You Are My Regret

You Are My Regret
Periksa kandungan


__ADS_3

"qiran" panggil jay saat memasuki kamarnya dan qiran


qiran menoleh ke arah jay "iya, ada apa sayang" tanya qiran


jay berjalan mendekat ke arah qiran dan mengecup kening qiran "jangan cantik-cantik, nanti ada yang naksir" rajuk jay


qiran mengusap lengan jay "kamu masih cemburu saja jay, yang lebih menarik perhatian itu kamu loh jay, di mana pun kita lewat pasti ada penggemar kamu" sahut qiran


"itu aku gak tahu sayang, padahal aku kan sudah mulai berhenti kerja di dunia entertain dan mulai fokus di rumah sakit" balas jay


"kamu kan baru berhenti 2 minggu jadi mereka masih ingat betul lah sama kamu" qiran beranjak dari kursi riasnya dan menenteng tas selempangnya


"nanti abis nemenin aku periksa mau langsung tugas lagi" tanya qiran


"iya, aku izinnya cuma setengah hari abis itu lanjut tugas lagi. maklum dokter baru jadi masih perlu banyak penyesuaian" balas jay


"ya sudah yuk, kita kan janjiannya jam 10" ajak qiran menggandeng tangan jay


jay mengusap perut qiran "nanti kita bisa lihat jenis kelamin anak kita kan" tanya jay


"asal gak ngumpet aja, kita bisa lihat jenis kelamin anak kita" balas qiran


jay membukakan pintu mobil untuk qiran dan dirinya segera berlari ke sisi sebelah "oh ya sayang, aku mulai cutinya setelah usia kandunganku 7 bulan saja ya" ucap qiran


"aku sih gak masalah, selagi kamu merasa sanggup mengerjakan pekerjaan kamu di tengah kehamilan kamu, aku mah gak masalah" balas jay


qiran mengecup pipi jay lembut "terima kasih suamiku" ucap qiran


jay memegang pipinya dengan muka merah "jangan mancing aku untuk berhenti di tengah jalan" ucap jay


"loh kenapa berhenti di tengah jalan" tanya qiran heran


"buat makan kamu lah" balas jay


qiran terkekeh "kamu ada-ada aja deh jay" sahut qiran


tiga puluh menit perjalanan, mereka sampai di rumah sakit keluarga ghazanfer yang beroperasi di Indonesia

__ADS_1


"ayo sayang" jay menggandeng lengan qiran memasuki rumah sakit


sepanjang perjalanan ada bisik-bisik yang memekakan telinga qiran dan membuat mood qiran jadi jelek "mereka sering membicarakanmu ya jay" tanya qiran dengan nada kesal


jay mencubit pelan pipi qiran "jangan pikirin omongan orang sayang, itu gak baik buat anak kita" jay mengusap perut qiran yang sudah mulai membuncit itu


"tapi mereka kurang ajar karena ngomongin kamu" kesal qiran


"gak masalah sayang, dulu waktu di Inggris malah lebih parah dari ini" jay menggenggam tangan qiran "kita gak bisa memaksa orang untuk berpikir baik tentang kita sayang lagian benar apa yang mereka bilang kalau aku hanya orang yang menumpang hidup padamu" ucap jay


"gak gitu sayang, kamu masih kasih uang bulanan untuk aku kan, dan semua kebutuhan rumah kamu yang bayar, bahkan rumah kita nanti juga kamu semua yang keluar uang" balas qiran


jay mengusap kepala qiran "kamu tahu itu sudah cukup buatku sayang, saya gak butuh baik di mata orang lain. yang aku butuhkan hanya baik di matamu dan jadi orang yang bisa di andalkan oleh istriku tersayang" ungkap jay


qiran tersenyum hangat pada jay "emang gak salah aku milih kamu jadi cinta dalam hidupku" ucap qiran


"aku juga sayang, gak salah memilih istri cantik, pintar dan banyak uang" kekeh Jay


