You Are My Regret

You Are My Regret
Pindah Rumah (part 2)


__ADS_3

om revandra menepuk pelan bahu anaknya "jalani saja pernikahanmu, dan kamu nanti akan yakin kalau hatimu sudah ada pada lensi sepenuhnya" ucap ayah tara dengan yakin bahwa hati anaknya sudah benar-benar tertaut pada istrinya


tara mengernyitkan dahinya "kenapa ayah bisa seyakin itu kalau aku sudah menaruh hati pada lensi" tanya tara


om revandra melihat hamparan langit cerah di atas sana "ayah tahu seberapa inginnya kamu bertemu dan memeluk ibumu dulu" tara hanya memandangi ayahnya yang diam sejenak seakan berusaha kuat merangkai kata untuk diungkapkan


"tapi kamu dengan berani memenjarakan ibumu karena menyakiti hati ibu dari istrimu" om revandra menoleh ke arah tara anaknya "itu berarti kau tak sanggup melihat hati istrimu terluka dan itu tandanya kau sudah mulai mencintai istrimu" jelas om revandra yang tahu seberapa keras anaknya dan seberapa besar iaakan melindungi orang yang berharga untuknya


"apa iya" tara sendiri belum yakin dengan perasaannya tapi kenapa ayahnya bisa seyakin itu


om revandra menepuk dada tara "rasakanlah sendiri, saat bersama lensi kau tidak memikirkannya bukan" tara nampak berpikir akan ucapan ayahnya


"tapi jika kau jauh dengan istrimu akan seberapa rindunya kamu dengan istrimu itu" om revandra menepuk pelan pundak tara dan meninggalkan tara duduk seorang diri agar bisa menyelami setiap perkataannya


"masa iya" gumam tara memikirkan ucapan ayahnya apakah benar


"mas" panggil lensi dari balik pintu membuyarkan lamunan tara


"iya sayang" balas tara menghampiri istrinya karena para tamu sudah mulai pamit pulang ke rumah mereka masing-masing


qiran dan jay sudah pamit lebih dulu karena lucas sudah mulai lelah tinggalah keluarga tara dan lensi serta ibunya


"ibu dhira apa boleh kalau kassy tinggal di sini saja, saya kurang tenang meningglkannya di apartemen seorang diri "tanya tante clarissa


ibu dhira tersenyum ramah "tentu saja boleh bu, tara membuat kamar di rumah ini cukup banyak jadi kassy bisa bebas memilih kamar kalau mau tinggal di sini" balas ibu dhira


kassy melirik lensi "apa tidak merepotkan kak" tanya kassy agak tidak enak dengan keluarga iparnya tapi mamanya terus khawatir dengan kassy jika tinggal sendiri


"tentu saja tidak kassy, rumah ini cukup luas kok lagian yang gaji pekerja di rumah juga kakakmu jadi jangan merasa tidak enak, anggap saja rumah sendiri" balas lensi yang tidak keberatan sama sekali akan adik tara yang akan ikut tinggal dengannya

__ADS_1


"ya sudah, saya jadi tenang membiarkan kassy bekerja di Indonesia karena tinggal dengan kakaknya" om revandra merasa cukup tenang meninggalkan anak gadisnya nanti jika ada kakaknya yang akan menjaga


"permisi nyonya, di depan ada tamu katanya mau ketemu nyonya dhira " ucap bik atun , ART di rumah lensi


senyum ibu dhira langsung terbit mendengar adatamu yang mencarinya   "suruh masuk saja bik" ucap ibu dhira


lensi melihat rona bahagia di wajah ibunya "siapa emang bu" tanya lensi penasaran


"sore" seorang pria paruh baya membawa parcel serta bunga mawar putih masuk ke dalam ruang keluarga


semua orang menoleh ke arah sumber suara "jovan" seru om revandra dan tante clarissa serempak


"hei, revandra" pria yang baru datang bernama jovanka abimana memeluk om revandra yang ternyata mengenal ayah tara


"sedang apa kau di sini" tanya jovan heran dengan sahabat lamanya yang ada di rumah ibu dhira


