
"eh calon mantu mamah datang" celetuk nenek Larasati dengan heboh saat wanita yang di yakini akan jadi menantunya datang ke rumah
"nenek jangan kaya gitu dong, Mila kan jadi gugup" tegur Zahira pada neneknya saat datang
semenjak Mila mengatakan Ayah arman adalah kekasihnya di depan mamah dari Mila, dengan terpaksa hubungan Ayah Arman dan Mila terjalin
bukan paksaan atau perjanjian di antara keduanya tapi lebih ke bantuan Ayah Arman untuk Mila agar tidak di tuduh hamil oleh orang tua dari Mila karena memilih berpacaran dengan pria yang lebih tua dari Mila
Alhasil saat pertemuan pertama Ayah Arman dengan Listya, mamah dari Mila itu, Ayah Arman mengatakan kalau Mila adalah calon istrinya dan Ayah Arman akan menikahi Mila setelah Mila lulus kuliah
beruntung Mila masihlah semester satu jadi selesai kuliah tentu masih lama jadi mereka berdua masih aman, dan tidak akan di tuntut menikah
tapi Sialnya, kesepakatan itu di ketahui Zahira saat Zahira berkunjung ke rumah Mila dan berkenalan dengan mamah Listya untuk pertama kalinya. Dari obrolan mama Listya, Zahira jadi tahu tentang Ayah Arman yang mengatakan kalau Mila adalah calon istrinya saat Ayah Arman mengantar Mila
awalnya Mila pikir Zahira akan marah besar padanya tapi apa yang ada di pikirannya itu ternyata salah, Zahira begitu antusias Mila jadi ibu sambungnya walaupun jarak usia Zahira dan Mila hanya beberapa bukan saja
Zahira yang begitu antusias ayahnya menikah dengan Mila langsung saja memberitahu nenek Larasati dan nenek Larasati pun begitu semangat saat tahu hal itu
dan pada sampai di hari ini, Mila datang atas permintaan Nenek Larasati melalui Zahira. Di awal tentu Mila menolak karena akan canggung rasanya apalagi sekarang ia dan Zahira sedang fokus menjalani UAS
tapi lagi-lagi karena desakan nenek Larasati yang ingin mengonfirmasi secara langsung kebenaran itu, Ayah Arman di minta untuk menjemput Mila ke kampus bersamaan menjemput Zahira dari kampus
"ayok mila sini" ajak Nenek Larasati untuk duduk di sofa
"gimana ceritanya kamu setuju menikah sama anak mamah" saking antusiasnya nenek Larasati sudah membahasakan Mila untuk memanggilnya mamah
"Mila gugup itu mah, nanti kalau Mila kabur gimana? kan kita menikah ya masih nunggu Mila lulus kuliah" tegur Ayah Arman akan sikap nenek Larasati
"maaf Mila, mamah saking semangatnya" ucap Nenek Larasati
"biar Arman yang cerita saja" Ayah Arman pun memulai versi ceritanya dan Mika mendengarkan saja
Mereka memutuskan menikah karena Mila yang di jodohkan dengan orang lain, tapi Mila menolak dan kebetulan Ayah Arman ada di sana dan membantu Mila untuk menolak perjodohan yang sudah di siapkan, alhasil Mila mengatakan lebih baik menikah dengan Ayah arman dan Ayah Arman menyetujuinya saja toh gak ada salahnya menerima wanita cantik sebagai calon istrinya
"jadi kalian gak pacaran " tanya nenek Larasati dengan lesu
__ADS_1
"enggak lah mah, kita juga baru kenal masa langsung ngajak pacaran hari itu juga" balas Ayah Arman
"terus kalian jadi nikah enggak nanti" terlihat sekali wajah murung nenek Larasati dan hal itu tentu membuat Mila tak tega
Mila menggenggam tangan Nenek Larasati "kami serius kok mah" Mila mulai memanggil nenek Larasati dengan panggilan 'Mamah' agar nenek Larasati lebih tenang
"kalau jodoh pasti kami menikah, tapi kembali lagi kalau jodoh itu Tuhan yang mengatur jadi kita serahkan saja kepada Tuhan apakah kita bisa menikah atau tidak" balas Mila
"aku doakan kamu jadi ibuku" celetuk Zahira dengan semangat
"amiin" sahut nenek Larasati dengan cepat