"uangmu juga gak kalah banyak dari aku" sahut qiran


"tetap kalah lah, kan semua uangku adalah milikmu jadi kamu yang kaya dan aku yang miskin" balas jay


"sekarang gak peduli tempat lagi ya" tanya jay


"tentu tidak, kan kamu suamiku jadi mau di manapun kita bermesraan gak masalah" balas qiran


jay membawa qiran masuk ke ruang praktek dokter kandungan bernama dokter karina "selamat pagi dok" sapa jay menggandeng tangan qiran untuk masuk ruangan


"hai jay, hai nona qiran" sapa karina ramah


"kalau kamu panggil suamiku dengan nama kalau gitu kamu panggil saya dengan nama saja gak usah pakai embel-embel nona" pinta qiran


"baiklah, qiran silahkan duduk" dokter karina mempersilahkan  qiran dan Jay duduk


"mulai hari ini saya yang akan menangani anda qiran, karena kamu tahu sendiri" dokter karina melirik jay "suamimu ini terlalu takut jika kau di sentuh seorang pria" ucap dokter karina


"iya saya tahu itu, dan saya mengerti kekhawatiran suami saya" balas qiran

__ADS_1


"ya sudah kita mulai saja" dokter karina  menunjuk brangkar periksa dan mulai mengoles perut qiran dengan gel dan menggerakan alat USG ke perut qiran


dokter karina fokus melihat layar "wah anak anda cukup sehat dan bobot tubuhnya juga sesuai" dokter karina terus menggeser alat itu di perut qiran "sepertinya kalian akan punya baby boy di keluarga kalian" dokter karina menunjuk hal yang menjelaskan kalau anak qiran dan jay adalah laki-laki


jay sampai menitikkan air mata "anakku laki-laki" jay begitu bahagia mendengar jenis kelamin anaknya adalah laki-laki


dokter karina yang melihat jay sampai menangis hanya terkekeh "ternyata anda bisa melankolis juga, gak hanya akting sedih di depan kamera" ledek dokter karina


jay mengusap pipinya yang basah "aku hanya bahagia saat tahu anakku sehat" balas jay


"iya, rata-rata orang tua yang baru pertama kalia memiliki anak memang begitu" ucap dokter karina


dokter karina membantu qiran membenarkan pakaiannya dan memabntu qiran turun dari brankar


"ini resep obat untuk istri kamu, tebus di depan ya" ucap dokter karina


"iya karina, terima kasih" balas jay


"sama-sama, malahan aku senang sekali bisa menjadi dokter cucu pemilik rumah sakit ini" ucap karina dengan tulus


"kalau gitu aku pulang untuk antar istriku dulu" pamit jay


jay menggandeng tangan qiran dan tak hentinya mengusap perut qiran dengan lembut "aku senang sekali anak kita sehat" ungkap jay


"aku senang jay" balas qiran


"hari ini kamu istirahat di rumah ya, besok baru ke kantor" pinta jay


"iya" balas qiran dengan patuh


qiran dan jay tak hentinya mengumbar senyumnya karena begitu bahagia bisa mengetahui jenis kelamin anak mereka


saat melangkah tiba-tiba saja ada yang menghadang langkahnya, jay mendongak ke arah orang yang menghadang langkahnya " bisa kita bicara sebentar" ucap seorang pria paruh baya


"sepertinya kita gak ada urusan pekerjaan tuan, semuanya kan sudah beres tinggal pembangunan resort saja" balas qiran


pria paruh baya itu melirik qiran "kita memang gak ada pembahasan pekerjaan. saya ke sini untuk bicara pada suami anda" balas pria tersebut

__ADS_1


jay menatap tajam pria yang ada di hadapannya dan meminta utuk bicara dengannya "sepertinya tidak ada yang perlu kita bicarakan" balas jay membawa tubuh qiran menjauhi pria tersebut


__ADS_2