
Lucas membawa Qia dan Lala ke rumah sakit terdekat. Selain untuk memeriksa luka Qia dan melakukan visum agar Bisa mengajukan tuntutan hukum, Lucas juga memeriksakan mental Lala ke salah satu psikiater sebab ia tak ingin ada masalah dengan anak sambungnya setelah mendapat momen tidak mengenakan dan menakutkan seperti tadi
Lucas benar-benar marah dengan keluarga Alvian yang coba melukai istrinya dan merebut paksa Lala dari ibunya padahal jelas dulu mereka bilang tidak akan menerima Lala di keluarga besar mereka bahkan mengusir Reno dari keluarga besar mereka karena Reno kekeh tetap ingin bersama Qia
"gimana kepalamu masih pusing" Lucas mengusap kepala Qia yang berbalut perban menutupi keningnya
"dikit mas" balas Qia dengan suara lemahnya
Qia melirik ke arah Lala yang tertidur di atas sofa panjang dan Lucas sekat dengan meja agar Lala tidak terjatuh ke bawah "apa gak sebaiknya kita pulang mas, Lala kasihan kalau tidur kaya gitu" tanya Qia dengan hati-hati pada Lucas
"kalau dokter belum izinin kamu pulang, kita gak akan pulang. Kalau untuk Lala, mas sudah minta ranjang tambahan kok, jadi Lala bisa tidur nyaman nanti" balas Lucas
"mas" Qia menggigit bibir bawahnya nampak ragu untuk melanjutkan ucapannya
"ada apa" tanya Lucas
"mereka gak akan bikin mas di pecat kan" tanya Qia nampak takut kalau karena dirinya Lucas akan di pecat dari pekerjaannya
Lucas mengusap rambut Qia dengan lembut "mereka gak akan bisa bikin mas di pecat dari perusahaan tapi....." Lucas menggantungkan ucapannya
"tapi kenapa mas" Qia makin takut saja saat melihat raut wajah Lucas
"sepertinya karena ini, mungkin mas akan di minta pulang ke Jakarta deh" Lucas nampak gugup saat berbicara itu
Qia menelan salivanya kasar "kalau sampai mas di minta pulang ke Jakarta, mas akan ninggalin Qia dan Lala" mata Qia sudah berkaca-kaca saat membayangkan Lucas akan meninggalkan dirinya dan juga Lala
"loh kok mikirnya gitu" bukan itu yang di maksud Lucas tapi Qia menanggapinya dengan hal yang beda
Qia mengusap pipinya yang basah karena cairan bening jatuh begitu saja dari sudut matanya "Qia ngerti kok mas, kalau sampai keluarga mas tahu tentang aku dan Qia mereka akan membenci Qia yang hanya anak yatim piatu dan menumpang hidup sama mas Lucas" Qia menangis sesenggukan karena Lucas yang mungkin akan meninggalkannya setelah keluarganya di jakarta tahu perihal Qia dan Lala
__ADS_1
"ya ampun Qia" Lucas menggenggam tangan Qia dengan erat "mas itu gak ada pikiran ke sana. mas memang kepikiran kalau kemungkinan besar mas di minta kembali ke Jakarta tapi tentu mas akan menolak, karena di sini lah rumah mas, dimana ada kamu dan juga Lala" jelas Lucas
Qia makin menangis kencang saja dan Lucas langsung memeluk Qia untuk menenangkan Qia "mas hanya takut kalau mungkin kamu gak akan nyaman dengan perdebatan di keluarga mas sana, apalagi seperti yang mas ceritain ke kamu kalau mommy itu punya sifat keras seperti mas, dan penyakit yang mas dapat itu karena turunan beliau" terus Lucas
"apa mereka akan membuat aku dan Lala menjauhi mas" tanya Qia masih dengan isak tangis
"entahlah, mas juga gak tahu. Tapi kamu mesti yakin walau mereka terus menentang, mas gak akan ninggalin kamu dan Lala, mas janji itu" ucap Lucas dengan bersungguh-sungguh
***
Selama Qia di rawat di rumah sakit, Lucas begitu telatennya merawat Qia, tak lupa juga ia mengurus Lala, anak sambungnya yang akhirnya izin tidak masuk sekolah selama Qia di rawat di rumah sakit, karena Lucas nanti akan kerepotan jika harus bolak-balik menjemput Lala dan menunggu Qia yang di rawat di rumah sakit
setelah di rawat 4 hari di rumah sakit, Qia di perbolehkan untuk pulang ke rumah "Lala bisa bantu ayah bawa tas kecil ibu kan, ayah mau bantu papah ibu jalan ke parkiran" tanya Lucas pada putri kecilnya
"bisa kok yah" Lala mengambil tas selempang ibunya mengikuti langkah Lucas dan Qia menuju parkiran rumah sakit
setelah menempuh perjalanan 30 menit mereka sudah sampai di rumah, dan para tetangga langsung bergantian menjenguk Qia untuk sekedar menanyakan kondisi Qia yang baru saja keluar dari rumah sakit
