You Are My Regret

You Are My Regret
Tidak menyangka


__ADS_3

Nidya yang terus berteriak membuat keluarga Lucas tentu kebingungan, dan harus apa karena biasanya yang lebih tahu hal ini adalah Daddy Jay, sebab Daddy Jay yang biasa menangani Lucas atau Mommy Qiran saat kehilangan kendali akan diri mereka jika tidak ada dokter


"gimana Lucas" Mommy Qiran jadi kebingunan sendiri saat Nidya terus berteriak histeris setelah bicara dengan Qia


"gak tahu mom" Lucas sendiri kebingunan harus apa


Qia berjalan ke arah Nidya tapi langsung di cegah oleh Lucas "jangan Qia" cegah Lucas


"gak papa mas" Qia melepas tangan Lucas dan kembali berjalan ke arah Nidya yang masih terus berteriak


"aku tahu apa yang kamu rasakan mba" ucap Qia


Nidya menghentikan teriakannya dan mendongak memberikan tatapan tajam ke arah  Qia "kamu gak mungkin tahu apa yang aku rasakan, anak-anak kamu masih bersama kamu sampai detik ini" balas Nidya


"itu karena mba gak tahu semua tentang aku" balas Qia


Nidya menautkan kedua alisnya ke arah Qia "apa maksudmu" tanya Nidya


"seperti yang pernah aku bilang, kita itu tidak pernah saling mengenal sebelumnya jadi harusnya tidak ada yang membuat mba tersinggung karena aku berhubungan dengan mas Lucas setelah mba membina rumah tangga dengan om Aiden" ungkap Qia


Nidya hanya terdiam tak mengerti arah pembicaraan Qia "aku adalah seorang yatim piatu mba, sejak usiaku masih sangat muda aku harus kehilangan kedua orang tuaku, dan harus tinggal di panti asuhan. Aku menikah di usia yang sangat muda karena keadaan bukan karena aku ngeber ingin menikah


Keluarga Almarhum suamiku membenciku  dan tak mau menerima aku yang seorang yatim piatu dan miskin ini jadi bagian dari keluarga mereka" Qia menghela nafas panjang

__ADS_1


"almarhum suamiku yang harus bekerja banting tulang untuk menghidupiku setelah di usir oleh keluarganya lebih banyak di luar rumah ketimbang di rumah untuk menemaniku, wanita remaja yang sedang hamil" Qia menatap lekat wajah Nidya "pernah satu waktu orang tua almarhum suamiku datang padaku dan memaksaku untuk menjauhinya dengan cara meminum obat penggugur kandungan agar aku tak bisa mengikat suamiku lagi, apalagi saat itu aku dan almarhum suamiku belum mempunyai surat nikah karena aku yang masih di bawah umur" jelas Qia membuat Lucas dan Mommy Qiran membulatkan matanya lebar karena baru mendengar hal itu


"jangan bohongi aku, aku tahu kok kalau anak kamu sedang bersama keluarga ayahnya" sinis Nidya dengan nafas memburu karena masih merasa emosi Qia mencoba memahaminya


Qia tersenyum tipis ke arah Nidya "mungkin mba gak percaya karena memang tidak ada yang tahu masalah ini" kekeh Qia


"berarti kamu bohongin aku" sahut Nidya


"mba bisa periksa ke rumah sakit xxx yang ada di Bandung, pada tanggal ******* tepat saat malam hari jam 8 malam wanita muda yang sedang hamil berjalan tertatih masuk ke rumah sakit karena pendarahan hebat. Mba pasti bisa mencari tahu karena suami mba dengan mudah bisa mencari tahu hal itu semua untuk membuktikan apa aku berbohong atau tidak " balas Qia


Nidya menautkan alisnya "kalau memang benar kenapa kamu masih membiarkan anakmu bertemu dengan mereka" tanya Nidya


Qia kembali tersenyum ke arah Nidya "waktu itu aku memang sangat membenci perbuatan mereka, sebab aku hampir kehilangan anak yang masih berusia dua bulan dan perutku, dan anak yang aku kandung jelas adalah cucu mereka, aku berjuang keras untuk menyelematkan anakku, berlari dari kejaran kedua orang tua almarhum suamiku agar anakku bisa selamat, dan alhamdulilah allah masih membiarkan anakku hidup sampai sekarang dan perlu mba tahu kalau almarhum suamiku tidak pernah tahu hal ini sampai ia menghembuskan nafas terakhirnya" balas Qia


