuanya untuk keluar mall. sedangkan lensi berjalan mengekor di belakang


"kita tunggu juan selesai ambil video CCTV dulu ya, baru kita pulang" ucap tara membawa ibu mertuanya ke arah salah satu restoran untuk menunggu asistennya


lensi menyamakan langkah kakinya dengan sang suami "mas yakin mau tuntut ibunya mas" tanya lensi merasa tindakan tara kurang pas


"kenapa gak? dia jelas salah karena sudah nuduh ibu makai uang suaminya padahal enggak sama sekali. jadi kita harus kasih dia peringatan agar tidak mengganggu ibu lagi" balas tara sudah sangat yakin dengan keputusannya


"terserah mas deh" balas lensi pasrah akan tindakan yang akan di ambil tara


"dhira" panggil tuan adnan dengan suara terengah-engah karena berlari


ibu dhira menoleh ke belakang "mas adnan" gumam ibu dhira dengan raut kecewa


jelas ia sangat tahu alasan tuan adnan datang menemuinya, pastilah ia sudah mendengar kalau tara akan mengajukan tuntutan pad listia yang sudah berbuat kurang ajar padanya


lensi langsung maju ke depan ibunya untuk melindungi ibunya "buat apa anda nyari ibu saya" tanya lensi dengan nada tidak bersahabat


tuan adnan melirik ke arah ibu dhira yang ada di belakang tubuh lensi "maafin listia yang sudah nuduh kamu sembarangan" pinta tuan adnan dengan suara lirih


listia berkacak pinggang ke arah tuan adnan "jangan anda pikir karena anda meminta maaf kami akan cabut tuntutan kita ke istri tercinta anda itu" ucap listia dengan nada suara kesal


tuan adnan melirik ke arah tara "apa kamu harus memenjarakan ibu kamu" tanya tuan adnan memastikan tara yang jelas adalah anak kandung istrinya akan benar-benar mengajukan tuntutan pada istrinya itu


"ibu mana yang anda maksud" tanya tara dengan sarkas


tuan adnan memicingkan matanya ke arah tara "semenjak wanita itu meninggalkan saya hanya demi mengejar pria yang jelas sudah akan menikahi wanita lain maka sejak saat itu saya tidak punya ibu, dan di tambah penegasan oleh istri anda yang meminta saya menganggap wanita yang melahirkan saya sudah mati" ungkap tara dengan tegas


tuan adnan melirik ke arah ibu dhira "maafin listia dhira aku mohon, jangan perkarakan ini nanti aku akan mengganti kerugian yang sudah kamu terima atas perbuatan listia" pinta tuan adnan agar ibu dhira bisa menghentikan gugatan yang akan di layangkan oleh tara

__ADS_1


ibu dhira tersenyum kecut mendengar penuturan tuan adnan "berapa yang kau tawarkan untuk mengganti kerugian ku? " tanya ibu dhira


"berapapun" balas tuan adnan meyakinkan ibu dhira


"berapapun" tanya ibu dhira lagi dengan sedikit kekehan tapi jelas sekali sorot mata ibu dhira menahan sakit yang teramat sangat


"iya" tuan adnan mengiyakan


"apa salahku padamu mas, apa" tanya ibu dhira dengan menahan sesak di dadanya


"kamu gak salah apapun dhira" balas tuan adnan menundukan kepalanya


ibu dhira tertawa lantang tapi matanya sudah memerah tapi ia berusaha kuat untuk menahan tangisnys  "berapa kamu harus membayar penipuan yang kamu lakukan sampai kamu menikahi ku dulu" tanya ibu dhira yang tak bisa di jawab tuan adnan


"berapa kamu harus membayar saat kamu menikahi ku, menyentuhku, menghamiliku dengan atas nama pernikahan tapi kau batalkan begitu saja saat aku sedang hamil anak kamu" ibu dhira maju ke arah tuan adnan dan  mendorong tubuh tuan adnan dengan telunjuknya


"berapa kamu akan membayar ku saat aku harus menjalani kehamilan seorang diri padahal kita menikah menggunakan cara yang benar dan aku tidak pernah merebutmu dari siapapun" ibu dhira menepuk dadanya "aku belum meminta ganti rugi padamu karena menipuku dulu dan meninggalkanku membesarkan anak seorang diri tapi dia terus mengusik ku, mengataiku wanita ****** " ibu dhira mengusap pipinya yang sudah basah karena ibu dhira tak sanggup menahan tangisnya  "bahkan aku memohon padamu untuk menemaniku melahirkan tapi kau malah memilih meninggalkanku mas, meninggalkanku seorang diri hanya karena istrimu itu sedang hamil muda padahal aku bertaruh nyawa untuk melahirkan anak kamu mas" teriak ibu dhira