Mila menoleh ke arah Zahira "ang kamu gak masalah kalau aku menikah sama Ayah kamu nanti" tanya Mila dengan hati-hati
"enggak, mengenal kamu selama setengah tahun ini membuat aku tahu betul karakter kamu, kamu adalah orang baik dan pasti kamu bisa jadi istri yang baik untuk ayahku" balas Zahira dengan yakinnya
"ya sudah mah, aku harus balik ke kantor lagi masih banyak kerjaan jadi sekalian aku antar Mila pulang ya" ucap Ayah Arman
"ya sudah, antar calon mantu mamah selamat sampai rumah ya" balas Nenek Larasati
"mau sekalian Ayah antar pulang" tanya Ayah Arman
"engga usah yah, Zahira masih mau ngobrol sama nenek, lagian nanti mas Reagen jemput Zahira " tolak Zahira
"ya sudah, Arman antar Mila dulu ya mah" pamit Ayah Arman
Mika berpamitan dengan nenek Larasati dan Zahira lalu berjalan beriringan dengan Ayah Arman untuk masuk dengan mobil
Ayah arman hanya diam saja sepanjang perjalanan membuat Mila menjadi kurang nyaman "maaf ya om" ucap Mila membuka obrolan
Ayah Arman menepikan mobilnya di pinggir jalan dan menatap wajah Mila yang diam menunduk "kenapa harus om" tanya Ayah Arman membuat Mila mendongak
"kenapa kamu melibatkan om dalam hubungan rumit kedua orang tuamu, padahal jelas kamu tahu hubungan seperti apa yang om jalani dengan pria yang bersama mamah kamu malam itu" tanya Ayah Arman
"itu.. itu... " Mila bingung harus berkata apa
__ADS_1
"sudahlah" Ayah arman jadi tak tega melihat kegugupan Mila
"kita jalani saja seperti ini, dengan hubungan ini juga bisa membantu om untuk menghindari Sari jadi cukup jalani saja. Toh pada saat kamu menemukan pria yang cocok atau saat kamu selesai kuliah hubungan ini akan berakhir" ucap Ayah arman
"iya om" Mila mengiyakan saja walaupun rasanya begitu sakit saat Ayah arman mengatakan kalau setelah lulus kuliah hubungan di mata orang ini akan berakhir sendirinya, dan itu entah karena apa
Ayah Arman melakukan mobilnya kembali "apa Jordan sering datang" tanya Ayah Arman
Mila mengangguk "iya, sering saat ada mamah di rumah" balas Mila
Ayah Arman menautkan kedua alisnya "ayahmu tahu" tanya Ayah Arman
"tahu" balas Mila
"jadi mamah kamu adalah wanita yang disukai ceritakan sari" tanya Ayah memperjelas hubungan mamah Listya dan jordan
"iya om" Mila yang awalnya menunduk seketika itu langsung menatap Ayah Arman "om gak akan balikan lagi sama mba sari kan? Zahira bisa sedih lagi loh om" tanya Mila
"tentu enggak lah, saya mengakhiri hubungan dengan sari karena sadar kalau pernikahan kami tidak. sah, jadi hubungan mamah kamu dengan suami sari tidak akan mempengaruhi keputusan om" jelas Ayah Arman
"syukurlah" Mila mengusap dadanya merasa lega bahwa apa yang ditakutkannya tidak terjadi
"ngomong-ngomong kamu gak risih di bilang calon istri pria tua macam om? Ayah dan mamah kamu gak segan-segan cerita ke orang kalau kita punya hubungan loh" tanya Ayah Arman
"enggak kok om, walaupun om sudah kepala empat tapi masih oke kok gak malu-maluin lah" kekeh Mila
"bisa aja kamu" Ayah arman mengusap lembut kepala Mila yang memuji dirinya
"beneran tahu om, coba kalau om pakai pakaian anak muda dan jalan sama Mila pasti mereka gak akan ngira kalau om sudah punya anak. seusia Mila" ucap Mila dengan beraninya seolah ketakutannya tadi sudah menguap hilang begitu saja bersama angin dan terbang entah kemana
"boleh di coba kayanya" balas ayah Arman
"boleh, nanti kalau bener, om harus kasih hadiah buat Mila ya" balas Mila
"oke" Ayah Aan setuju akan permintaan Mila membuat senyum Mila mengembang dengan lebarnya
__ADS_1
"anak yang begitu polos" batin ayah Arman melihat senyum mila yang begitu nyaman tanpa ada beban sama sekali