
Zahira terus memandangi Mila yang masih terdiam. ingin rasanya ia bertanya perihal kejadian tadi di rumah Sari tapi mulutnya seakan kelu, dan tak sanggup bicara
"sebenarnya apa yang terjadi Mila" batin Zahira bertanya-tanya akan masalah Mila
Zahira memang pernah mendengar cerita kelam orang tua Mila dari mulut Mika sendiri
"ayah dan mamahku hanya menikah di atas kertas saja, selain itu mereka bagai orang asing. sayangnya aku benar-benar anak kandung mereka saja" cerita itu yang selalu Zahira ingat dari Mila
lama Zahira dan Mila berdiam diri sampai tak terasa mereka sudah sampai di depan rumah orang tua Zahira
"sudah sampai nona" ucap sopir Mila menyadarkan Zahira dan Mila dari lamunannya
"ah" Mila menoleh ke arah Zahira "aku langsung pulang ya Zahira" ucap Mila
"kita harus bicara terlebih dahulu" pinta Zahira dengan nada serius
Mila menghela nafas panjang "baiklah" Mila memutuskan ikut turun agar bisa bercerita pada Zahira
Zahira membawa Mila ke kamar tamu agar lebih leluasa bicara. ia tidak memilih kamarnya sebab takut pembicaraannya berjalan cukup lama dan itu akan mengganggu kenyamanan suaminya saat pulang
Zahira mengajak Mila duduk di tepi ranjang "bisa kita mulai " tanya Zahira
Mila menatap sendu ke arah Zahira "seperti yang pernah aku bilang padamu kalau pernikahan kedua orang tuaku adalah pernikahan di atas kertas, rekan kerja tidak lebih" ucap Mila membuka obrolan
rasanya begitu sakit saat ia ingin mulai bercerita tapi tetap harus ia lakukan karena secara tidak langsung Zahira terlibat ke dalamnya walaupun ia tak berniat melibatkannya ke dalam masalah ini "suami mba Sari, lebih tepatnya Jordan Aryasatya adalah cinta pertama mamahku tapi takdir membawa keduanya tak bisa bersama dalam satu ikatan pernikahan yang aku sendiri tidak tahu jelas karena apa
dulu ayahku menikahi mamah karena di jodohkan dan tak lama mendapatkan aku sebagai anak. mereka tidak pernah bertengkar sih dan terbilang kompak lebih tepatnya kompak dalam bekerja. Mereka rekan bisnis yang begitu solid
tapi itu berbanding terbalik dengan pernikahan mereka, mereka tidak pernah tidur sekamar sepanjang ingatanku
awalnya aku pikir itu hal biasa, sampai aku mulai beranjak remaja dan mulai paham apa yang terjadi dengan orang tuaku di tambah dengan mas Jordan yang sering datang ke rumahku sejak aku kecil, hal itu menambah keyakinanku bahwa pernikahan ayah dan mamahku tidak baik-baik saja" ungkap Mila
"ayahmu gak marah saat Pria itu datang" tanya Zahira
"tidak, karena terkadang kekasih ayahku sekaligus sekretarisnya juga sering datang ke rumah " balas Mila
"apa mereka... " tanya Zahira menggantung
"kalau kamu pikir mereka akan bertukar keringat di atas ranjang saat di rumah, jawabannya tidak. Setidaknya yang aku salut dari mereka, mereka bisa menghargai kehadiranku walaupun mungkin mereka sadar aku sudah tahu hal itu. Mereka akan menjaga prilakunya saat di depanku dan bersikap manis padaku di depan atau di belakang ayah dan mamahku" balas Mila
__ADS_1
"lalu kenapa mereka tidak memilih bercerai saja dan menikah dengan pasangan masing-masing" tanya Zahira
Mila mengedikkan bahunya "entahlah, aku tidak tahu cara berpikir otak mereka " balas Mila dengan santai
Zahira memeluk Mila "aku pikir kehidupanku sudah cukup menyakitkan ternyata ada yang lebih dariku" ucap Zahira ikut bersimpati dengan kehidupan Mila
"aku gak masalah Zahira, aku bisa kok buktinya aku baik-baik saja" balas Mila
***
Mila kini duduk di meja makan bersama keluarga Zahira "gak papa kan yah kalau Zahira ajak teman Zahira makan di sini, kasihan dia makan sendirian di rumah" ucap Zahira pada saat makan malam
