You Are My Regret

You Are My Regret
Patah Hati Sebelum memulai


__ADS_3

Kenyataan yang barusan saja ia dengar entah mengapa begitu mengusik hatinya "hamil, Edeline hamil" gumam Reagen berteriak prustasi saat ia mulai sedikit ada rasa untuk Edeline dan mencoba meraihnya tapi malah ia telat


"kenapa bisa seperti ini" Reagen memukul-mukul pagar balkon apartemennya sebab saking kesalnya saat ia sudah menurunkan harga dirinya untuk bicara pada orang tua Edeline tapi nyatanya malah ia harus di kejutkan dengan kabar kehamilan Edeline


"aku gak rela" teriak Reagen meluapkan emosinya saat ia harus patah hati untuk pertama kalinya sebelum ia mulai berusaha untuk meraihnya


Reagen mencengkeram dadanya kuat-kuat "kenapa rasanya sakit sekali saat tahu kamu hamil anak pria itu " Reagen merasakan sakit untuk pertama kali. Sakit hati akibat kehilangan sesuatu yang ingin di raihnya


Reagen menjatuhkan tubuhnya ke lantai dengan lesu "aku harus apa? apa! " teriak Reagen kembali


Reagen merutuki dirinya yang menyesal kehilangan wanita yang ada di hatinya, mungkin Edeline sudah lama singgah di hatinya Tapi mungkin karena ego tingginya, Reagen berusaha keras menampiknya di tambah sikap Edeline yang semaunya sendiri saat meminta dia menjauhi Ara, wanita yang menjadi adiknya selama 20 tahun ini


***


pagi-pagi Nidya sudah sangat sibuk di dapur untuk menyiapkan sarapan. Sarapan untuk keluarga suaminya yang baru kali ini ia siapkan sendiri, sebab saat ia pulang langsung di sibukkan dengan acara jamuan ulang tahun mama mertuanya


"sayang" Lucas sedang mencari keberadaan istrinya yang sudah tidak ada di sampingnya sejak ia membuka mata


"aku di sini mas" teriak Nidya agar Lucas tahu posisinya


mendengar di mana suara istrinya, Lucas langsung saja menghampiri sangat istri "kok kamu gak ada saat mas bangun sih" Lucas mencebikkan bibirnya kesal karena saat pertama ia bangun malah mendapati guling di dalam pelukannya dan bukannya Nidya


"ya kan Nidya mau nyiapin sarapan mas" Nidya masih menyibukkan dirinya membolak-balik sayur yang ia masak


"kan sudah ada pelayanan di rumah ini biar mereka lah yang masak" kesal Lucas


Nidya berdecak akan kelakuan manja suaminya " untuk lainnya boleh saja pelayanan yang mengerjakan mas, tapi untuk perut dan tubuh suamiku hanya aku yang boleh mengurusnya " tukas Nidya

__ADS_1


pipi Lucas langsung bersemu merah tatkala Nidya mengatakan hanya Nidya yang boleh mengurusnya " tapi mas maunya kamu ada di samping mas terus, dan ada saat mas membuka mata" protes Lucas


Nidya tersenyum ke arah Lucas, dan menoleh ke arah belakang "ini sudah hampir matang, dan sudah saya cicipi tinggal di rapih kan di piring ya bik. Saya mau urus bayi besar saya dulu" tukas Nidya mengarahkan satu pekerjaan pada para pelayan


Nidya melepas apronnya dan menghampiri Lucas tak lupa ia lingkar kan tangannya di lengan Lucas dan menarik Lucas menjauh "ayo mandi dulu mas" ajak Nidya


"ayok" Lucas langsung semangat mendengar ajakan mandi membuat Nidya hanya menggelengkan kepalanya melihat kelakuan mesum suaminya yang ia tahu betul seperti apa


sebagai seorang istri, Nidya hanya bisa menuruti saja keingin Lucas, toh Lucas suaminya jadi Lucas berhak penuh atas dirinya dan wajib untuknya melayani segala yang di butuhkan sangat suami


Lucas bercermin di depan cermin besar dalam kamarnya "sini mas, dasinya" Nidya mengambil alih dasi yang di pegang suaminya


Nidya naik ke kursi kecil yang ada dalam kamarnya dan menaikinya sambil memasang dasi untuk Lucas "kamu ada saja sih sayang idenya" Lucas melirik ke arah kursi kecil berwarna abu-abu yang sengaja Nidya beli saat tinggah di mall


awalnya Lucas bingung untuk apa kursi kecil seperti itu Nidya beli sebab ukuran kursi itu, tingginya hanya mencapai 30 cm saja, kali ini baru ia tahu maksud Nidya membelinya setelah Nidya memakai kursi kecil itu di hadapannya


"sudah tampan dan rapih" Nidya mengecup bibir suaminya dengan lembut


"oh ya sayang, Lucas melingkatkan tangannya di pinggang Nidya "masih mau kerja di perusahaan ayah" tanya Lucas


"masih lah mas, kasihan ayah sendirian, nanti kalau raymond sudah agak besaran dan sudah terjun ke perusahaan, Nidya bakalan berhenti dan fokus urus mas sama anak-anak kita kok" balas Nidya


mendengar kata anak, pipi Lucas langsung merona merah "mas gak maksa kamu berhenti kok sayang, mas cuma gak mau kamu terlalu capek saja" jelas Lucas


"iya Nidya tahu itu" balas Nidya dengan senyuman


"ya sudah, yuk turun" ajak Lucas menggandeng tangan Nidya dengan lembut

__ADS_1


Nidya dan Lucas berjalan ke arah ruang makan di mana sudah ada kedua orang tua Lucas


"pagi mom, dad" sapa Nidya pada sang mertua


"pagi Nidya" balas mommy Qiran dan Daddy Jay bersamaan


"maafin mommy gak bantu kamu masak ya Nidya, mommy tadi kesiangan" ucap mommy Qiran yang tak enak pada Nidya


"gak papa mom, toh yang bantu Nidya di dapur juga banyak orang " tukas Nidya


"oh ya Nidya" panggil Daddy Jay


"nanti sepulang kamu ngantor bisa mampir ke rumah Edeline" tanya Daddy Jay


"tentu bisa Dad, emang ada apa dad kok minta Nidya mampir sana" tanya Nidya


"kasihin vitamin sama suplemen yang sudah Daddy siapin" daddy Jay melirik ke arah boks sedang yang ada di ujung meja makan


Nidya melirik ke arah pandangan mata Daddy Jay "iya dad, gampang itu" balas Nidya


mommy Qiran menatap sinis ke arah Daddy Jay "kenapa gak suruh mommy saja" tanya mommy Qiran dengan ketus


"karena Daddy tahu, mommy masih ingin meminta Edeline pisah sama jo" Daddy Jay meletakan sendoknya di samping piringnya "dan Daddy gak mau ya kalau ada apa-apa sama calon cucu daddy karena mommy yang gak bisa kontrol emosi" jelas Daddy Jay


mommy Qiran begitu kesal mendengar suaminya yang malah mencurigai dirinya "mommy gak mungkin akan celakain Edeline dad" protes mommy Qiran


"Daddy kenal kamu bertahun-tahun mom, jadi Daddy tahu bagaimana emosi mommy yang suka meluap-luap. Daddy juga tahu kalau mommy gak mungkin akan celakain Edeline tapi jangan lupa juga kalau Edeline sedang hamil dan gak boleh stress ataupun kelelahan" jelas daddy Jay panjang lebar

__ADS_1


mommy Qiran hanya bisa membanting sendoknya dengan kesal sebab ia memang tak akan bisa melawan suaminya itu


__ADS_2