Lucas membawa Lala ke dalam pangkuannya "ya sudah tidur saja di pangkuan ayah, nanti ayah bawa ke kamar" Lucas mulai menepuk punggung Lala secara perlahan agar Lala nyaman untuk tidur dalam pangkuannya
melihat itu, tentu para tamu Lucas dan Qia peka akn pemilik rumah yang ingin segera beristirahat "ya sudah kami pamit dulu ya Qia dan mas Lucas, mungkin kalian capek dan ingin segera istirahat. Semoga Qia cepat pulih" pamit salah satu tetangga Lucas mewakili para tetangga yang lain
"duh maaf ya pak, bu, ini memang jadwal tidur siang Lala, jadi dia sudah gak tahan ngantuknya" jelas Lucas dengan nada begitu ramah agar Para tetangganya tidak tersinggung
"iya mas Lucas, kami ngerti kok, jangan sungkan sama kami" para tetangga segera pamit pulang
Lucas segera saja menutup pintu rumahnya dan membopong Lala "ke kamar sendiri bisa atau nunggu mas naro Lala dulu" tanya Lucas saat sedang mengangkat tubuh lala yang sudah tertidur
"kayanya nunggu mas dulu deh, kepala Qia agak pusing karena kelamaan duduk" Qia memegang kepalanya yang serasa berdenyut karena terlalu lama duduk saat menerima tamu yang datang menjenguknya
__ADS_1
"tunggu bentar ya, mas taro Lala di kamarnya dulu" Lucas membaringkan lala di kamar Lala lalu kembali ke ruang tamu untuk mengangkat Qia masuk dalam kamar mereka
Qia reflek melingkarkan tangannya di leher Lucas dan menyandarkan wajahnya di dada Lucas, rasa yang begitu nyaman bagi Qia saat ada di dekat suaminya "terima kasih mas" Ucap Qia saat Lucas membaringkan tubuh Qia ke atas ranjang kamar mereka
"sama-sama Qia, mas mandi dulu ya, rasanya gerah banget berhari-hari gak mandi dengan benar" ucap Lucas
"Qia boleh ikutan mandi gak sih mas, Qia juga gerah banget tapi kayanya susah geh kalau mandi sendiri" tanya Qia dengan wajah memelasnya
Lucas menelan salivanya dengan susah payah, biar bagaimanapun Lucas juga pria normal,apalagi wanita yang meminta mandi dengannya adalah istrinya, wanita yang sah-sah saja untuk ia sentuh kapanpun "mas ini laki-laki normal Qia, kalau kamu kasih pemandangan mandi, bisa mas makan kamu" jujur Lucas akan apa yang ia pikirkan saat ini
"ya gak papa sih mas, kan mas suami Qia" balas Qia dengan entengnya
lama Lucas berpikir menanggapi Qia yang meminta bantuannya untuk mandi "ya sudah deh, ayok mandi" Lucas mengangkat tubuh Qia untuk mandi bersama
bohong kalau Lucas tetap kekeh dengan rasa cintanya pada Nidya yang jelas sudah menjadi milik orang lain, membuatnya tidak tertarik pada Qia saat melihat tubuh Polos Qia saat membantu Qia saat mandi
tapi sayangnya pikiran tentang hubungan suami istri yang lebih jauh dan lebih intim dari mereka harus terbantahkan karena saat Lucas memangut bibir Qia untuk pertama kali setelah hampir 6 bulan menikah tak bisa lanjut ke tahap lebih sebab Qia yang mengeluh sakit kepala membuat Lucas tersadar kalau dia sudah berlebihan pada orang yang baru keluar dari rumah sakit
Lucas membaringkan tubuh Qia dia tas ranjang setelah membantunya memakai baju tidur "tidur di samping Qia ya mas" pinta Qia menepuk sisi ranjang di sebelahnya
"iya" Lucas ikut berbaring di sebelah Qia dan Qia langsung memeluk Lucas dengan begitu erat
"gak papa ya mas, kalau Qia tidurnya gini" tanya Qia
Lucas menjadikan tangan kirinya sebagai bantal untuk Qia dan meletakan tangan kanannya di pinggang istrinya "tentu saja boleh" balas Lucas
dengan keadaan Lucas dan Qia yang sudah sangat lelah karena harus tinggal di rumah sakit selama empat hari membuat mereka begitu cepat mengarungi alam mimpi
Jika di rumah Lucas, Qia dan Lucas sedang tidur sambil berpelukan berbeda dengan keadaan di rumah keluarga Handerson yang muncul ketegangan
__ADS_1
"apa maksudmu!" tanya Daddy dengan tatapan tajamnya pada pasangan paruh baya yang kini duduk di hadapannya
"saya ingin meminta anda memecat salah satu pegawai anda yang bernama Lucas yang bekerja di salah satu cabang perusahaan anda di Bandung, saya tidak suka dengannya!" balas pria paruh baya yang tak lain adalah Reza