You Are My Regret

You Are My Regret
Mau merelakan tapi begitu sulit


__ADS_3

"hati-hati kuliahnya dan jangan lupa kabarin kakak kalau sudah selesai kuliahnya" ucap Reagen pada cinta adiknya


"iya kak, terima kasih" balas Cinta


Cinta turun dari mobil Reagen dan melambaikan tangan pada Reagen sebelum ia berlari ke arah kampusnya


Reagen melakukan mobilnya menuju perusahaannya yang ada di Indonesia


tanpa terasa Reagen melewati jalan memutar menuju kantornya "kenapa aku melewati jalan ini" gukam Reagen menyadari ia melewati jalan memutar untuk sampai perusahaannya


Reagen menghentikan mobilnya di tepi jalan saat melihat seseorang yang tanpa ia sadari ingin ia lihat sedari kemarin "kenapa rasanya sesak" Reagen memegang dadanya kuat


Mata Reagen terus tertuju pada sosok wanita yang baru saja turun dari mobil dengan di antar seorang pria. Matanya tak henti menatap interaksi antara pasangan yang berada tak jauh darinya


"aku tahu salah karena tak menghargaimu dulu Edeline, aku berkali-kali menolakmu dan itu pasti rasanya begitu sakit tapi selama bertahun-tahun kamu berusaha mengejarku" tanpa terasa cairan bening itu jatuh begitu saja dari sudut matanya


"sekali kau menolak ku dan rasanya sesakit ini Edeline" Reagen menelungkupkan wajahnya di setir mobilnya "aku gak bisa rela kamu bersamanya padahal dulu kamu selalu ada di sekitaran ku dan kini kamu terasa begitu jauh walau tubuh kita berdekatan" gumam Reagen menyesali semua tindakannya yang menjauhi Edeline dengan berbagai cara


dan kini saat orang yang terus ia hindari dulu benar-benar menjauh ada ras tidak rela di hatinya, rasa yang entah bagaimana untuk menjelaskannya


cukup lama Reagen dalam posisi itu sampai ia ingat bahwa ia harus ke kantor untuk mengurus pekerjaannya yang menumpuk


***


Reagen menyibukkan dirinya dengan berbagai aktivitas agar bisa melupakan sesak yang sedang ia rasakan saat ini karena saat baru pertama kali ia menyadari menaruh hati pada seorang wanita tapi ia sudah kehilangan wanita itu akibat ulahnya sendiri


"huuuuhhh" Reagen menghela nafas kala menyelesaikan pekerjaan terakhirnya yang ada di komputer di ruang kerjanya


Reagen melirik jam tangannya yang sudha menunjukkan pukul 7 malam "ah aku melewatkan makan siangku" saking sibuknya bekerja Reagen sampai melupakan makan siangnya

__ADS_1


Reagen bergegas merapihkan barangnya dan segera pulang ke rumah, saat melewati jalanan ia menepikan mobilnya untuk memilih makan malam "kayanya makan di sini saja" Reagen memutuskan untuk makan malam di salah satu restoran yang ada di pinggir jalan


Reagen langsung memesan makanan yang ada di situ dan makan seorang diri "ternyata begitu sepi" Reagen menyantap makanannya seorang diri dengan senyum mirisnya


"apaan sih mas" terdengar suara yang cukup akrab di pendengaran Reagen


Reagen  menajamkan pendengarannya, apakah suara yang ia dengar adalah suara yang ia kenal


"pengennya makan kamu aja" ucap seorang pria


"iiiiih mas apa lah, aku tuh lagi laper nih pengen makan bukan mau di makan" kesal sang wanita


"ya ampun istriku gemesin banget sih" sang pria mencubit pelan pipi sang wanita yang ternyata adalah istrinya


wanita itu mengusap pipinya yang di cubit sang suami "sakit mas, nanti Edeline ngambek sama mas, Edeline suruh tidur di sofa loh"ancam wanita tersebut yang tak lain dan tak bukan adalah Edeline


"iya sih maafin mas deh" Jonathan mengalah saja pada sang istri agar jatahnya tidak di kurangi, bisa pening kepala atas bawah Jonathan jika ia tidak di izinkan tidur dengan istrinya