"gak papa kok, dia kan teman kamu. ini kan rumah kamu juga jadi kamu punya hak buat bawa teman kamu kemari" balas Ayah Arman
"Terima kasih om" balas Mila
"Sama-sama" balas Ayah Arman dengan senyum tipisnya membuat Mila hilang fokus
"oh ya Zahira, suami kamu belum pulang padahal aku mau kenalan loh" tanya Mila mengalihkan perhatiannya
"katanya ada klien dari luar yang datang jadi mas Reagen nemenin sampai ke hotel nanti katanya" balas Zahira
"katanya sih laki-laki, bareng sama kak lucas juga kok yah" balas Zahira
"oh" Ayah arman kembali melanjutkan makan malamnya bersama dengan yang lain di selingi obrolan ringan di antara ketiga wanita, yaitu Zahira, Mila dan nenek larasati sedangkan Ayah Arman hanya mendengarkan saja
setelah makan mereka berempat lanjut mengobrol di ruang keluarga sambil memakan buah potong
"sudah malam ini Zahira, aku pulang dulu ya" pamit Mila
"loh ini sudah malam loh, mending kamu nginep saja. sopir kamu sudah pulang kan" sahut Zahira yang khawatir dengan Mila jika pulang sendirian malam-malam
"gak papa lah aku bisa kok pulang sendiri" balas Mika menenangkan
"coba kalau mas Reagen sudah pulang aku bisa minta anter dia tapi dia belum pulang sih" sahut Zahira
"udah gak masalah" Mila beranjak dari duduknya berniat pamit pulang
"lebih baik, saya yang antar kamu pulang, gak baik anak gadis pulang sendiri, mobil kamu biar di bawa Zahira besok ke kampus. Besok kalian ngampus kan" tawar Ayah Arman
__ADS_1
"bagus itu yah" Zahira jadi semangat sendiri saat ayahnya mau mengantar Mila
"sudah Mila di antar ayah aja, besok biar mobil kamu aku yang bawa ke kampus, kan biasanya aku di jemput mas Reagen kalau pulang" ucap Zahira
"gimana ya" Mila nampak ragu menerima atau tidak tawaran ayah Zahira
"sudah ah, biar aku tenang" Zahira menarik tangan Mila di ikuti ayah Arman yang mengekor di belakangnya
ayah Arman mengajak Mila masuk mobilnya dan mereka pun bergegas pulang agar tidak makin kemalaman
"rumahmu di mana" tanya ayah Arman
"di jalan **** om" balas Mila
"kamu tinggal di lingkungan elit" tanya Ayah Arman yang tahu kalau lingkungan rumah Mila adalah lingkungan orang kaya
"aku gak pernah merhatiin om, aku jarang keluar rumah soalnya" balas Mila
"ehmm" ayah Arman hanya berdehem
"tadi kamu ikut nemenin Zahira ya" tanya ayah Arman dengan hati-hati
"iya om" Mila menoleh ke arah Ayah arman yang sedang fokus menyetir "aku bukan orang yang suka ikut campur urusan pribadi orang lain, jadi jangan khawatir om" Mila menegaskan pada ayah Arman bahwa dia bukan orang yang suka ikut campur urusan orang lain ataupun menilai kehidupan pribadi krang lain
"ngomong-ngomong ayahmu gak. marah nih, kamu pulang jam segini " tanya ayah Arman sat melirik jam tangannya sudah menunjukan pukul 10 lewat, sebab memang tadi mereka keluar rumah sudah hampir jam 19 malam
"ayah jarang di rumah om, ini aja gak tahu apa di rumah atau gak" balas Mila dengan jujur
"oh" balas Ayah Arman
menempuh perjalanan selama 35 menit akhirnya ayah Arman dan Mila sampai di kediaman mewah milik Mila
"ceklek" Ayah Arman melepaskan sabuk pengamannya
"loh om mau ikut turun" tanya Mila
"iya lah, om mau antar kamu sampai depan rumah kalau ada orang tua kamu biar om bisa sampaikan kenapa kamu telat pulang kalau tidak ada ya sudah om balik pulang langsung setelah kamu rumah" balas ayah Arman
"iya om" Mila berjalan berdampingan bersama ayah Arman sambil mengobrol ringan
__ADS_1
"mamah! " teriak Mila saat melihat ada mamahnya di dalam rumah tengah berpelukan dengan seorang pria, pria yang bukan ayahnya