
Edeline masih membaca pamflet sembari menunggu kedatangan Jonathan untuk menjemputnya "mau ikut tidak ya" gumam Edeline terus melihat pamflet di tangannya sambil menopang dagunya dengan sebelah tangannya
"Hei" sapa seseorang
Edeline mendongakan kepalanya dan menengok ke sekitar "kau bertanya padaku " Edeline menunjuk dirinya saat ada pria yang menatapnya dan tidak ada orang di sekitarnya
"iya lah, siapa lagi" pria itu duduk di bangku yang ada di dekat Edeline
dengan refleks Edeline menjauh dari pria itu sebab dirinya sama sekali tak mengenal pria yang tiba-tiba sok dekat dengannya membuatnya tak nyaman saja
"kamu mahasiswa baru ya" tanya pria itu
"hmm" balas Edeline dengan singkat
pada saat seperti ini ia ingat betul peringatan mommy nya untuk menjaga jarak dari orang yang belum pernah ia kenal dan tiba-tiba mendekat
"namaku Damian, kamu..." pria yang menyebut dririnya Damian menadahkan tangannya ingin mengajak Edeline berkenalan
Edeline hanya tersenyum menangggapi, tak ingin menjabat tangan Damian sama sekali, sebab ia meras tidak perlu menerima perkenalan seseorang yang di awal saja membuatnya tidak nyaman
Damian menepuk tangannya karena tak di hiraukan Edeline "Aku Damian anak Jurusan Hukum, kalau kamu tidak mau menyebut namaku, nanti aku juga tahu siapa namamu karena kita kan sekampus" tukas Damian dengan percaya dirinya
"kamu nunggu di jemput ya, atau mau aki antar pulang agar kita lebih kenal" tanya Damian
"aku menunggu jemputan" balas Edeline
"siapa yang jemput, ayah, kakak, pacar atau sopir" tanya Damian begitu lengkap memberikan option pilihan
Edeline memaksakan senyumnya "suamiku yang jemput" balas Edeline
"hahahahahaha" Damian langsung tertawa saat Edeline mengatakan kalau Edeline menunggu suaminya
Edeline mengerutkan keningnya saat Damian tertawa begitu lantang "suami" Damian merasa tidak percaya dan menoleh ke arah Edeline sembari menatap lurus ke arah Edeline "kalau kamu sudah menikah akan ku tunggu Jandamu" kekeh Damian merasa Edeline membohonginya hanya untuk menghindarinya
"siapa juga yang mau cerai" Edeline beranjak dari duduknya meras tidak nyaman dengan keberadaan Damian
__ADS_1
"tunggu" Damian menahan tangan Edeline
Edeline langsung memelintir tangan Damian dan memitingnya "lancang sekalu kau menyentuhku!" Edeline paling tidak suka ada yang menyentuh tangannya tanpa seizinnya apalagi ini orang yang baru ia tahu dan ia tolak ajakannya untuk berkenalan
"aduh!" Damian merintih kesakitan saat tangannya di piting "maafkan aku, tolong lepaskan" pinta Damian dengan nada memohon dan Edeline langsung membuang tangan Damian dengan kasar
"tin tin tin" terdengar suara bunyi klakson dan Edeline tahu siapa pemilik mobil yang ada di dekatnya itu "hai sayang" Edeline melambaikan tangannya saat Jonathan membuka jendela mobilnya
"suamiku sudah datang" gumam Edeline agar masih bisa di dengar oleh Damian
Edeline berlari kecil menghampiri Jonathan "hati-hati edeline" ucap jonathan memperingati Edeline agar berhati-hati saat berlari
Damian menoleh ke arah Edeline dan tersenyum simpul "ayahnya di bilang suami" kekeh Damian meras kalau Jonathan adalah Ayahnya dan bukan suami Edeline "menarik" Damian tersenyum smirk kala melihat mobil yang di naiki Edeline makin menjauh dan menghilang
"kamu pasti bertekuk lutut di denganku nanti" gumam Damian begitu percaya dirinya
sedang di tempat lain ada seseorang yang terlihat kesal akan kejadian yang baru menimpanya tadi "ada apa Edeline" tanya Jonathan