"tentu saja  boleh sayang" Jonathan mengambil sendok Edeline dan menyuapi Edeline dengan telaten


"gimana ? Enak" tanya Jonathan


Edeline mengangguk "enak apalagi mas yang suapin aku" balas Edeline


"bisa ada deh" Jonathan mencubit pelan hidung Edeline


"Edeline bahagia banget jad istri mas" ungkap Edeline


Jonathan terus menyuapi Edeline sambil menyunggingkan senyumnya "kenapa kamu bahagia jadi istri mas, padahal mas itu gak sekaya Reagen atau semuda teman-teman sebaya kamu dan juga tak setampan Damian" tanya Jonathan

__ADS_1


Edeline memberengut sebal pada Jonathan "kata siapa mas gak lebih tampan dari Damian, mas jauh-jauh lebih tampan tau gak" sanggah Edeline


"iya sayang " Jonathan mengiayakan saja ucapan istrinya sambil terus menyuapi Edeline


"mas masih suka cemburu ya sama kak Reagen" tanya Edeline dengan hati-hati


di sisi lain tempat makan yang tak jauh dari Edeline dan Jonathan, Reagen terus mendengarkan dengan seksama, apalagi saat namanya di sebut dalam pembicaraan antara dua pasangan itu


terdengar helaan nafas dari Jonathan "cemburu tentu saja ada sayang tapi itu gak sampai yang mengganggu aktivitas mas kok karena kamu bisa menempatkan dirimu di posisi seorang istri yang menjaga martabat suaminya" Jonathan mengusap pipi Edeline "jika rasa itu masih ada wajar sayang, karena dia pernah di hatimu selama bertahun-tahun, waktu yang cukup lama jadi mungkin agak sulit melupakannya"  jelas Jonathan


"tapi pecaya deh mas kalau Edeline cinta sama mas dan hanya akan jadi istri mas saja, apalagi kita mau punya anak loh" sahut Edeline mengusap perutnya yang masih rata


"mas tahu itu, walaupun mas sudah tua bukan berarti mas merasa kalah dari Reagen, karena buktinya mas bisa mengatasi putri manja ini dengan baik" kekeh Jonathan


"iiiih jangan bilang Edeline manja loh mas" protes Edeline


"iya ya" Jonathan tertawa bahagia karena bisa meledek sang istri


mendengar itu hati Reagen makin porak-poranda, niat hati ingin mengalihkan pikirannya tapi malah ia harus mendengar obrolan yang benar-benar membuat makin sesak.


"aku ingin merelakannmu dengannya Edeline saat tahu kamu sedang hamil tapi kenapa hatiku tidak rela" keluh Reagen yang hanya bisa ia lakukan dalam hatinya saja


Awalnya Reagen yang ingin menikmati makan malamnya kini rasa lapar itu menguap begitu saja entah kemana. Rasa lapar di gantikan dengan rasa penyesalan kehilangan wanita yang sudah menaruh hati padanya sekian lama


Lama Reagen duduk di sana sampai menunggu Edeline dan Jonathan pergi dari sana sebab ia tak ada keberanian bersitatap dengan Edeline maupun jonathan, ia merasa hatinya tak akan sanggup jika mereka bertemu


Reagen segera pulang ke apartemen setelah melihat tubuh Edeline menjauh dan menghilang saat mobil yang di naiki Edeline dan Jonathan makin menjauh. Langkah kaki Reagen begitu berat saat melangkah keluar restoran tapi ia tetap harus melangkah agar emngistirahatkan tubuhnya yang lelah di ranjang empuk miliknya


tak berselang lama Reagen sampai di restoran, Reagen memilih duduk di tepi balkon apartemennya dengan di temani sebotol minuman beralkohol berwarna merah dan angin malam yang menerpa wajahnya

__ADS_1


"apa aku harus merebutmu darinya" gumam Reagen yang tiba-tiba terlintas dalam benaknya ingin menjadikan Edeline miliknya


"akhhh" Reagen mengusap wajahnya kasar "aku sudah mulai gila sepertinya " rutuk Reagen


__ADS_2