"aku tidak pernah minta apapun darimu mas, pengakuan untuk lensi pun tidak, aku rela dalam akta kelahiran nya hanya tertera namaku, aku tidak pernah meminta sepeserpun darimu, yang aku minta hanya jangan terus mengusik hidupku tapi lagi-lagi kau mengusik hidupku" ibu dhira menarik nafas dalam-dalam


"sumpah demi apapun aku membencimu mas, membencimu sampai ke tulang-tulangmu kali ini aku gak akan pernah diam jika dia mengataiku ****** padahal di yang jelas ****** karena mengangkan selangkangannya untuk di nikahi olehmu" ibu dhira pergi dari sana dengan penuh amarah


ibu dhira menghentikan langkahnya sejenak "kali ini aku benar-benar akan menganggap kamu bukan bagian dari hidupku lagi" ibu dhira benar-benar meninggalkan tuan adnan yang diam terpaku akan kemarahan ibu dhira


tara melihat lensi yang diam terpaku melihat ibunya padahal ibunya sudah pergi menjauh "kejar ibu" pinta tara pada lensi dengan tepukan pelan di bahunya


lensi langsung tersadar dari keterkejutannya "iya mas" lensi berlari mengejar ibunya yang berlari sambil menangis


tara menatap tajam tuan adnan "kita ketemu di pengadilan" ucap tara langsung bergegas meninggalkan tuan adnan yang masih terkejut itu

__ADS_1


tuan adnan diam terpaku mendengar ucapan ibu dhira. dia benar-benar tidak menyangka kalau wanita itu bisa marah sampai sebegitunya padahal dia tahu betul ibu dhira adalah orang yang sangat penyabar dan selalu membantu keluarga besarnya tanpa meminta imbalan apapun darinya tapi mungkin ini adalah batas kesabaran ibu dhira yang menjalani hinaan selama hampir 25 tahun hidupnya


***


rumah baru lensi sudah di hias dengan sangat indah, hadiah dari ibu mertuanya, clarissa yang ingin memberikan hadiah untuk rumah baru yang akan di tempati anak dan menantunya


"wah rumah kamu bagus banget lensi, kayanya rumahku kalah deh" seru qiran yang takjub akan rumah baru lensi


"jangan ngomong gitu qiran, rumahku mah cuma kalah besar saja karena kan dasarnya tanaha peninggalan kakek ini cukup luas, kalau rumahmu kan lebih mewah dari rumahku" balas lensi merendah


"ih beneran rumah kamu tuh bagus banget tahu lensi, gak sia-sia lah tara kerja selama ini bisa bangun rumah sebagus ini buat kamu" seru qiran


"iya dong" tara melingkarkan tangannya di pinggang lensi  "gak sia-sia kan aku jadi kacungmu buat urus perusahaan-perusahaan kamu itu" balas tara


"iya iya, terima kasih sahabatku yang baik karena membantuku mengumpulkan pundi-pundi uang yang banyak buatku" balas qiran


kassy datang bersama kedua orang tuanya dengan membawa bingkisan besar "selamat atas rumah barunya ya kak" kassy memeluk lensi sebagai tanda ucapan selamat


"terima kasih sudah menyempatkan hadir" balas lensi mengusap punggung kassy


"tentu aku harus datang ke acara rumah kakakku" seru lensi


acaras selamatan rumah lensi hanya di hadiri kerabat dekat dan teman dekat saja jadi tidak begitu ramai tapi tetap saja acara itu cukup seru


om revandra mengajak tara untuk bicara di taman samping rumah lensi "ayah senang melihat pernikahan kamu cukup bahagia"ucap om revandra penuh syukur


"ya, dia orang yang sangat baik dan pengertian jadi aku cukup bahagia" balas tara


"ayah harap pernikahanmu akan bertahan sampai maut menjemput" ucap om revandra penuh harap

__ADS_1


"entah lah yah" tara sendiri masihbelum yakin dengan hatinya, apakah ia benar-benar akan melepaskan kekasih yang sudah bersamanya selama hampir 8 tahun


om revandra menyunggingkan senyumnya melihat reaksi tara, setidaknya hati anaknya mulai goyah tinggal hadirnya anak yang nanti yang akan makin membuat hati tara goyah dan tidak ingin berpisah dari lensi


__ADS_2