"dendam tidak akan membuat hati kita tenang mba, memang sih tidak semua orang yang di beri kesempatan bisa memanfaatkan kesempatan itu dengan baik, tapi kita kan bisa melihat apakah orang itu bisa berubah atau tidak dan aku melihat itu dari kakek dan Nenek Lala. Tanpa aku turun tangan, Allah sudah turun tangan untuk membalas sakit hatiku, mereka tidak bisa mendapatkan cucu lain, sebab istri dari kakak almarhum suamiku tidak bisa memberikan anak dan mereka tidak bisa mencarikan istri lain untuk kakak dari almarhum suamiku.


Dan kini mereka sangat segan padaku, dan selalu meminta izinku terlebih dahulu jika ingin bertemu dengan putriku itupun harus selalu dalam pengawasan mas Lucas


melihat perubahan itu dari waktu ke waktu pada diri mereka sudah cukup membuat aku bahagia melihat putriku bisa dekat dengan keluarga ayah kandungnya, hal yang selalu di harapkan ayah lala semasa hidupnya" jelas Qia


"apa kamu bahagia" tanya Nidya


"tentu aku bahagia mba, melihat kebahagiaan orang di sekitar kita tentu akan jauh lebih membahagiakan bukan, ketimbang mencari kepuasan yang semu" balas Qia

__ADS_1


Nidya menepuk dadanya "tapi rasanya masih sangat sakit setiap mengingat hal itu" ucap Nidya


Qia tersenyum simpul ke arah Nidya "saat sebelum mba pulang dan tahu mas Lucas sudah menikah, apa mba mengingat kejadian saat anak mba meninggal dulu" tanya Qia


"DEG" Nidya terhenyak sesaat


ia memandang Qia dengan wajah yang sulit di artikan "pasti mba tidak mengingatnya bukan" tebak Qia


"kenapa kamu berpikir seperti itu" tanya Niyda


"sebelum mba pulang, aku pernah beberapa kali bertemu dengan keluarga mba, dan bahkan aku pernah menemani mama mba untuk menilai kekasih adik mba yang ingin dekat dengan Raymond, sebab mba selalu bilang tidak mau pulang ke Indonesia jadi aku lah yang sering menemani beliau.


Dari situ tante Lensi cerita ke aku kalau mba itu sangat bahagia bersama keluarga kecil mba dan itulah yang menyebabkan tante gak menaruh sakit hati lagi pada mas Lucas" papar Qia


"kau kenal baik dengan mamaku" tanya Nidya tak percaya bahwa Qia kenal baik dengan mamanya


"tentu, bahkan Qia kenal baik dengan om Tara dan juga Raymond. Biar bagaimanapun suamiku pernah menggores luka di hati mba dan juga keluarga mba, walau itu bukan murni keinginannya tapi tetap saja suamiku yang melakukannya jadi sebisa mungkin aku ingin mengurangi sedikit luka itu. Tidak pada diri mba tapi pada keluarga mba, sebab sudah ada yang mengobati hati mba yaitu om Aiden. Om Aiden sangat mencintai mba dan kami semua tahu itu makanya kami gak pernah maksa om Aiden untuk hadir di acara keluarga kami yang nantinya itu akan melukai hati mba jika kembali bertemu dengan mas Lucas dan mengingat kembali cerita sedih itu" jelas Qia


Nidya baru tersadar bahwa dia sudah menjauhkan suaminya dari keluarga besarnya hanya karena trauma yang ia miliki "aku tidak pernah melarang kak Aiden untuk ketemu kalian" elak Nidya


"tidak secara langsung, tapi setiap Aiden membahas hal itu, kamu pasti menghindari dan dia orang yang sangat peka " sahut Mommy Qiran yang mendengar cerita dari Aiden kenapa ia jarang menemui dirinya dan juga keluarga lainnya


"apa aku sekejam itu" tanya Nidya dengan mata yang sudah berkaca-kaca

__ADS_1


"kamu yang lebih tahu dari kami" balas mommy Qiran


__ADS_2