"tadi loh om ada yang ngeselin, berani pegang-pegang tangan aku" Edeline menujuk tangan yang sempat di pegang oleh Damian
"siapa yang berani megang tangan kamu, biar om patahin tangannya" Jonathan tentu kesal dengan orang yang berani memegang tangan istrinya
Jonathan menghela nafas kasar "kalau sampai dia ganggu kamu lagi bilang sama om ya" Jonathan mengusap kepala Edeline dengan lembut
"iya om" balas Edeline
"nanti abis om antar pulang, om balik ke kantor lagi ya Edeline soalnya masih ada kerjaan yang belum selesai" ucap Jonathan
"iya om, kerja aja" balas Edeline
Jonathan melirik ke arah tangan Edeline yang meremas sebuah kertas "apa itu Edeline" tanya Jonathan
Edeline mengangkat tangannya "oh ini" Edeline meletakannya di dasbord "itu pamflet pembukaan perlombaan desain arsitek, dosenku tadi kasih ini soalnya di memo pemindahan kuliahku ada bawaan prestasi Edeline yang pernah mengikuti beberapa perlombaan serupa" jelas Edeline
"terus kamu mau ikut" tanya Jonathan
__ADS_1
"entahlah, lagi malas ikut tapi juga tertarik sedikit" Edeline nampak bingung apakah aka ikut atau tidak
"jangan di ambil pusing Edeline, mau ikut atau tidak buat keputusan yang nayman buat kamu saja" ucap Jonathan
"iya om" Edeline mengiyakan saja apa yang di ucapkan jonathan padanya
setelah mengantar Edeline pulang ke rumah, Jonathan segera kembali ke kantornya sebab masih banyak pekerjaan yang tertunda tadi
saat Jonathan kembali ke perusahaan sepanjang perjalanan, orang-orang memberi hormat pada jonathan yang memiliki kekuasan tertinggi setelah Lucas di perusahaan keluarga besar Prabaswara Group
Jonathan berjalan ke arah ruangannya yang berada tepat satu lantai di bawah ruangan Lucas "maaf tuan" sekertaris Jonathan bernama Lusi memanggil Jonathan
Jonathan menoleh ke arah Lusi "ada apa lusi" tanya Jonathan
"ada nyonya besar tuan" balas Lusi
"oh baiklah, terima kasih" Jonathan membuka pintu ruangannya dan sudah ada Mommy Qiran di sana
"nyonya di sini" tanya Jonathan saat mendapati Mommy Qiran duduk di sofa dalam ruangannya
"iya, aku datang" Mommy Qiran melirik ke arah sofa di hadapannya sebagai tanda agar Jonathan duduk
Jonathan duduk di hadapan mommy Qiran "kamu dari mana" tanya Mommy Qiran
"bukannya Lusi sudah memberi tahu, tadi saya memberitahu kalau akan menjemput istri saya dari kampusnya" balas Jonathan dengan santainya
Mommy Qiran mendengus kesal saat jonathan mengatakan kata 'istri' "aku masih belum rela kalau Edeline jadi istrimu Jo" tukas Mommy Qiran langsung pada intinya
Jonathan mengedikan bahunya "tapi nyatanya Edeline, istri sah saya nyonya dan saya menikah juga atas perintah tuan" balas Jonathan
"Cih" Mommy Qiran berdecih kesal akan ucapan jonathan yang tidak nampak takut-takutnya sama sekali
"sebentar lagi adalah jamuan makan malam untuk perayaan ulang tahunku, aku ingin kamu membawanya ke rumah" ucap Momy Qiran langsung emngucapkan apa yang di inginkannya
"baik" balas Jo tanpa banyak berpikir
__ADS_1
Mommy Qiran menghela nafas lelah "apa Edeline baik-baik saja, apa dia bahagia" tanya Mommy Qiran ingin tahu keadaan putri tercintanya
"kalau di tanya baik, tentu dia baik-baik saja karena aku tidak setega itu membuatnya menderita nyonya tapi kalau di tanya bahagia atau tidak, nanti tanyakan langsung saja saat bertemu karena bahagia atau tidak bahagia, dia lebih tahu hal itu" balas Jonathan tidak ingin sok tahu akan apa yang di rasakan oleh Edeline