"gak tahu" balas tara mengedikkan bahunya


"ini rumah besanku" om revandra menunjuk ke arah tara "dia anak sulungku menantu pemilik rumah ini" balas om revandra


jovan melihat tara dan lensi yang ada di sebelah tara "ternyata dunia begitu sempit ya revan, gak nyangka nanti kita akan jadi besan" seru jovan dengan kekehan


om revandra mengerutkan keningnya "maksudmu gimana" tanya  om revandra bingung akan perkataan jovan sahabat lamanya


jovan menoleh ke arah ibu dhira "kamu belum bilang ke mereka" tanya jovan


"hehehehe belum mas" balas ibu dhira dengan canggung


"ibu mau nikah!" seru lensi saking terkejutnya

__ADS_1


dengan terpaksa ibu dhira menceritakan hubungannya dengan pria bernama jovanka abimana yang sudah berjalan 2 tahun, pertemuan yang awalnya terjadi karena jovanka abimana ingin membeli salah satu tanak milik ibu dhira, berawal dari jovan yang meminta agar tanah itu bisa di jual tapi ibu dhira yang tidak ingin menjualnya, kedekatan mereka pun terjadi sampai tiba saatnya mereka menjalin hubungan dan memutuskan akan menikah belum lama ini


"jadi ibu sudah pacaran dua tahun dan gak kasih tahu aku" lensi mengerucutkan bibirnya kesal karena ibunya tidak menceritakan itu padanya


"maaf sayang, ibu hanya ingin yakin dulu kalau mas jovan bener-bener serius dengan ibu, dan anak-anaknya setuju jika ibu menikah dengan ayahnya, dan kamu juga tidak akan keberatan" jelas ibu dhira


lensi menoleh ke arah jovan "jadi om sudah dapat izin dari anak om" tanya lensi memastikan


"sudah, kebetulan anak-anak om sudah menikah, dan ikut dengan suami mereka jadi mereka setuju kalau om menikah lagi, mereka juga sudah ketemu ibu kamu dan cocok dengannya" balas jovan


"sekarang tinggal kamunya, kalau kamu setuju baru ibu akan menikah dengan mas jovan " balas ibu dhira penuh harap


lensi nampak berpikir "jangan khawatir, ayah kenal baik dengan jovan, dia orang yang baik dan bertanggung jawab dan anak-anaknya juga orang yang baik jadi kamu gak usah khawatir kalau dia akan sama dengan ayah kamu itu" ucap om revandra menenangkan lensi karena om revandra cukup mengenal baik jovan


"aku sih gak masalah kalau ibu mau nikah lagi, lensi malah senang kalau ibu ada temannya sekarang, dia kan selama ini sendiri" balas lensi yang ikut bahagia jika ibunya bahagia


jovan tersenyum lega "baiklah kita segerakan saja pernikahan ini, mumpung keluarga mertuamu ada di sini" ucap jovan yang ingin segera menikahi ibu dhira


"iya om" lensi mengangguk mengiyakan


lensi jadi teringat akan kemarahan ibunya pada saat lalu padahal ibunya adalah orang yang cukup penyabar "apa gara-gara ini ibu kemarin meluap-luap gitu marahnya sama pria itu" tanya lensi penasaran akan kemarahan ibunya kala itu


ibu dhira menggaruk tengkuknya yang tak gatal "iya" kekeh ibu dhira


"ha" lensi mengaga lebar mendengar kejujuran ibunya


ibu dhira menatap jovan "mas jovan bilang jadi wanita juga jangan terlalu lemah, jangan mau terus di salahkan kalau kita gak salah, karena diam bukan berarti orang itu akan lelah mengganggu kita jadi sesekali kita juga harus meluapkan emosi kita agar tidak di sepelekan" jelas ibu dhira


"bagus om" lensi mengangkat kedua jempolnya untuk jovan "lensi suka cara om ngingetin ibuyang gak pernah mau dengar ucapan lensi untuk lawan tuh orang-orang aneh" ucap lensi salut dengan jovan yang bisa menasehati ibunya

__ADS_1


__ADS_2