
tara terus memencet pintu lift yang tak terbuka dan itu sangat membuatnya panik "sial" umpat tara
tara berlari ke arah tangga darurat,
tara berlari sekuat tenaga dari lantai 27 menuju lantai dasar.
gila mungkin jika tara berlari menuruni tangga sebanyak itu, tapi pikirannya benar-benar tertuju pada istrinya, pasti pikiran istrinya sedang kalut saat melihat tara berbicara dengan pramudia tadi
"jangan sampai ada apa-apa denganmu" doa terus terpanjat dari bibir tara yang tak ingin sampai lensi kenapa-napa ataupun bersedih
kondisi kehamilan lensi kali ini membuatnya tidak di perbolehkan banyak pikiran, dan juga stres tapi apa ini jika lensi harus di hadapkan dengan suaminya yang sedang memeluk seseorang yang ia cintai selama bertahun-tahun jauh sebelum mereka menikah ataupun bertemu
tara berlari dengan nafas tersengal-sengal sampai lobi dan tidak mendapati istrinya ada di sana
pikirannya benar-benar kacau mencari keberadaan istrinya yang entah di mana
"tuan" panggil juan yang sudah sampai dari tadi karena naik lift tidak seperti tara yang turun melalui tangga
"nyonya di bawa ke rumah sakit, karena pingsan dan mengalami pendarahan tadi" ucap juan menceritakan gak yang ia tahu tentang kondisi lensi
seolah sudah di tampar sekali yang rasa sakitnya masih belum hilang, tara di tampar kembali dengan bertubi-tubi saat mendengar istrinya pingsan dan mengalami pendarahan "ayo tuan ke rumah sakit sekarang" ajak juan membuyarkan lamunan tara
juan mengendarai mobilnya dengan begitu cepat, sudah seperti pembalap liar saking kasihan melihat wajah tara yang begitu panik dengan kondisi lensi yang masih belum jelas
sesampainya di rumah sakit, tara langsung mencari keberadaan istrinya tanpa bertanya di mana lensi di rawat, mungkin otaknya sedang korslet gara-gara saking terkejutnya tapi beruntung juan menyelamatkan tara dari kemandekan otaknya itu "tuan sebelah sini" juan menarik tara menuju ruangan lensi yang sedang di tangani oleh dokter
__ADS_1
tara menghampiri mika yang sedang berdiri dengan cemas di depan ruang operasi dengan berjalan bolak-balik seperti mesin setrika "gimana bisa kakakmu masuk rumah sakit" tanya tara yang sedang panik dengan kondisi lensi
mika menatap tajam tara "harusnya aku yang nanya sama kakak, kenapa kak lensi langsung histeris habis dari ruangan kakak, dan gara-gara kak lensi yang terus histeris, dia sampai mengalami pendarahan" balas mika menyalahkan kakaknya karena saat baru dari ruangan tara, lensi langsung berteriak histeris
tara jatuh terduduk dan menangkup wajahnya, ia begitu menyesali kondisi ini, bukan ini yang ia inginkan, bukan seperti ini teriak batin tara menyayangkan keadaan yang berada di luar kendali
operasi berjalan selama 6 jam dan dokter keluar dengan wajah lesunya "keluarga pasien lensi wiratama" seru dokter memanggil keluarga pasien
tara bergegas berlari ke arah dokter "saya suaminya dok" ucap tara
dokter itu menghela nafas panjang "tadi karena keadaan urgen saya meminta tanda tangan adik anda sebagai wali untuk operasi nona lensi. keadaan nyonya lensi kurang baik saat di bawa ke rumah sakit dan karena pendarahan yang cukup parah anak anda harus lahir prematur dan harus di masukan ke ruang inkubator sedangkan nyonya lensi sekarang dalam kondisi koma" jelas dokter menepuk pelan bahu tara setelah menjelaskan kondisi lensi dan juga anaknya
tara kembali jatuh terduduk mendapati keadaan istrinya yang di nyatakan koma " ya tuhan" tara menangkup wajahnya menangis dalam-dalam mendengar keadaan anak dan istrinya
***
tara duduk terdiam melihat banyaknya alat yang terpasang di tubuh lensi sebagai penujang kehidupannya "bangun sayang, jangan siksa mas sekejam ini" ucap tara dengan suara lirih
semalaman tara melihat lensi yang masih betah tertidur, bahkan untuk melihat kondisi anaknya saja tara seakan tak sempat, beruntung kedua adik tara bisa menghandle dalam mengurusi anak tara dan lensi yang masih harus menjalani perawatan itensif
"ceklek" terdengar suara pintu di buka
kassy berjalan ke arah tara dengan memakai pakaian steril "kakak istirahat dan makan dulu ya, jangan seperti ini" ucap kassy menasehati kakaknya agar makan atau sekedar membersihkan diri
"bagaimana bisa kakak makan sedang istri kakak masih betah tertidur di sini" tara berucap tanpa mengalihkan pandangannya dari lensi yang masih tertidur
__ADS_1
"kakak jangan kaya gini, anak kakak juga butuh kakak" balas kassy yang sudah tak kuasa menahan tangisnya melihat kakaknya yang begitu hancur melihat kondisi lensi yang sedang terbaring koma setelah mengalami pendarahan hebat
"kakak juga butuh istri kakak" balas tara dengan tatapan kosong
kassy memilih keluar ruangan karena tak sanggup melihat kondisi kakaknya yang begitu memprihatinkan
"gimana" tanya revandra yang sudah sampai di Indonesia setelah mendapat kabar lensi mengalami pendarahan dan harus di operasi untuk menyelamatkan nyawa anak dalam kandungannya
kassy menggelengkan kepalanya "kak tara masih belum mau gerak yah" balas kassy
revandra duduk di kursi tunggu dengan tatapan lelah dan kecewa juga sedih yang bercampur aduk jadi satu "biarkan saja dia sampai pingsan di sana" revandra sudah mulai kesal dengan tingkah tara anaknya
"aku kasihan sama kak tara yah" ucap kassy
"biarin saja dia, ini gak ada apa-apanya di banding sakit hati lensi saat melihat suaminya berpelukan dengan orang di masa lalu suaminya" revandra tentu tahu tentang pramudia yang menemui tara karena revandra selalu mengawasi gerak-gerik pramudia
revandra melakukan itu hanya untuk antisipasi saat pramudia mungkin akan melanggar aturan yang sudah ia buat maka perjanjiannya akan batal agar tidak mengurusi hubungan tara dan pramudia
"terus gimana yah, anak kak tara kan sudah lahir apa ayah akan setuju dengan hubungan mereka " tanya kassy
"tentu tidak, karena dia sudah melanggar perjanjian yang sudah kita buat hitam di atas putih yang mengatakan tidak boleh ada pertemuan sebelum kedua anak mereka lahir dan dia datang membuat menantuku celaka" balas revandra dengan tegas menolak setuju hubungan tara dan pramudia
pramudia mendengar kabar istri tara yang sedang dalam kondisi koma karena pendarahan hebat setelah datang ke kantor tara saat dia ada di sana menemui tara "bukan seperti ini yang aku inginkan" pramudia menyesali pertemuannya dengan tara berakhir seperti ini, sungguh ia tak pernah membayangkan akan menyakiti istri tara sampai seperti ini dan membuat anak tara yang lahir prematur harus mendapat pengawasan penuh dari petugas medis
pramudia diam dalam diam menatap atap rumahnya membayangkan apa yang akan terjadi ke depannya "apa yan harus aku lakukan" gumam pramudia meraup wajahnya dengan kasar
__ADS_1